Prospek dari Saham Bank Syariah Terbaik di Indonesia

Bank BTPN Syariah (BTPS) sudah merilis laporan keuangan untuk tahun penuh 2022, dengan catatan kinerja yang sangat baik: Laba bersih naik 21.5%, demikian pula ekuitas, total aset, pendapatan semuanya naik dobel digit, dan return on equity (ROE) 21.2%. Penulis katakan ‘sangat baik’, karena jika dibandingkan dengan kinerja bank lain (termasuk yang besar-besar dan terkenal), entah itu sesama bank syariah atau bank konvensional dalam periode waktu yang sama, maka BTPS ini memang yang terbaik terutama dari sisi profitabilitas. Yup, anda bisa cek Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI, dan Bank BSI: Semuanya mencatat ROE dan NIM (net interest margin, atau karena BTPS merupakan bank syariah maka disebutnya net yield), yang lebih rendah dibanding BTPS.

***

Ebook Market Planning (EMP) edisi Maret 2023 berisi update analisa pasar/IHSG, rekomendasi saham bulanan, dan info jual beli saham sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi/tanya jawab saham untuk member.

***

Nah, jadi kalau demikian kenapa kok sahamnya justru turun terus dalam setahun terakhir? Ya tentu saja karena faktor klasik: Valuasinya kemarin itu terlalu mahal. Tapi, okay, mari kita coba bahas lagi BTPS ini secara lengkap.

BTPS dulunya merupakan unit usaha syariah milik Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dimana BPTN sendiri sebelumnya sukses melebarkan usahanya dari hanya menyediakan layanan perbankan bagi pensiunan (sesuai namanya), hingga juga melayani kredit mikro. Usaha kredit mikro itu sendiri sebetulnya juga sangat menguntungkan karena bunganya bisa sangat tinggi, dimana ketika BTPN misalnya memberikan pinjaman Rp3 juta untuk pedagang gorengan di pasar, maka si pedagang harus membayar bunga setidaknya Rp600 ribu setelah satu tahun. Yup, Rp600 ribu mungkin terdengar kecil, tapi itu berarti bunganya mencapai 20% dari pokok pinjamannya. Ini pula yang menjelaskan kenapa Bank BRI (BBRI) selama ini menghasilkan keuntungan yang sangat besar, karena BBRI merupakan penguasa kredit mikro di Indonesia. However, pinjaman untuk ‘wong cilik’ seperti ini risiko kredit macetnya juga sangat tinggi. Sehingga berbeda dengan BBRI yang sudah berpengalaman lebih dari 100 tahun (berdiri sejak tahun 1895), maka tidak mudah bagi bank lain untuk ikut masuk ke segmen kredit mikro ini. But somehow, BTPN berhasil melakukannya. Salah satu terobosan yang dilakukan BTPN adalah dengan memanfaatkan teknologi electronic data capture (EDC), dimana alih-alih meminta nasabah dan konsumen untuk ke kantor bank, justru BTPN-lah yang mendatangi mereka. Yup, BTPN adalah seperti bank keliling dimana para agennya masuk ke perkampungan dan sawah-sawah menggunakan sepeda onthel, dengan para klien seperti pemilik toko kelontong, pedagang sayur di pasar, tukang gorengan, hingga pemilik usaha home industry yang kemana-mana cuma pake sendal jepit. Bedanya tentu, BTPN ini bank resmi yang menawarkan pinjaman dengan bunga yang, meski tetap besar, tapi tidak sampai ‘mencekik’ seperti bank keliling/rentenir itu tadi (bunga bank keliling bisa mencapai 100% per tiga bulan, gimana gak mencekik??).

Namun demikian layanan kredit mikro yang ditawarkan oleh BTPN tetap saja memiliki citra negatif karena merupakan ‘riba’, yang merupakan isu sensitif di negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Karena itulah, sejak tahun 2010, BTPN juga membuka unit usaha syariah tapi dengan memanfaatkan jaringan perbankan mikro yang sudah dibangun sebelumnya, sehingga unit usaha baru itu tidak harus merintis dari awal lagi. Nah, jadi bayangkan jika anda adalah seorang petani yang butuh modal Rp2 juta untuk membeli pupuk, tapi rumah anda terlalu jauh dari kantor bank di pusat kota (udah gitu ribet pula prosedurnya), sementara para rentenir yang tiap hari mondar mandir di kampung anda menawarkan pinjaman Rp2 juta tersebut, namun bayarnya harus Rp4 juta setelah 3 bulan. Tapi kemudian datang seorang agen dengan tanda pengenal resmi dari Bank BTPN Syariah, yang menawarkan modal usaha syariah yang tidak lagi menuntut anda untuk membayar bunga, melainkan pakai sistem bagi hasil dimana anda hanya perlu membayar sesuai dengan hasil panen, sudah gitu anda diberikan pelatihan gratis pula. Kira-kira bagaimana reaksi anda?

Alhasil unit usaha syariah ini sukses besar hingga pada tahun 2014, Bank BTPN Syariah resmi berdiri, dilanjut IPO pada tahun 2018 dengan ticker BTPS. Nah, sebenarnya sejak tahun 2018 tersebut, karena melihat model bisnisnya yang sangat unik dan boleh dibilang tidak memiliki pesaing (bank syariah di Indonesia memang ada banyak, tapi sejauh ini cuma BTPS yang sukses di kredit mikro syariah), sedangkan prospek perbankan syariah di Indonesia itu sendiri secara umum juga sangat menarik, maka pada ulasannya disini, penulis sudah memprediksi bahwa prospek BTPS ini amat sangat cerah, dimana perusahaan akan terus bertumbuh menjadi bank besar.

Dan prediksi tersebut terbukti benar: Pada tahun 2018 lalu, aset BTPS tercatat Rp12.0 triliun, ekuitas Rp4.0 triliun, pendapatan Rp3.4 triliun, laba bersih Rp1.0 triliun, dan jumlah nasabah aktif 3.2 juta. Sedangkan pada tahun 2022 kemarin? Asetnya menjadi Rp21.2 triliun, ekuitas Rp8.4 triliun, pendapatan Rp5.3 triliun, laba bersih Rp1.8 triliun, dan jumlah nasabah aktif 4.2 juta. Nah, kita tahu bahwa dalam periode empat tahun terakhir, Indonesia tidak dalam kondisi baik-baik saja dimana kita sempat dihantam pandemi covid-19, yang kemudian menyebabkan resesi. Tapi bahkan dalam periode sulit seperti itu, ekuitas BTPS tetap tumbuh lebih dari dua kali lipat, dan demikian pula aset, pendapatan, dan laba bersihnya semuanya tumbuh signifikan. Jika dibandingkan dengan kinerja emiten perbankan lain dalam periode waktu yang sama, maka sekali lagi, catatan kinerja BTPS ini terbilang sangat baik. Karena itu pula BTPS diganjar rating tertinggi yakni AAA oleh Fitch, salah satu dari tiga lembaga rating terbesar di dunia.

Kemudian untuk kedepannya penulis percaya bahwa BTPS masih akan terus bertumbuh, karena bahkan setelah tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir, BTPS masih tergolong bank skala menengah di Indonesia dengan total aset Rp21.2 triliun saja. Sebagai perbandingan, Bank Syariah Indonesia atau Bank BSI (BRIS) memiliki aset super besar yakni Rp305.7 triliun, tapi itu justru membuatnya menjadi sulit untuk tumbuh lebih besar lagi, karena BRIS dalam hal ini memang sudah menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia, hanya kalah dibanding big four BBCA dkk.

Sehingga sekarang tinggal harga sahamnya. Nah, diatas penulis sudah katakan bahwa BTPS ini turun karena valuasinya sejak awal sudah mahal, dan itu memang benar. Pada posisi all time high-nya di level 5,050, Januari 2020 lalu (sesaat sebelum pandemi), maka berdasarkan posisi ekuitas serta laba bersihnya ketika itu (tahun penuh 2019), PBV BTPS tercatat 7.2 dan PER 27.7 kali. Sebagai perbandingan, saham BBCA saja yang kita tahu valuasinya selama ini selalu premium, PBV tertingginya hanya pernah mencapai 5 koma sekian kali.

Namun seiring dengan berlanjutnya pertumbuhan ekuitas dan laba perusahaan, dan disisi lain saham BTPS juga turun dengan sendirinya (meski pelan-pelan turunnya, ini sudah tahun 2023), maka pada harga 2,400 dan berdasarkan kinerjanya di tahun 2022, PBV BTPS tinggal 2.2 kali, dan PER 10.4 kali: Gak bisa disebut murah, tapi untuk saham sebagus BTPS ini kita memang tidak bisa mendapatkan sahamnya pada harga yang benar-benar diskon, melainkan harga saham yang mencerminkan PER 10 kali juga sudah termasuk bargain. Dan jangan lupa bahwa BTPS ini satu dari hanya tiga saham bank syariah di BEI (dua lainnya BRIS dan PNBS), dimana bagi pemilik rekening saham syariah, mereka ya belinya saham bank syariah ini saja karena mereka gak bisa beli BBCA dkk. Thus, jika trend pertumbuhan kinerjanya berlanjut di tahun 2023 ini dan seterusnya, maka cuma soal waktu sebelum BTPS akan kembali ke level tertingginya yakni 5,000, atau lebih tinggi lagi.

However, setiap investasi ada risikonya, dan risiko bagi BTPS ini adalah fakta bahwa perusahaan induknya, yakni BTPN, sudah sejak tahun 2019 lalu dimiliki oleh Grup Sumitomo asal Jepang, dimana kinerjanya setelah itu jadi kurang bagus (biasanya sebuah bank kalau sudah diambil alih investor asing memang kinerjanya jadi menurun). Dan sebenarnya penulis sendiri sempat khawatir BTPS akan bernasib serupa. Tapi karena sampai hari ini kinerja BTPS ternyata masih baik-baik saja, malah lebih bagus lagi, maka saya masih menganggap sahamnya layak untuk investasi termasuk untuk jangka panjang/legacy stock. But still, hal ini harus anda perhatikan sebelum memutuskan untuk masuk.

Untuk minggu depan kita akan bahas PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia, Tbk (TUGU).

***

Avere Annual Meeting, Investor Gathering & Market Outlook 2023 (seminar tatap muka): Jakarta, Sabtu 18 Maret 2023. Untuk bergabung klik disini, tersedia diskon bagi yang mendaftar untuk banyak peserta sekaligus.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email

Komentar

Investasi Saham mengatakan…
Terima kasih ulasannya tentang bank syariah pak teguh, tidak sabar menunggu bahasan tentang tugu. karena sepertinya belum pernah ada yang mengulas tentang emiten asuransi di bursa efek indonesia
Anonim mengatakan…
Ditunggu analisa tentang TUGU Pak
Wong Fei Hung mengatakan…
Jika nanti bang Lo Kheng Hong membaca ulasan tentang TUGU.. Niscaya beliau akan haka itu saham
Anonim mengatakan…
Ralat pak : BTPS bukan akad bagi hasil (mudharabah) akantetapi menggunakan akad jual beli (murabahah)
Keduanya sangat berbeda dan bisa missleading.

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Terbit 8 Agustus

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 20 Juli 2024

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Mengenal Investor Saham Ritel Perorangan Dengan Aset Hampir Rp4 triliun

Saham Telkom Masih Prospek? Dan Apakah Sudah Murah?

Prospek IPO Barito Renewables Energy (BREN): Lebih Cuan dari PGEO?