Special Report: Transaksi Repo Saham Jaya Bersama Indo (DUCK)?

Pada hari Senin kemarin, 10 Agustus 2020, PT Jaya Bersama Indo, Tbk (DUCK) merilis keterbukaan informasi yang menyebutkan bahwa PT Asia Kuliner Sejahtera (AKS), yang merupakan pemegang saham pengendali perusahaan, telah menjual saham DUCK sebanyak 24 juta lembar pada harga Rp440 per saham. Tidak ada penjelasan soal apa alasan penjualan tersebut, kecuali disebutkan bahwa itu terkait transaksi/kontrak repo. Dengan penjualan tersebut, AKS kini tinggal memegang 260 juta lembar saham DUCK, yang setara 20.3% saham beredar perusahaan.

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisis saham pilihan edisi Kuartal II 2020 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 5,500.

***

Catatan: Meski saya berusaha menyampaikan dengan bahasa sesederhana mungkin, namun artikel ini mungkin merupakan salah satu analisa paling rumit yang pernah penulis tulis di blog ini. Sehingga untuk benar-benar memahaminya, anda disarankan untuk membacanya secara pelan-pelan, dan berulang-ulang. Seluruh informasi dan angka-angka yang disampaikan disini diperoleh dari dokumen-dokumen yang dirilis oleh DUCK, VICO, dan MINA, yang dipublish di www.idx.co.id.

Namun jauh sebelum itu, AKS sudah mulai jualan saham DUCK paling tidak sejak tanggal 16 Oktober 2019, dimana AKS, yang ketika itu masih memegang 50.8% saham DUCK, menjual 4 juta lembar saham DUCK pada harga Rp1,500 per saham, juga dengan tujuan kontrak repo. Setelah itu, AKS terus melaporkan bahwa mereka melepas saham DUCK di market, dengan harga jual yang hampir selalu lebih rendah dibanding harga jual pada penjualan sebelumnya. Tapi tidak hanya AKS: Dua pemegang saham lainnya di DUCK, yakni PT Investra Nusa Tama (INT), dan investor perorangan bernama Edy Suwarno, juga terus melepas saham mereka sejak setidaknya tahun 2019 lalu, sehingga nama mereka kemudian hilang dari daftar pemegang saham DUCK.

Siapa itu Edy Suwarno?

Dan setelah penulis pelajari, ada banyak poin-poin menarik dari historis kepemilikan saham DUCK oleh Edy Suwarno, and here we go. Pada tanggal 12 November 2018, Tuan Edy membeli 168 juta lembar saham DUCK pada harga Rp600. Lalu pada tanggal 25 Februari 2019, diketahui bahwa Tuan Edy menjual sebagian sahamnya pada harga Rp1,465 (dan saham DUCK ketika itu memang berada di 1,400-an), sehingga ia tinggal memegang 99 juta lembar saham DUCK, setara 7.7% saham beredar DUCK. Beberapa waktu kemudian, kemungkinan Tuan Edy kembali menjual sahamnya, tapi karena setelah penjualan tersebut ia memegang saham DUCK kurang dari 5%, maka ia tidak perlu lagi melaporkannya ke otoritas, sehingga tidak ada keterbukaan informasinya. Namun dengan asumsi Edy Suwarno melepas seluruh sahamnya di DUCK pada atau sebelum bulan Oktober 2019, maka ia bisa dipastikan meraup keuntungan besar, karena antara Januari – Oktober 2019, saham DUCK di pasar berada di level 1,400 – 1,900.

Tinggal pertanyaannya, Edy Suwarno ini beli saham DUCK hingga sebanyak 168 juta lembar dari siapa? Mengingat saham sebanyak itu dibeli pada satu harga saja, yakni Rp600 per saham, maka tidak mungkin Tuan Edy ini membeli saham DUCK dari investor publik, melainkan ia membelinya dari penjual tunggal. Menariknya lagi, transaksinya dilakukan persis satu bulan (tanggal 12 November 2018), setelah saham DUCK itu sendiri melantai di bursa pada tanggal 10 Oktober 2018, dan harga DUCK di pasar ketika itu sudah naik tajam dari harga IPO-nya yakni Rp505, menjadi Rp1,600-an. Jadi bagaimana ceritanya Edy Suwarno ini bisa dapat saham DUCK hanya pada harga Rp600 saja?

Kemudian, Edy Suwarno ini sebenarnya siapa? Nah, kalau anda googling nama tersebut, maka akan muncul banyak artikel dan berita, namun bisa jadi itu adalah ‘Edy Suwarno’ yang lain (karena nama tersebut cukup umum, sama seperti orang dengan nama ‘Teguh Hidayat’ juga ada banyak). Tapi jika kita lihat lagi dokumen kepemilikan saham yang dirilis perusahaan-perusahaan Tbk di BEI, maka penulis menemukan bahwa Edy Suwarno ini juga memegang saham dalam jumlah besar di PT Sanurhasta Mitra, Tbk (MINA), dan penulis yakin 100% bahwa ini adalah orang yang sama karena alamat tempat tinggalnya sama, dan tanda tangannya juga sama.


Keterbukaan informasi ketika Edy Suwarno membeli saham DUCK (atas), dan ketika menjual saham MINA (bawah)

Dan ternyata, berdasarkan informasi dari laporan tahunan MINA untuk tahun 2019, Tuan Edy adalah komisaris utama sekaligus pemegang saham pengendali di MINA itu tadi. Selain MINA, yang bersangkutan juga memegang saham dan menjabat (atau pernah memegang saham/pernah menjabat) sebagai komisaris di beberapa perusahaan Tbk seperti PT Bumi Teknokultura Unggul, Tbk (BTEK), PT Bukit Uluwatu Villa, Tbk (BUVA), dan PT Minna Padi Sekuritas, Tbk (PADI).

Sehingga tidak hanya di DUCK, namun Tuan Edy ini banyak memegang saham dari perusahaan-perusahaan Tbk lainnya dalam jumlah besar, mungkin bisa disebut sama seperti Pak Lo Kheng Hong. Bedanya, jika Pak LKH tidak turut campur ke dalam manajemen perusahaan, maka Tuan Edy ada masuk juga ke manajemen, meskipun hanya sebagai komisaris.

Kembali ke DUCK. Ketika Tuan Edy membeli 168 juta saham DUCK pada harga Rp600 per saham, tujuan transaksinya disebutkan sebagai ‘eksekusi perjanjian penjualan dan pembelian kembali saham’, alias repo (apa itu repo? Baca penjelasannya disini). Yep, jadi kemungkinan AKS lah, yang merupakan pemegang saham pengendali di DUCK, yang menjual 168 juta lembar saham DUCK itu ke Tuan Edy, karena sebelumnya saham IPO-nya tidak laku. Kenapa penulis katakan tidak laku? Karena sebelum DUCK ini melantai di bursa, harga IPO-nya direncanakan pada rentang Rp1,550 – 1,950 per saham, tapi realisasinya ternyata hanya di Rp505 saja, dan ini jelas aneh karena secara valuasi, pada harga 505 itu DUCK terbilang sangat murah (padahal biasanya saham IPO itu mahal, baca lagi ulasannya disini). Kemudian memang pada Oktober 2018, pasar juga sedang lesu-lesunya dimana IHSG terkapar di 5,700-an, turun signifikan dibanding awal tahun 2018 di 6,600-an, dan semua orang sedang nyangkut sehingga mereka tidak bersemangat untuk masuk di saham IPO, entah itu DUCK atau lainnya.

Jadi bisa dibilang bahwa timing IPO DUCK ini kurang tepat, sehingga nggak laku. Dan kemungkinan pada harga segitu pun (505), saham anyar DUCK yang sebanyak 404 juta lembar tetap tidak diserap sepenuhnya oleh publik. Alhasil, AKS kemudian mencari ‘investor strategis’ yang bisa membeli saham yang tidak laku tersebut, dan ketemulah Edy Suwarno. Inilah yang menjelaskan kenapa Tuan Edy memperoleh saham DUCK pada harga 600, ketika saham DUCK di market sudah di 1,600-an. Sebab kalau anda ditawari repo saham, maka biasanya nilai jaminannya jauh lebih besar dari nilai dana yang harus anda setor. Dalam hal ini Tuan Edy kemudian menanggung risiko dimana jika AKS tidak bisa membeli kembali saham yang dijaminkan, maka ia akan rugi besar, kecuali jika ia bisa menjual saham DUCK di pasar pada harga yang minimal sama dengan dengan harga belinya (Rp600). Tapi karena harga DUCK di pasar ketika itu mencapai 1,600, maka Tuan Edy kemudian mengambil risiko tersebut.

However, Edy Suwarno kemungkinan bukanlah satu-satunya investor strategis yang ditawari saham DUCK oleh AKS. Sebab seperti disebut diatas, saham DUCK ini pernah juga dipegang (atau masih dipegang?) dalam jumlah besar oleh setidaknya empat institusi, yakni PT Penasehat Investasi Indonesia, PT Investra Nusa Tama, PT Victoria Investama, Tbk, dan PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, tapi kepemilikan insitusi-institusi tersebut terhadap saham DUCK cenderung berubah-ubah dari waktu ke waktu, yang itu artinya mereka trading saham DUCK, dan tidak berniat untuk hold saham perusahaan untuk seterusnya. Sebagai contoh, per 31 Desember 2019, PT Mirae memegang 14.9% saham DUCK, dan pada 31 Juli 2020 angkanya naik menjadi 36.2%, namun nama Edy Suwarno dan INT sudah tidak ada.

Dari laporan keuangan PT Victoria Investama, Tbk (VICO) untuk periode Kuartal III 2019, diketahui bahwa PT Asia Kuliner Sejahtera merepokan saham DUCK ke VICO senilai Rp19 milyar untuk jangka waktu 3 bulan saja, dengan bunga 24%. Klik gambar untuk memperbesar

Kesimpulan

Jika kita jahit-jahit semua informasi diatas, maka bisa diambil kesimpulan sebagai berikut: Ketika PT Asia Kuliner Sejahtera meng-IPO-kan DUCK pada Oktober 2018 lalu, maka rencana awalnya cukup ambisius, dimana dana yang dihasilkan akan digunakan untuk membuka banyak gerai baru ‘Duck King’ di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, bahkan hingga Vietnam, Kamboja, dan Myanmar, plus untuk renovasi gerai yang sudah ada. However, karena timing IPO-nya yang salah, maka dana yang bisa dihasilkan hanya Rp204 milyar saja (harga IPO Rp505 dikali 404 juta lembar saham baru), itupun kalau semua sahamnya diserap oleh publik. Tapi karena tidak semua saham IPO DUCK diserap publik, maka sisanya kemudian ditawarkan ke sejumlah investor strategis, termasuk Edy Suwarno.

Namun ketika akhirnya diperoleh dana Rp200 milyar sekian, maka itu juga masih belum cukup. Sebagai dasar perhitungan, per akhir tahun 2019, DUCK memiliki dan mengoperasikan 32 unit restoran, dengan total aset Rp1.47 trilyun. Maka hitungan kasarnya, nilai satu unit restoran adalah Rp40 – 45 milyar, atau serendah-rendahnya Rp30 milyar lah (masuk akal sih, karena memang restoran Duck King terbilang luas, dan berlokasi di high end mall). Sedangkan diatas sudah disebutkan bahwa DUCK berencana untuk membuka buanyak gerai baru termasuk di luar negeri. Sehingga untuk membuka 10 gerai baru saja, maka biaya yang dibutuhkan mencapai Rp300 – 400 milyar.

Dan memang setelah IPO-nya, maka pada Desember 2019, DUCK merilis rencana penerbitan obligasi senilai Rp375 milyar, dimana jika prosesnya lancar maka obligasi tersebut akan diterbitkan dan tercatat di BEI pada tanggal 13 Januari 2020.

Tapi tiba-tiba saja, pada tanggal 6 Januari, AKS sebagai pemegang saham pengendali DUCK menerima gugatan senilai $40.6 juta dari Mizuho (tidak disebutkan, Mizuho ini apa atau siapa, tapi kemungkinan Mizuho Financial Group asal Jepang), dimana disebutkan bahwa AKS pernah menandatangani AOI (agreement of investment?) dengan pihak Mizuho, dan sekarang (maksudnya tanggal 6 Januari 2020 tadi) kedua belah pihak sedang bersengketa terkait AOI tersebut di PN Jakarta Selatan. Namun karena yang menerima gugatannya adalah AKS, bukan DUCK itu sendiri, maka tidak ada informasi lebih lanjut soal ini, tapi yang jelas karena hal ini maka rencana penerbitan obligasinya menjadi batal.

Tapi karena jauh sebelum berencana menerbitkan obligasinya, AKS ini memang sudah terlibat transaksi repo dengan sejumlah pihak seperti Edy Suwarno, Victoria Investama dst, maka kemungkinan urusannya dengan Mizuho diatas juga sama soal repo. Hanya mungkin berbeda dengan Tuan Edy yang cuan, Mizuho ini rugi, sehingga ia kemudian menggugat AKS. Kalau dilihat dari nilai gugatannya, yakni $40.6 juta atau setara Rp568 milyar, maka itu terbilang masuk akal karena angka tersebut tidak jauh berbeda dengan nilai saham repo (berdasarkan harga saham DUCK di pasar per Januari 2020, yakni 1,200-an) yang pernah dipegang oleh Edy Suwarno, dan INT.

Nah, jadi sekarang kita runut lagi:
  1. DUCK punya rencana ekspansi yang ambisius, tapi IPO-nya pada Oktober 2018 salah timing,
  2. PT Asia Kuliner Sejahtera (AKS) sebagai owner DUCK kemudian berusaha menutup kekurangan dana dengan cara repo saham DUCK itu sendiri,
  3. Pada Oktober 2019, diketahui bahwa AKS ada jual repo DUCK pada harga tinggi yakni Rp1,500 per saham, (apakah ketika itu yang beli Mizuho? Bisa jadi!). Ketika itu saham DUCK di market sudah mencapai Rp1,900-an.
  4. Disusul dengan rencana penerbitan obligasi pada awal tahun 2020,
  5. Namun kemudian muncul Mizuho yang menagih utang, sehingga penerbitan obligasinya gagal. Perlu dicatat bahwa pada Januari 2020, saham DUCK di pasar sudah turun menjadi Rp1,200-an. Sehingga Mizuho, atau siapapun yang membeli repo saham DUCK pada harga Rp1,500 tadi kemudian menagih AKS untuk membeli kembali saham DUCK yang mereka pegang minimal pada harga Rp1,500 juga, atau mereka akan menderita rugi. 
Kemudian perlu dicatat bahwa kesemua event diatas terjadi sebelum muncul pandemi Covid-19, yang menyebabkan kinerja DUCK seketika ambruk, dan prospek jangka panjangnya menjadi tidak jelas. Sehingga, inilah kekhawatiran penulis: Alasan kenapa AKS terus jualan saham DUCK, kemungkinan karena perusahaan sudah give up sama sekali dengan DUCK ini, atau bisa juga karena dipaksa oleh pihak-pihak tertentu (termasuk mungkin oleh Mizuho itu tadi), agar mereka punya dana untuk membayar repo-repo itu tadi. Okay, tapi kenapa AKS gak pakai dana cash milik DUCK saja? Ya karena yang punya utang repo dalam hal ini adalah AKS, bukan DUCK itu sendiri. Bagaimana mungkin DUCK bisa membayar utang yang tidak pernah tercatat di laporan keuangannya? Dan mungkin dalam hal ini AKS tidak cukup lihai saja, dimana mereka sebelumnya tidak berpengalaman soal mengelola repo ini, sehingga ketika situasinya seperti sekarang, they have no idea what to do. Mirip-mirip seperti Jouska yang kemarin coba-coba goreng saham PT Sentral Mitra Informatika, Tbk (LUCK), tapi gagal total.

Namun problemnya, jika AKS tidak lagi menjadi pemegang saham pengendali di DUCK, maka secara teknis DUCK ini sudah bangkrut, karena sudah dilikuidasi oleh owner-nya. Dan dalam hal ini penulis jadi ingat dengan kasus Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA), yang sekarang sahamnya mati sama sekali, setelah sebelumnya pemegang saham pengendali perusahaan, yakni PT Tiga Pilar Corpora, juga terus melepas sahamnya ke publik. Jika dalam skenario terburuk dimana AKS akhirnya lepas tangan sama sekali dari DUCK, maka sebagai pemegang saham publik, terus terang saja, tidak ada yang bisa kita lakukan.

Anyway, analisanya nanti akan kita update lagi nanti.

Merasa artikel ini bermanfaat? Silahkan share melalui media sosial, dengan klik tombol 'berbagi' dibawah ini.

***

Bagi anda yang baru belajar investasi saham/value investing, maka bisa peroleh video seminar terbaru disini. Info whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti).

Buat yang ingin bergabung dengan layanan konsultasi saham, rekomendasi saham, dan analisa pasar, maka bisa baca infonya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 5,500.

Follow Teguh Hidayat on instagram, klik 'View on Instagram' berikut ini: Instagram

Komentar

Aldino Pratama mengatakan…
maaf pak numpang tanya kenapa AKS tidak jual aja sahamnya langsung di pasar kenapa harus di REPO ke Pak Edy ?
Murtaza mengatakan…
Astaga, untung belum jadi beli
Anonim mengatakan…
Nanya dong Mas, kenapa DUCK dibilang bangkrut apabila pemilik lepas saham (mengingat balance sheet DUCK masih terbilang sehat)?
Anonim mengatakan…
Bagaimana bisa dibilang pailit klo perusahaannya sendiri masih bagus? dalam kasus ini cuman pemegang saham utama exit, apakah itu bisa dibilang pailit. Dan sepertinya ini kasus beda dengan AISA (yang notabene punya utang gede)...
Anonim mengatakan…
klo AKS kluar ya psti akan ditakeover sama yg lain toh? mngkin mas teguh berminat? hahahha
tapi keknya ga bisa disamain dengan AISA deh wong ini BSnya masih okay2 aja, namun memang pendapatan terjun bebas krn covid
Reiza mengatakan…
Halo Pak. Kalau dengan melihat harga sekarang yg jauh lebih murah dari valuasinya, bukannya jika potensi kondisi "bangkrut" seperti yg anda katakan diatas menjadi peluang investasi yah Pak? Karana harga saat ini bahkan hanya 1/2 dari valuasi sahamnya...
Unknown mengatakan…
Pak tehuh repo itu mirip2 gadai saham ya..
halley mengatakan…
Perusahaan yang baik itu cetak duit bukan cetak kasus dan drama.
Kang Harris mengatakan…
Bantu jawab pak,

Kenapa harus di REPO ke Pak Edy? Karena terikat kontrak dengan pak Edy dan jgn lupa sebenarnya yg angkat saham DUCK jg pak Edy sendiri melalui sekuritas dia Mina Padi yg beli pakai dana Reksadana yg dibekukan oleh OJK.. dicek saja Reksadana Mina Padi beli saham DUCK brp byk?

Jd kl ga ada pak Edy ya saham DUCK adem ayem aja
Anto Yulianto mengatakan…
Very good and deep analysis Pak Teguh
Ericsson mengatakan…
Terimakasih pak atas analisanya emiten DUCK ini, saya sempat cek di laporan tahunan DUCK 2019. PT Asia Kuliner Sejahtera ini mayoritas dipegang oleh BOD dan BOC nya sama dengan DUCK ini. Jadi menurut saya jika PT Asia Kuliner Sejahtera ini terus merepokan sahamnya ke Mirae Asset maka sebenarnya berbahaya karena keliatannya PT Asia Kuliner Sejahtera bnr bnr membutuhkan cash untuk membayar utang ke PT Mizuho itu yang menggugat PT AKS. Saham IPO seperti ini saham berbahaya untuk investasi
Unknown mengatakan…
Kalau dari penjelasan Pak Teguh tadi kelihatanya karena pas IPO sahamnya tidak laku, jadi AKS sendirilah yg menawarkan dengan skema repo ke investor2 besar untuk menambal kekurangan dana dari IPO... Cuma oleh Pak Edy, Reponya tidak di eksekusi karena saham duck naik tinggi dan oleh pak Edy lsg dijual ke pasar.. nah untuk mizuho kemungkinan mau eksekusi reponya namun pihak AKS tidak mau / tidak mampu jadi efeknya ada penuntutan dr dr pihak mizuho... Cmiiw...
Timothy mengatakan…
Apakah bisa jadi ada pengendali baru yang ditunjuk, dan manajemen menjadi lebih baik? Kalau saham banyak drama gini lebih baik kita wait and see dlu ya Pak
katakatakunta mengatakan…
Terimakasih penjelasannya, Pak Teguh. Semoga tidak bosan dan lelah mendidik investor newbie seperti saya ini dengan konten-konten yang kaya ilmu dan analisis seperti ini
suyono yonk mengatakan…
@Unknown:
IPO tidak laku bukannya sudah ada Penjamin Pelaksanaan Emisi Efekyang menjamin secara kesanggupan penuh (Full Commitment) terhadap sisa Saham Yang Ditawarkan yang tidak dipesan dalam penawaran Umum Perdana Saham Perseroan?
Abburijal Bakri mengatakan…
Hmm..dalam hal ini memang terlihat sekali manajemen DUCK tidak selihai saya dalam merepokan saham...
Seharusnya kalau mau merepokan saham, kita harus wanti-wanti ke pembeli reponya dan buat perjanjian tertulis, bahwa dalam periode repo atau periode tertentu, si pembeli repo tidak boleh menjual sahamnya, apalagi ke ,market. Kalau melanggar maka dosa lho...
Tentu saja tuan Edy yang nakal senang jika harga di market sudah tinggi, untuk apa lagi menunggu penjual repo (AKS) menebusnya..cukup guyur saja ke pasar, dan cuan berlipatpun sudah ditangan. Masalah dosa, sih...yaaa..siapa sih manusia yang tidak berdosa? kata tuan Edy...
MR san mengatakan…
@Anonim:

ya logika nya aj yg owner asli ny aj jual nih saham... brati sangat jelas gcg ny gk bgs ...
MR san mengatakan…
@Reiza:

msh byk saham yg lbh murah bgs dan menarik ..
duck terlalu beresiko tinggi ..klo ad yg lbh baik knp ambil yg berisko ???
Anonim mengatakan…
PT Jaya Bersama indo Tbk / DUCK. Gaji karyawan bulan maret 2020 masih kurang 25% alias di cicil 4 kali. Sela jutnya. Bulan april, mei dan juni belum dibayar samoa sekali. Meskipun hanya 50% termasuk THR. Blm dibayar sama sekali. Kecuali karyawan yg masih aktif walaupun jam kerja hanya 50% info dari hrd dibayar secara bertahap. Itupun jg belum tuntas. Belum lagi stiker tunggakan pajak di semua resto masih niempel. Belum di bayar.
Unknown mengatakan…
PT selera sejahtera makmur /the duck king .gaji karyawan bulan Maret 2020 the duck king bay walk mall baru di byr 25% sisanya belom di byr sama sekali .tersmasuk juga THR tidak dapat sepeserpun info HRD akan di byr gaji dan THR karywan akan di byr tetapi hanya bilang di cicil tapi nyatanya tidak ada pembayaran lagi sampai sekarang .untuk karyawan yg TDK aktif / sudah Risen seperti saya hanya meminta hak gaji karyawan yg sudah bekerja penuh di bulan Maret 2020 jd mohon dengan sangat bos dan pemegang saham duck king tolong di bayar gaji karyawan di bulan maret 2020
Yg sudah Risen / yg belom Risen mohon di bayarkan dengan lunas mohon utk tanggung jwb nya wahai bos/pemimpin duck semua nya bayarlah gaji karyawan yg semestinya wajib di byr ..mksh
Anonim mengatakan…
gajih karyawan duck periode 11 Februari - 10 Maret baru dibayar 40% dengan 3x cicil selama (10%,10% & 20%) sisanya sampai sekarang ga ada kabar. Iyuran BPJS kesehatan & ketenagakerjaan pun menunggak sehingga kartu BPJS kesehatan tidak dapat dimanfaatkan oleh karyawan dan karyawan yg sudah resign sebelum covid pun tidak bisa mencairkan saldo BPJS ketenagakerjaannya karena mereka belom melaporkan ke Jamsostek karena punya tunggakan sehingga karyawan yg mau resign pun dipaksa setuju dengan manipulasi tanggal resign sesuai iuran terakhir yg perusahan bayarkan dan karyawan karenaterpaksa setuju supaya dana bisa cair karena mereka bingung tak ada kepastian sisa gaji dan seratus pekerjaan pihak perusahaan tidak sanggup menutup tunggakannya ke BPJS. Sampai saat ini sisa gaji dan THR karyawan belom dibayarkan baik yg dirumahkan maupun yg sudah resign, hanya dijanjikan oleh HRD bilangnya akan dibayar tapi dicicil sampai batas waktu yg tidak ditentukan/tidak ada kepastian. apalagi melihat masalah DUCK dengan mizuho, pajak, hutang ke suplayer, gajih karyawan
haveaniceday mengatakan…
Saya membaca comment anonim diatas, yg sepertinya genuine. Jika claim staff Duck King diatas itu tidak benar, tentunya tidak ada pembahasan lebih lanjut. BUT, jika claim mereka diatas itu benar, bukan kah ini SANGAT MENGKUATIRKAN, karena faktanya sangat bertolak belakangan dengan Balance Sheet 2Q2020 mereka? mereka punya CASH + DEPOSITO kurang lebih 750 Milliar. tidak mampu membayar gaji dan THR ?

Maybe, just maybe, they have no money from the beginning ... maybe it just unverified number !!
Anonim mengatakan…
@Anonim:wkwkwkw siapa yang jamin BS nya bener
Sardan mengatakan…
Hari ini, saham DUCK sdh mulai naik, hasil gorengan youtuber2. Be careful!
Anonim mengatakan…
kenapa sebagai pemegang saham terbesar dia tidak membagikan special div dimana dia membagikan 50% dari cadangan cash yg sangat berlimpah?
Anonim mengatakan…
Tapi sampai dgn tgl 27 okt 2020 ini PT Mirae sekuritas memegang saham duck 38 % , apakah mirae sebodoh itu membeli saham duck yg jelek , pastinya Mirae sekuritas yg sudah terjun di pasar modal cukup lama punya startegi kedepan nya krn PT.Mirae Sekuritas juga gak mau rugi, dia bisa saja mencari owner baru yang ahli di resto sebagai ganti AKS jika AKS benar2 menjual semua sahamnya .Tapi namanya repo , jika aks masih yakin dengan duck , pasti akan di bereskan masalahnya .

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Webinar Value Investing, Sabtu 19 Desember 2020

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash