Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Rencana Investasi: Kapan Harus Buy, Hold, or Sell?

Salah satu teknik/strategi dalam berinvestasi di saham adalah terkait bagaimana mengelola portofolio setiap beberapa waktu sekali agar menjadi ‘rapih’ kembali setelah sebelumnya ‘berantakan’, dengan cara melepas saham-saham yang tidak produktif/turun, meng-hold saham-saham yang masih berpotensi untuk naik lebih lanjut, dan membeli saham-saham baru untuk menggantikan saham-saham yang dilepas. Bahasa kerennya untuk strategi seperti ini adalah portfolio re-balancing. Portfolio rebalancing ini sangat penting untuk dilakukan entah itu anda adalah seorang investor jangka panjang, ataupun trader.


Analogi dari portfolio rebalancing ini adalah seperti dalam kompetisi sepakbola. Setiap tahunnya, para manajer sebuah klub memiliki kesempatan dua kali, yakni ketika jendela transfer dibuka pada pertengahan dan awal musim kompetisi, untuk membeli pemain yang ia butuhkan, mempertahankan sebagian pemain yang sudah ada, dan menjual/melepas sebagian pemain yang tidak lagi dibutuhkan oleh tim. Kegiatan jual beli pemain ini diperlukan karena pemain sepakbola yang amat sangat bagus sekalipun, pada akhirnya dia akan menjadi tua dan kehilangan kemampuannya, sehingga tidak lagi bisa berkontribusi terhadap tim. Disisi lain, setiap tahunnya akan selalu ada pemain-pemain muda berbakat yang bisa diambil oleh klub untuk memperkuat tim, untuk menggantikan pemain yang sudah tidak lagi bisa berkontribusi.

Selain karena masalah usia yang tidak lagi muda, masih ada banyak lagi alasan kenapa sebuah klub menjual pemainnya, seperti karena: 1. Si pemain ternyata tidak mampu bermain seperti yang diharapkan, atau karena gaya permainannya tidak cocok dengan gaya permainan tim secara keseluruhan (kalau kejadiannya kaya gini, maka harga jual si pemain akan lebih rendah dibanding harga belinya, alias pihak klub terpaksa jual rugi), 2. Si pemain memiliki sifat temperamental, atau sering berbuat onar diluar lapangan, 3. Adanya tawaran dari klub lain yang berani membelinya dengan harga selangit, dan 4. Manajemen klub butuh dana untuk membeli pemain lain yang lebih bagus.

Ketika klub mempertahankan pemainnya/tidak menjualnya, maka alasannya cuma satu: Si pemain masih bisa diharapkan untuk berkontribusi lebih banyak lagi terhadap tim secara keseluruhan, dimana meski ada klub-klub lain yang mengincarnya, namun harga yang mereka tawarkan tidak/belum sebanding dengan besarnya kontribusi tersebut.

Sementara ketika sebuah klub membeli seorang pemain, alasannya bisa karena: 1. Harganya relatif murah dibanding dengan kualitas si pemarin itu sendiri, 2. Harganya murah, dan memang kualitasnya juga tidak bagus-bagus amat, namun sesuai dengan kebutuhan tim atau si manajer, 3. Merupakan pemain muda dengan bakat terpendam, dan 4. Harganya mahal, namun setimpal dengan kualitasnya yang luar biasa.

Nah, percaya atau tidak, dalam menyusun komposisi portofolio saham, maka tugas anda sebagai investor adalah seperti manajer klub sepakbola tadi, dan saham-saham yang anda pegang adalah seperti para pemain sepakbolanya. Jadi kenapa anda harus menjual salah satu atau beberapa saham yang anda pegang? Well, itu mungkin karena: 1. Ketika anda membeli saham tertentu, alasannya adalah karena kinerja/fundamental perusahaannya terbilang bagus, namun di periode berikutnya perusahaan ternyata tidak bisa mempertahankan kinerjanya yang bagus tersebut (misalnya labanya tiba-tiba turun drastis, atau bahkan rugi), 2. Sahamnya sering bergerak liar termasuk turun sendiri tanpa penyebab yang jelas, sehingga mengganggu kinerja portofolio secara keseluruhan, 3. Pada titik tertentu, misalnya ketika pasar sedang bullish, harga saham tersebut sudah naik sangat tinggi dibanding dengan perkembangan fundamental dari perusahaannya sendiri, sehingga valuasinya menjadi sangat mahal, dan 4. Anda butuh dana untuk membeli saham bagus.

Kalau anda perhatikan ketiga poin ‘alasan penjualan’ diatas, maka anda bisa menjual saham anda dalam posisi untung, rugi, ataupun tengah-tengahnya. Jadi alasan kenapa anda harus menjual saham tertentu bukanlah karena anda sudah untung atau rugi sekian persen dari saham tersebut, melainkan karena anda harus menjualnya saja. Tak peduli seberapa dalam kerugian yang anda alami, namun kalau saham tersebut kemungkinan masih bisa turun, maka segeralah menjualnya. Sebaliknya, meski anda mungkin akan ‘jatuh cinta’ pada saham tertentu karena saham tersebut sudah memberikan keuntungan sebesar sekian kali lipat sehingga anda bertekad untuk memegangnya selamanya, namun jika ‘waktunya tiba’ dimana anda harus menjualnya, maka anda harus menjualnya. Saham sekelas Astra International (ASII) sekalipun, jika anda terus memegangnya selama periode tahun 2011 – 2013, maka anda akan kehilangan waktu 2 tahun yang amat berharga tanpa memperoleh apa-apa, karena ASII hanya bergerak stagnan selama periode waktu tersebut, sesuai dengan kinerjanya yang juga stagnan karena pelemahan harga CPO dan batubara ketika itu.

Lalu kenapa saham-saham yang lainnya bisa di-hold? Ya itu karena saham tersebut, setelah anda pelajari kembali, masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi, meski kenaikan tersebut tentunya tidak akan terjadi hanya dalam waktu 1 – 2 hari. Adalah konyol jika anda meng-hold saham tertentu karena ‘soalnya saya udah nyangkut terlalu dalam, jadi tunggu dia naik dulu deh kemudian baru cut loss’. Pertanyaannya, kalau kinerja perusahaannya sendiri ternyata sudah amburadul, gimana sahamnya bisa naik?

Dan ketika anda berniat untuk membeli saham-saham tertentu (sebagai ganti dari saham-saham yang sudah dijual sebelumnya), maka beberapa alasan yang masuk akal adalah: 1. Valuasinya relatif murah, padahal sahamnya bagus (biasanya ini terjadi hanya kalau pasar/IHSG lagi bearish alias turun), 2. Valuasinya sangat murah, meski memang fundamentalnya gak bagus-bagus amat (tapi juga nggak bisa dikatakan jelek), 3. Sahamnya mewakili perusahaan kecil yang berpeluang untuk tumbuh menjadi besar suatu hari nanti, dan 4. Meski harganya mahal, namun harga tersebut cukup setimpal dengan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba secara konsisten dari tahun ke tahun.

Jadi percaya atau tidak, kalau orang-orang seperti Carlo Ancelotti, Jose Mourinho, dan Joseph Guardiola main saham, mereka semua akan menggunakan strategi value investing, yakni membeli saham berdasarkan fundamental dan valuasinya. Nah, sekarang coba anda bayangkan kalau para manajer sepakbola ini membeli pemain sepakbola hanya karena rumor bahwa ada pemain hebat bla bla bla, tanpa menyelidiki/menganalisis si pemain ini terlebih dahulu, dan tanpa mempertimbangkan apakah harganya terbilang wajar atau tidak. Kira-kira bagaimana hasilnya? Sayangnya, hingga di pasar modal masih banyak sekali investor/trader yang membeli saham hanya berdasarkan rumor tanpa analisis, sehingga hasilnya pun bisa ditebak: Di musim berikutnya mereka terdegradasi, alias gak maen saham lagi karena sudah rugi terlalu besar. Sebenarnya, seorang manajer yang berkualitas pun belum tentu bisa langsung membawa timnya ke tangga juara, seperti semalam, Manchester United lagi-lagi keok ditangan tim semenjana, Leicester City, padahal mereka sudah ditangani oleh pelatih yang kemarin sukses membawa Belanda menempati peringkat ketiga Piala Dunia 2014: Louis van Gaal. Okay, Meneer van Gaal pun mungkin melakukan kesalahan tertentu yang menyebabkan MU kalah, tapi bisakah anda bayangkan bakal seperti apa hasilnya jika van Gaal hanya asal comot pemain tanpa analisis apakah sesuai dengan kebutuhan tim, dan semacamnya?

Okay, lalu pertanyaan berikutnya, kapan kita bisa ‘mengocok ulang’ komposisi portofolio, alias menjual saham yang tertentu, meng-hold selebihnya, dan membeli saham-saham baru?

Tidak ada jawaban pasti akan pertanyaan ini, karena jawabannya bisa beda-beda tergantung siapa yang ditanya. Beberapa trader yang kecanduan trading mungkin akan mengocok portofolionya setiap saat selama jam trading, dimana ia bisa membeli saham tertentu di pagi hari, dan menjualnya pada sore harinya, dan besoknya ganti saham lagi. Namun sayangnya berdasarkan pengalaman banyak kawan-kawan trader, termasuk pengalaman penulis sendiri dulu, keseringan mengocok seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kerugian.

Sementara kalau anda mau mencontoh strategi portfolio rebalancing ala manager klub sepakbola, maka anda bisa melakukan melirik kembali portofolio anda setiap enam bulan sekali. Sebenarnya pasar saham membuka ‘transfer window’-nya hampir setiap hari, yakni dari hari Senin sampai Jumat, pukul 09.00 – 16.00 WIB, namun anda bisa menerapkan transfer window anda sendiri, katakanlah setiap enam bulan sekali, yakni pada akhir tahun dan akhir bulan Juni. Beberapa pakar investasi di masa lalu seperti John Maynard Keynes, menyarankan kepada investor untuk mengunjungi portofolio-nya setahun sekali saja, sementara waktu selebihnya gunakan untuk ‘minum sampanye, pergi keluar dan menikmati hidup’.


However, kalau kita hanya berlibur saja sepanjang tahun, maka bisa jadi liburan itu sendiri justru akan terasa membosankan. Jadi keputusan untuk hanya melirik koleksi pegangan saham setahun sekali mungkin bukanlah ide yang terlalu bagus. So, disini penulis akan share apa saya lakukan selama ini. Ingat bahwa penulis adalah full time investor, sehingga diluar kegiatan ‘kocok mengocok’ saham, menulis blog ini, baca-baca tentang investasi, hingga menyelenggarakan seminar, saya lebih banyak jalan-jalan atau maen Playstation saja dirumah, alias liburan (meski gak pake minum sampanye juga). And here we go!

Pertama, meski penulis terbilang jarang trading saham apalagi mengamati running trade, namun minimal sebulan sekali saya selalu mengecek kondisi portofolio, yakni pada awal bulan (tanggal 1 atau 2) untuk mengetahui saham-saham apa saja yang naik, saham mana yang mungkin malah turun, dan mempelajari posisi IHSG, apakah pada bulan depan kemungkinan dia akan naik atau terkoreksi. Penulis katakan minimal, karena pada tanggal-tanggal tertentu diluar tanggal 1 atau 2, saya juga bisa saja membeli atau menjual saham tertentu, tapi itu bukan karena saya melototin monitor komputer setiap hari, melainkan kalau terjadi peristiwa luar biasa tertentu. Contohnya, beberapa waktu terakhir ini penulis banyak mendengar keluhan dari teman-teman bahwa United Tractors (UNTR) entah kenapa turun, padahal gak ada masalah apa-apa. Karena kebetulan penulis tidak memegang UNTR ini sebelumnya, dan memang masih ada sedikit cash, maka penulis kemudian mengamati UNTR ini hingga pada titik tertentu saya mungkin memutuskan untuk membelinya, jika tampak bahwa dia akan kembali rebound. Dan keputusan untuk membeli tersebut tidak perlu menunggu sampai akhir bulan/awal bulan berikutnya.

Sedikit catatan, Buffett pernah ditanya soal kapan waktunya beli saham? Dan beliau menjawab, ketika kamu menemukan saham murah, dan kamu punya uangnya! Jadi kerjaan value investor itu adalah hunting ­saham-saham murah, gak perlu setiap hari (pas lagi mood aja juga boleh), dan kalau ketemu maka belilah saat itu juga, alias nggak perlu menunggu akhir bulan apalagi akhir tahun.

Dan kedua, diluar kerjaan rutin tiap bulan diatas, penulis juga senantiasa mempelajari laporan keuangan para emiten setiap kali laporan keuangan ini keluar setiap kuartal, alias setiap tiga bulan sekali. Jika ada pegangan saham yang kinerja perusahaannya ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya, maka mungkin sahamnya akan dilepas dulu, mungkin untuk nanti dibeli kembali atau dilupakan sama sekali. Dan jika ada perusahaan yang kinerja tampak meyakinkan, maka sahamnya boleh dibeli.

Jadi kalau bagi penulis sendiri, ‘transfer window’-nya dibuka setiap awal bulan Januari - Februari, April, Agustus, dan November, alias empat kali setahun. Diluar pengaruh faktor kenaikan/koreksi pasar yang bisa terjadi setiap saat, pada waktu-waktu itulah penulis paling banyak menjual atau membeli saham tertentu.

Cara Menjaga Agar Komposisi Portofolio Tetap Terkendali

Kemudian, anda harus menjaga jumlah saham yang anda pegang agar tidak terlalu banyak. Analoginya balik lagi ke klub sepakbola: Terserah mereka mau seberapa sering menjual atau membeli pemain, namun peraturan internasional menyebutkan bahwa jumlah pemain di dalam sebuah tim adalah maksimal 32 orang (diluar tim junior), yakni 11 pemain inti, 11 pemain cadangan, dan selebihnya pemain lapis tiga. Artinya jika Manchester United mau membeli 1 orang pemain baru, sementara jumlah anggota tim-nya sudah mentok 32 pemain, maka manajemen klub harus melepas satu pemain yang sudah ada, entah itu menjualnya atau memutus kontraknya (jika dia nggak laku dijual).

Disisi lain, sebuah klub juga harus memiliki minimal 16 pemain jika hendak ikut kompetisi, alias gak boleh kurang dari itu, dan itu tentu saja bisa dijelaskan. Bisakah anda bayangkan jika Real Madrid hanya punya persis 11 pemain tanpa adanya pemain cadangan sama sekali? Bagaimana jika kemudian Cristiano Ronaldo atau Gareth Bale cedera? Siapa yang menggantikan?

So, di saham juga anda harus menetapkan berapa maksimal anda bisa memegang saham-saham yang berbeda, dan juga berapa minimalnya. Jika anda sejak awal memutuskan bahwa anda hanya bisa memegang maksimal sepuluh saham, maka ketika anda tertarik untuk membeli saham nomor sebelas, anda harus menjual salah satu pegangan anda sehingga jumlah saham yang anda pegang tetap sepuluh saham. Yang menetapkan batas maksimal 10 saham itu adalah anda sendiri, jadi jangan pernah melanggar peraturan yang anda buat sendiri.

Disisi lain anda juga harus menetapkan jumlah minimal saham yang bisa anda pegang, karena akan sangat berisiko jika anda menempatkan seluruh dana yang tersedia hanya pada satu atau dua saham. Jika anda menetapkan minimalnya tiga saham, misalnya, maka ketika anda menjual hampir seluruh pegangan (misalnya karena anda melihat bahwa IHSG sebentar lagi bakal anjlok), tetap sisakan tiga saham di portofolio anda, biasanya merupakan saham-saham yang sejak awal anda memutuskan untuk memegangnya dalam jangka panjang, dimana kalau nanti harganya turun maka itu nggak masalah, karena anda bisa membelinya lagi menggunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, tindakan untuk ‘sapu bersih’ portofolio hanya karena khawatir bahwa pasar akan jatuh justru merugikan diri sendiri dimana saya jadinya ketinggalan kereta (atau merealisasikan kerugian yang seharusnya masih floating) ketika IHSG kemudian berbalik naik, dan masalahnya kita tidak bisa mengetahui secara persis kapan pasar akan naik atau turun.

Setelah melakukan trial and error selama beberapa tahun ini, jumlah maksimal saham yang penulis pegang adalah 15 saham, dan minimalnya 5 saham. Menurut opini penulis, jumlah ini mencerminkan strategi diversifikasi yang sehat dan tidak berlebihan, dimana saya nggak pernah memegang lebih dari 15 saham (jumlah 15 ini mungkin akan dinaikkan suatu hari nanti, tapi untuk saat ini belum perlu). Penulis mengenal beberapa investor yang cukup sering membeli saham tapi ‘lupa’ menjualnya, sehingga koleksi sahamnya jadi banyak sekali dan nggak karuan (baca: banyak yang nyangkut), dan anda tentu saja tidak mau mengalami hal itu bukan? So, mudah-mudahan dengan strategi ‘maksimal minimal’ ini komposisi portofolio anda akan menjadi jauh lebih sehat dari sebelumnya.

Okay, that’s all I can share for this week. Jika anda punya strategi alternatif terkait rebalancing portfolio ini, maka anda bisa juga meng-share-nya melalui kolom komentar dibawah.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

6 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Mas teguh,ada perbedaan utk mengkoleksi jumlah saham ala Warren Buffet dgn kondisi di Indonesia?oleh karena di sana pasar modal kan udah matur...sedangkan IHSG lebih fragile...mohon masukannya..tks

Gustomo Panantro mengatakan... Balas

meng-analogikan jumlah saham yg dikoleksi dgn jumlah pemain bola sangat menarik mas teguh, namun apakah ada panduan buat kita sebagai investor mengenai komposisi "pemain"? apakah selayaknya 2/3 diisi oleh pemain (baca: saham) yg kita anggap "the next rising star?" selanjutnya dapat kita hold sampai berapa lama? oleh karena ditakutkan likuiditasnya...mohon pencerahannya

Anonim mengatakan... Balas

Maaf kalau saya tidak sependapat terhadap kalimat dalam artikel Bapak yang bunyinya, "Saham sekelas Astra International (ASII) sekalipun, jika anda terus memegangnya selama periode tahun 2011 – 2013, maka anda akan kehilangan waktu 2 tahun yang amat berharga tanpa memperoleh apa-apa,..." menurut saya itu sama sekali tidak benar, karena ASII setiap tahunnya rutin membagikan devidennya kepada pemegang sahamnya dua kali dalam setahun yang mana total Deviden Pay Out Rationya setahun antara 32% s/d 45% yang bisa melebihi bunga deposito bank pertahun kalau kita beli ASII pada harga tertentu kala itu. Sehingga walau harga stagnan tidak kemana-mana namun kita memperoleh deviden yang besarnya melebihi bunga deposito.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Oh iyaaaaa, maaf saya lupa soal dividen itu. Iya selama 2011 - 2013 ASII tetap membagikan dividen dalam jumlah yang signifikan, jadi pemegang saham tetap memperoleh keuntungan. Terima kasih atas koreksinya pak Anonim :)

Anonim mengatakan... Balas

Pak, divident payout 32-45% bukankah itu dari laba bersih ? Yg dinikmati secara cash oleh pemegang saham publik bukannya yield divident ya?

Anonim mengatakan... Balas

Betul Pak, mungkin mksd kalimat lengkapnya adalah seperti ini, "dengan divident payout ratio ASII yang besarnya 32-45%pertahun maka kalau kita beli ASII pada 'harga tertentu' kala itu maka yield deviden yang kita terima dapat melebihi suku bunga deposito bank yang pertahunnya berkisar antara 4% s/d 7%".