Harga Emas Masih Akan Lanjut Naik? Bagaimana Dengan Bitcoin?

Tanggal 12 Januari 2026 kemarin kita sudah membahas tentang Bitcoin (BTC), dimana pada intinya pendapat penulis terhadap ‘uang digital’ ini sudah berubah dari tadinya saya menganggap itu spekulasi, menjadi salah satu pilihan instrumen untuk store of value, alias alat untuk menyimpan harta kekayaan, kurang lebih sama seperti emas (gold), tapi beda dengan saham yang merupakan instrumen investasi. Anda bisa baca lagi penjelasannya disini.

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu, 21 Februari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

However seperti halnya harga saham, maka harga emas/bitcoin juga bisa naik dan turun seiring berjalannya waktu, dan disinilah orang seringkali sulit membedakan antara ‘investasi’ dengan ‘store of value’, seolah-olah emas/bitcoin itu ya instrumen investasi juga, sama seperti saham. Padahal perbedaannya sangat jelas: Perusahaan yang bagus memiliki aset (ekuitas) senilai sekian, dan aset tersebut akan menghasilkan keuntungan (laba bersih) sekian setiap tahunnya, yang kemudian menumbuhkan nilai ekuitas itu sendiri, dan pada akhirnya menaikkan harga sahamnya. Analoginya seperti kalau anda memelihara sepasang (dua ekor) kelinci, kasih makan, dan alhasil beranak pinak jadi banyak.

Sedangkan emas? Itu tidak menghasilkan apa-apa, dimana kalau anda hari ini pegang ‘sepasang’ emas batangan seberat total 10 gram, maka 10 tahun kemudian jumlahnya akan tetap 10 gram, tidak akan beranak pinak jadi misalnya 100 gram. Tapi di sisi lain anda juga tidak perlu keluar biaya untuk pakan dll, dan harga emas yang anda pegang akan tetap naik seiring inflasi.

Sehingga kalau disimpulkan, instrumen investasi seperti saham memiliki nilai riil yang akan bertumbuh, tapi itu memerlukan kerja keras dari pihak perusahaan, dan juga mengandung risiko (kelincinya bisa saja mati). Sedangkan instrumen store of value seperti emas maka nilai riilnya tidak akan bertumbuh/jumlahnya akan tetap 10 gram, tapi gak perlu diapa-apain lagi dan juga tidak mengandung risiko. Kemudian nilai nominalnya dalam mata uang Rupiah/Dollar tetap akan naik seiring inflasi/penurunan nilai mata uang itu sendiri. Paham sampai sini? Jika belum, maka perhatikan lagi kata yang di-bold.

Nah, tapi balik lagi: Seperti halnya seperti saham, harga emas juga bisa naik dan turun, dan terkadang dengan kenaikan yang sangat tinggi sehingga bisa tetap menghasilkan keuntungan yang signifikan, dalam hal ini jika kita masuk ketika harganya belum naik. Dan memang, meski penulis tidak pernah merekomendasikan investor untuk membeli emas di website ini (karena disini kita fokus di saham saja), tapi sudah sejak setidaknya bulan Agustus 2023 lalu, saya merekomendasikan saham PT Hartadinata Abadi, Tbk (HRTA) di ebook investment planning (edisi Q2 2023, terbit tanggal 8 Agustus 2023), dimana alasannya tidak hanya karena kinerja perusahaannya bagus, tapi juga karena harga emas, yang ketika itu masih di $1,800 – 1,900 per oz, cepat atau lambat akan naik, dan itu akan mendorong kinerja laba bersih HRTA yang sejak awal sudah bagus akan menjadi lebih bagus lagi. Dan tentu saja sahamnya akan naik banyak, mungkin dengan kenaikan yang bahkan lebih tinggi dibanding kenaikan harga emas itu sendiri.

Halaman daftar isi dari Ebook Investment Planning (EIP). Disitu saya merekomendasikan saham HRTA ketika harganya masih di Rp458, dengan rating AAA.

Kemudian pada video dibawah ini yang dibuat setahun kemudian pada tanggal 24 Agustus 2024, saya menjelaskan alasan kenapa harga emas bisa naik, yakni karena dia masih laggard/kenaikannya dalam jangka panjang masih ketinggalan dibanding aset lain seperti saham, komoditas (batubara dll), dan juga bitcoin. Dan masih di videonya, saya menyebut bahwa harga emas, yang ketika itu sudah mulai naik ke $2,200, masih akan lanjut naik ke setidaknya $2,900 per oz.

Dan hari ini, 30 Januari 2026, harga emas bahkan sudah tembus $5,000 per oz. Sehingga kalau anda dua tahun lalu sudah mulai serok saham HRTA, atau emas itu sendiri, maka hari ini anda akan sudah kaya raya. Penulis sendiri ada pegang HRTA ini di average Rp630 per saham, dan masih di-hold sampai dengan artikel ini diposting.

Nah, dari sini kita kemudian sampai ke instrumen store of value berikutnya: Bitcoin. Ketika artikel ini di-posting, bitcoin sedang dalam tren turun dari puncaknya di $124,000, Oktober 2025 lalu, hingga sekarang $80,000. Dan ini adalah kali kedua penulis memperhatikan penurunan bitcoin. Sebelumnya pada tahun 2021 – 2022 lalu, saya juga melihat bitcoin anjlok dari puncaknya di $69,000 di bulan November 2021, hingga mentok di $16,000 di bulan November 2022, sebelum baru setelah itu naik lagi. Bedanya, di tahun 2021 – 2022 tersebut saya masih menganggap bitcoin ini sebagai murni spekulasi, yang saya tidak akan membelinya pada harga berapapun.

Barulah di tahun 2026 ini, setelah terus menerus mempelajari bitcoin itu sendiri dan akhirnya sampai ke kesimpulan bahwa ini merupakan store of value, maka saya mulai melihatnya seperti emas: Bitcoin tidak akan ‘beranak pinak’, dimana kalau anda hari ini pegang 1 BTC maka 10 tahun kemudian jumlahnya akan tetap 1 BTC. Tapi seperti halnya emas yang harganya akan naik terus dalam jangka panjang, dan itu bukan karena nilai emas naik tapi justru karena nilai uang Rupiah/Dollar turun, maka harga BTC juga sama pada akhirnya akan naik.

Kemudian, seperti halnya emas yang tidak selalu naik tiap hari melainkan kadang bisa turun juga, maka BTC juga sama: Dia tidak akan naik tiap hari, contohnya ya di tahun 2021 – 2022 tadi dimana BTC anjlok dari $69,000 sampai $16,000. Nah, tapi disinilah istilah laggard tadi menjadi penting. Perhatikan: Sebelum tahun 2021, emas ini sangat-sangat underperform dibanding bitcoin, dimana harga emas hanya naik sedikit dari $1,200 di tahun 2016, menjadi $1,800 per oz di tahun 2021. Sementara bitcoin? Meroket dari hanya $300 hingga sempat tembus $60,000, dalam periode lima tahun yang sama.

Namun memasuki tahun 2022 maka, seperti disebut diatas, BTC turun lagi ke $16,000. Dan meskipun setelah itu dia naik lagi, tapi sejauh ini dia baru naik sedikit saja ke $82,000, sehingga BTC hanya naik total 20% dalam lima tahun terakhir. Di sisi lain emas justru melejit sampai sempat tembus $5,500 per oz, alias naik 211% dalam periode waktu yang sama. Sehingga selama lima tahun dari 2021 hingga awal 2026 ini, giliran BTC yang underperform dibanding emas.

Nah, tapi pada titik ini maka anda harusnya sudah bisa membaca pikiran penulis bukan? Yep: Kalau kita bisa melihatnya dalam jangka panjang hingga maksimal lima tahun berikutnya (sampai tahun 2031), maka BTC akan kembali outperform emas. Namun sudah tentu bahwa dalam jangka pendeknya, apapun bisa terjadi, termasuk bisa saja BTC lanjut turun (dan sebaliknya, harga emas lanjut naik). We never know that. Tapi intinya, penulis sendiri masih ingat ketika dulu saya pegang saham Hartadinata (HRTA), dan dia justru turun ketika harga emas turun dari $2,000 ke $1,800 per oz. Dan disitulah saya katakan ke diri sendiri bahwa, mau harga emas turun sampai tinggal Rp500,000 per gram sekalipun, maka emas tetaplah emas, yang kita tahu bahwa nilainya tidak akan turun sampai nol, dan dalam jangka panjang harganya akan naik lagi. Jadi gak masalah, hold saja.

Sehingga untuk bitcoin juga sama: Mau itu harganya turun ke $80,000, $70,000, $60,000 dan seterusnya, namun 1 bitcoin tetaplah 1 bitcoin, yang dalam jangka panjang harganya akan naik lagi, dan kemungkinan dengan kenaikan yang bakal outperform emas. Jadi semakin rendah harganya, maka justru itu semakin bagus untuk beli lagi.

Anyway, untuk bisa melihat bahwa ‘bitcoin dalam lima tahun ke depan akan naik lebih tinggi dibanding emas’, maka syaratnya adalah anda juga harus sama seperti penulis yang menganggap bahwa ‘bitcoin itu instrumen store of value, sama seperti emas’. Di sisi lain, penulis sangat mengerti jika anda termasuk tim ‘bitcoin itu spekulasi’, karena saya sendiri pun dulunya demikian. Therefore, saya tetap rekomendasi untuk hold emas (kami sendiri masih hold saham HRTA), dan tidak akan merekomendasikan bitcoin disini, kecuali mungkin sedikit saja jika anda penasaran. Terlepas dari itu artikel ini nanti akan diperbaharui lagi seiring perkembangan harga bitcoin dan emas itu sendiri, so just stay tuned!

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q4 2025 akan terbit tanggal 9 Februari, dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q4 2025 - Terbit 9 Februari

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 21 Februari

Cara Profit Maksimal Dari Investasi Emas

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI

Laba Bank BRI Anjlok Lebih Dari 50%, Begini Penjelasan Mudahnya