Buletin Analisis IHSG & Stockpick Saham edisi Desember 2016 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member, langsung dengan penulis.

Penjelasan Penurunan NIM Perbankan

Kamis kemarin, tanggal 18 Februari, komisioner otoritas jasa keuangan (OJK), Muliaman Hadad, mengatakan bahwa net interest margin (NIM) perbankan di Thailand tercatat 3 – 4%, sementara NIM di Indonesia lebih tinggi. Agar lebih comparable dengan negara-negara lain dikawasan ASEAN, maka NIM bank-bank di Indonesia akan diarahkan hingga menjadi 3 – 4% juga, dimana OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya. Sehari kemudian Menteri BUMN, Rini Soemarno, juga menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk menurunkan NIM-nya menjadi sekitar 4% dengan cara melakukan konsolidasi seperrti berbagi sistem IT dan mesin ATM, sehingga menurunkan biaya operasional, dan alhasil kinerja bank-bank tersebut menjadi lebih efisien.

Terlepas dari detail pernyataan dari kedua tokoh diatas, namun judul pemberitaannya adalah bahwa ‘NIM Perbankan akan Dibatasi’, dimana oleh orang awam maka itu terdengar seperti ‘keuntungan bank akan dibatasi’. Alhasil saham-saham perbankan langsung jeblok dan itu menyebabkan IHSG turun 1.7%, Jumat lalu.

Lalu apa sih yang dimaksud dengan NIM? Bisakah NIM dibatasi? Bagaimana caranya? Kenapa dan apa tujuannya sehingga NIM bank-bank di Indonesia harus dibatasi? Dan jika NIM sebuah memang bisa diturunkan sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan?

Pengertian NIM

Net interest margin, atau margin bunga bersih, adalah perbandingan antara pendapatan bunga bersih/net interest income (pendapatan bunga/interest income dikurangi beban pokok/cost of credit), dengan nilai aset produktif. Pendapatan bunga berasal dari kredit yang disalurkan, simpanan pada obligasi pemerintah, sertifikat Bank Indonesia, dll. Sementara beban pokok merupakan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar bunga deposito, bunga pinjaman, dll.

Dan yang dimaksud dengan aset produktif adalah aset yang dikelola hingga menghasilkan bunga tadi, istilahnya net bearing assets. Misalnya, sebuah bank asetnya Rp100 milyar. Dari total aset tersebut, Rp80 milyar diantaranya disalurkan kesana kemari dalam bentuk kredit, surat berharga, obligasi, dll, sehingga menghasilkan pendapatan bagi bank berupa bunga. Nah, Rp80 milyar inilah yang disebut dengan aset produktif.

Jika bank tersebut mencatat pendapatan bunga Rp5 milyar dalam setahun, kemudian setelah dikurangi beban pokok hasilnya adalah Rp4 milyar, maka NIM-nya adalah 4 / 80 = 0.05 = 5%. Data terakhir dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah 4.23%.

Nah, dari sini kita bisa melihat faktor-faktor yang menentukan NIM, yakni: 1. Nilai pendapatan bunga, 2. Nilai beban pokok, dan 3. Nilai aset produktif. Seperti halnya perusahaan manapun di seluruh dunia, bank-bank di Indonesia tentunya selalu fokus pada upaya untuk meningkatkan pendapatan hingga sebesar-besarnya, dan menekan beban pokok hingga serendah-rendahnya (sementara nilai aset seiring waktu akan meningkat dengan sendirinya). Intinya adalah menaikkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran. Dan bank yang berhasil dalam upaya tersebut akan mencatat NIM yang lebih tinggi dibanding bank lain yang kurang berhasil, dimana semakin tinggi NIM sebuah bank, maka artinya semakin efisien bank tersebut dalam beroperasi. Di Indonesia, bank dengan NIM terbesar adalah Bank BTPN dengan NIM 9.9% pada Kuartal III 2015.


Jadi kalau NIM mau diturunkan, maka caranya dibalik: Pendapatan bank ditekan hingga serendah-rendahnya, atau nilai beban pokok-nya yang dinaikkan. Tapi mungkinkah bank melakukan itu? Menaikkan pengeluarannya sendiri? Menteri Rini sendiri menghimbau kepada bank-bank BUMN untuk melakukan konsolidasi untuk menurunkan biaya operasional sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih efisien. Tapi kalau caranya begitu, maka NIM-nya justru akan naik, sehingga dalam hal ini pernyataan Menteri Rini menjadi absurd (tapi rasanya gak mungkin kalau Menteri Rini gak ngerti apa itu NIM, jadi mungkin ini cuma karena wartawannya salah kutip).

Sementara pernyataan Muliaman Hadad bahwa OJK akan meminta bank untuk menurunkan bunga kreditnya sehingga NIM-nya akan turun, itu baru lebih masuk akal, karena jika bunga kredit turun sementara omzetnya tetap, maka pendapatan bunga bank akan turun. Dan jika beban pokoknya tetap, maka NIM-nya akan turun. Namun tetap saja: Bukan seperti itu cara untuk menurunkan NIM perbankan. Lebih lanjut akan dijelaskan dibawah.

Kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya?

Dalam perekonomian suatu negara, perbankan memiliki peran sebagai ‘jembatan’ yang menghubungkan antara pemilik dana dengan orang/perusahaan yang membutuhkan dana tersebut untuk mengembangkan usaha. Dalam perannya tersebut, bank memungut bunga dari penyaluran kredit/pinjaman, dan membayar bunga ke pemilik dana, katakanlah dalam bentuk bunga deposito. Selisih antara bunga kredit yang tentu saja lebih besar dari bunga deposito, itulah yang kemudian menjadi pendapatan bank. Semakin besar selisihnya, maka semakin besar pula pendapatan bank tersebut.

Nah, terkait dengan penyaluran kredit dan pinjaman ke sektor-sektor usaha, jika bank memungut bunga terlalu besar maka itu akan membebani sektor usaha itu sendiri, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Jadi jika tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka suku bunga bank bisa diturunkan. Caranya? Dengan menurunkan BI Rate, dimana itu merupakan domain dari BI (hanya BI yang bisa menurunkan BI Rate). Dengan turunnya BI Rate, maka tidak hanya bunga kredit, tapi bunga deposito juga bisa diturunkan, atau dengan kata lain, meski pendapatan bunga bank akan turun, tapi beban pokoknya juga akan turun, dan alhasil NIM-nya tetap.

Hanya memang, kalau BI Rate terus diturunkan hingga ke level yang sangat rendah, misalnya dibawah 5% (terakhir masih 7%), maka NIM perbankan akan ikut turun. Ilustrasinya sebagai berikut: Ketika BI Rate 7%, maka sebuah bank menetapkan bunga pinjaman 12%, dan bunga deposito 6%, sehingga margin-nya (NIM-nya) akan tercatat 12 – 6 = 6%. Setelah BI Rate turun menjadi 4%, maka bunga pinjaman mungkin turun menjadi 9% (dari 12 ke 9, berarti turun 25%), dan bunga deposito ikut turun tapi hanya menjadi 4.5% (dari 6 ke 4.5, berarti turun 25% juga. Ngerti nggak?), sehingga NIM-nya menjadi 9 – 4.5 = 4.5%, atau lebih rendah dari dibanding NIM 6% tadi.

Namun catat: BI Rate hanya bisa diturunkan hingga ke posisi yang serendah-rendahnya kalau perekonomian sudah sangat efisien, yang ditandai dengan rendahnya inflasi. Ini artinya jika BI Rate turun tajam dan itu menyebabkan NIM bank juga turun, maka penurunan NIM tersebut sama sekali tidak berdampak buruk bagi bank yang bersangkutan, karena disisi lain tingkat inflasi juga turun drastis. Sebab, inflasi adalah juga seperti cost dalam operasional bank, dimana jika sebuah bank mencatatkan margin bunga 6% pada tahun tertentu namun tingkat inflasi di tahun tersebut tercatat 7%, maka sejatinya bank tersebut merugi.

Jadi kenapa NIM di Thailand lebih rendah dibanding Indonesia? Karena inflasi disana cuma 0 – 1%, terakhir bahkan minus 0.5%, atau jauh lebih rendah dibanding Indonesia yakni 4.1%. Dan suku bunga bank sentral disana juga cuma 1.5%, dibanding BI Rate yakni 7%. Jadi meski NIM perbankan di Thailand lebih rendah dibanding di Indonesia, namun itu bukan berarti bahwa bank-bank disini lebih profitable dibanding di Thailand. Tapi rendahnya NIM perbankan di Thailand juga bukan berarti bahwa perbankan disana lebih baik dibanding disini, tapi bahwa perekonomian disana secara keseluruhan lebih efisien dibanding di Indonesia.

Okay, jadi balik lagi ke pertanyaan diatas, kenapa NIM bank harus turun? Apa tujuannya? Jawabannya bukan NIM bank-nya yang langsung diturunkan begitu saja, katakanlah dengan memaksa bank menurunkan pendapatan dan menaikkan beban pengeluaran, tapi bank-bank di Indonesia akan diberi insentif tertentu (oleh OJK) sehingga mereka bisa menurunkan bunga kredit sesuai dengan penurunan BI Rate (BI Rate juga mulai turun dalam beberapa bulan terakhir). Dan itu diharapkan akan menstimulus sektor-sektor usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika disisi lain tingkat inflasi juga bisa ditekan minimal di level saat ini (data inflasi terakhir, yakni 4%, itu terbilang bagus mengingat rata-rata inflasi di Indonesia tercatat 6 – 7% per tahun), maka BI Rate bisa terus turun, dan lambat laun otomatis NIM perbankan akan turun dengan sendirinya, tentunya tanpa mengganggu kinerja perbankan itu sendiri karena disisi lain tingkat inflasi memang sudah sangat rendah.

Itu sebabnya dikatakan bahwa proses 'penurunan NIM' ini mungkin akan makan waktu 2 - 3 tahun, karena pekerjaan utamanya adalah untuk menurunkan inflasi namun disisi lain tetap menjaga pertumbuhan ekonomi, sehingga NIM perbankan kemudian akan turun dengan sendirinya, dan itu tentu saja perlu waktu yang tidak sebentar. Lain ceritanya jika NIM sebuah bank langsung diturunkan dengan cara memaksa mereka menurunkan bunga kredit secara drastis dan menaikkan bunga deposito, misalnya, padahal inflasi masih tinggi. Kalau begitu caranya maka barulah penurunan NIM itu merupakan hal yang buruk, tapi sekali lagi, bukan begitu caranya. Sama seperti ketika Pemerintah mentargetkan penurunan harga jual gas untuk menstimulus ekonomi, maka caranya bukan dengan memaksa Perusahaan Gas Negara (PGAS) untuk langsung begitu saja menurunkan harga jual, melainkan memberikan insentif, kemudahan, dan infrastruktur agar PGAS bisa memotong jalur distribusinya, sehingga operasional PGAS menjadi lebih efisien, dan harga jual gas-nya bisa diturunkan dengan sendirinya tanpa mengurangi laba dari PGAS itu sendiri.

Kesimpulan

Turunnya rata-rata NIM perbankan adalah salah satu indikator, diluar indikator-indikator lain seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan rendahnya inflasi, bahwa ekonomi Indonesia membaik. OJK atau bahkan BI sekalipun tidak bisa langsung menetapkan bahwa rata-rata NIM perbankan di Indonesia adalah maksimal sekian persen, sama seperti mereka tidak bisa menetapkan berapa persen tingkat pertumbuhan inflasi dan inflasi (hanya bisa mentargetkan), karena NIM tersebut akan secara otomatis mengikuti perkembangan fundamental ekonomi di dalam negeri, dimana kalau perkembangannya bagus maka NIM-nya akan turun, tapi kalau nggak ya nggak.

Pertanyaan terakhir, jika nanti NIM sebuah bank turun sampai dibawah 4%, maka bagaimana dampaknya terhadap kinerja bank yang bersangkutan? Well, perhatikan kata kuncinya diatas: rata-rata NIM di Indonesia akan turun kalau perekonomian sudah lebih baik/lebih efisien dibanding sebelumnya, jadi penurunan NIM tersebut tidak berdampak negatif apapun. Ibaratnya seperti gaji anda turun dari Rp10 juta menjadi Rp9 juta, tapi harga-harga beras (dan kebutuhan sehari-hari lainnya) juga turun dari Rp10,000 menjadi Rp7,000 per kilo. Nah, dengan demikian maka gaji Rp9 juta tadi sejatinya justru lebih besar bukan?

Lalu kenapa saham-saham perbankan malah turun ketika keluar statement dari OJK dan Menteri BUMN bahwa ‘NIM perbankan akan diturunkan hingga 3 – 4%’ ini? Ya sama saja ketika ada berita bahwa harga gas turun, harga semen turun, bunga KPR turun, yang langsung bikin saham PGAS, SMGR dan BBTN jeblok, karena masalahnya sebagian besar orang kalau baca berita hanya baca judulnya saja, bukan benar-benar memahami isi beritanya, dan analisa mendalam tentang berita tersebut biasanya baru akan muncul beberapa waktu kemudian. Sama seperti ketika beberapa waktu lalu heboh soal 'Ironman' asal Bali dimana orang-orang langsung percaya bahwa ada tukang las yang bisa bikin tangan robot hanya dengan bermodalkan barang elektronik bekas, tapi beberapa waktu kemudian barulah diketahui kalau itu cuma hoax.

Tapi yah, penulis sudah cukup hafal dengan fenomena ‘saham jeblok karena berita jelek’ seperti ini, dimana kalau yang jadi ‘korban’ adalah saham bagus, maka biasanya itu opportunity. Sejak 2009 sampai sekarang, entah sudah berapa kali saham-saham sektor perbankan dihantam sentimen miring, belum termasuk koreksi IHSG itu sendiri yang rutin menghantam hampir setiap tahunnya, tapi toh saham-saham bank yang bagus seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI dst, mereka semua naik terus, dengan total kenaikan yang juga lebih tinggi dibanding IHSG. Dan apakah trend kenaikan dalam jangka panjaaaang tersebut akan terhenti hanya karena orang-orang belum paham soal NIM ini? I don’t think so!

Disclosure: Ketika artikel ini ditulis, Avere Investama sedang dalam posisi memegang BBNI, BJBR, dan BBKP. Posisi ini dapat berubah setiap saat tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Buletin Analisis IHSG & Rekomendasi Saham Bulanan edisi Maret 2016 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi portofolio untuk member.

Ebook Analisis Kuartal IV 2015 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

11 komentar:

Edy Subroto mengatakan... Balas

Mantaabb pak teguh ulasannya.. Smoga ini bisa meluruskan anggapan2 yg keliru tentang berita NIM Dan jika Saham perbankan turun pdhal kinerja mrk baik2 saja maka ini kesempatan buat akumulasi lagi :)

Anonim mengatakan... Balas

Dear Pak Teguh

Tulisan yang bagus untuk meluruskan miskonsepsi pelaku pasar bahwa himbauan moral dari pemerintah seakan-akan seperti "pemaksaan" namun lebih ke arah cara komunikasi public bahwa seharusnya BOPO (beban operasional terhadap pendapatan operasional) yang harus ditekan / dibuat lebih efisien, diikuti harapan perekonomian yang membaik (inflasi yang terkendali, dan pertumbuhan ekonomi yang sehat), namun perlu diketahui bahwa target segmen dari masing-masing bank mempunyai profil risiko yang berbeda-beda , missal BRI & BTPN yang focus pada kredit mikro mengenakan interest income yang jauh lebih tinggi dibanding Mandiri.

Menurut hemat saya, kemungkinan terbaik yang bisa dilakukan baru sebatas efisiensi penggabungan sistem perbankan (branchless banking, penggabungan kantor operasi atau ATM system), namun untuk konsolidasi saya rasa masih jauh dari angan-angan (karena antara tiap bank punya pridenya sendiri-sendiri). Jadi mungkin isu "pembatasan" NIM mungkin hanya bumbu-bumbu di pasar yang memungkinkan untuk value investor untuk bargain hunting saham Bank di harga lebih wajar.

Rian A.G

Bla-Bla Miko mengatakan... Balas

Nice artikel mas.. Seingat saya, berita paling awal yg saya baca judulnya ini: "Tekan Bunga Kredit, OJK Minta Margin Bank Maksimal 4%"... dari http://finance.detik.com/read/2016/02/18/174233/3145607/5/tekan-bunga-kredit-ojk-minta-margin-bank-maksimal-4. Dan mulailah besoknya kesimpangsiuran issue.. hehe

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Pak Teguh saya baca artilel ttg NIM hari ini yg berkata kalo NIM yg rendah menunjukan effisiensi dlm ekonomi spt di Thai yg NIM nya rendah krn inflasi cuma dibwh 1% tp disisi pertumbuhan ekonomi inflasi yg rendah kan menunjukan pertumbuhan ekonomi melambat. Apa gak bertentangan? Katanya NIM dibatasi spy ekonomi tumbuh.

Kmd kalo NIM dibatasi apa bisa diblg bahwa cara bank utk pertahankan laba adalah dgn cara naikan asset yg produktif yg berarti kredit yg bisa berimbas ke kredit macet kalo tdk terkontrol? NIM tinggi juga utk cover resiko kredit macet

Kaitan kebijakan NIM dlm memilih investasi saham bank mana bagaimana? Agak aneh kok malah yg NIM nya besar alias untung kok malah turun byk ? BBRI tmsk NIM tinggi krn dia segmennya mikro ibaratanya customer retail malah turun abis. Harga BBRI skrg PBV di kisaran 2.3 dan PER 12 tmsk murah? Apa laba bersih BBRi 2016 akan turun gara gara NIM?


Halo bu lenny. Ekonomi thailand efisien, dan itu bisa dilihat dari inflasinya yg rendah. Tp ekonomi yg efisien tidak selalu berarti bagus karena pertumbuhan ekonominya biasanya rendah juga. Contoh ekonomi yg bagus itu filipina dan china, dimana inflasinya rendah tapi pertumbuhan ekonominya tetap tinggi.

NIM tidak bisa dibatasi, tapi NIM akan turun dengan sendirinya ketika inflasi sudah sangat rendah (jadi inflasinya yg turun dulu, lalu baru NIMnya). Jadi ketika NIM itu turun, maka laba bank tidak akan terganggu karena cost bank dari sisi inflasi juga turun. Coba baca lg artikelnya.

NIM tidak ada hubungannya dgn kredit macet, kredit macet dicover dengan CKPN.

NIM besar tidak selalu berarti laba besar. Bank Pundi (BEKS), itu NIMnya 7% tapi labanya jeblok. NIM itu sama dengan margin laba kotor untuk bank, yakni pendapatan dikurangi beban pokok tapi belum dikurangi beban operasional, beban keuangan, dan pajak. Jadi sekali lagi, NIM besar tidak selalu berarti laba bersih besar. Laba BBRI tidak akan turun karena NIMnya jg tidak akan turun begitu saja. Pergerakan saham2 bank selama satu dua minggu kedepan akan tergantung seberapa sering cerita soal NIM ini nongol di media, tak peduli meski fundamental bank2 sebenarnya masih baik-baik saja. Dan berdasarkan pengalaman, kalau ada saham turun karena cerita jelek seperti ini maka perlu waktu paling cepat 1 - 2 minggu untuk pulih kembali.

Teguh Hidayat mengatakan... Balas

Tambahan: Soal BBRI di komentar diatas, kalimat yang lebih tepat adalah, laba BBRI tidak akan turun kalau penyebabnya adalah NIMnya yang turun, karena NIM tersebut tidak akan langsung turun begitu saja. Tapi ini bukan berarti laba BBRI pasti akan naik, karena ada banyak faktor yang bisa membuat laba sebuah bank naik atau turun (tidak hanya NIM).

Guntur mengatakan... Balas

Analisa yang jelas sekali. OJK gak mungkin akan menerapkan pembatasan NIM dengan sembarangan pasti akan dianalisa dulu dampaknya terhadap sektor perbankan. Inipun sepertinya rumor untuk menjeblokkan saham-saham perbankan

rioquiserto mengatakan... Balas

NIM ditentukan pula oleh premi Resiko yang harus ditanggung oleh bank dalam memberikan kredit. Kenapa NIM BRI lebih tinggi dibandingkan BCA? Karena BRI menyasar segment mikro, yang memang resikonya lebih tinggi, dibandingkan BCA yang menyasar segment corporate dan SME yang relatif resikonya lebih rendah dibandingkan mikro. Sehingga BRI perlu men-charge bunga yang lebih tinggi.

Jadi, kalau pemerintah ingin menurunkan NIM bank BUMN secara 'pukul rata' akan buruk dampaknya, terutama ke BRI yang memang segmentasinya punya NIM tinggi utk meng-cover resiko yang lebih besar.

Mungkin itu sebabnya harga saham BRI turun drastis di 22-23Feb2016.

Anonim mengatakan... Balas

salam,
pak tolong sesekali bahas mengenai analisa portofolio optimal, karena masih kurang jelas aja pak teguh dalam diversifikasi pake metode apa

Peter Yap mengatakan... Balas

Alangkah bijaknya apabila tidak sembarangan mengumbar statement ke media. Disaat optimisme mulai terbangun ada saja oknum2 yg suka ngartis asal jeplak ke media. Namanya kalau tidak bikin gaduh apa? Memang betul NIM harus turun tetapi apakah wise diumbar ke public. Bukannya kalau BI rate turun suku bunga kredit juga turun? Bukan bermaksud untuk komparasi tetapi pejabat china tidak pernah berkata jauh2 hari akan devaluasi yuan. Tetapi pasti hal tersebut sudah direncanakan jauh2 hari dan persiapan untuk efeknya juga sudah disiapkan baru dikeluarkan pengumuman devaluasi yuan. Apa gak mikir kalau ke depan USD naik apakah BI rate berani diturunkan? Trus bagaimana statement NIM tersebut bagaimana?

Lingga @ Sekolah Saham mengatakan... Balas

Hem, kalo baca-baca dari berita. Tujuan sebenarnya adalah menurunkan suku bunga pinjaman (kredit). Tapi entah kenapa yang disorot adalah soal NIM. Mungkin juga emang karena sumbernya (pejabat terkait) keceplosoan menekankan NIM ini. Hingga tujuan utama, menurunkan suku bunga pinjaman, jadi terkaburkan.

Hudarsono mengatakan... Balas

Hanya mau klarifikasi aja, kalau melihat example dari Pak Teguh, saat BI rate turun, bunga pinjaman turun dari 12% ke 9% dan deposito dari 6% ke 4.5%, walaupun turun nya sama2 25%, bukankah tetap saja nilai nominal profit bank akan tetap turun?

Misal, dengan bunga 12%, nilai nominal pendapatan bunga 120 jt, dan deposito 6% yang berarti beban bank 60 jt, artinya profit nya (di luar operational) adalah 60 jt.

Sedang dengan bunga 9%, maka pendapatan bunga menjadi 90 jt, dan beban deposito menjadi 45 jt, maka profit nya hanya 45 jt.

Jadi kalau nim turun, supaya profit tetap, maka bank harus menurunkan biaya operational mereka atau inflasi turun seperti yang Pak Teguh bilang.