Prospek IPO Pertamina Geothermal (PGEO) Kurang Menarik, Ini Alasannya

Beberapa hari ini banyak yang bertanya ke penulis soal prospek saham PT Pertamina Geothermal Energy, Tbk (PGEO), yang merupakan anak usaha dari BUMN Pertamina, yang dijadwalkan akan melantai di bursa 24 Februari 2023. Karena memang kalau melihat nama besar Pertamina disitu, plus prospek usaha geothermal itu sendiri sebagai salah satu energi terbarukan (yang disebut-sebut akan menggantikan energi fosil di masa depan), maka sekilas sahamnya tampak menarik.

Disisi lain, banyak juga yang bertanya tentang bagaimana kelanjutan prospek dari PT Dayamitra Telekomunikasi, Tbk, atau PT Mitratel (MTEL), yang merupakan anak usaha BUMN Telkom, yang dulu juga IPO pada bulan November 2021. Dan kenapa banyak yang bertanya tentang MTEL ini? Karena saham MTEL sekarang hanya Rp675, alias turun lumayan dibanding harga IPO-nya dulu di 800.

Kemudian penulis jadi ingat bahwa, selain MTEL, sebenarnya ada cukup banyak BUMN dan/atau anak usaha BUMN yang menggelar IPO dalam lima tahun terakhir. Jadi bagaimana harga saham mereka sekarang? Apakah naik lebih tinggi sehingga menghasilkan keuntungan bagi investornya, atau justru turun dibanding harga IPO-nya hingga menyebabkan kerugian? Kami di Avere Investama sudah merangkum datanya, dan berikut hasilnya, data diurutkan berdasarkan tanggal IPO. Current price adalah harga saham per penutupan pasar tanggal 3 Februari 2023, klik gambar untuk memperbesar.

Nah, fakta mengejutkannya adalah, dari enam emiten BUMN/anak usaha BUMN yang IPO dalam lima tahun terakhir, semuanya, saya katakan lagi: Semuanya menghasikan kerugian bagi investor yang membeli sahamnya di harga IPO, bahkan ada yang ruginya sampai lebih dari 60%. Disisi lain posisi IHSG hari ini yakni 6,900-an terhitung masih naik dibanding posisinya lima tahun yang lalu di 6,300. Jadi bisa dikatakan bahwa saham-saham BUMN ini turun sendiri, bukan karena kondisi pasar sahamnya sedang lesu atau semacamnya.

Lalu apa penyebab saham-saham IPO BUMN itu bukannya naik, tapi justru turun? Well, kalau dari sudut pandang value investing, penyebabnya karena valuasi mereka sejak awal memang sudah mahal, atau minimal tidak disebut murah, as simple as that. IPO MTEL contohnya, dimana pada ulasannya disini, penulis jelas menyampaikan bahwa PBV MTEL yang 1.77 kali itu tidak cukup murah terutama jika mempertimbangkan ROE-nya (ketika itu) yang hanya 3.6% per tahun, hanya sedikit lebih tinggi dibanding bunga deposito. Bahasa sederhananya, anda beli aset senilai Rp1,000 yang menghasilkan keuntungan Rp36 per tahun, sehingga tahun depan nilai aset tersebut akan naik menjadi Rp1,036, tapi pada harga Rp1,770. Nah, jadi kapan balik modalnya kalo harga belinya segitu?

Okay, lalu bagaimana dengan IPO PGEO? Apakah mahal juga? Soal itu akan kita jawab minggu depan, tapi bisa saya kasih sedikit clue: Dibanding IPO MTEL dulu maka IPO PGEO ini relatif lebih murah, meski kata ‘relatif’ disini harus digarisbawahi. Anyway, ulasan lengkapnya ditunggu minggu depan yap.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru Kuartal IV 2022 akan terbit 13 Februari mendatang, bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Live Webinar Value Investing, belajar investasi saham khususnya metode value investing: Sabtu 11 Februari 2023, pukul 08.00 – 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email

Komentar

Anonim mengatakan…
ditunggu ulasannya, SIR..

semoga kami (investor newbie) tidak terjebak dengan IPO yang punya embel-embel 'BUMN'

terima kasih, Pak Teguh
sehat terus, Pak
selalu sehat
dan harus sehat.

Best Regards
ARI
Wong Fei Hung mengatakan…
Sebagai seorang investor veteran.. Sy jadi teringat wkt IPO KRAS dan GIAA yg menghebohkan itu. Sy ikut keduanya dgbtujuan invest jangka puanjaaaaang!
Dan hasilnya?? Bhoncoss beraaat

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Perkiraan Dividen PTBA: Rp1,000 per Saham

Pegang Saham Unilever (UNVR) Sejak Lama di Harga Atas, Hold Atau Cut Loss Saja?