Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini.

Jadwal Seminar Value Investing - Advanced, Jakarta 2 Desember 2018. Info selengkapnya baca disini.

Bank BTPN Syariah (BTPS)

Sejak dulu, kalau kita hendak investasi jangka panjang di Bursa Saham Indonesia untuk simpanan pensiun atau tujuan lainnya, maka pilihan sektornya hanya ada dua: Consumer goods dan perbankan. However, bagi anda pemilik rekening syariah maka anda tentunya gak bisa membeli saham-saham perbankan, sehingga pilihannya terbatas pada saham consumer saja. Pilihan lainnya adalah saham bank syariah, namun seperti yang sudah disampaikan di artikel ini, kinerja fundamental bank syariah umumnya tidak sebagus kinerja bank konvensional. Beruntung, untuk Bank BTPN Syariah (BTPS), kalau berdasarkan kinerjanya di Kuartal III 2018 yang terbilang sangat baik, maka sahamnya mungkin bisa anda pertimbangkan. Okay, kita langsung saja.


PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk, atau disingkat BTPN Syariah (BTPS), awalnya merupakan unit usaha syariah dari Bank BTPN (BTPN) yang mulai dirintis pada tahun 2010, sebelum kemudian di­-spin off (dipisahkan dari perusahaan induknya) menjadi sebuah perusahaan tersendiri dengan nama BTPN Syariah pada tahun 2014. BTPS saat ini dipegang dan dikendalikan oleh dua entitas yakni BTPN, dan pengusaha Arif Rachmat (putra dari konglomerat Theodore P. Rachmat), dengan BTPN sebagai pemegang saham mayoritas.

Nah, sejak awal penulis tertarik dengan BTPS ini karena kalau perusahaan menjalankan bisnis yang sama dengan BTPN sebagai induknya, yakni pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah alias UKM (hanya saja bedanya dengan metode syariah), maka perusahaan bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi dibanding induknya tersebut. Perhatikan: BTPN mampu bertumbuh dari tadinya bank kecil menjadi bank kelas menengah (nilai aset BTPN saat ini sudah hampir tembus Rp100 trilyun), karena perusahaan sukses menjadi pionir di industri perbankan mikro yang menjangkau pelosok pedesaan di seluruh penjuru tanah air (sekali lagi, baca ulasannya disini), dimana dengan teknologi electronic data capture (EDC), maka alih-alih meminta nasabah dan konsumen untuk ke kantor bank, justru BTPN-lah yang mendatangi mereka. Yup, BTPN adalah seperti bank keliling dengan para klien seperti pemilik toko kelontong, pedagang sayur di pasar, tukang gorengan, hingga pemilik usaha home industry yang kemana-mana cuma pake sendal jepit. Dalam hal ‘menjemput bola’ seperti ini, maka BTPN bahkan lebih unggul dibanding Bank BRI (BBRI) sekalipun. Dan kabar baiknya, bunga kredit mikro umumnya jauh lebih besar dibanding bunga kredit korporasi (20 – 24% berbanding 12 – 16% per tahun), dan itulah yang kemudian menyebabkan BTPN sukses menjadi besar (demikian pula dengan BBRI, yang dulu adalah bank terbesar ketiga setelah Bank Mandiri dan Bank BCA, tapi sekarang sudah menjadi nomer satu).

However, kalau kita menyebut istilah ‘bank keliling’, maka itu identik dengan kegiatan rentenir atau lintah darat, dimana debitur biasanya dibebani bunga pinjaman yang sangat tinggi, dan BTPN tidak terhindar dari citra negatif tersebut. Dan meskipun bunga yang dibebankan oleh BTPN sejatinya jauh lebih kecil dibanding bunga dari bank/koperasi keliling tidak resmi, tapi tetap saja judulnya bunga atau ‘riba’. Sementara belakangan ini semakin banyak warga negara Indonesia yang ‘alergi’ dengan sistem bunga perbankan yang dianggap merugikan.

Jadi solusinya bagaimana? Ya dengan mengganti sistem bunga tersebut dengan sistem syariah, namun dengan tetap menggunakan infrastruktur ‘bank keliling’ tadi, dimana para agen BTPS bisa terus berkeliling ke lingkungan pedesaan (BTPS bahkan bisa mempekerjakan lulusan SMA, yang masuk ke kampung-kampung di tengah sawah menggunakan sepeda onthel), tapi kali ini yang ditawarkan bukan lagi pinjaman, melainkan modal usaha berbasis syariah. Nah! Sekarang bayangkan jika anda adalah seorang petani yang butuh modal Rp2 juta untuk membeli pupuk, tapi rumah anda terlalu jauh dari kantor bank di pusat kota (udah gitu ribet pula prosedurnya), sementara para rentenir yang tiap hari mondar mandir di kampung anda menawarkan pinjaman Rp2 juta tersebut, namun bayarnya harus Rp4 juta setelah 3 bulan. Tapi kemudian datang seorang agen dengan tanda pengenal resmi dari Bank BTPN Syariah, yang menawarkan modal usaha syariah yang tidak lagi menuntut anda untuk membayar bunga, melainkan pakai sistem bagi hasil dimana anda hanya perlu membayar sesuai dengan hasil panen, sudah gitu anda diberikan pelatihan gratis pula. Kira-kira bagaimana reaksi anda?

Karena itulah, penulis kira tidak mengherankan jika kehadiran BTPS diterima dengan sangat baik oleh masyarakat, dan perusahaan kemudian membukukan kinerja yang bahkan lebih bagus dibanding induknya: Pada tahun 2015, BTPS membukukan laba bersih Rp174 milyar, yang naik menjadi Rp422 milyar di tahun 2016, naik lagi menjadi Rp670 milyar di 2017, dan terakhir sudah mencapai Rp698 milyar untuk periode sembilan bulan di tahun 2018. Ekuitas BTPS sendiri tumbuh pesat dari tadinya Rp1.2 trilyun menjadi saat ini Rp3.7 trilyun, hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, dimana diluar dari dana IPO-nya sebesar Rp751 milyar, seluruh peningkatan ekuitas tersebut berasal dari akumulasi laba bersih perusahaan. Bisa dikatakan bahwa BTPS memiliki dua keunggulan sekaligus, yang tidak dimiliki oleh bank lain: 1. Sistem syariah yang lebih diterima masyarakat, dan tentunya memiliki citra yang jauh lebih baik dibanding bank keliling, 2. Infrastruktur perbankan yang menjangkau pelosok pedesaan yang sudah dirintis sebelumnya oleh BTPN sebagai induk perusahaan. Fakta-fakta menarik lainnya adalah:
  1. 100% debitur BTPS adalah perempuan pra-sejahtera, dimana BTPS tidak hanya memberikan mereka modal usaha, tapi juga melakukan program pendampingan melalui bankir pemberdaya yang melatih nasabah untuk mengelola keuangan, menabung, dan membuka usaha/berdagang. Dalam hal ini BTPS menjadi satu dari sedikit bank yang benar-benar fokus pada ‘meningkatkan kesejahteraan masyarakat’, dimana debitur mereka justru berasal dari kelompok wong cilik semua.
  2. Saat ini diperkirakan terdapat 23 juta perempuan pra-sejahtera di Indonesia, sedangkan BTPS baru memiliki 3.2 juta nasabah aktif, sehingga peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar.
  3. Dalam eksistensinya yang belum genap 10 tahun, BTPS sudah menjangkau 23 provinsi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan mempekerjakan 12 ribu bankir pemberdaya. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di masa yang akan datang.
  4. Selain modal usaha, BTPS juga memberikan pinjaman syariah untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan perbaikan tempat tinggal (jadi inget acara ‘bedah rumah’), dimana sebelumnya kredit jenis ini hanya dijangkau oleh bank keliling rentenir tadi.
  5. Kelemahan kredit mikro adalah besarnya risiko gagal bayar oleh debitur, apalagi jika debitur tersebut termasuk kategori pra-sejahtera. Namun dengan program pemberdayaan yang mengiringi setiap pemberian modal/kredit konsumsi (intinya nasabah tidak hanya dikasih pinjaman modal, tapi juga dilatih/dibimbing secara intens agar bisa mengembalikan pinjaman tersebut), maka NPF gross BTPS per Kuartal III 2018 hanya 1.6%, lebih rendah dibanding rata-rata NPF gross bank syariah di Indonesia yang mencapai 3 – 4%.
Catatan: NPF atau non performing financing, adalah istilah bank syariah untuk NPL atau non performing loan, mengingat kredit yang mereka berikan ke debitur bukanlah pinjaman/loan yang menggunakan sistem bunga, melainkan pembiayaan/financing yang menggunakan sistem bagi hasil.

Selain mempekerjakan 'bankir pemberdaya', maka melalui 'program daya' dengan konsep sesama nasabah membantu satu sama lain, BTPS juga bekerjasama dengan nasabah pemilik dana yang memiliki keahlian khusus tertentu untuk memberikan pelatihan bagi ibu-ibu pra-sejahtera. This is amazing!

Kesimpulannya, well, sepertinya kita baru saja menemukan wonderful company disini, dimana cara kerja BTPS juga sangat mirip dengan Grameen Bank milik Muhammad Yunus yang terkenal itu. Tapi kemudian bagaimana dengan sahamnya?

Sayangnya pada harga 1,680, BTPS mencatat PBV 3.5 kali, dan PER 13.9 kali, lumayan tinggi terutama dalam kondisi pasar saat ini dimana ada banyak saham dari bank lain yang lebih besar, dan juga lebih terkenal, yang valuasinya lebih rendah. Selain itu, meskipun BTPS punya kinerja yang luar biasa baik dalam 3 tahun terakhir, tapi track record 3 tahun tersebut tentunya masih terlalu pendek untuk dijadikan dasar pernyataan bahwa kinerja BTPS akan tetap bagus untuk seterusnya. Sehingga sekali lagi, PBV diatas 3 kali terbilang sudah tinggi, atau minimal sudah tidak bisa dikatakan murah lagi.

Tapi berhubung di kinerja terbarunya, laba BTPS masih naik signifikan, termasuk ROE-nya juga masih sangat tinggi (disetahunkan 25.1%), maka gak realistis juga kalau mengharapkan sahamnya untuk turun dalam waktu dekat ini. Jadi dalam hal ini anda punya dua opsi: 1. Mulai beli dari sekarang untuk tujuan investasi jangka panjang, tapi nyicil saja dulu alias jangan sekaligus banyak, 2. Tunggu dulu barang 1 – 2 tahun, dimana jika BTPS tetap membukukan kinerja yang bagus, sedangkan harganya tidak berubah, maka valuasinya tetap akan turun (karena ekuitas dan laba bersih BTPS naik), dan ketika itulah anda bisa langsung beli sahamnya dalam jumlah besar. Yang perlu diingat, BTPS ini hanya cocok untuk jangka panjang. Jadi kalau anda beli sahamnya untuk nanti dijual lagi, maka boleh pertimbangkan saham lain saja.

Untuk minggu depan kita akan bahas saham lainnya sesuai laporan keuangan Kuartal III 2018, mudah-mudahan ketemu saham bagus lagi yang masih murah.

PT Bank BTPN Syariah, Tbk
Rating Kinerja pada Kuartal III 2018: AAA
Rating saham pada 1,680: BBB

Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 Novembermendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

2 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

Wow. MASYAALLAH. SUBHANALLAH
.sungguh mulia model bisnis BTPS. Semoga bank konvensional lain mulai melirik model bisnis syariah seperti ini. Moga saya tidak ketinggalan kereta lagi. Dengan menemukan yang PER dan PBV nya masih murah

agus xaverius mengatakan... Balas

Pak Teguh,
Tolong di bantu pembahasan selanjutnya mengenai BFIN dong..

Saya butuh sudut pandang lain dari yang lebih ahli tapi gak "bersih" dari tujuan lain..