Alasan Kamu Harus Mulai Berinvestasi, Dari Sekarang!
Kembali ke tahun 2011. Ketika itu penulis baru saja meraih beberapa ratus juta Rupiah pertama dari investasi saham, dan menggunakan sebagian diantaranya untuk membeli sebuah rumah kecil di Jakarta Selatan secara tunai. Lalu untuk merayakannya maka saya bersama beberapa orang teman untuk pertama kalinya pergi berlibur ke Bali, selama seminggu penuh.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q3 2025 sudah terbit! Bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.
***
Dan ketika di Bali itulah, saya mendengar lagu Travie McCoy feat Bruno Mars yang berjudul ‘Billionaire’. Dan tiba-tiba saja, saya jadi bercita-cita untuk menjadi billionaire itu sendiri. Ketika itu saya berpikir bahwa, baru saja satu setengah tahun sebelumnya saya gak punya uang sepeserpun, tapi hari ini sudah ada pegang aset senilai ratusan juta Rupiah, thanks to investasi saham. Jadi jika saya terus berinvestasi seperti biasa, maka siapa yang tahu dalam 10 atau 20 tahun ke depan, saya juga akan menjadi seorang billionaire dengan aset $1 miliar? (setara Rp16 triliun) Pemikiran itu pula yang membuat penulis akhirnya memutuskan untuk resign sebagai karyawan di tahun 2012-nya, untuk kemudian fokus sebagai investor saham full time, sampai hari ini.
![]() |
| Penulis di sebuah restoran di Bali, tahun 2011 |
Waktu berlalu, dan kebetulan sekali pagi ini saya kembali mendengar lagu tersebut ketika sedang bekerja di sebuah café, dan makanya saya kemudian membuat tulisan ini. Jadi pada titik inilah saya evaluasi lagi: Sekarang kita sudah masuk tahun 2026, aka sudah lewat 15 tahun, tapi apakah saya sudah mencapai status billionaire tersebut? Well, sayangnya, belum! Bahkan mencapai $100 juta juga tidak, masih jauh dari itu. Maka pada titik inilah, berbeda dengan 15 tahun lalu, saya mau tidak mau harus bersikap lebih realistis: Kemungkinan besar cita-cita $1 miliar itu tidak akan pernah tercapai karena kenyataannya kamu mungkin memang tidak sehebat Warren Buffett ataupun investor-investor besar lainnya. You’re good, yes, but not the best.
Nah, namun demikian penulis juga mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
Pertama, jika progress sebagai investor saham hanya dilihat dari pertumbuhan nilai aset yang dimiliki, maka mungkin memang benar bahwa saya belum cukup sukses. Meski demikian nilai aset pada hari ini tetap jauh lebih besar dibanding tahun 2011 lalu, dan selama 15 tahun terakhir ini saya menjalani hidup yang sangat baik:
- Punya keluarga/anak-anak yang tidak kurang suatu apapun, termasuk masa depan mereka juga sudah terjamin
- Orang tua masih ada dan sehat, dan kami anak-anaknya punya cukup waktu untuk pulang dan menengok mereka kapan saja, termasuk bisa memenuhi semua yang mereka (dan juga keluarga besar) butuhkan
- Punya cukup waktu, biaya, dan tenaga untuk merasakan segala jenis experience, mulai dari road trip di Thailand, berendam di onsen di Jepang, hingga hiking naik gunung di Swiss. Termasuk saya masih rutin ke Bali setahun sekali, dan juga ke Jogja untuk slow living.
- Bisa terus berkarya, berkontribusi untuk masyarakat dengan cara menulis, dan yang paling penting
- Bisa mengatur pola makan agar lebih sehat (rutin konsumsi beras premium, ikan salmon, olive oil dll yang harganya lebih mahal dibanding menu makan biasa, tapi worth-it), serta rutin olahraga (gak cuma bisa bayar gym mahal, tapi juga punya cukup waktu untuk nge-gym itu sendiri). Dan hasilnya, saya pada hari ini justru merasa lebih fit dan bugar dibanding dulu ketika masih berusia 25 tahun. Pada titik inilah kita bisa bilang, age 40 is the new 20.
![]() |
| Penulis di Hong Kong Disneyland, tahun 2025. |
Intinya, kalau kita hanya menargetkan nilai porto tembus Rp100 juta, Rp1 miliar, Rp10 miliar dan seterusnya, maka ya gak bakal ada habisnya. Tapi kadang kita lupa bahwa yang terpenting sebenarnya bukan nilai aset kita berapa. Melainkan, apakah kita bisa menggunakan aset tersebut untuk ‘membeli’ kehidupan yang memang kita inginkan? Yang senantiasa happy, bebas stress, and free? I mean, bayangkan misalnya anda punya uang miliaran tapi hasil korupsi, yang anda tahu bahwa kalau tidak hati-hati maka anda bisa jadi tersangka. Dan alhasil anda bukannya seneng tapi justru stress karena harus cari bekingan, money laundry sana sini, dll.
Mimpi, Tujuan, dan Cita-cita
Okay, itu pertama. Lalu kedua, sampai hari ini saya masih menganggap bahwa tahun 2011 itu merupakan salah satu tahun terbaik di sepanjang hidup penulis, dan itu karena di tahun itulah untuk pertama kalinya saya berani bermimpi bahwa suatu hari nanti saya bisa saja menjadi seorang triliuner, bahkan meskipun isi rekening belum ada satu miliar Rupiah. Adanya mimpi itulah yang membuat penulis kemudian menjalani 15 tahun berikutnya dengan penuh semangat karena saya memiliki tujuan yang jelas, yang layak untuk diperjuangkan. Dan ini sangat berbeda dengan satu setengah tahun sebelumnya, yakni ketika penulis sudah lulus kuliah dan bekerja sebagai karyawan tapi belum kenal saham, dimana saya ketika itu sudah bisa melihat bahwa betul, saya tidak akan kelaparan karena saya punya gaji, tapi saya juga tidak akan menjadi kaya raya seperti para bos-bos besar itu. Saya pada saat itu merasa seperti hamster peliharaan yang memang tidak akan mati besok karena rutin dikasih makan, tapi juga gak bakal kemana-mana, melainkan hanya akan berlari di sebuah roda di dalam kandang yang sempit. Setiap hari. Seumur hidup.
Nah, tapi sejak tahun 2011 itulah, saya merasa ‘merdeka’ untuk bermimpi menjadi orang kaya, suatu hari nanti. Dan di kemudian hari saya baru sadar bahwa, yang terpenting itu bukanlah apakah mimpi itu akan tercapai/saya beneran menjadi kaya, atau tidak. Melainkan, bagaimana caranya agar mimpi itu bisa tetap hidup. Skip forward ke awal tahun 2020 lalu, ketika itu Indonesia dan seluruh dunia dilanda pandemi covid, IHSG sempat crash hingga 3,900an, dan tentu saja penulis menderita rugi yang sangat besar. Dan meskipun itu bukan kali pertama saya mengalami rugi besar di saham (IHSG juga pernah turun di tahun 2013, 2015, dan 2018), tapi di tahun 2020 itu saya hampir depresi karena situasi pandemi menyebabkan saya tidak punya gambaran sama sekali soal nasib investasi saya di saham kedepannya bakal bagaimana, apakah bisa pulih lagi atau tidak? Karena jangankan berharap kinerja perusahaan akan tumbuh seperti biasanya, sekedar keluar rumah saja kita tidak bisa karena situasi lockdown ketika itu.
Sehingga, kebalikannya dengan tahun 2011 yang penulis menyebutnya sebagai tahun terbaik karena di tahun itulah saya untuk pertama kalinya bisa bermimpi untuk menjadi seorang billionaire (atau triliuner dalam mata uang Rupiah), maka tahun 2020 itu merupakan tahun terburuk karena untuk sesaat mimpi itu meredup. Padahal kalau dari sisi nilai portofolio saham, maka bahkan meskipun nilai porto tersebut sempat berkurang hingga hampir setengahnya, tapi saya di tahun 2020 itu tetap jauh lebih kaya raya dibanding saya di tahun 2011. Got my point?
Beruntung, di tahun 2021-nya IHSG naik lagi, investasi saham milik penulis kembali profit seperti biasanya, dan tentu saja mimpi untuk menjadi billionaire itu kembali menyala, sampai hari ini. Dan meski saya tidak tahu apakah mimpi itu akan benar-benar tercapai atau tidak, tapi sekali lagi, yang terpenting adalah bahwa impian itu sendiri masih terjaga sampai hari ini. Karena impian itulah yang membuat kita jadi punya arah dan tujuan dalam hidup, dan kemudian menjadikan hidup itu sendiri terasa worth it untuk dijalani. Lalu kabar baiknya, kita juga tentunya tidak harus punya aset triliunan Rupiah untuk bisa misalnya pergi ke Paris untuk menyeruput espresso di sebuah café estetik di tepi Sungai Seine, lalu setelah itu diem saja gak ngapa-ngapain, pada hari Selasa pukul 10.00 pagi waktu setempat. Dan seperti yang disampaikan di atas, penulis sudah sejak lama memiliki kehidupan seperti itu, and that’s more than enough.
Okay, jadi mari kita balik lagi ke judul diatas: Apa alasan kita harus mulai berinvestasi, dari sekarang? Dan jawabannya adalah, pertama, bukan untuk punya tabungan/aset senilai sekian, melainkan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Lalu kedua, untuk senantiasa memiliki mimpi, cita-cita, serta tujuan untuk memiliki nilai aset yang lebih besar serta kehidupan yang lebih baik lagi di masa yang akan datang, termasuk syukur-syukur bisa bantu orang lain juga, seperti yang dilakukan banyak influencer yang kemarin menjadi relawan di Sumatera. Dan penulis kira poin kedua ini justru merupakan alasan yang terpenting, karena itu seperti kita menonton serial drakor atau dracin dengan kisah yang sangat panjaaaaang/jumlah episodenya sangat banyak, dimana kita akan selalu penasaran soal kelanjutan cerita di episode berikutnya nanti bagaimana. Hanya bedanya, kali ini tokoh utamanya adalah diri kita sendiri.
Jadi bagaimanapun kinerja porto, serta berapapun nilai aset kamu di akhir tahun 2025 kemarin sebagai
investor, maka cobalah untuk enjoy the episodes, not the final ending. Dan nanti
tahun depan kamu akan bisa tulis lagi, tentang kamu ketika itu sudah sampai episode
mana 😊
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q3 2025 sudah terbit! Bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.


Komentar
Berarti pak Teguh begitu dong disana???
- Yg "market cap" nya kecil, dia ngobrol sambil separuh nyelam
- Yg "market cap"nya besar, dia ngobrol sambil berdiri tolak pinggang...
Hehehe..sambil membahas cara cari saham multibagger tentunya..
Kalau di Indonesia ada onsen, boleh juga sbg alternatif tempat temu alumni...