Prospek Saham ACES (Ace Hardware)

PT Ace Hardware Indonesia Tbk. melaporkan laba bersih Rp352 miliar hingga Q3 2022, naik tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp323 miliar. Jadi jika perusahaan mampu mempertahankan kenaikan laba ini sampai akhir tahun 2022, maka ini adalah kali pertama sejak tahun 2019 dimana ACES kembali membukukan kinerja yang bertumbuh secara positif. Disisi lain, trend penurunan kinerjanya sejak 2019 menyebabkan sahamnya juga cenderung turun dari posisi all time high-nya di 1,890, Juli 2019 lalu, hingga mentok di 398 pada Desember 2022, sebelum sekarang stabil di kisaran 450 – 500. Dan pada harga terbarunya yakni 490, PBV-nya tinggal 1.5 kali. Sudah cukup murah?

***

Ebook Market Planning edisi Februari 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Sejarah ACES dimulai pada tahun 1995 ketika PT Kawan Lama Sejahtera (KLS), sebuah perusahaan ritel dan distributor peralatan rumah tangga, memperoleh lisensi dari Ace Hardware Corporation (AHC) asal Amerika Serikat untuk menjual produk-produk AHC di Indonesia. KLS kemudian mendirikan anak usaha dengan nama PT Kawan Lama Home Center, dan pada tahun 1996 membuka gerai Ace Hardware pertamanya di Karawaci, Tangerang, Banten, yang menjual berbagai produk rumah tangga dengan merk Ace, Krisbow, dan Kris, disusul dengan gerai-gerai lainnya di sejumlah kota di Indonesia. Pada tahun 2001, nama perusahaan berubah menjadi PT Ace Hardware Indonesia, dan listing di BEI pada tahun 2007 dengan kode ACES. Pada tahun 2010, ACES melakukan diversifikasi dengan membuka gerai mainan anak-anak dengan merk ‘Toys Kingdom’. Pada tahun 2013, ACES memiliki 85 gerai Ace Hardware dan Toys Kingdom di seluruh Indonesia. Dan terakhir per 30 September 2022, ACES sudah memiliki 228 gerai yang tersebar di 54 kota di Indonesia, dimana perusahaan mengelompokkan usahanya menjadi tiga segmen: Home improvement (alat-alat rumah tangga, perkakas, perabotan, dan furniture berkualitas tinggi yang bisa membuat rumah tinggal, kantor dll menjadi lebih nyaman untuk ditempati. Jadi dalam hal ini ACES berbeda dengan toko bangunan atau toko alat-alat rumah tangga biasa), gaya hidup (di lokasi yang sama dengan gerai Ace Hardware juga ada cafe, restoran dll), dan mainan (Toys Kingdom itu tadi), dengan target konsumen level menengah keatas. Selain gerai offline, ACES juga memiliki toko online-nya sendiri yakni www.ruparupa.com.

Kemudian jika kita lihat jumlah gerainya yang terus bertambah pesat, dimana anda sendiri mungkin memperhatikan ada gerai Ace Hardware yang baru berdiri di pusat kota tempat anda tinggal (biasanya sebelahan dengan Informa, yang juga dimiliki oleh Grup Kawan Lama tapi tidak ditempatkan dibawah ACES), menyebabkan merk ‘Ace Hardware’ menjadi populer di mata masyarakat karena lokasi tokonya ada dimana-mana, cuma kalah sama gerai Mixue. Kinerja keuangan ACES juga terbilang sangat baik dimana laba bersihnya tumbuh secara konsisten saban tahun hingga sempat tembus Rp1 triliun pada tahun 2019, demikian pula ekuitasnya terus bertumbuh hingga terakhir tercatat Rp5.5 triliun, padahal perusahaan rutin membayar dividen sebesar kurang lebih 50% laba bersihnya setiap tahun. Beberapa faktor lain yang membuat ACES menarik adalah:

  1. ACES membeli barang-barang dari AHC yang kemudian dijual lagi di Indonesia pada harga yang jauh lebih tinggi, dan alhasil ACES memiliki margin laba yang besar untuk ukuran perusahaan ritel/distributor, yakni sekitar 10 – 12% pendapatannya. ACES sendiri bisa jual pada harga tinggi tersebut karena perusahaan berstatus sebagai market leader di pasar home improvement di Indonesia.
  2. ACES tidak punya utang, juga gak pernah right issue atau semacamnya, tapi perusahaan mampu untuk terus berekspansi menambah gerai baru, termasuk meluncurkan berbagai program marketing untuk memastikan gerai-gerai baru tersebut sukses. Hal ini menunjukkan manajemen yang pekerja keras, dan perusahaannya sendiri memiliki cukup cashflow untuk membiayai ekspansi tersebut.
  3. Meski terus menambah gerai baru, tapi manajemen juga mampu dengan cepat menutup gerai yang dianggap tidak berkontribusi maksimal terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. Contohnya di tahun 2021 dimana ACES membuka 13 gerai baru, tapi disisi lain menutup 5 gerai lainnya yang sudah ada. Cara kerja manajemen yang ‘sat set’ seperti ini memastikan bahwa semua aset milik ACES bersifat produktif dan berkontribusi secara maksimal, dan alhasil perusahaan bisa terus bertumbuh secara operasional.

Dengan profil yang sebagus itu, maka tak heran saham ACES dihargai premium oleh investor, dimana pada harga saham 1,500 – 1,800, tahun 2019 lalu, PBV-nya mencapai 5 – 6 kali. Karena dalam hal pendapatan dan laba bersihnya yang naik terus setiap tahun, maka kualitas fundamental ACES ini setara emiten consumer goods besar seperti misalnya PT Unilever Indonesia, Tbk. However, pada tahun 2020 kinerja ACES akhirnya turun juga karena efek pandemi, dimana pendapatannya menjadi Rp7.4 triliun (dari Rp8.2 triliun di tahun 2019), dan labanya menjadi Rp733 miliar (dari sebelumnya Rp1.0 triliun). Jadi pada tahun 2020 inilah sahamnya mulai turun. Dan karena pada tahun 2021-nya, dan juga hingga Q2 2022 lalu labanya masih turun, maka jadilah sahamnya turun lebih rendah lagi hingga mentok di 510 pada bulan Oktober 2022. Memasuki Q3 2022, barulah seperti disebut diatas, laba ACES kembali naik meski tipis, dan alhasil sahamnya naik hingga ke 600-an pada bulan November 2022. Tapi seiring dengan penurunan IHSG di bulan Desembernya, ACES turun lagi hingga mentok di 398, dan sekarang stabil di range 450 – 500.

Terlepas dari labanya yang turun dan sahamnya yang juga turun, namun manajemen ACES itu sendiri sama sekali tidak berhenti berekspansi dimana seperti disebut diatas, pada tahun 2021 ACES membuka 13 gerai baru, dan bahkan antara Januari – September 2022 perusahaan membuka 15 gerai lagi. Dan hebatnya lagi sejak pandemi sampai hari ini, ACES tetap membayar dividen seperti biasa (jadi sisa labanya tinggal sedikit, tapi bahkan dari sisa laba itu perusahaan masih bisa membangun banyak gerai baru). Sehingga, seperti yang pernah penulis sampaikan beberapa bulan lalu di acara webinar: Saya percaya bahwa suatu hari nanti pendapatan dan laba bersih ACES akan tumbuh lagi, karena secara business perusahaan masih terus tumbuh dan berkembang.

Dan ternyata benar di Q3 2022 kemarin laba ACES sudah naik lagi, albeit kenaikannya masih tipis sehingga bisa saja di kuartal berikutnya nanti labanya kembali turun. Meski demikian jika kita melihat kondisi pandemi itu sendiri yang sudah berakhir, maka penulis optimis bahwa masa-masa sulit bagi perusahaan juga sudah berakhir, dimana kalaupun pada tahun penuh 2022 kemarin labanya masih turun, namun untuk tahun 2023 ini kinerja perusahaan berpeluang besar untuk kembali tumbuh konsisten seperti dulu sebelum pandemi.

Kemudian yang tentunya menarik adalah valuasi sahamnya, dimana seperti disebut diatas, PBV ACES sekarang tinggal 1.5 kali, terbilang murah jika mempertimbangkan track record kinerja perusahaan, nama besar ‘Ace Hardware’, serta kualitas manajemennya yang mumpuni. Dan PBV segitu juga jauh lebih murah dibanding level tertingginya tiga tahun lalu di 5 – 6 kali. Jadi yang sekarang kita butuhkan hanyalah perusahaan kembali melaporkan kenaikan pendapatan dan laba dalam satu atau dua kuartal ke depan, dan barulah pada saat itu sahamnya akan mulai naik signifikan. Pihak manajemen sendiri sudah menyatakan bahwa untuk tahun 2023, perusahaan mentargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 8 – 10%.

Tinggal satu hal lagi: Meski diatas penulis katakan bahwa ACES ini adalah market leader di bidang home improvement, tapi belakangan ini ACES mulai memiliki pesaing seperti IKEA dan Mr. DIY. Dan meski penulis tidak terlalu khawatir mengingat gerai IKEA baru sedikit, sedangkan Mr. DIY menyasar konsumen menengah kebawah sehingga lingkup pasarnya berbeda dengan ACES, tapi ada juga kemungkinan kinerja ACES tidak akan langsung tumbuh lagi di tahun 2023 ini. Karena itulah, meski secara valuasi ACES saat ini betul sudah murah, namun penulis sendiri lebih suka menunggu perkembangan kinerjanya dalam satu atau dua kuartal dari sekarang, dimana jika hasilnya bagus maka baru kita masuk. Namun demikian jika anda sudah pegang dari awal maka boleh hold.

Minggu depan kita akan bahas prospek IPO PT Pertamina Geothermal Energy, TBK. (PGEO).

***

Ebook Market Planning edisi Februari 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Perkiraan Dividen PTBA: Rp1,000 per Saham

Pegang Saham Unilever (UNVR) Sejak Lama di Harga Atas, Hold Atau Cut Loss Saja?