Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Heart is Only for Lovers, Bro!

Koran Bisnis Indonesia pernah mewawancarai Aburizal ‘Ical’ Bakrie, mantan pimpinan Grup Bakrie (Sekarang Grup Bakrie dipimpin oleh Nirwan, adik dari Ical), pada tahun 2010 lalu dalam rangka HUT Bisnis Indonesia yang ke-25. Dalam wawancara tersebut, wartawan Bisnis mengajukan pertanyaan berikut, ‘Banyak orang tidak percaya bahwa Bakrie melalui Bumi Resources (BUMI) berhasil membeli Arutmin dan Kaltim Prima Coal (KPC). Bagaimana caranya?’ Dan Ical menjawab, ‘Waktu itu memang ada opportunity-nya, sehingga langsung kami grab. Soal duitnya dari mana, kami cari belakangan.’

Seperti yang anda ketahui, BUMI mengambil alih 80% saham Arutmin dari tangan BHP Billiton, perusahaan tambang asal Australia, senilai US$ 148 juta, pada tahun 2001. Dua tahun berikutnya yaitu pada tahun 2003, BUMI kembali mengakuisisi sebuah perusahaan batubara bernama KPC dari tangan Beyond Petroleum (BP) dan Rio Tinto, senilai US$ 500 juta. Dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan, ‘Kami membeli Arutmin dan KPC nggak pake duit, karena pada tahun 2001 kami lagi bangkrut dan gak punya uang sama sekali, gara-gara krisis 1998.’

Kalau nggak pake duit, terus pake apa? Ya pake duit orang, alias utang. Menurut Ical, pada tahun 2001, setelah menyelesaikan restrukturisasi utang di Bakrie & Brothers (BNBR), ia berdiskusi dengan kedua adiknya, Nirwan dan Indra, untuk memikirkan langkah perusahaan selanjutnya, dan mereka bertiga setuju untuk masuk ke sektor energi. Ketika itu perusahaan yang bisa diakuisisi ada dua, yaitu Arco dan Arutmin. Arutmin tampak lebih mudah untuk diakuisisi mengingat harganya ‘hanya’ US$ 180 juta, sementara Arco mencapai US$ 600 juta. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang US$ 180 juta tersebut dari Bank Mandiri dan Jamsostek, dan setelah negosiasi kesana kemari, disepakati bahwa harga 80% saham Arutmin adalah US$ 148 juta. Dengan memegang Arutmin (yang kemudian diletakkan dibawah BUMI), Grup Bakrie perlahan tapi pasti mulai menggeliat kembali.

Aburizal Bakrie. Sumber: icalbakrie.com

Dalam hal ini terdapat tiga hal luar biasa yang dilakukan Grup Bakrie. Pertama, mereka mampu ‘menemukan’ dua perusahaan yang seolah-olah menyerahkan diri untuk diakuisisi, padahal Ical dkk jelas-jelas nggak punya dana sama sekali. Kedua, mereka mampu memperoleh pinjaman lagi dengan jumlah yang tidak main-main, yaitu US$ 180 juta atau sekitar Rp2 trilyun, justru persis setelah mereka dengan susah payah menyelesaikan proses restrukturisasi utang. Dan ketiga, mereka mampu memaksa pemilik Arutmin sebelumnya, BHP Billiton, untuk menyerahkan asetnya tersebut dengan harga yang lebih murah.

Hanya selang dua tahun berikutnya, Grup Bakrie kembali berekspansi, kali ini targetnya mengakuisisi KPC, yang ketika itu akan didivestasi oleh pemiliknya, BP dan Rio Tinto. Dalam upayanya mengambil alih KPC, Bakrie tidak sendirian, karena konglomerat lainnya seperti Prabowo dan Grup Salim juga berminat terhadap KPC. Posisi Bakrie ketika itu sebenarnya sulit, mengingat mereka masih belum memiliki uang, dan kali ini Pemerintah juga menolak memberi pinjaman (waktu mengakuisisi Arutmin, Bakrie memperoleh pinjaman dari Bank Mandiri dan Jamsostek, yang notabene merupakan BUMN). 

Namun Ical pantang menyerah. Pemilik KPC meminta harga US$ 700 juta, dan Ical sendiri yang kemudian terbang ke markas BP di London untuk bernegosiasi. Entah gimana caranya, Ical berhasil menawar untuk membeli KPC seharga US$ 500 juta saja. Menurut Ical, ketika itu banyak konglomerat lainnya yang juga menyatakan berminat terhadap KPC, namun cuma ia sendiri yang mau capek-capek bernegosiasi dengan pihak BP dan Rio Tinto sebagai pemilik KPC, sementara orang lain tidak melakukan apa-apa kecuali merengek kepada Pemerintah: ‘Kenapa KPC dijualnya mahal banget? Murahin dikit dong!’ Sebelumnya, Pemerintah memang meminta BP dan Rio Tinto untuk menetapkan harga paling tinggi US$ 800 juta untuk melepas KPC, namun harga tersebut tetap dinilai terlalu mahal oleh para konglomerat lokal (dan lucunya para konglomerat ini kemudian marah-marah setelah mengetahui bahwa Bakrie bisa membeli KPC dengan harga yang jauh lebih rendah dari US$ 800 juta tersebut).

Selesai dengan urusannya di London, Ical kemudian menemui Nirwan, ‘Wan, gue udah deal sama owner KPC, gope aja katanya. Sekarang, duitnya dari mana?’
Nirwan balik bertanya, ‘Mandiri sama Jamsostek masih mau ngasih lagi nggak?’
‘Nggak.’
‘Ya udah, kalo gitu gue coba ke Singapura dulu, siapa tahu bank disana mau ngasih.’

Nirwan kemudian berangkat ke Singapura, dan setelah berkeliling dan bernegosiasi kesana kemari, ia berhasil memperoleh pinjaman dari empat bank investasi, hanya saja dengan bunga yang cukup tinggi (Ical tidak memperinci berapa persen bunganya, atau siapa saja keempat bank investasi tersebut). Namun setelah memperoleh pinjaman tersebut, masih terdapat kekurangan dana sekitar US$ 300 juta. Disinilah Nirwan kembali menunjukkan keahliannya dalam bernegosiasi: Ia menghubungi para perusahaan yang menjadi pelanggan KPC, dan meminta mereka membayar di muka untuk batubara yang mereka beli, dengan imbalan bahwa mereka akan diberi diskon ataupun keuntungan lainnya. Untuk melakukan hal ini, Nirwan sampai berkeliling Jepang, Tiongkok, dan Eropa, dan sekali lagi ia berhasil. Grup Bakrie kemudian memperoleh uang tunai senilai sekitar US$ 300 juta yang merupakan uang muka pembelian batubara dari KPC (yang tentunya merupakan utang juga), padahal KPC-nya sendiri masih belum menjadi milik mereka. Amazing, isn’t it?

Namun setelah memperoleh pinjaman dan uang muka pembelian batubara sebesar US$ 300 juta tersebut, ternyata masih ada kekurangan lagi sebesar US$ 4 juta, dan itu tetap merupakan jumlah yang sangat besar karena ketika itu biar bagaimanapun Grup Bakrie bener-bener gak punya duit. Akhirnya Nirwan menemui pihak bank lagi di Singapura, dan beberapa saat kemudian ia menelpon Ical.

‘Bro, bank setuju ngasih tambahan US$ 4 juta lagi. Tapi mereka minta bagian keuntungan sebesar US$ 20 juta. Gimane?’
'Apa?? Serius mereka minta segitu??'
'Iya.'
Ical berpikir sejenak, ‘Wan, hati kecil gue bilang jangan.. Kalo gitu jangan lah.’
‘Hati kecil? Heart is only for lovers bro. Ini bisnis, dan elo harus tough sedikit.’
Ical kaget mendengar kalimat adiknya tersebut, sebelum kemudian berkata ‘Ya udah, terserah lo aja deh.’

Maka akhirnya, KPC pun resmi menjadi milik Grup Bakrie.

Mungkin karena sejak awal Arutmin dan KPC diambil alih Bakrie dengan cara berhutang, maka hal itu kemudian menjadi kebiasaan sampai sekarang. Termasuk ketika Bakrie mengambil alih 24% saham Newmont Nusa Tenggara, duitnya juga dari utang ke China Investment Corp (CIC). Dan memang keahlian Grup Bakrie adalah di bidang tersebut: Bernegosiasi dan memperoleh utang. Masih dalam wawancaranya dengan Bisnis, Ical mengatakan bahwa di masa lalu ia pernah memperbesar salah satu perusahaannya, Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), dengan cara mengakuisisi beberapa lahan perkebunan kelapa sawit senilai total US$ 55 juta. Ketika itu ayah Ical, Achmad Bakrie, bertanya, duitnya dari mana? Setau ayah kamu gak punya duit sebanyak itu? Dan Ical menjawab, nanti kita cari. Untuk sekarang, akuisisi aja dulu.

Seorang teman penulis pernah ngobrol langsung dengan Nirwan Bakrie, ‘Mas, ente kok rajin amat akuisisi sana-sini. Apa gak kasian sama kelompok usaha laen? Bagi-bagi dong.’
Dan Nirwan menjawab, ‘Ya gimana ya.. Soalnya peluang-peluangnya udah kaya wuss.. wuss.. berseliweran aja gitu, persis didepan muka gue. Ya sayang lah kalo nggak gue ambil!’

Jadi sepertinya, kebijakan Grup Bakrie dalam berekspansi adalah, yang penting ambil barangnya (perusahaannya) aja dulu. Soal duitnya dari mana, atau akan diapakan itu barang setelah diambil alih, itu urusan belakangan! Daaann... mungkin inilah yang menyebabkan BUMI, dan juga perusahaan-perusahaan Grup Bakrie lainnya, lebih sibuk mengakuisisi, mendivestasi, menerbitkan utang, melakukan refinancing, dll, ketimbang mengurus operasional perusahaannya sendiri. Tak heran, karena sejak awal keahlian Keluarga Bakrie adalah di bidang negosiasi dan financing, bukan di pengelolaan perusahaannya sendiri. Mungkin mereka berpendapat bahwa asalkan mereka merekrut CEO atau Presiden Direktur yang kompeten di bidangnya masing-masing, maka perusahaan apapun yang mereka miliki akan bisa beroperasi dengan baik. Sementara yang perlu mereka lakukan hanyalah terus dan terus mencari peluang bisnis baru.

Satu hal yang pasti, meski berbagai pemberitaan belakangan ini ramai membicarakan kemungkinan bahwa Bakrie bisa jadi bakal gagal bayar utang alias default, karena utang-utangnya yang sudah kelewat membludak (yang kemudian dijadikan justifikasi dari penurunan harga saham-saham Grup Bakrie), namun itu tidak mencegah para bank untuk terus menyalurkan pinjaman. Pada tanggal 10 Agustus 2012 kemarin, Visi Media Asia (VIVA), perusahaan Bakrie di bidang media, memperoleh pinjaman US$ 80 juta dari Deutsche Bank cabang Singapura. Kenapa kok pihak Deutsche Bank masih berani untuk memberikan pinjaman terhadap Bakrie? Well, ask them! Tapi yang jelas, jika anda adalah direktur dari Deutsche Bank tersebut, maka apakah anda bersedia ngutangin Bakrie jika memang kelompok usaha pemilik BUMI tersebut berpotensi default?


Terus bagaimana dengan kerjasama Grup Bakrie dengan seorang pengusaha asal Inggris, Nathaniel Rothschild, seperti yang sudah kita bahas di artikel minggu kemarin? Sayangnya hingga kini belum ada pihak yang berhasil mewawancarai Ical atau Nirwan terkait kerjasama tersebut. Tapi kita bisa mengatakan bahwa, meski Bakrie merupakan master of dealmaker nomor wahid di Indonesia, namun diluar sana masih terdapat beberapa master of dealmaker kelas dunia, dan Nathaniel adalah salah satu diantaranya.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

9 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

mgkn jika tidak disuntik sama hutang baru akan benar2 default, kecuali semua pinjamannya tidak berbunga tinggi

Anonim mengatakan... Balas

Tulisan ini mengindikasikan untuk tetap percaya diri buny BUMI he he..

Anonim mengatakan... Balas

menurut saya master of dealmaker tetep rothschild, dia kan salah satu pemegang saham rio tinto, klo dlu cuma bisa punya kpc melalui rio tinto sekarang dia bisa punya arutmin juga melalui bumi plc (lepas dlu ikan kecil biar besok dapat ikan besar)

Anonim mengatakan... Balas

pak teguh, meskipun bakrie seorang
master of dealmaker kelas dunia sekalipun, saya tak akan ambil resiko untuk beli saham2 punya bakrie. sepandai2 nya tupai melompat suatu saat pasti jatuh juga.

Anonim mengatakan... Balas

Jadi sebenarnya apa tujuan akhir dari aksi yang dilakukan oleh Bakrie bros? Akuisisi sana sini, bikin utang sana sini, pasti ada tujuan akhirnya kan?
Apakah looping ini ada break nya? atau infinite?

Anonim mengatakan... Balas

bro... bahas miti dong dengan kuasi reorganisasinya kira2 prospek kedepannya gmn... trims b4 ya...

Anonim mengatakan... Balas

Bro,bahas GTBO dong, penasaran kenapa harga sahamnya kok naik terus.. Thanks.

Anonim mengatakan... Balas

Memang Bakrie yg jago ngutang, yang disuruh bayar investornya , jadi cerdiknya double. Sebaiknya jangan jadi investornya .

Anonim mengatakan... Balas

Intinya jual aset pake image.. Lebih mirip orang yg nyiapin barang dagangan buat diborong orang