Jadwal Kelas Investasi Saham: Value Investing Pension Class, Cara Investasi Saham u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.

Jadwal Private Class: Jakarta, Central Park Mall, Kamis 25 Oktober pukul 12.00 WIB. Keterangan selengkapnya baca disini.

Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 November mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Krakatau Steel

Krakatau Steel (KRAS) kembali melaporkan rugi US$ 16 juta di Kuartal II 2018, sehingga dari sini saja sahamnya sudah tidak layak invest, terutama karena dalam lima tahun terakhir, atau bahkan lebih lama lagi, KRAS selalu merugi. Hanya memang valuasi sahamnya yang sudah sangat murah, yakni PBV 0.3 kali, sementara perusahaannya sendiri punya segudang proyek pengembangan yang, kalau nanti sudah beroperasi, diperkirakan akan meningkatkan pendapatan KRAS secara signifikan, menyebabkan sahamnya mulai banyak dilirik investor. Jadi mungkin pertanyaannya sekarang simpel saja: Apakah KRAS akan menjadi The Next INDY? Atau justru malah menjadi The Next AISA?? Okay, kita langsung saja.


Sejak sahamnya listing di BEI, tahun 2011 lalu, KRAS nyaris tidak pernah menarik minat investor karena itu tadi: Perusahaannya tiap tahun rugi mulu, dan ini sebenarnya aneh mengingat KRAS sudah ekspansi membangun pabrik ini dan itu beserta infrastruktur pendukungnya bahkan sejak tahun 2010 lalu. Contohnya, seperti yang dulu kita bahas disini, pada akhir tahun 2013 lalu KRAS menyelesaikan pembangunan pabrik slab steel dan steel plate lengkap dengan fasilitas pelabuhan serta pembangkit listrik di Cilegon, Banten, dengan bekerja sama dengan Posco Steel asal Korea Selatan, dan pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2014. Kemudian di tahun 2014 tersebut, KRAS juga tengah membangun pabrik baja blast furnace, pabrik baja hot strip, pabrik pipa baja, hingga kawasan industri, semuanya berlokasi di Cilegon. Karena sekarang sudah tahun 2018, maka secara teori seharusnya pabrik-pabrik tersebut sudah selesai dibangun dan juga sudah menghasilkan pendapatan.

Okay, lalu berapa pendapatan KRAS sekarang? US$ 854 juta di Semester I 2018, yang kalau disetahunkan menjadi US$ 1.7 milyar, dimana meski itu meningkat lumayan dibanding tahun 2015, 2016, dan 2017, tapi masih lebih kecil dibanding pendapatan KRAS di tahun 2013 yang mencapai US$ 2.1 milyar. Aneh? Yep, jelas aneh. Karena diatas sudah dikatakan bahwa pabrik baja milik Krakatau – Posco mulai beroperasi tahun 2014, yang artinya pendapatan KRAS harusnya mulai melonjak di tahun 2014 tersebut, tapi kenapa pendapatan KRAS sampai sekarang malah lebih kecil dibanding pendapatannya di tahun 2013?

Tapi apapun itu, yang jelas investor pada akhirnya hanya melihat perolehan laba bersih perusahaan (yang sayangnya selalu minus), dan alhasil saham KRAS terus turun pelan-pelan hingga menyentuh 260-an, akhir tahun 2015 lalu. Memasuki tahun 2016, KRAS dengan cepat naik hingga menyundul level 800-an, tapi penyebabnya bukan faktor fundamental, melainkan karena perusahaan menggelar right issue yang kemudian ditetapkan pada level Rp525 per saham. Ketika itupun lagi-lagi KRAS ini heboh karena dikatakan bahwa perusahaannya bakal profit besar kalau pabriknya nanti sudah jadi (karena memang dana hasil right issue-nya digunakan untuk membangun satu lagi pabrik baja hot strip, yang dijadwalkan selesai tahun 2019). However, karena pada tahun 2016 tersebut, dan berlanjut sampai hari ini, KRAS masih tetap merugi, maka jadilah sahamnya turun lagi.

Lalu untuk kedepannya bagaimana? Nah, sebelum bicara prospek, penulis sebenarnya sudah mengidentifikasikan beberapa problem menahun yang dialami KRAS (yang sampai sekarang belum ada solusinya), dan inilah yang menyebabkan perusahaan terus saja merugi. Pertama, perusahaan sejak dulu tidak efisien dalam kegiatan operasionalnya dimana ada banyak biaya-biaya yang sebenarnya bisa ditekan. Contohnya, KRAS membeli gas dari PT Pertamina sebanyak 8,942.5 MSCF (million standard cubic feet) per tahun, pada harga US$ 6.75 per MMBTU, dimana dalam perjanjiannya yang terakhir di-amandemen pada tahun 2016, KRAS diwajibkan untuk membayar penuh harga beli gas sebanyak 8,942.5 MSCF tersebut, baik itu gasnya diambil semuanya atau tidak. Dan harga beli yang US$ 6.75 itu juga lebih tinggi dari instruksi Kementerian ESDM di tahun 2017, yang menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan distributor gas, termasuk Pertamina, harus menjual gasnya maksimal pada harga US$ 6 per MMBTU kepada pelanggan industri.

Lalu kenapa kok KRAS seperti gak bisa meng-amandemen perjanjiannya dengan Pertamina agar lebih menguntungkan buat perusahaan? Well, tanya direktur utamanya!

Kemudian kedua, seperti yang disebut diatas, KRAS punya banyak planning pengembangan usaha dimana perusahaan banyak membangun pabrik baja ini itu, lengkap beserta infrastruktur pendukungnya, tapi sayangnya progress-nya tidak secepat pembangunan Simpang Susun Semanggi di Jakarta, dimana sebagian dari pabrik-pabrik itu harusnya sudah selesai beberapa waktu lalu, tapi sampai sekarang masih on progress. Contohnya kompleks pabrik baja blast furnace, yang sudah digarap sejak tahun 2011 dan dijadwalkan sudah selesai dan beroperasi pada tahun 2015, tapi sampai penghujung tahun 2017 kemarin masih belum selesai juga. Kemudian, pada bulan November 2016 lalu KRAS memperoleh dana Rp1.9 trilyun dari right issue, yang rencananya akan dipakai untuk membangun pabrik hot strip mill keduanya. Lalu bagaimana progress-nya? Well, setelah hampir lewat dua tahun, maka berdasarkan laporan penggunaan dana hasil right issue per tanggal 30 Juni 2018, ternyata sisa dana right issue tersebut masih tercatat Rp1.9 trilyun juga.. alias belum digunakan sepeser pun! (Jadi bisa dipastikan bahwa pembangunan pabrik hot strip ini gak bakal selesai sesuai jadwal, yakni 2019, melainkan bakal molor lagi).

Jadi sepertinya masalah KRAS ini sejak awal di manajemennya, yang memang tidak kompeten, dan kondisi KRAS ini mengingatkan penulis dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang dulu juga rugi melulu karena manajemennya amburadul setengah mati. Tapi setelah direktur lamanya ditendang dan digantikan Ignasius Jonan, maka barulah PT KAI sekarang menjadi perusahaan yang profesional dan menguntungkan, dan sampai sekarang penulis sendiri tetap nyaman pake kereta api meski Pak Jonan sudah resign (karena jadi Menteri). Nah, jadi kecuali nanti ada figur tertentu yang masuk menjadi direktur utama KRAS dan kemudian mentransformasi perusahaan secara besar-besaran, maka untuk saat ini penulis tidak tertarik untuk menjadi pemegang saham di KRAS. Okay, kalau denger-denger cerita bahwa pabrik blast furnace-nya sebentar lagi bakal jadi (sebentar lagi itu artinya belum jadi kan?), dermaganya sudah jadi bla bla bla, maka sekilas memang KRAS ini menarik. Tapi, hey, bukankah KRAS ini juga sudah menjanjikan prospek begini begitu sejak 2014 lalu? Tapi mana hasilnya?

Anyway, kalau nanti, entah gimana caranya, susunan direksi KRAS digantikan oleh orang-orang baru yang lebih kompeten, maka barulah KRAS ini menarik, possibly bahkan bisa dipertimbangkan untuk investasi serius untuk jangka panjang. Sebab sejatinya prospek bisnis baja di Indonesia itu sangat menarik karena tingkat konsumsi baja nasional masih sangat rendah (data dari Worldsteel.org menunjukkan bahwa konsumsi baja di negara-negara Asia termasuk Indonesia tapi diluar China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, rata-rata hanya 87.3 kilogram per kapita, atau jauh dibawah rata-rata konsumsi baja dunia yang mencapai 214.5 kg per kapita, di tahun 2017), sementara sekarang sedang dikebut pembangunan infrastruktur, dan KRAS sejak awal sudah merupakan salah satu market leader di pasar baja tanah air. Dan ingat pula bahwa pemilik perusahaan baja terbesar di dunia Arcellor Mittal, yakni Lakshmi Mittal, ia juga dulu memulai usaha pabrik bajanya di Indonesia, tepatnya di Sidoarjo! Dan menariknya Chaacha Mittal ini juga memulai pabrik bajanya di Sidoarjo pada tahun 1970, atau hanya setahun sebelum Krakatau Steel berdiri dan beroperasi pada tahun 1971.

Nah, kalau ada dua pabrik baja yang usianya kurang lebih sama, dan juga memulai usahanya di negara yang sama, tapi yang satu kemudian tumbuh menjadi perusahaan raksasa, sementara yang satunya lagi malah bikin kesel karena rugi melulu, maka dimana letak masalahnya? Sudah pasti, pada orang-orang yang bertanggung jawab atas operasional perusahaan. Actually, soal manajemen ini juga sepertinya sudah menjadi perhatian serius dari pemilik KRAS itu sendiri (baca: Pemerintah), dimana pada Maret 2017 lalu kembali dilakukan penggantian dewan direksi, setelah sebelumnya juga terjadi pergantian dewan direksi pada April 2015. However, hingga Kuartal II 2018 kemarin hasilnya belum kelihatan, jadi mari kita lihat lagi gimana perkembangannya dalam beberapa waktu kedepan.

PT Krakatau Steel, Tbk
Rating Kinerja pada Q2 2018: BB
Rating Saham pada 400: A

Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (‘Ebook Kuartalan’) edisi Kuartal II 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Value Investing Private Class, Jakarta, Minggu 12 Agustus (sisa 1 seat lagi). Keterangan selengkapnya baca disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

4 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Pabrik baja di china lagi cuan besar2an tahun ini ... ini memang masalah manajemennya.

Yoes Avianto mengatakan... Balas

Terima kasih Pak Teguh artikelnya...harga baja yg turun dari tahun 2011 - 2016 juga ber-impact pada kinerja KRAS. Saat ini harga baja cenderung naik, revenue KRAS keliatannya mulai pulih plus dengan beberapa project sudah dan akan selesai (semoga ini juga akibat dari pergantian manajemen)...hopefully sleeping giant akan bangkit

adiaksa mengatakan... Balas

Bagusnya kras... dijual dulu dgn perusahaan yg sehat dan pengalaman diluar...tapi ada perjanjian buy back pada tahun ke 5 atau 7.
Biar management dan proses bisnisnya diperbaiki.. ( kayak pemain bola) dan kita bisa foxus ke yg lain.

Anonim mengatakan... Balas

Coba dicek kelapangan siapa aja yg pake produk kras, kontraktor2 jarang yg pake karena harganya beda