Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Pension Class: Cara mempersiapkan Dana Pensiun Melalui Investasi Saham, Menggunakan Kaidah Value Investing. Jakarta, Sabtu 1 September 2018. Info selengkapnya baca disini.

Prospek Saham Perkebunan Kelapa Sawit

Salah satu pekerjaan rutin kami di Avere setiap awal tahun adalah mengecek statistik BEI pada akhir tahun sebelumnya, untuk mengetahui berapa persen kenaikan IHSG, dan sektor-sektor apa saja yang kenaikannya tidak setinggi IHSG sepanjang tahun tersebut. Sebab berdasarkan pengalaman, value opportunity biasanya terletak pada saham-saham yang ‘ketinggalan kereta’ ini. Contoh paling dramatis, pada 2015 lalu IHSG drop 12.1%, dan sektor yang paling kena hantam adalah sektor tambang, dimana sepanjang tahun 2015 indeks mining drop sampai 40.7%, terburuk dibanding semua sektor lainnya. Namun ketika pasar mulai pulih di tahun 2016 dimana IHSG naik 15.3%, maka sektor mining-lah yang menjadi juaranya dengan kenaikan 70.7% (dan memang sepanjang tahun 2016 lalu, di blog ini sendiri kami sudah banyak membahas soal sektor mining tersebut, terutama batubara).

Okay, lalu bagaimana dengan tahun 2018 ini? Kira-kira sektor apa yang ketinggalan kereta sepanjang 2017 lalu? Well, mari kita lihat saja datanya: Sepanjang 2017, IHSG naik total 20.0%, atau cukup signifikan, namun surprisingly ada dua sektor yang justru turun yakni properti dan konstruksi (turun 4.3%), dan agriculture alias perkebunan (turun 13.3%). Nah, jadi apakah peluangnya sekarang terletak di saham-saham properti, konstruksi, serta perkebunan ini? Mari kita cek, dalam hal ini kita lihat sektor perkebunan dulu.

Indeks Kode di Yahoo Finance Kinerja 2017 (%)
IHSG ^JKSE 20.0
LQ45 ^JKLQ45 22.0
Agriculture ^JKAGRI (13.3)
Mining ^JKMING 15.1
Basic Industry & Chemicals ^JKBIND 28.1
Miscellaneous Industry ^JKMISC 0.8
Consumer Goods ^JKCONS 23.1
Property & Construction ^JKPROP (4.3)
Infrastructure & Transportation ^JKINFA 12.1
Banking & Finance ^JKFINA 40.5
Trade & Service ^JKTRAD 7.1
Manufacturing ^JKMNFG 19.8

Ketika harga-harga komoditas mulai melambung tinggi, awal dekade 2000-an lalu, salah satu komoditas yang melejit adalah minyak sawit mentah alias crude palm oil, atau CPO. Dan kebetulan, lahan di Indonesia terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan ternyata sangat cocok untuk tanaman sawit. Maka muncullah banyak perusahaan yang membeli lahan luas untuk kemudian disulap menjadi perkebunan kelapa sawit, dan Indonesia segera menjadi salah satu produsen CPO terbesar di dunia. Di tahun-tahun berikutnya, CPO, bersama dengan batubara, hampir selalu menjadi dua komoditas utama ekspor nasional diluar migas. Pada puncak booming komoditas di tahun 2011 lalu, CPO menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar kedua dengan nilai ekspor nasional mencapai US$ 21.7 milyar (dibawah batubara senilai US$ 27.3 milyar), dan pada tahun tersebut muncul banyak perusahaan Tbk di bidang perkebunan kelapa sawit yang, karena kinerja fundamentalnya yang bagus, menjadi favorit para investor pasar modal, seperti Astra Agro Lestari (AALI), PP London Sumatera (LSIP), hingga Sampoerna Agro (SGRO). Beberapa konglomerasi besar seperti Grup Sinarmas dan Grup Salim juga cuan besar dari sektor CPO ini, dan mereka menggunakan uangnya untuk investasi di sektor-sektor usaha lain seperti properti dan tambang, selain investasi/memperluas kebun sawit yang mereka miliki itu sendiri.

Ilustrasi Perkebunan Kelapa Sawit & Pabrik Pengolahan Biji Sawit menjadi CPO milik PT Astra Agro Lestari, Tbk

However, pada tahun 2011 tersebut, jika dibanding batubara, maka sektor sawit ini tidak terlalu terasa booming-nya, dimana investor yang tertarik untuk invest di sektor riil biasanya akan lebih memilih beli tambang batubara ketimbang lahan kebun sawit. Sementara di pasar modal, penulis ingat betul, saham-saham CPO juga agak telat naiknya dibanding saham-saham batubara. Padahal pada awal tahun 2011, bersamaan dengan harga batubara yang mencapai rekor tertinggi US$ 120 per ton, benchmark harga CPO di Bursa Malaysia juga sempat menyentuh rekor RM4,000 per ton. Tapi ketika saham PTBA dkk ketika itu beterbangan bahkan sejak tahun sebelumnya (2010), saham LSIP dkk masih adem ayem saja/tetap naik tapi kenaikannya tidak banyak.

Dan saham-saham CPO ini baru naik banyak mulai pertengahan tahun 2011, yakni ketika para emiten merilis laporan keuangan untuk Kuartal I 2011, dimana memang profit mereka melonjak signifikan. Berdasarkan pengalaman inilah, penulis kemudian mikir lagi: Kenapa saham-saham batubara bisa dengan cepat naik simply ketika harga batubara naik (jadi para emiten batubara sejatinya belum benar-benar membukukan profit di laporan keuangannya), tapi saham-saham CPO harus tunggu laporan keuangan mereka dulu, baru kemudian naik? Dan jawabannya adalah, karena batubara itu cenderung easy business. Yup, kalau anda pegang KP (kuasa pertambangan) untuk satu lahan tambang tertentu, maka selanjutnya anda tinggal gali tanahnya, ambil batubara yang ada dibawah lapisan tanah tersebut, angkut ke pelabuhan, lalu jual, terima duit, selesai!

Sementara sawit? Well, ketika anda menanam pohon sawit, maka pohon itu baru bisa dipanen/menghasilkan CPO paling cepat sekitar tiga tahun kemudian, itupun jika selama itu kita rajin menyiram dan memberi pupuk (pohon sawit termasuk jenis tanaman yang membutuhkan pasokan air yang sangat besar). Masalahnya, let say kita sukses memelihara kebun sawitnya hingga siap panen, tapi bagaimana kalau harga CPO sedang turun justru ketika kebunnya sudah siap panen? Dari sinilah kemudian timbul ketidak pastian: Hanya karena harga CPO naik, maka bukan berarti perusahaan sawit bakal langsung cuan. Jadi kalau anda hendak beli saham LSIP dkk, maka sebaiknya tunggu dulu hingga perusahaan merilis laporan keuangannya, just to make sure.

Karena alasan inilah, ketika harga-harga komoditas mulai pulih lagi pertengahan 2016 lalu, penulis ketika itu hanya melirik saham-saham batubara saja, dan tidak atau belum melirik sektor perkebunan ini (baca lagi penjelasannya disini). Okay, tapi untuk sekarang ini kan saham-saham batubara udah pada naik semua tuh, sedangkan sawit kelihatannya masih belum kemana-mana. Jadi apakah sekarang sudah waktunya kita pindah ke sektor perkebunan ini?

Sayangnya, jawabannya mungkin masih belum. Sejak sekitar setahun lalu, penulis sudah mengatakan bahwa seiring dengan rencana IPO Aramco, yang merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia asal Arab Saudi, maka harga minyak kemungkinan akan dijaga agar tidak turun, atau bahkan dikerek naik (baca lagi ulasannya disini). Dan memang, pada hari ini kita bisa menyaksikan harga minyak dunia cenderung naik, dari US$ 40, 50, hingga tembus US$ 60 per barel. Sementara rumus gampangnya adalah, kalau harga minyak naik, maka harga komoditas energi lainnya, seperti gas dan juga batubara, biasanya juga akan ikut naik. Problemnya, sekali lagi berdasarkan pengalaman, jika semua orang di seluruh dunia hanya fokus pada kenaikan harga minyak yang notabene merupakan komoditas dunia paling penting, apalagi jika diiringi oleh ‘peristiwa besar’ seperti IPO Aramco diatas, maka terkadang komoditas-komoditas lainnya (komoditas non energi) justru terlupakan, dan alhasil harga komoditas non energi ini menjadi stagnan atau bahkan malah turun.

Dan memang itulah yang terjadi pada CPO. Sebenarnya ketika harga komoditas mulai naik pada penghujung tahun 2016 lalu, maka harga CPO juga turut merangkak naik dari RM1,900 hingga hampir saja tembus RM3,000 pada awal 2017, tapi kesininya harga CPO malah justru turun, hingga terakhir balik lagi ke level dibawah RM2,500 per ton (anda bisa melihatnya di www.bursamalaysia.com). Yup, jadi inilah yang bikin saham-saham perkebunan pada lesu darah sepanjang tahun 2017 lalu. Karena coba pikir: Jika harga CPO lagi tinggi saja maka para emiten sawit belum tentu cuan, apalagi jika harga CPO lagi turun?

Indonesia: Produsen CPO Terbesar di Dunia, but That’s Actually Bad News

Kemudian, penulis sendiri baru menyadari belakangan ini bahwa sepertinya terdapat satu lagi alasan khusus kenapa harga CPO agak susah naik: Bagi anda yang belum tahu, sejak beberapa tahun lalu Indonesia sudah menyalip Malaysia untuk menjadi produsen CPO terbesar di dunia. Yup, jadi berbeda dengan batubara dimana Indonesia hanya menempati peringkat lima produsen terbesar (setelah China, Amerika Serikat, India, dan Australia), maka untuk CPO, kita adalah numero uno. Kemudian kalau melihat cakupan penggunaan CPO yang sangat luas mulai dari minyak goreng hingga bahan bakar kendaraan bermotor, maka CPO ini sejatinya juga tidak kalah pentingnya dibanding minyak. Jadi secara teori, Indonesia seharusnya tidak kalah makmur dibanding, katakanlah, Arab Saudi.

Hanya saja, I don’t know, mungkin karena Indonesia merupakan third world country, maka jadilah harga CPO ini rada susah naiknya karena memang kita kurang pinter di marketing-nya, dimana bahkan benchmark harga CPO dunia yang dipakai adalah yang di Bursa Malaysia, bukan di Indonesia itu sendiri. Yup, jadi berbeda dengan minyak yang dimana produsen terbesarnya adalah negara superpower macam Rusia dan Amerika Serikat (Arab Saudi juga merupakan ‘kawan baik’ Amerika), sehingga mereka bisa dengan leluasa menaik turunkan harga minyak, Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan harga CPO dunia, padahal kita merupakan produsen terbesar. Lebih buruk lagi, sudah sejak lama industri sawit juga diserang dengan isu pembabatan hutan, global warming, hingga perusakan habitat hewan-hewan seperti orangutan di Kalimantan (tapi anehnya industri minyak, yang jelas-jelas lebih merusak lingkungan, jarang diserang dengan isu-isu seperti itu). Para produsen CPO di Malaysia (lagi-lagi Malaysia, bukan Indonesia) mencoba mengatasi isu-isu negatif ini dengan mendirikan organisasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di tahun 2004, dimana RSPO ini menerbitkan sertifikat CSPO (certified sustainable palm oil) bagi perusahaan-perusahaan sawit yang dianggap ‘tidak merusak lingkungan’, dan CSPO ini juga sudah diakui dunia. But still, hal ini tidak mampu meredam sepenuhnya isu-isu negatif di sektor perkebunan.

Dan salah satu problem kenapa Indonesia tidak memiliki kendali atas harga jual CPO, adalah karena di Indonesia sendiri belum berkembang industri-industri hilir untuk CPO (paling sebatas bikin margarine saja), sehingga otomatis posisi tawar kita menjadi lemah dibanding negara lain yang mampu mengolah CPO tersebut.

Padahal, seperti halnya minyak dan batubara, CPO adalah merupakan kebutuhan utama dunia untuk bahan baku minyak goreng dan margarine, produk-produk makanan, obat-obatan, kosmetik, produk-produk kimia (oleochemical), bahkan untuk membuat biosolar. Jadi seperti yang disebut diatas, cakupan penggunaan CPO ini sangat luas. Dan lebih penting lagi, berbeda dengan kebanyakan komoditas lainnya, CPO hampir tidak memiliki komoditas pengganti. I mean, kalau anda pakai bensin untuk mobil, maka sekarang sudah ada mobil listrik. Kalau anda pake batubara untuk pembangkit listrik, maka di Amerika sana sebagian pembangkit listrik sudah mengganti batubara dengan gas. Sementara CPO? Well, sebenarnya anda bisa juga pakai minyak kelapa atau olive oil untuk memasak, tapi harganya muahal sekali, dan juga sulit diperoleh. Jadi pada akhirnya orang hanya akan pakai minyak sawit.

Hanya saja, sekali lagi, berbeda dengan Arab Saudi yang sudah mampu mengolah sendiri minyaknya menjadi produk-produk petrochemical dll, Indonesia masih belum benar-benar mampu untuk mengolah CPO. Karena itulah, harga CPO mungkin justru malah ditekan oleh negara-negara maju agar mereka bisa memperoleh suplai CPO dari Indonesia pada harga murah. Karena toh pada akhirnya, para perusahaan perkebunan di Indonesia nyaris tidak punya pilihan lain kecuali menjual CPO-nya ke pasar ekspor ‘pada harga berapapun asal laku’, karena mereka belum bisa menjualnya ke pasar/industri dalam negeri. Jadi kecuali nanti di Indonesia sudah berdiri pabrik farmasi, kosmetik dll yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, maka harga CPO belum akan naik dulu.

Anyway, kabar baiknya, meski harga CPO turun lagi, namun penurunannya tidak sampai balik lagi ke level terendahnya di awal tahun 2016 lalu. Yup, jadi secara keseluruhan harga CPO sebenarnya masih naik, dan penulis termasuk yang percaya bahwa masa-masa kritis sektor komoditas secara umum memang sudah berakhir pada tahun 2016 tersebut, dimana untuk sekarang perlahan tapi pasti harga-harga komoditas kembali bergerak naik (karena juga seiring inflasi dunia), tapi tentu, seringkali naiknya tidak secara bersamaan, alias bergiliran.

Jadi meski seperti yang dibahas diatas, terdapat alasan kuat kenapa harga CPO susah naik, tapi disisi lain harga CPO juga tidak akan turun lagi, karena toh pada akhirnya negara-negara diluar Indonesia tetap butuh CPO ini. Kata kuncinya disini adalah, Indonesia harus bisa mengembangkan industri hilir bagi CPO agar kemudian bisa memiliki kendali atas harga CPO dunia. Jadi, yap, yang kita tunggu sekarang ini adalah kebijakan Pemerintah atau semacamnya, yang bertujuan untuk mendorong hilirisasi CPO, yang kemudian mendorong kenaikan harga CPO. Dan ketika itulah saham-saham perkebunan kelapa sawit, yang valuasinya memang bisa dianggap paling murah di bursa saat ini, akan punya alasan kuat untuk naik.

Untuk kedepannya kita mungkin akan update lagi prospek sektor perkebunan kelapa sawit ini. Tapi untuk minggu depan, kita akan bahas update sektor konstruksi, atau properti.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Segera Indonesia dgn added value product CPO dan disitu proses tawar mnawar hrgnya bakal balik, hanya saja realisasi proyek ini msh memakan 10-20 thn, sesabar apa investor?

Yohannes FS mengatakan... Balas

Pak Teguh, beberapa hari lalu saya membaca berita mengenai penghentian pemakaian CPO oleh Uni Eropa pada tahun 2021 kira kira apa pengaruhnya untuk bisnis CPO ini? Apakah pengaruhnya akan langsung terasa pada tahun ini?

Anonim mengatakan... Balas

Saya beli saham perkebunan sedikit (7%) dari portofolio saham saya (4 perusahaan saham yang berbeda-beda sektornya) pada pertengahan bulan januari 2018. Saham perkebunan itu adalah Salim Ivomas. Naiknya sedikit-sedikit memang, tapi saya tetap pegang karena saya fungsikan sebagai diversifikasi resiko. Selain itu, masih untung. Mungkin lebih dari nabung di SUN di akhir tahun. Lumayan lah.