Ebook Kumpulan Analisa 30 Saham Pilihan edisi Kuartal III 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Info lebih lanjut, telp/whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Prospek Indofood (INDF), dan Indofood CBP (ICBP)

Okay, seharusnya untuk minggu ini kita akan bahas saham yang kebalikannya saham Ultrajaya (ULTJ), tapi karena belakangan ini banyak yang request analisa Indofood Sukses Makmur (INDF) dan Indofood Consumer Brand Products (ICBP) setelah keduanya turun signifikan dalam dua bulanan terakhir, sedangkan penulis sendiri dalam banyak kesempatan selalu menyebut bahwa ICBP layak untuk investasi long term, maka sekarang kita bahas dua saham ini dulu. Okay, here we go.

Bagi anda yang sudah membaca blog teguhhidayat.com ini sejak lama, maka anda mungkin masih ingat bahwa kita sudah membahas ICBP, yang merupakan anak usaha INDF, sejak perusahaan listing untuk pertama kalinya alias IPO pada bulan Oktober 2010, ketika itu pada harga perdana 5,395 per saham sebelum stocksplit, atau setara 2,697 sesudah stocksplit. Ketika itu penulis termasuk yang antusias dengan ICBP ini karena fakta berikut: Kita tahu bahwa INDF menjadi salah satu perusahaan paling besar dan populer di Indonesia karena satu produk, dan hanya satu produk itu saja, yaitu mie instan dengan merk Indomie, salah satu merk mie instan paling enak didunia, dan harga jualnya sekaligus paling murah sehingga pangsa pasarnya tidak terbatas. Dari kesuksesan Indomie inilah, INDF kemudian mengembangkan usahanya ke produk-produk consumer ber-merk (consumer brand product) lainnya diluar mie instan, seperti susu, makanan ringan, penyedap rasa, makanan bernutrisi, dan minuman. Merk-merk produk consumer milik perusahaan selain Indomie yang juga populer adalah Supermi, Pop Mie, Indomilk, Chitato, Chiki, Lays, Bubur Bayi Promina, Indofood Bumbu Racik, dan Club Air Mineral.


Produk-produk bermerk milik ICBP

Masalahnya, mungkin tidak banyak yang tahu, namun INDF isinya gak cuma Indomie dan kawan-kawannya saja, melainkan segmen usaha INDF bisa dikelompokkan sebagai berikut: 1. Produk consumer ber-merk termasuk Indomie (melalui ICBP), 2. Tepung terigu (melalui PT Bogasari), 3. Distribusi, termasuk melalui jaringan minimarket Indomaret, dan 4. Perkebunan kelapa sawit (melalui Salim Ivomas Pratama (SIMP)). Untuk segmen 1, 2, dan 3, itu masih oke lah, tapi untuk segmen kelapa sawit-nya, maka kinerja INDF praktis dipengaruhi oleh fluktuasi harga crude palm oil (CPO) dunia. Dengan kata lain, meski penjualan Indomie bisa diharapkan akan naik terus secara konsisten dalam jangka panjang, tapi pendapatan serta laba INDF belum tentu akan terus naik, terutama jika harga CPO sedang turun. INDF memang juga jualan minyak goreng dan margarine, yang merupakan produk turunan dari CPO, tapi somehow margin laba dari jualan margarine ini malah jauh lebih kecil dibanding jualan CPO itu sendiri, sehingga pada akhirnya kinerja perusahaan tetap dipengaruhi oleh naik turunnya harga CPO.

Jadi dengan listing-nya ICBP di bursa, maka sebagai penggemar Indomie, daripada kita ambil INDF maka mending ambilnya ICBP ini saja. Problemnya valuasi ICBP di harga 2,700 di tahun 2010 itu terbilang tinggi, jadi penulis ketika itu katakan bahwa sebaiknya kita tunggu dulu perkembangan harganya di pasar (baca lagi ulasannya disini), dan ternyata benar ICBP kemudian turun sampai mentok di 2,100. Tapi karena kinerja perusahaan, seperti yang diprediksi sebelumnya, tetap tumbuh terus bahkan hingga tahun 2018 kemarin, maka ICBP pada akhirnya naik lagi, hingga akhirnya sempat tembus 10,000 pada awal tahun 2019 kemarin, atau profit sekitar empat kali lipat dalam waktu sembilan tahun, belum termasuk dividen.

Okay, lalu bagaimana dengan INDF sendiri? Karena pada tahun 2010 itu harga CPO masih stabil dan cenderung naik, bahkan hingga sempat menembus rekor 4,000 Ringgit Malaysia per ton pada tahun 2011, maka kinerja INDF ketika itu masih cukup bagus/labanya naik terus, dan demikian pula sahamnya naik, dari 5,100 di bulan Oktober 2010 (bulan ketika ICBP IPO) sampai 7,700 pada tahun 2013. Namun memasuki tahun 2013 tersebut, harga CPO mulai turun drastis, dan ternyata sampai saat ini harga CPO masih belum naik-naik lagi di level RM2,300-an per ton. Alhasil kinerja INDF jalan ditempat, dan demikian pula sahamnya ‘macet’ di rentang 6,000 – 7,000 sejak tahun 2013 tersebut hingga hari ini.

Dan karena analisa terakhir penulis untuk sektor sawit menyebutkan bahwa sektor ini masih belum akan pulih (baca lagi ulasannya disini), maka pilihannya tetap ICBP. Tapi setelah sahamnya naik cukup banyak dalam beberapa tahun terakhir, maka bagaimana valuasinya? Okay, mari kita cek. Berdasarkan laporan keuangan tahun penuh 2018, maka harga sahamnya saat ini yakni 8,975, mencerminkan PER 22.9 kali, dan PBV 4.8 kali. Nah, jika perbandingannya adalah saham-saham consumer lainnya dengan track record kinerja, power of brand, dan reputasi yang kurang lebih sama seperti Sido Muncul (SIDO), Kalbe Farma (KLBF), dan Mayora Indah (MYOR), termasuk jika dibandingkan dengan valuasi historis ICBP itu sendiri, plus fakta bahwa saham ICBP cukup likuid, maka valuasi ICBP saat ini terbilang wajar, alias tidak mahal tapi belum bisa dikatakan murah juga. Jadi jika anda tertarik maka ada dua pilihan strateg. Pertama, jika anda hendak menjadikan ICBP ini sebagai pegangan jangka panjang hingga katakanlah 5 tahun kedepan, maka di harga sekarang sudah boleh masuk, karena seperti yang dikatakan Warren Buffett, ini adalah membeli wonderful company at a fair price (fair, bukan undervalue).

Tapi jika anda berharap profit yang lebih besar, dan juga jangka waktu hold yang lebih pendek, maka sebaiknya tunggu ICBP ini turun lebih lanjut hingga PBV-nya persis 4.0 kali (8,000 atau dibawahnya), atau tidak sama sekali. Sebab selain faktor valuasinya, level harga 10,000 kemungkinan juga akan menjadi resistance psikologis bagi ICBP, dimana sahamnya akan perlu waktu yang bisa jadi cukup lama, untuk bisa naik hingga menembus level 10,000 tersebut, dan kemudian stabil disitu/tidak turun-turun lagi.

Okay Pak Teguh, kalau gitu bagaimana kalau kita ambilnya INDF saja? Karena meski prospek jangka panjangnya mungkin tidak secerah ICBP, tapi dengan PER 13.1 dan PBV 1.6 kali pada harga 6,225, maka valuasinya jelas lebih murah bukan? Well, sebenarnya kalau kita mengejar murahnya, maka sekalian saja ambilnya SIMP karena PBV-nya lebih rendah lagi, yakni cuma 0.5 kali pada harga 450. Tapi toh, meski valuasinya sangat terdiskon, tapi kinerja saham SIMP malah lebih buruk lagi dibanding INDF: Lima tahun yang lalu dia berada di level 800-an, tapi sekarang malah tinggal 400-an, karena memang kinerja fundamentalnya mengecewakan dan prospek kedepannya terkait perkembangan harga CPO juga masih belum jelas. Jadi benar apa yang dikatakan Opa Buffett: It’s better to buy wonderful company at a fair price, than buy fair company at a wonderful price. Dalam hal ini fakta bahwa ketiga perusahaan tersebut (INDF, ICBP, dan SIMP) saling berelasi karena pemiliknya sama sudah tidak penting lagi, karena tetap yang harus dilihat adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, dimana dalam hal ini ICBP adalah juaranya.

Nevertheless, meski prospek jangka panjangnya tidak secerah ICBP, INDF tetap memiliki keunggulan sebagai salah satu saham big caps di BEI, nama perusahaannya lebih populer (nama ‘Indofood CBP’ mungkin membingungkan bagi sebagian orang, karena mereka ya tahunya Indofood saja), sahamnya likuid, dan dengan ROE diatas 10% maka kinerjanya gak bisa dikatakan jelek juga. Jadi kalau valuasinya benar-benar terdiskon, katakanlah dengan PBV kurang dari 1.5 kali (PBV dibawah 1.5 kali sudah terhitung murah untuk ukuran blue chip), maka INDF tetap bisa masuk stockpick. Dan mungkin inilah kenapa ketika pada akhir tahun 2015 lalu INDF drop sampai mentok di 5,000, seiring dengan terjadinya koreksi pasar ketika itu, maka ketika IHSG kemudian naik lagi di tahun 2016-nya, INDF juga ikut naik hingga tembus 8,000-an. Demikian pula ketika pada tahun 2018 kemarin pasar jatuh sekali lagi, maka INDF juga ikut turun sampai 5,500-an, tapi begitu pasar pulih pada awal tahun 2019 maka INDF ikut naik sampai 7,700-an.

Jadi kesimpulannya, berbeda dengan ICBP yang anda bisa masuk kapan saja, maka timing terbaik untuk masuk INDF adalah jika terjadi koreksi pasar, atau jika valuasinya memang sudah beneran terdiskon (harga sekarang masih tanggung). Dan berbeda dengan ICBP yang bisa di-hold terus, jika anda sukses masuk ke INDF ini pada timing yang tepat maka anda bisa langsung profit taking saja kalau profitnya sudah lumayan. Karena cepat atau lambat nanti dia bakal turun lagi.

Baiklah, terakhir nih Pak Teguh, saya dengar INDF turun karena perusahaan membeli tanah/lahan perkebunan kelapa sawit pada harga yang kelewat mahal, apa itu benar? Nah, sebenarnya sudah sejak tahun 2014 lalu, manajemen INDF memutuskan untuk ekspansi besar-besaran di sektor perkebunan kelapa sawit dengan membeli banyak lahan kebun baru, hingga saat ini INDF melalui SIMP menjadi perusahaan sawit terbesar di Indonesia dari sisi luas lahan, yang mencapai lebih dari 450 ribu hektar termasuk lahan yang belum berproduksi/belum ditanam pohon sawit (jadi masih tanah kosong aja gitu). Kita pernah membahasnya disini, perhatikan artikelnya ditulis tahun 2014. Dan seperti umumnya ketika perusahaan mengakuisisi suatu aset, maka sebagian aset perkebunan tersebut dibeli pada harga yang lebih tinggi dari nilai bukunya, atau sama saja seperti kalau anda beli saham tertentu pada PBV lebih dari 1 kali. Selisih antara harga dengan nilai buku menyebabkan INDF membukukan aset goodwill sebesar Rp4.3 trilyun di neracanya, alias cukup besar (meski sebenarnya relatif kecil dibanding total asetnya yang mencapai Rp96.5 trilyun).

Jadi, yep, memang benar bahwa INDF ada beli kebon pada harga yang (sekilas) cukup mahal, dan fakta inilah yang kemudian dipakai oleh analis dan broker sekuritas untuk menjelaskan kepada nasabah mereka, yang ribut bertanya kenapa ini INDF turun (dan bahkan di Google juga kalau anda ketik ‘indf’, maka akan muncul sugesti ‘kenapa indf turun terus’, yang artinya ada banyak investor yang nyangkut disini lalu mereka minta wejangan ke si mbah). Tapi kalau kita balik lagi ke basic value investing, maka INDF (dan juga ICBP) turun karena sejak awal dia sudah agak mahal saja. Karena kalau masalahnya adalah harga kebon sawit tadi, maka INDF sudah membeli kebon tersebut sejak tahun 2014 lalu, bukan minggu kemaren. Jadi kenapa juga hal ini baru dipermasalahkan sekarang?? Ya karena itu tadi, karena kebetulan INDF lagi turun, dimana jika nanti INDF lanjut turun lebih dalem lagi (karena seperti yang sudah disebut diatas, valuasi INDF saat ini masih tanggung), maka isunya bakal lebih santer lagi.

Tapi kalau INDF pada akhirnya naik lagi, maka sudah tentu isunya juga nanti akan hilang. Anyway, pilihan strategi untuk kedua saham ini sudah cukup jelas dibahas diatas, jadi sekarang keputusannya ada di tangan anda.

Buletin Analisis Arah IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi April 2019 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk subscriber.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

5 komentar:

Dermawan Asali mengatakan... Balas

Logika nya ambil INDF sama aja ambil ICBP Plus bonus bisnis lain nya (CPO + Bogasari)toh INDF menguasai 80% saham ICBP.. Memang benar sektor CPO lagi lesu karena berbagai macam hal semacam Black campaign oleh uni Eropa dan kenaikan pajak bea masuk dari India.. Tapi apakah akan selama nya CPO lesu?, I don't think so..slaah satu nya Dari dalam negeri saja sudah ada upaya2 dari pemerintah misal nya program B20 dan dalam jangka waktu dekat B30 (tahun 2020)bahkan B100 dalam beberapa tahun ke depan yang di harapkan akan menyerap kelebihan pasokan CPO dan menyelamatkan 15 juta tenaga kerja petani sawit kita.. Nanti kalau pada saat nya harga CPO naik lg makan disaat itu pula kinerja INDF akan bangkit kembali dan pasti nya melebihi ICBP

Young Investor mengatakan... Balas

Terimakasih pak atas ulasannya.
Izinkan sy berkomentar, pembelian tanah di Bintan melalui AIM, diberitakan dibeli dengan harga Rp 5 jt / m2. Menurut hasil survey dari beberapa analis, harga pasaran tanah di Bintan adalah sebesar Rp 150 - 250 ribu per m2. Selisihnya hampir 2000% kalau dibanding dari harga 250rb / m2.
Bagaimana tanggapan Bapak?

Terimakasih.
Salam,

Young Investor.

Anonim mengatakan... Balas

Saya mau menambahkan pak, untuk tahun 2019 ini INDF ICBP bukan beli tanah untuk kebun, tapi beli lahan kosong untuk pabrik. Yang mungkin membuat orang khawatir adalah mereka beli tanah dengan harga yg sangat mahal. Sulit diterima dengan logika. Mereka beli tanah 57ha di Pasuruan 3.7jt/m dan 26ha di Bintan 5jt/m

Selain itu, 2 thn lalu grup Indofood juga beli tanah 43000m di Penjaringan 51jt/m dari Anhony Salim

Peter Cikarang mengatakan... Balas

Terima kasih pak Teguh atas pencerahannya. Salam dari peter cikarang.

Alfeus Lilik Susanto mengatakan... Balas

Indf baru bangun perluasan pabrik Bogasari di Cibitung kalau tdk salah info nya saya pernah baca minggu lalu. Berarti kita bisa harapkan ada peningkatan pendapatan dan daba bersih kan ya?