Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Suatu hari di tahun 2008. Harga batubara acuan Newcastle yang sebelumnya sudah cenderung naik sejak awal dekade 2000-an, di sepanjang tahun 2007 kembali naik dengan kencang dari posisi $50-an per ton hingga mencapai all time high $180 per ton pada bulan Juli tahun 2008. Sementara itu saham dari perusahaan batubara terbesar di Indonesia, Bumi Resources (BUMI), juga melesat dari 900-an di awal tahun 2007 hingga tembus 8,000 pada Februari 2008. Karena disisi lain sahamnya sangat likuid, market cap-nya juga besar (Rp152 trilyun pada harga 8,000. Sebagai perbandingan pada waktu yang sama, market cap Bank BCA/BBCA hanya Rp90 trilyun), dan kinerja keuangannya pada saat itu sangat bagus (sepanjang tahun 2007, BUMI membukukan laba bersih $789 juta berbanding ekuitasnya yang hanya $1.1 milyar), maka jadilah semua orang mulai dari trader receh sampai fund manager besar membeli BUMI, dan BUMI kemudian memperoleh julukan legendaris: Saham sejuta umat.

***

Ebook Market Planning edisi Juli 2021 yang berisi analisis arah IHSG, stockpick saham, dan informasi jual beli saham yang penulis lakukan, sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 6,200, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Kemudian pada satu waktu tertentu terdapat lebih dari 50 ribu investor, baik individu maupun institusi, yang memegang BUMI, sedangkan jumlah investor saham di BEI ketika itu hanya sekitar 250 ribuan. Sehingga bisa dikatakan bahwa profit besar dari saham BUMI ketika itu dinikmati oleh banyak orang, jadi tidak hanya oleh segelintir investor tertentu saja, dan alhasil pasar saham mengalami euforia yang luar biasa dimana investor, terutama mereka yang ketinggalan kereta di saham BUMI, bersedia membeli saham apapun yang juga ada ‘bau-bau’ batubara.

Dan peluang yang muncul dari momentum euforia itu kemudian ditangkap oleh sekelompok pengusaha alumni Grup Astra, yakni Edwin Soeryadjaya (putra dari Alm. William Soeryadjaya, founder Astra), Theodore Permadi Rachmat (keponakan Om William), Boy Garibaldi Thohir (putra dari Alm. Teddy Thohir, co-founder Astra), dan Alm. Benny Subianto (co-founder Astra), dibantu anak muda jenius bernama Sandiaga Salahuddin Uno. Jadi sebelumnya pada tahun 2001, Edwin S. dan Sandiaga Uno melalui bendera PT Saratoga Investama Sedaya mengakuisisi PT Adaro Indonesia, sebuah perusahaan batubara di Kalimantan Selatan dengan cadangan batubara terbesar kedua di Indonesia (setelah BUMI), ketika itu dengan skema leveraged buy-out atau LBO, dimana dari harga akuisisinya sebesar $983 juta, Saratoga membayarnya hanya sebesar $50 juta, dan selebihnya pakai utang bank.

Kemudian pada tahun 2004, G. Thohir dan TP Rachmat mendirikan perusahaan dengan nama PT Padang Karunia, dan pada tahun 2007, masuk nama-nama lainnya yang disebut diatas sebagai pemegang saham perusahaan, dan nama PT-nya diubah menjadi PT Adaro Energy. Di tahun yang sama, PT Adaro Indonesia ditempatkan sebagai anak usaha dari Adaro Energy ini, dan demikian pula perusahaan-perusahaan lain di bidang jasa kontraktor batubara (Saptaindra Sejati), perdagangan batubara (Coaltrade Pte Ltd), logistik (Indonesia Bulk Terminal), dan pembangkit listrik (Makmur Sejahtera Wisesa, Jasapower Indonesia), semuanya dikonsolidasikan ke dalam Adaro Energy. Sebagai catatan, PT Adaro Indonesia dimiliki oleh Saratoga, sedangkan Saptaindra dkk dimiliki oleh nama-nama lain yang disebut diatas. Yup, jadi pada tahun 2007 itu bisa dibilang dilakukan merger antara perusahan-perusahaan yang dimiliki oleh pihak-pihak yang memang sudah saling mengenal satu sama lain (sebagai sesama alumni Grup Astra), dimana PT Adaro Energy kemudian dijadikan sebagai induk dari semua perusahaan-perusahaan tersebut.

Lalu kenapa merger itu perlu dilakukan? Karena PT Adaro Energy ini direncanakan untuk IPO, dimana mumpung sektor batubara itu sendiri sedang euforia, maka nilai IPO-nya bisa setinggi mungkin. Tapi jika Saratoga jalan sendiri maka ada kemungkinan IPO-nya akan gagal, atau tetap terlaksana tapi dana yang diperoleh tidak akan terlalu besar. Maka jadilah nama-nama yang disebut diatas bersatu dan bekerja sama untuk merealisasikan rencana IPO Adaro, dalam hal ini PT Adaro Energy, and they did it! Terutama karena timing-nya sangat tepat dimana harga batubara terus melonjak naik di tahun 2007 sampai awal 2008, dan IHSG itu sendiri terbang dari 1,832 di awal tahun 2007, hingga tembus 2,800-an pada pertengahan tahun 2008. Jadi suasana pasar ketika itu amat sangat euforia, dan rencana IPO dari perusahaan batubara terbesar kedua di Indonesia, yakni PT Adaro Energy (ADRO), ditanggapi dengan sangat antusias oleh investor, terutama karena ‘poin-poin analisa’ sebagai berikut:

  1. Saham ADRO melantai di bursa persis di bulan Juli 2008, ketika harga batubara mencapai all time high $180 per ton, sehingga meskipun beberapa analis mengingatkan bahwa harga batubara bisa saja turun lagi, tapi anggapannya adalah bahkan kalaupun batubara turun sampai $100 per ton, maka ADRO tetap akan profit besar! (namun pada kenyataannya, batubara kemudian turun lebih rendah dari itu).
  2. Harga perdana IPO-nya 1,100, sedangkan saham BUMI ketika itu sudah mencapai 8,000-an. Jadi cerita yang dijual ketika itu adalah ADRO ini bisa saja menyusul BUMI sampai 8,000! (sederhana banget yak?? Jadi ngapain itu pake PER, PBV dst). Beberapa tahun kemudian, jurus yang sama dilakukan oleh Grup Recapital dimana saham Bank Banten (BEKS) diisukan bakal naik dari 50 sampai 1,000, seperti halnya saham Bank BJB (BJBR) sebagai sesama bank daerah, dan hasilnya tidak kurang dari 24 ribu investor ritel dan institusi terjebak membeli saham BEKS di harga gocap (sebelum reverse-stock).
  3. Nilai IPO-nya luar biasa besar yakni Rp12.2 trilyun, yang kemudian menjadi rekor nilai IPO terbesar di Indonesia sampai hari ini, but still beritanya gencar dimana-mana bahwa investor kesulitan memperoleh jatah saham ADRO, dan bahwa terjadi oversubscribe alias kelebihan permintaan saham ADRO sampai 5 kali lipat! Alhasil investor jadi lebih penasaran lagi untuk bisa memperoleh saham ADRO, kalau nggak dapet IPO-nya ya nanti beli saja di pasar, pada harga yang sedikit lebih tinggi dari 1,100 juga gak apa-apa, toh sahamnya bakal ke 8,000.
  4. Pada laporan keuangan terakhirnya per tanggal 31 Januari 2008, ekuitas ADRO cuma Rp2.4 trilyun, namun market cap perdananya pada harga Rp1,100 per saham mencapai Rp29.1 trilyun, sehingga kalau pakai ‘metode tradisional’, harga 1,100 itu tergolong mahal. Tapi para analis lagi-lagi menunjuk saham BUMI yang ‘jauh lebih mahal’, jadi ADRO ini sebenarnya murah!
  5. Cadangan batubara milik ADRO saat itu mencapai 928 juta ton, yang kalau pakai ‘harga konservatif’ $100 per ton saja (ingat bahwa saat itu harga batubara mencapai $180 per ton), maka artinya potensi pendapatan $92.8 milyar, dimana dengan asumsi margin laba 10% saja, artinya laba bersih $9.3 milyar. Sedangkan market cap ADRO cuma Rp29.1 trilyun atau setara $2.7 milyar (berdasarkan kurs ketika itu), jadi masih murah! Dan jangan lupa pula bahwa cadangan batubara diatas bisa meningkat di masa yang akan datang seiring dilakukannya kegiatan eksplorasi.

Daaaan seterusnya. Intinya adalah fakta bahwa bisnis batubara ini berisiko tinggi karena harga batubara itu sendiri bisa sangat fluktuatif, plus nilai IPO-nya yang kelewat mahal, semuanya diabaikan oleh investor yang sudah kadung kalap! Menariknya lagi, di prospektus IPO ADRO disebutkan bahwa 92.3% alias mayoritas dari dana Rp12.2 trilyun hasil IPO-nya akan disetor ke para pemegang saham pengendali ADRO, jadi bukan untuk menambah modal kerja ADRO itu sendiri. Lho, bagaimana maksudnya?

Jadi begini, harap baca bagian ini pelan-pelan karena sangat rumit: Sebelum IPO, ADRO hanya memegang efektif 61.2% saham PT Adaro Indonesia, 61.8% saham PT Indonesia Bulk Terminal, dan 58.9% saham Coaltrade Pte Ltd, semuanya melalui anak usaha bernama PT Alam Tri Abadi. Jadi terdapat porsi saham di ketiga perusahaan diatas yang tidak dimiliki oleh ADRO, melainkan dimiliki oleh dua perusahaan dengan nama Ariane Investments Mezzanine Pte Ltd (Ariane), dan Agalia Investments Pte Ltd (Agalia), keduanya beralamat di Singapura. Ariane dimiliki oleh sejumlah pihak yakni Citigroup Financial Products, Goldman Sachs Asia, Vencap Holdings (dikelola Government of Singapore Investment Corporations Pte Ltd, sebuah perusahaan asset management), Arindo FCM (dikelola Noonday Global Management, sebuah perusahaan asset management), dan Gold Pilot Ltd, sebuah perusahaan yang tidak memiliki keterangan apa-apa kecuali disebutkan didirikan di British Virgin Island. Sedangkan Agalia dimiliki oleh Citigroup dan Goldman Sachs. Nah, perhatikan bahwa pemilik Ariane dan Agalia adalah bank/perusahaan asset management, dimana yang namanya bank dan juga asset management tentunya tidak mengelola aset milik mereka sendiri, melainkan milik pihak ketiga. Artinya? Yup, Ariane dan Agalia sejatinya juga dimiliki oleh pihak-pihak yang merupakan founder ADRO, alias Saratoga dkk. Tapi dengan memanfaatkan jasa bank sebagai perantara maka Ariane dan Agalia kemudian tidak dianggap sebagai pihak berelasi dari ADRO, karena dalam hal ini pihak bank dilindungi asas kerahasiaan untuk tidak membeberkan siapa-siapa saja klien/nasabah mereka. Faktanya ketika Saratoga mengakuisisi PT Adaro Indonesia pada tahun 2001 dari tangan konglomerat Sukanto Tanoto, maka yang diakuisisi adalah 100% sahamnya. Jadi mau di kemudian hari sebagian dari saham PT Adaro Indonesia itu dipegang oleh Ariane atau apalah itu namanya, tapi tetap saja ultimate owner-nya adalah Saratoga itu sendiri.

Oke, lanjut. Dari dana hasil IPO-nya, ADRO akan menyetor tambahan modal ke PT Alam, lalu dana tersebut digunakan untuk mengakuisisi 100% saham Ariane dan Agalia. Sehingga dengan demikian kepemilikan ADRO terhadap PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, dan Coaltrade Pte Ltd menjadi genap 100%, tapi ADRO dalam hal ini tidak menerima uang kas sama sekali, karena yang menerima uang kas tersebut adalah pihak-pihak yang menjual saham Ariane dan Agalia ke ADRO. Kemudian sebelum IPO, ADRO hanya memegang 92.0% saham PT Alam, dan sisanya dimiliki oleh PT Persada Capital Investama (milik Alm. Benny Subianto), dan Saratoga. Pasca IPO, ADRO menggunakan dana hasil IPO-nya untuk membeli saham PT Alam yang dimiliki PT Persada dan Saratoga, sehingga ADRO kemudian memegang 100% saham PT Alam, tapi dalam hal ini PT Persada dan Saratoga-lah yang menerima pembayaran tunai, jadi bukan ADRO itu sendiri.

Jadi jika disimpulkan, hampir seluruh uang hasil IPO ADRO yang Rp12.2 trilyun tadi sama sekali tidak masuk ke kas ADRO itu sendiri. Tapi di laporan keuangan ADRO pasca IPO, yakni per Kuartal III 2008, maka di komposisi aset ADRO muncul aset/aktiva tidak lancar berupa berupa properti pertambangan senilai Rp10.2 trilyun (angkanya bisa sebesar itu karena dicatat berdasarkan harga perolehan, karena ingat bahwa ADRO menggunakan dana hasil IPO-nya untuk mengakuisisi Ariane dan Agalia), plus goodwill Rp8.5 trilyun (karena akuisisinya dilakukan pada harga premium), dan ekuitas ADRO juga ikut naik karena ‘tambahan modal disetor’ senilai Rp10.6 trilyun, menjadi Rp14.1 trilyun. Menurut penulis sendiri ini sangat jenius dimana setelah IPO-nya, ADRO tetap dikuasai oleh para founder-nya, nilai pasar perusahaan meningkat pesat, dan Saratoga dkk menerima cold hard cash senilai hampir $1.3 milyar. Actually memang dari IPO ADRO inilah, para pendirinya kemudian seperti ketiban durian runtuh dimana mereka menggunakan uangnya untuk diinvestasikan kesana kemari (dan hasilnya kembali cuan). Sehingga pada hari ini, nama-nama yang disebut diatas sudah dikenal sebagai salah satu orang-orang terkaya di Indonesia.


Pada laporan keuangan per 30 September 2008, bisa dilihat bahwa aktiva tidak lancar ADRO naik signifikan menjadi Rp24.6 trilyun, yang terutama berasal dari peningkatan aset properti pertambangan, dan goodwill. Jadi nilai aset ADRO secara keseluruhan meningkat signifikan pasca IPO, tapi ADRO dalam hal ini hampir tidak menerima setoran tunai hasil dari IPO-nya itu sendiri.

Okay, lalu investor yang ikut IPO-nya dan menyetor dana Rp12.2 trilyun itu dapat apa? Ya cuma dapat salam, good luck! Ingat bahwa karena sejak awal harga IPO ADRO amat sangat premium, maka investor yang membeli sahamnya baru akan cuan jika, dan hanya jika ADRO di masa yang akan datang sukses men-deliver kinerja jumbo seperti yang digembar gemborkan. Namun faktanya sampai hari ini atau tiga belas tahun kemudian, saham ADRO masih disitu-situ saja, gak jauh-jauh dari harga IPO-nya dulu di 1,100, karena memang sejak awal ADRO ini hanya menjual ‘prospek’ dan ‘mimpi’ yang meski disatu sisi bisa saja menjadi kenyataan suatu hari nanti, tapi bisa juga tidak. Tapi ceritanya berbeda dengan para founder-nya: Mereka sudah menerima cash Rp12.2 trilyun itu sedari awal, jadi mereka tidak perlu lagi harap-harap cemas soal apakah kinerja ADRO kedepannya bakal cuan atau tidak, karena mereka sudah memperoleh cuan tersebut. Sudah tentu, jika anda membeli saham ADRO ketika IPO-nya di tahun 2008 dan masih di-hold sampai hari ini, maka anda gak bisa dibilang rugi juga karena toh ADRO gak sampai turun dibawah 1,100, dan setiap tahun perusahaan ada bayar dividen juga kok. Tapi sekarang bayangkan jika anda adalah founder ADRO dan dapet Rp12.2 trilyun di tahun 2008 itu, lalu uangnya dibelikan saham-saham atau perusahaan lain yang jelas-jelas lebih murah. Dan setelah satu dekade kemudian, maka hasilnya tentu akan jauh lebih profit dibanding jika uang tersebut dibelikan saham ADRO. Contoh sederhana saja jika kita beli saham BBCA di tahun 2008, maka berapa profitnya hari ini?

Analisa Rencana IPO GoTo

Kesemua ulasan diatas adalah untuk memberikan gambaran kepada anda sebagai investor ritel dan institusi, tentang apa tujuan dan keuntungan yang bisa diperoleh pihak pemilik perusahaan jika perusahaan tersebut go public, dimana jika timing dan momentum-nya tepat, plus menggunakan teknik-teknik tertentu seperti yang dipaparkan diatas, maka keuntungan yang dihasilkan juga akan maksimal. Dan kalau misalnya anda termasuk yang setor dana untuk membeli saham IPO ADRO ketika itu, maka anda juga tidak bisa menyalahkan siapapun karena tidak ada seorangpun yang memaksa anda untuk melakukan itu bukan? Dimana tindakan pembelian saham itu adalah sepenuhnya keputusan anda sendiri. Faktanya untuk bisa menggelar IPO dengan nilai perolehan dana sebesar itu, juga hanya para founder ADRO saja yang bisa melakukannya, dimana IPO-IPO selanjutnya nilainya selalu jauh lebih kecil. Yup, IPO kedua terbesar sepanjang sejarah BEI adalah ketika Grup Salim meng-IPO-kan Indofood CBP pada Oktober 2010, dan diperoleh dana segar Rp6.3 trilyun.

Nah, jadi sekarang kita ke IPO GoTo, yang disebut-sebut akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah pasar saham Indonesia dengan nilai market cap perdana Rp580 trilyun! Alias lebih besar dibanding market cap Bank BRI (BBRI) sekalipun, padahal diketahui bahwa nilai bersih aset berwujud GoTo tidak sampai Rp100 milyar, dan perusahaannya juga masih merugi. Hingga artikel ini ditulis, penulis sendiri belum memperoleh prospektusnya, jadi kita baru akan pelajari prospektus itu nanti. Tapi dari perkembangan rencana IPO-nya sejauh ini, maka sangat mirip dengan IPO ADRO yang dibahas diatas bukan?

  1. Gojek dan Tokopedia melakukan merger menjadi GoTo, yang mungkin karena baik itu pihak founder Gojek maupun founder Tokopedia sama-sama tidak cukup pede untuk jalan sendiri-sendiri, melainkan mereka akan memiliki kesempatan lebih besar untuk meraup dana sebesar-besarnya dari pasar saham Indonesia, jika mereka bergabung dan bekerja sama.
  2. Cerita yang dijual adalah bahwa GoTo akan menjadi The next Amazon (jadi ingat Jouska yang dulu bilang saham LUCK sama seperti Amazon), dan ini mirip seperti dulu di tahun 2007 – 2008 orang bilang bahwa saham ADRO bakal go to the moon! Untuk menyusul saham BUMI sebagai sesama saham batubara.
  3. ‘Saham-saham teknologi’ yang ada di BEI sudah setahunan ini dikerek setinggi mungkin, untuk memberikan kesan bahwa saham GoTo itu masih murah! Karena lihat saja itu ARTO, DCII berapa valuasinya?? Jadi apa pula itu PER, PBV, metode value investing seperti itu sudah ketinggalan jaman! Lucunya saham-saham yang jelas-jelas merupakan saham tekno dan fundamentalnya juga jauh lebih baik seperti Telkom (TLKM), atau Link Net (LINK) malah disitu-situ saja, atau naik tapi dengan kenaikan yang wajar, dan yang melesat malah saham-saham tekno gak jelas yang nama perusahaannya sendiri baru kita dengar sekarang. Yup, jadi berbeda dengan euforia saham BUMI di tahun 2007 – 2008 lalu, maka euforia di saham-saham tekno di tahun 2020 – 2021 ini sebenarnya dipaksakan, dimana tanpa dijelaskan juga kita tahu bahwa kenaikan tidak wajar ARTO dkk itu hanya karena manipulasi bandar, jadi bukan karena investor beneran masuk membeli sahamnya dalam jumlah besar. Tapi hasilnya memang tetap terjadi euforia di ‘sektor teknologi’ ini.
  4. Pemberitaannya sangat massive dimana-mana, termasuk penulis sendiri yang selalu berusaha tutup mata dan tidak peduli, tapi tetap saja saya mendengar kehebohan soal rencana IPO GoTo ini. Ini mengingatkan saya ketika Grup Recapital menjual Bank Pundi (BEKS) ke Pemerintah Provinsi Banten, dan nama perusahaan kemudian diubah menjadi Bank Banten (BEKS), dimana beritanya juga berisik sekali di media, dan ketika itu juga banyak sekali analis yang merekomendasikan buy saham BEKS ini.
  5. Boy Garibaldi Thohir, yang dulu sukses membidani IPO ADRO, ditunjuk menjadi komisaris GoTo. Pengalaman Mr. Thohir tentu sangat diperlukan untuk memuluskan rencana IPO GoTo itu sendiri.

Kemudian yang jadi perdebatan di medsos adalah apakah kita sebagai investor ritel sebaiknya ikut beli sahamnya (jika IPO-nya jadi) karena itu tadi: GoTo ini bakal jadi Amazon, atau jangan ikut karena faktanya sampai sekarang GoTo masih rugi (ADRO di tahun 2008 lalu masih mending, dimana ketika itu perusahaannya sudah untung). Tapi biar penulis luruskan disini: Mau itu GoTo beneran bakal jadi Amazon, ataukah sahamnya tetap disitu-situ saja bahkan setelah tiga belas tahun seperti halnya ADRO, atau lebih buruk lagi: Sahamnya anjlok karena ternyata setelah beberapa tahun kemudian, perusahaan tetap saja merugi, tapi yang sudah pasti diuntungkan adalah para founder dari GoTo itu sendiri! Dimana mereka-lah yang akan memperoleh uang tunai dalam jumlah besar, hasil dari jual saham dari perusahaan rugi pada harga super premium karena 'berdasarkan asumsi bahwa perusahaannya akan untung di masa depan'. Dan sebagai investor, jujur saja, penulis tidak mau berada dalam posisi harap-harap cemas dan menunggu apakah GoTo ini nantinya akan sukses membukukan laba atau tidak, ketika disisi lain saya tahu persis bahwa para founder-nya sudah cuan duluan, dimana mereka mungkin akan menggunakan uang hasil IPO-nya untuk diinvestasikan di tempat lain, untuk mendirikan start-up unicorn yang baru lagi. Yup, jadi satu-satunya kelompok orang yang akan muncul di daftar Majalah Forbes sebagai ‘orang terkaya di Indonesia’ adalah para founder GoTo ini, yakni jika IPO-nya sukses. Sementara investor ritel yang ikut membeli saham IPO-nya? Well, jika beruntung maka GoTo setelah beberapa tahun nanti pada akhirnya akan profit juga, dan sahamnya akan naik lebih tinggi lagi. Tapi bagaimana jika tidak? Dan kenapa juga kita harus menunggu dalam ketidak pastian seperti itu??

Anyway, Warren Buffett sendiri sudah sejak dulu mengkritik pengusaha private equity yang mengambil keuntungan dengan cara seperti itu: Akuisisi perusahaan kecil, dikelola jadi besar, lalu dilepas ke pasar saham pada harga setinggi mungkin, biasanya dengan memanfaatkan euforia pasar. Dan itu juga alasan kenapa WB sangat jarang mau membeli saham IPO, dan demikian pula Berkshire Hathaway tidak pernah meng-IPO-kan anak usahanya. Ini bukan berarti semua saham IPO itu jelek, karena penulis sendiri beberapa kali beli saham-saham anyar di BEI yang fundamental, prospek serta valuasinya bagus (jadi belinya di pasar, bukan ketika IPO-nya), dan hasilnya cuan. Tapi ketika kita dibujuk rayu (dengan cerita masa depan cerah bla bla bla) untuk membeli saham dari perusahaan yang jelas-jelas belum menghasilkan laba, dan juga pada harga yang sangat mahal jika dihitung pakai metode value investing yang katanya ketinggalan jaman itu, maka jika anda termakan bujuk rayu tersebut, itu akan menjadi kesuksesan besar bagi seseorang diluar sana yang sama sekali tidak anda kenal, tapi anda sendiri bisa jadi tidak akan memperoleh keuntungan apa-apa.

Untuk minggu depan, kita akan bahas IPO Bukalapak.

***

Ebook Market Planning edisi Juli 2021 yang berisi analisis arah IHSG, stockpick saham, dan informasi jual beli saham yang penulis lakukan, sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 6,200, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan via email

Komentar

Anonim mengatakan…
Terima kasih Pak Teguh untuk analisa nya, membuka wawasan banget Pak, walaupun diawal awal tentang teknik IPO Adaro itu ngejelimet banget, hehe

Ditunggu tunggu Pak analisa IPO Bukalapaknya 🙏
Anonim mengatakan…
Mantap.. lanjut terus artikel nya seperti ini.

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Live Webinar Value Investing, Sabtu 14 Agustus 2021

Bank Banten (BEKS) Prank!

Aneka Tambang (ANTM)

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Ebook Investment Planning Kuartal II 2021 - Terbit 8 Agustus