Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar: Value Investing Pension Class: Cara mempersiapkan Dana Pensiun Melalui Investasi Saham, Menggunakan Kaidah Value Investing. Jakarta, Sabtu 1 September 2018. Info selengkapnya baca disini.

Tips u/ Investor Pemula: Milikilah Mentor!

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, kalau saya baca dari tulisan-tulisannya, kelihatannya Pak Teguh ini berkiblat banget sama Warren Buffett. Kenapa pak? Apakah karena beliau paling kaya dibanding investor-investor lain? Padahal kan ada cukup banyak investor lain yang, meski belum sekaya WB, tapi annual return investasinya lebih bagus, seperti Joel Greenblatt, Carl Icahn, Peter Lynch, dst.’

Nah, kebanyakan orang mungkin mengidolakan WB karena beliau adalah investor paling senior dan paling sukses, termasuk sudah menghasilkan banyak sekali karya tulis baik itu melalui annual letter-nya yang terkenal, ataupun buku-buku tentang investasi yang ditulis oleh orang lain (tapi berdasarkan metode investasinya WB).

However, bukan itu alasan kenapa penulis hanya menjadikan WB sebagai panutan, melainkan karena alasan-alasan berikut.

Pertama, yup, memang benar bahwa investor besar di dunia ini gak cuma WB, melainkan banyak lagi yang lain. Dan kalau ukurannya adalah annual return, maka WB juga bukanlah yang terbaik.

Namun terus terang, penulis sebenarnya sama saja seperti investor lain pada umumnya: Malas belajar dan malas baca, dimana saya lebih suka menghabiskan waktu untuk liburan ke pantai ketimbang baca-baca literatur tentang saham, termasuk seperti yang pernah penulis sampaikan di artikel ini, saya bahkan belum selesai membaca buku The Intelligent Investor karya Ben Graham. Intinya kalau saya disuruh baca semua buku karya investor terkenal, maka terus terang saja, saya gak punya waktu. Yup, karena bahkan bagi investor full time sekalipun, yang notabene gak punya kerjaan lain lagi, maka pekerjaan rutin menganalisis saham serta menyusun investment planning itu sudah cukup menyita waktu, konsentrasi, serta fokus. Dan daripada belajar dari buku-buku, saya lebih suka belajar dari pengalaman saja, dengan cara learning by doing.

Karena itulah, dan karena untuk mempelajari cara-cara investasi WB (dari annual letter-nya, dll) juga sebenarnya panjang banget (selama WB masih belum pensiun, maka selama itu pula kita bisa belajar dari beliau), maka penulis kemudian fokus berpedoman dari WB saja. Sudah tentu, penulis bukannya menutup diri dari belajar dari investor lain, namun biasanya saya sebatas membaca buku karya mereka saja. Contohnya buku karya Guy Spier, seorang value investor sukses yang pernah makan siang langsung dengan WB. Namun setelah selesai membaca bukunya (isinya kaya novel, dimana Mr. Spier menceritakan pengalaman serta ‘kisah nyata’-nya sebagai investor), penulis tidak cari tahu lebih lanjut tentang Mr. Spier, karena sekali lagi, itu membutuhkan waktu.

Buku ini beneran bagus lho

Kedua, seperti yang disebut diatas, kebanyakan orang menyukai WB mungkin karena memang dia langganan Majalah Forbes sebagai salah satu orang terkaya di dunia. However, kalaupun penulis sudah mengenal WB di awal tahun 1960-an, yakni ketika beliau masih belum jadi siapa-siapa, maka mungkin saya tetap akan menjadikan beliau sebagai panutan dan kawan baik. Sebab WB tidak hanya seorang real investor, tapi ia juga merupakan a good person, and a good human being. Di banyak annual letter-nya, WB tidak hanya berbagi tentang filosofi-filosofinya dalam berinvestasi, tapi juga filosofinya dalam menjalani kehidupan layaknya manusia pada umumnya. Buffett banyak mengajarkan tentang kesederhanaan, kesabaran, hingga menggunakan kekayaan yang kita miliki untuk tujuan yang baik seperti filantropi.

Dan kalau anda sudah cukup lama di pasar modal, maka anda akan menyadari bahwa sangat sulit bagi siapapun untuk bisa menjadi ‘a good person in the stock market’, karena disini banyak sekali godaannya! Yup, karena sifat dasar manusia itu adalah serakah, dimana orang lebih tertarik ‘mencopet’ saham terbang gak jelas ketimbang meraih keuntungan konsisten melalui investasi jangka panjang. Dan tidak hanya investor ritel, investor kelas kakap pun banyak sekali yang kerjaannya cuma menggoreng saham, insider trading, melakukan aksi-aksi korporasi yang merugikan investor publik, dan seterusnya.

Tapi Buffett tidak begitu, dimana sepanjang kariernya sebagai investor selama lebih dari enam dekade dihitung dari ketika ia membuka Buffett Partnership di tahun 1956 (itu adalah jangka waktu yang sangat lama!), hampir tidak ada kasus apapun yang melibatkan dirinya ataupun Berkshire (daftar lengkap ‘skandal’ WB bisa dibaca disini). Sementara investor/trader saham besar lain biasanya mereka ada saja kasus atau cerita jeleknya, atau bahkan justru terkenal karena kasusnya tersebut. Jika Jordan Belfort pernah dipenjara karena menggoreng saham, Jesse Livermore meraup keuntungannya dari berspekulasi alih-alih investasi, maka George Soros terkenal dengan peristiwa ‘Black Wednesday’-nya di tahun 1992, dimana ia menghasilkan keuntungan US$ 1 milyar dari kejatuhan mata uang Pound Sterling, yang seketika menyebabkan Bank of England dan banyak lagi investor institusi lainnya kelimpungan.

Apa yang dilakukan Mr. Soros itu sepenuhnya legal, jadi ia gak pernah sampai dipenjara karenanya. Namun, entahlah dengan orang lain, tapi kalau bagi penulis sendiri, saya tidak akan happy jika memperoleh profit yang berasal dari kerugian orang lain. Dan WB banyak mengajarkan tentang hal tersebut, tentang bagaimana menghasilkan profit dengan cara-cara yang benar, tentang bagaimana ia mengakuisisi perusahaan secara baik-baik dan bukannya hostile takeover. Dalam banyak annual letternya Buffett banyak menceritakan tentang bagaimana pasar saham di Amerika, dari dekade ke dekade, selalu dipenuhi oleh investor-investor serakah yang menghalalkan segala cara untuk meraih profit sebesar-besarnya, dan memang mereka kemudian menjadi kaya karenanya. Namun WB kemudian menunjukkan bagaimana para rising star ini hanya datang dan pergi, alias tidak pernah bertahan lama di pasar modal (atau lebih tragis lagi, berakhir dengan bunuh diri seperti Mr. Livermore diatas).

Terakhir, ketiga, mungkin karena karakternya sebagai good person diatas, WB kemudian menjadi investor yang selalu happy dan santai dalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan. Ia adalah satu dari sedikit investor yang 1. Panjang umur serta awet muda, 2. Selalu tersenyum, 3. Selalu bersemangat untuk hadir di universitas untuk memberikan kuliah/motivasi, 4. Masih meluangkan waktunya untuk bermain kartu bridge, yang merupakan hobinya sejak dulu, dan 5. Lebih suka stay dirumah (yang merupakan rumah yang biasa-biasa saja untuk ukuran billionaire) sambil nonton pertandingan base ball dan makan pop corn, ketimbang bergabung dengan hiruk pikuk pasar modal. Ketika WB makan siang dengan Guy Spier dan rekannya, maka mereka membawa serta keluarganya termasuk anak-anak perempuan yang masih kecil. Dan WB bahkan masih meluangkan waktu untuk membeli kado bagi anak-anak kecil tersebut.

Padahal, jangankan jika anda bertanggung jawab atas dana kelolaan hingga puluhan milyar Dollar seperti WB, kadang beli saham senilai Rp10 juta saja lalu kemudian itu saham malah turun, pusingnya udah di ubun-ubun bukan? Jadi boro-boro bisa santai, yang ada kita malah gak bisa tidur! Tapi WB sama sekali tidak begitu. Padahal seperti halnya kita gak akan happy jika dapet profit dari kerugian orang lain, kita juga gak akan happy jika dapet profit tapi itu setelah kita jungkir balik stress gak karuan. Yup, Buffett tidak hanya mengajarkan bagaimana cara meraup profit dari saham, tapi beliau juga mengajarkan bagaimana agar profit itu diperoleh dengan cara yang baik, dan juga santai/casual, sehingga kita bisa tetap menikmati hidup. Dan penulis sendiri sudah banyak sharing artikel tentang cara ‘investasi santai’ di blog ini, dimana kita bisa dapet profit besar tapi disisi lain tetap bisa tidur nyenyak di malam hari, salah satunya di artikel ini.

Anyway, penulis sejak dulu percaya bahwa setiap investor itu unik, alias berbeda satu sama lain. Jadi meski penulis menjadikan WB sebagai panutan, tapi penulis tetap punya beberapa gaya investasi sendiri yang berbeda dengan yang WB lakukan (meski tetap berdasarkan kaidah value investing), karena disesuaikan dengan kondisi pasar saham di Indonesia, peluang yang tersedia, hingga jumlah dana kelolaan. Penulis juga tidak sampai mengidolakan WB ataupun investor lain manapun, jadi kalau misalnya ada orang lain yang mengkritik WB maka itu sah-sah saja, dan saya gak akan protes. However, karena penulis juga percaya dengan prinsip to be the best, you have to learn from the best, maka saran penulis bagi investor pemula adalah, anda harus punya seorang panutan, yang anda jadikan sebagai ‘mentor’ bahkan meski anda tidak pernah bertemu langsung dengannya.

Dan bagi penulis mentor tersebut adalah Warren Buffett. Actually, sejak beberapa tahun terakhir ini penulis punya lagi satu mentor, yakni Li Ka-shing, dan sekali lagi itu bukan karena beliau pernah menjadi orang terkaya di Asia, melainkan karena alasan-alasan yang mirip dengan Buffett. Contoh, pada tahun 1956, Mr. Li pernah menolak tawaran dari investor untuk membeli pabrik plastiknya pada harga yang akan memberikan ia keuntungan ekstra hingga 30%, karena ia sebelumnya sudah setuju secara verbal (jadi sebenarnya belum ada perjanjian tertulis) untuk menjual pabrik tersebut ke orang lain. Yup, Mr. Li selalu berpegang teguh pada integritasnya, bahkan meski itu artinya ia akan kehilangan sejumlah uang (but still, he still made it as the richest man in Hong Kong).

Untuk kedepannya penulis mungkin akan share lebih banyak lagi tentang cara-cara investasi Li Ka-shing, yang juga merupakan value investor (kasih saya waktu untuk baca-baca dulu). Tapi untuk sekarang penulis ucapkan Selamat Tahun Baru 2018, semoga di tahun yang baru ini kita semua bisa lebih sukses lagi, dan bisa lebih banyak berbagi untuk sesama, amin!

Buletin Analisis Pasar/IHSG dan Stockpick saham pilihan edisi Januari 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan penulis untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

6 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Terima kasih pak Teguh, saya sangat setuju dg pendapat Anda, banyak bercermin pada org yg benar dan jgn serakah...!
Akhir tahun kemarin saya mencoba jd trader harian, main CAMP hit dan run, senangnya dpt untung 1 jutaan/hari, tapi hari terakhir saya jadi serakah, beli diluar kemampuan, begitu harga hancur, dalam sehari rugi 50 jutaan, sampai sy harus jual shm2 bagus saya untuk tutup tagihan... benar2 pelajaran berharga... jgn jadi penjudi.

Amri Aman mengatakan... Balas

Saya Newbie di bidang pasar modal indonesia, namun setelah membaca buku Mas Teguh (Value Investing: Beat The Market In Five Minutes), saya jadi PD untuk START di dunia pasar modal, dengan membeli BBKP sebagai saham perdana di bulan Agustus lalu yang secara fundamental bagus & harganya masih murah.
Untuk Annual Letternya om WB kalau sdh ada terjemahan terbaru, tolong di share ya.
Akhir kata, " Selamat Tahun Baru 2018, May GOD bless U always!!! "

Satria Mustika mengatakan... Balas

Dimana bs mendapatkan buku guy spier pak?

Anonim mengatakan... Balas

dapet bukunya guy spier dari mana mas teguh? saya cari di offline store ngga ada yang punya

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

@Satria Mustika: Bukunya dapet dari temen, dikirim langsung dari New York.

Anonim mengatakan... Balas

Pak teguh untuk seminar atau workshop value investing kapan ada di medan?