Saham US vs Crypto, Mana Yang Lebih Profit?

Dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan lesunya pasar saham Indonesia di mana IHSG cenderung turun, dan demikian pula saham-saham turun banyak semuanya (bahkan saham sekelas Bank BRI (BBRI) juga ikut anjlok), maka ada banyak investor saham Indonesia yang pindah ke pasar cryptocurrency, apalagi setelah aset crypto dengan market cap terbesar yakni Bitcoin (BTC) naik signifikan tepatnya sejak bulan Oktober 2023 lalu, dari sekitar $27,000 hingga sekarang ke posisi $65,000, atau lompat sekitar 140% dalam waktu beberapa bulan saja. Dan demikian pula aset crypto lainnya, hampir semuanya naik banyak.

***

Jadwal Seminar Tatap Muka: Value Investing in US Stocks, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2024, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Nah, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa saham-saham di Amerika Serikat (US) yang berhubungan dengan crypto justru naik lebih banyak dibanding crypto itu sendiri? Misalnya MicroStrategy Inc (MSTR), perusahaan peranti lunak (software) yang juga aktif dalam pengembangan BTC serta banyak berinvestasi pada BTC itu sendiri, di mana harganya naik dari $300-an di bulan Oktober 2023, hingga sekarang sudah $1,400-an, atau naik lebih dari 300%. Atau Coinbase Global Inc (COIN), perusahaan crypto exchange terbesar kedua di dunia (setelah Binance) yang memfasilitasi transaksi jual beli aset crypto, yang sahamnya juga lompat dari $70-an di bulan Oktober 2023, hingga sekarang sudah di $230-an, atau juga naik lebih dari 300%. Demikian pula NVIDIA Corp (NVDA) yang naik lebih dari 10 kali lipat dalam dua tahun terakhir hingga sekarang menjadi salah satu saham dengan market cap terbesar di Wallstreet, di mana kinerja perusahaan juga diuntungkan salah satunya oleh crypto mining booming sejak sekitar tahun 2014 lalu, yang seketika meningkatkan volume penjualan graphic processing unit (GPU) berperforma tinggi yang diproduksi oleh NVDA, yang memang sangat dibutuhkan untuk proses crypto mining itu sendiri. Perhatikan bahwa saham-saham tersebut mulai naik beberapa saat setelah kenaikan BTC di bulan Oktober 2023, sehingga bisa dikatakan bahwa kenaikan mereka mengikuti BTC itu sendiri (jadi bukan karena faktor fundamental, mengingat kinerja laporan keuangan MSTR dan juga COIN masih jelek dengan laba bersih yang kecil), namun dengan persentase kenaikan yang lebih tinggi. 

Saham MSTR sudah naik 369% dalam setahun terakhir, lebih tinggi dibanding kenaikan BTC

Sudah tentu, saham-saham di atas tampak naik lebih tinggi jika perbandingannya adalah BTC, namun kita tahu bahwa aset crypto bukan hanya BTC. Sedangkan untuk aset-aset crypto yang lain, maka ada banyak di antaranya yang naiknya lebih tinggi dibanding saham MSTR dkk yang disebut di atas. Contohnya Solana (SOL), yang naik dari posisi $23 di bulan Oktober 2023, hingga sekarang sudah di $137, atau lompat hampir 500% (naik 6 kali lipat). Namun demikian juga perlu dicatat bahwa untuk aset crypto di luar BTC, maka pergerakannya biasanya jauh lebih fluktuatif, sehingga risikonya juga otomatis menjadi lebih tinggi. Contohnya balik lagi ke SOL itu tadi, dimana meski harganya secara keseluruhan sudah naik hampir 500% sejak bulan Oktober 2023, tapi jika ada investor/trader yang beli di harga pucuk $209 pada bulan Maret 2024 kemarin, maka dia sudah rugi -35% dalam tiga bulan terakhir. Dan untuk aset-aset crypto yang lebih kecil juga sama, di mana ada banyak diantaranya yang sudah jeblok gila-gilaan/turun lebih dalam dari sekedar 35% dalam beberapa waktu terakhir, anda bisa googling sendiri.

Kesimpulannya, dengan mempertimbangkan risk and reward-nya, maka saham US berbasis crypto ternyata lebih menguntungkan sekaligus lebih aman dibanding crypto itu sendiri. Pertanyaannya, kenapa demikian?

Dan penulis kira jawabannya adalah karena aset crypto biar bagaimanapun masih terhitung baru, jauh lebih baru dibanding aset saham US yang sudah diperdagangkan di Wallstreet sejak ratusan tahun lalu (New York Stock Exchange atau NYSE berdiri sejak tahun 1792), sehingga praktis jumlah investor/tradernya di seluruh dunia masih relatif sedikit (meskipun kalau di Indonesia, jumlah pemain crypto sekarang lebih banyak dibanding saham, ya karena itu tadi: Saham Indonesia sejak tahun 2023 kemarin bukannya naik tapi cenderung turun terus). Kemudian kita tahu bahwa dalam beberapa tahun terakhir cukup sering terjadi kasus fraud atau kebangkrutan yang melibatkan perusahaan crypto. Contohnya ketika FTX Trading Ltd. (FTX), salah satu cryptoexchange terbesar di dunia jatuh bangkrut pada tahun 2022 lalu, dan meninggalkan kerugian senilai sekian miliar Dollar bagi para trader yang menempatkan uang/aset cryptonya disitu. Demikian pula Binance yang merupakan cryptoexchange terbesar di dunia, maka meskipun perusahaannya masih baik-baik saja dan masih beroperasi sampai sekarang, tapi mereka beberapa kali terlibat kasus hukum tertentu. Sehingga ketika ada investor di pasar saham US yang mulai melirik aset cypto, maka mereka tetap lebih percaya untuk menempatkan aset/uang kas mereka pada sekuritas/broker saham yang sejak awal sudah mereka gunakan, daripada memindahkannya ke crypto exchange seperti FTX atau Binance itu tadi. Dan alhasil yang dibeli adalah saham berbasis crypto, bukan crypto itu sendiri.

Sehingga inilah kenapa kemudian saham MSTR, COIN, termasuk juga aset Bitcoin ETF seperti Grayscale Bitcoin Trust (GBTC), rata-rata naik lebih tinggi dibanding kenaikan BTC itu sendiri, yakni karena saham/ETF tersebut bisa langsung dibeli menggunakan broker/sekuritas yang sejak awal sudah digunakan oleh para investor, di mana sekuritas-sekuritas ini juga sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, dan selama itu punya track record yang sangat baik/jarang kena masalah, jadi mereka berbeda dengan Binance yang baru berdiri tahun 2017, atau FTX yang berdiri tahun 2019. Nah, sekarang balik ke diri kita sendiri: Katakanlah kita beberapa bulan lalu beli bitcoin di harga bawah sehingga posisinya sekarang sudah profit. Maka apakah kita akan merasa cukup tenang jika belinya pakai aplikasi trading yang gak jelas? Bagaimana jika aplikasi tersebut ujungnya bernasib seperti FTX itu tadi?

Anyway, pada titik ini kita akan sampai ke pertanyaan berikutnya: Broker atau sekuritas mana yang aman untuk trading saham US? Tapi karena itu topiknya sudah beda lagi, maka kita akan bahas itu di lain kesempatan.

***

Jadwal Seminar Tatap Muka: Value Investing in US Stocks, Jakarta, Sabtu 22 Juni 2024, pukul 11.00 – 17.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

Anonim mengatakan…
Kasian amat posting begini ga dapet Traffic jadi bikin sensasi males dateng wisuda anaknya wkwk
Anonim mengatakan…
Jadi sekarang main saham US nih om?

Saham indonesia lagi gak prospek yah?

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Kuartal II 2024 - Terbit 8 Agustus

Live Webinar Value Investing Saham Indonesia, Sabtu 20 Juli 2024

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Mengenal Investor Saham Ritel Perorangan Dengan Aset Hampir Rp4 triliun

Saham Telkom Masih Prospek? Dan Apakah Sudah Murah?

Prospek IPO Barito Renewables Energy (BREN): Lebih Cuan dari PGEO?