Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Prospek AISA Pasca Masuknya KKR

Tanggal 22 Juli kemarin, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) melaporkan bahwa pada dua hari sebelumnya yaitu yanggal 20 Juli, beberapa main shareholder setuju untuk menjual sahamnya ke Kohlberg Kravis Roberts (KKR), salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia, sebanyak 9.5% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Nilainya? Tidak disebutkan, namun ada yang bilang US$ 40 juta. Bagi AISA, masuknya KKR akan membantu perusahaan untuk berkembang lebih maju lagi, dimana KKR akan menempatkan satu orang perwakilannya di dewan komisaris perusahaan. Sementara bagi KKR, akuisisi ini adalah langkah kecil mereka untuk masuk ke industri consumer goods di Indonesia.

Seperti yang sudah dibahas di artikel minggu kemarin, jika menilik cara bisnis perusahaan private equity (PE) seperti KKR ini, maka tidak heran jika mereka memilih masuk ke AISA dalam rangka menjajal bisnis consumer goods di Indonesia, dan bukannya masuk ke Unilever Indonesia (UNVR) atau Mayora (MYOR). Karena, sebuah PE akan selalu lebih tertarik untuk masuk pada perusahaan start-up (perusahaan yang baru dirintis, dengan pengalaman kurang dari 5 tahun) yang mengandung risiko tinggi, namun sekaligus menawarkan pertumbuhan luar biasa (jika bisnisnya sukses), ketimbang masuk ke perusahaan yang sudah mapan dan ‘aman’. Yup, jika dibandingkan dengan banyak perusahaan consumer lainnya di Indonesia, AISA memang tergolong masih baru. Kalau melirik sejarah awalnya sebagai perusahaan produsen bihun jagung, maka AISA sudah berpengalaman sejak penghujung tahun 1950-an. Tapi kalau kita melihat kiprah perusahaan di industri makanan yang terintegrasi (bihun jagung, mie kering, makanan ringan/snack, minyak goreng, hingga beras), maka AISA baru merintisnya sejak tahun 2008, termasuk AISA juga baru masuk ke bisnis perdagangan beras pada tahun 2010 kemarin.

Namun fakta menariknya ada dua. Satu, sejauh ini AISA merupakan satu-satunya perusahaan di BEI yang bermain di bisnis beras, sehingga saham ini terbilang limited edition, alias anda nggak bisa beli saham lain kalau anda tertarik dengan bisnis beras ini. Dan dua, AISA juga tidak main-main dengan bisnis barunya tersebut, dimana perusahaan merencanakan untuk memiliki setidaknya delapan belas pabrik penggilingan beras di sentra-sentra padi di Indonesia pada tahun 2016, dari hanya dua pabrik pada tahun 2012 lalu. Dari sisi brand development, AISA juga banyak meluncurkan merk beras baru, termasuk memperkuat merk beras ‘Ayam Jago’ sebagai flagship product perusahaan. Kalau yang penulis perhatikan sendiri, beras ayam jago ini sudah banyak beredar di warung-warung kelontong rumahan di Jakarta, dan iklannya juga sudah cukup sering nongol di televisi.

Sedangkan untuk bisnis makanan ringannya, perusahaan juga banyak melakukan ekspansi dengan cara yang sama, yaitu meluncurkan banyak merk-merk baru untuk produk mie kering, bihun, dan snack-nya, diluar meningkatkan distribusi untuk merk-merk snack yang sudah ada seperti snack Taro, dan permen Gulas.

Snack 'Taro', salah satu merk snack andalan PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk

Dan ngomong-ngomong, persis setahun yang lalu, penulis sudah pernah membahas AISA ini (ini link artikelnya), dimana ketika itu kesimpulannya adalah bahwa kita masih harus menunggu kalau mau invest di perusahaan ini, karena ketika itu AISA ini benar-benar masih start-up banget, alias belum ada track recordnya. Sekarang ini, setelah lewat setahun, bagaimana perkembangannya? Well, so far so good! Setahun lalu, AISA membajak seorang eksekutif Orang Tua Grup yang bernama Jo Tjong Seng, untuk dijadikan direktur branding dan marketing perusahaan. Dan hasilnya? Kalau yang bisa penulis lihat sendiri, produk-produk snack AISA sekarang sudah mulai banyak variasinya, dan cukup sukses bersaing dengan pemain lama seperti Garuda Food dan Siantar Top, dimana itu bisa dilihat dari banyaknya produk snack AISA di toko-toko kelontong rumahan di Jakarta, Bandung, dan Cirebon.

Sementara dari sisi kinerja keuangan, AISA mencatat laba bersih Rp75 milyar pada Q1 2013, tumbuh 39.3% dibanding periode sebelumnya. Honestly, ini belum bisa dijadikan justifikasi bahwa AISA telah tumbuh dengan cepat dalam setahun terakhir, melainkan masih tumbuh dengan biasa-biasa saja. Namun dengan PBV yang dibawah 2 kali pada harga 1,310, maka valuasinya pun belum begitu mahal, terutama jika dibandingkan dengan consumer goods lainnya yang lebih mapan. Jadi jika nanti AISA bisa kembali mencetak laba yang lebih tinggi, dan perusahaan memang cukup berpeluang untuk mencapai hal tersebut, maka dengan sendirinya sahamnya akan naik signifikan dan tidak akan turun lagi.

So, pertanyaannya sekarang, jika AISA ini ‘cukup berpeluang untuk mencapai hal tersebut’, maka seberapa besar peluangnya?

Jika hal ini ditanyakan kepada KKR, maka mereka sudah menjawabnya dalam rilisnya: ‘Indonesia berpeluang untuk masuk ke dalam daftar sepuluh negara dengan ukuran perekonomian/GDP terbesar di dunia pada tahun 2030, dan sektor consumer-nya bisa menjadi terbesar ketiga di dunia pada tahun 2050. Ini adalah peluang yang atraktif. Sementara terkait AISA-nya sendiri, kami memandang bahwa ini adalah perusahaan yang bagus dengan ambisi untuk tumbuh. Dan kami senang untuk bermitra dengan tim manajemen yang kompeten untuk membantu mendorong pertumbuhan tersebut.’

Simpelnya, KKR memandang bahwa AISA: 1. Beroperasi di Indonesia, negara dengan potensi pertumbuhan yang menarik, 2. Bermain di sektor yang menawarkan pertumbuhan paling tinggi, yaitu consumer goods, 3. Perusahaannya cukup bagus, minimal punya ambisi untuk tumbuh menjadi besar, dan 4. Manajemennya juga bagus. Dengan kriteria yang tampaknya cukup lengkap, maka seberapa besar peluang AISA untuk menjadi perusahaan consumer goods yang mapan suatu saat nanti? Well, berapapun itu, yang jelas peluang tersebut tidaklah kecil, setidaknya menurut KKR.

Secara khusus, KKR sendiri melalui salah seorang eksekutifnya, Henry McVey, memaparkan analisis terkait mengapa Indonesia menarik untuk investasi, melalui artikel yang dipublikasikan di halaman muka website perusahaan, www.kkr.com. Intinya, McVey menganggap bahwa Indonesia, dilihat dari perkembangan makronya, menawarkan prospek investasi yang menarik, setidaknya hingga 5 – 7 tahun kedepan, dengan sektor pendorongnya apalagi kalau bukan consumer goods.

However, kalau melihat fakta bahwa investasi KKR di Indonesia masih sangat sedikit, dalam hal ini melalui AISA (US$ 40 juta tentu kecil sekali dibanding dana kelolaan KKR yang hampir mencapai US$ 80 milyar), maka mungkin KKR juga masih sekedar testing aja dulu, dan belum berani guyur terlalu banyak. Sebelumnya dikabarkan bahwa investasi KKR di perusahaan consumer goods di India tidak begitu sukses, dimana GDP growth di India ternyata tidak kencang seperti sebelumnya, melainkan justru melambat, sama seperti halnya Tiongkok belakangan ini.

Okay, lalu Mas Teguh, bagaimana dengan pendapat anda sendiri tentang AISA ini? Well, kalau bagi penulis sendiri, investasi di consumer goods merupakan investasi tradisional yang menawarkan keuntungan stabil dalam jangka panjang dengan risiko yang terbatas. Masalah terbesarnya adalah, di market anda akan kesulitan menemukan saham consumer bagus dengan harga yang wajar, karena rata-rata mereka udah selangit semua harganya (UNVR gak usah ditanya lagi deh). Penulis menjadi tertarik dengan AISA ini karena sahamnya relatif masih murah, paling tidak jika dibanding saham consumer goods lainnya, meski memang kinerja perusahaannya belum sebaik MYOR, apalagi UNVR. Perusahaannya pun masih tergolong ‘kemarin sore’, yang masih harus struggling dengan utang yang berjibun untuk menjaga momentum pertumbuhannya. Berdasarkan informasi terakhir yang dirilis perusahaan, AISA berencana untuk menerbitkan obligasi Rp1 trilyun untuk refinancing utang-utang jangka panjangnya.

Meski demikian, sejauh ini (sejak 2010) AISA sudah cukup mampu mencatat pertumbuhan yang stabil, sehingga dengan demikian kita sudah boleh sedikit berasumsi bahwa pertumbuhan tersebut akan berlanjut di tahun-tahun yang akan datang, terlebih setelah adanya campur tangan KKR dalam tim manajemen. Dan jika asumsi tersebut kemudian menjadi kenyataan, maka dengan sendirinya nilai perusahaan akan meningkat signifikan dalam jangka panjang, demikian pula sahamnya akan naik terus.

Kesimpulannya, jika anda masuk ke AISA, maka anda adalah seperti KKR tadi: Lebih suka masuk ke perusahaan start up, memiliki risiko yang relatif tinggi (salah satu risiko AISA terkait dengan utangnya yang cukup besar), namun disisi lain menawarkan potensi pertumbuhan yang tinggi pula. Sekedar catatan, cara berinvestasi tersebut berkebalikan dengan policy-nya Berkshire Hathaway, yaitu: Hanya membeli perusahaan yang mapan, memiliki risiko rendah, dan menawarkan potensi pertumbuhan yang stabil (yang penting stabil aja, gak usah terlalu tinggi).

Namun faktanya adalah, jika Berkshire merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar dan tersukses di dunia, maka demikian pula hal-nya dengan KKR. Tapi disisi lain, jangan lupakan juga fakta bahwa hanya karena Berkshire dan KKR ini perusahaan investasi super-besar, bukan berarti mereka tidak bisa melakukan kesalahan investasi, seperti yang dilaporkan kemarin di India. So, wanna join the train?
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Danton Johannes mengatakan... Balas

kayanya susah deh binis beras,. beda dengan bisnis sampo harus di buat di pabrik di kemas. kalo beras kan semua orang bisa jualan

Anonim mengatakan... Balas

Benar mas teguh,
saya sapat memastikan bahwa AISA ini layak dikoleksi untuk 5tahun kedepan.. dengan catatan bahwa harga terigu tidak naik diatas 10%, mengingat perusahaan ini sangat bergantung akan kebutuhan terigu untuk kelangsungan produksi..

Anyway, it's good to wait and see before we speculated.

Salam,
Kroco

Anonim mengatakan... Balas

RoE Aisa rendah lhoh

Anonim mengatakan... Balas

Alhamdulillah.....beneran stabil masbro