Jadwal Kelas Investasi Saham: Value Investing Pension Class, Cara Investasi Saham u/ Persiapan Dana Pensiun. Surabaya, Sabtu 27 Oktober 2018. Info selengkapnya baca disini.

Jadwal Private Class: Jakarta, Central Park Mall, Kamis 25 Oktober pukul 12.00 WIB. Keterangan selengkapnya baca disini.

Ebook Kumpulan Analisis Saham Pilihan edisi Kuartal III 2018 akan terbit hari Kamis, 8 November mendatang. Anda bisa memperolehnya dengan cara preorder disini.

Surya Toto Indonesia (TOTO)

Saham PT Surya Toto Indonesia, Tbk (TOTO) mungkin tidak termasuk saham yang diminati oleh para pelaku pasar karena likuiditasnya yang seret, namun nama perusahaan terbilang populer sebagai produsen barang-barang sanitary seperti toilet, bak kamar mandi, wastafel, dan semacamnya, sementara merk ‘Toto’ sendiri sudah seperti jaminan mutu untuk produk-produk yang berhubungan dengan kamar kecil. Perusahaan dengan intangiable asset berupa strong power of brand seperti TOTO ini biasanya cocok untuk investasi jangka panjang. Jadi ketika dalam tiga tahun terakhir sahamnya malah terus saja turun dari 700-an hingga Agustus 2018 kemarin mentok di 264, maka penulis jadi penasaran: Apa yang salah?

Sejarah TOTO dimulai pada pada tahun 1968 ketika perusahaan, yang ketika itu masih bernama CV Surya, menjadi agen penjualan resmi untuk produk-produk sanitasi milik Toto Limited Japan (TLJ), yang merupakan produsen sanitary wares kelas dunia asal Jepang, di Indonesia. Pada tahun 1977, TOTO memperoleh lisensi dari TLJ untuk membuat produk sanitasi-nya sendiri dengan tetap menggunakan merk ‘Toto’, dan nama perusahaan berubah menjadi PT Surya Toto Indonesia. Pabrik pertama perusahaan, yang merupakan hasil joint venture antara TOTO dan TLJ, berdiri pada tahun 1978 dengan 65 orang karyawan. Hanya dua tahun kemudian yakni di tahun 1980, TOTO sudah mampu mengekspor produknya ke mancanegara. Tahun 1985, TOTO membangun satu lagi pabrik yang khusus memproduksi barang-barang fitting seperti keran air dan shower. Dan pada tahun 2006, TOTO membangun pabrik ketiganya yang memproduksi perlengkapan dapur dan produk kebutuhan rumah tangga, sekaligus merupakan upaya perusahaan untuk melakukan diversifikasi usaha. Ketiga pabrik milik TOTO kesemuanya berlokasi di Tangerang, Banten.



Nah, entah karena pengaruh dari TLJ sebagai salah satu pemegang saham perusahaan (saat ini TLJ masih memegang 37.9% saham TOTO), atau karena faktor lainnya, namun manajemen TOTO ini type tradisional: Bikin produk lalu jual, gak mengambil utang yang berlebihan, dan selama ini perusahaan hampir gak melakukan ekspansi apapun kecuali terus mengembangkan jenis produk-produknya. Termasuk untuk pabrik yang memproduksi perlengkapan dapur, hingga Kuartal II 2018 kemarin kontribusinya masih kecil, yakni kurang dari 5% dari total pendapatan perusahaan. Sebenarnya di tahun 2018 ini TOTO sudah selesai membangun pabrik keempatnya yang berlokasi di Surabaya, yang juga memproduksi barang-barang sanitasi, tapi kita belum tahu seberapa besar nanti kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan.

Kemudian terkait kinerja perusahaan, lesunya industri properti sejak tahun 2013 menyebabkan pendapatan TOTO menjadi stagnan, dan laba perusahaan sempat turun signifkan pada tahun 2016 (meski di tahun 2017-nya naik lagi, tapi angkanya masih lebih rendah dibanding laba tahun 2014 dan 2015). Namun sejak tahun 2017 lalu manajemen TOTO sudah memprediksi bahwa, dengan mempertimbangkan penjualan apartemen serta rumah untuk kelas menengah yang ketika itu sudah mulai naik lagi, maka pendapatan dan laba perusahaan di tahun 2018 ini berpeluang untuk meningkat. Dan memang, hingga Kuartal II 2018, TOTO membukukan laba bersih Rp145 milyar, naik 32.1% dibanding periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp109 milyar, dan terdapat peluang bahwa laba TOTO di tahun 2018 ini akan tumbuh signifikan untuk pertama kalinya sejak tahun 2013 lalu (antara tahun 2013 – 2017, laba tertinggi TOTO adalah Rp295 milyar di tahun 2014, sedangkan untuk tahun ini perusahaan berpeluang membukukan laba diatas Rp300 milyar). Jika proyeksi ini benar adanya, maka TOTO menawarkan handsome profit jika kita bisa hold sahamnya katakanlah selama 2 – 3 tahun kedepan.

Lalu bagaimana sahamnya? Jika benar bahwa TOTO ini bagus, maka kenapa sejak November 2015 lalu sahamnya turun terus?

Untuk menjawab pertanyaan diatas maka pertama-tama kita lihat valuasi sahamnya dulu: Lima tahun yang lalu, yakni pada Oktober 2013, saham TOTO berada pada level 380, dimana berdasarkan jumlah sahamnya ketika itu (9.9 juta lembar, sudah disesuaikan dengan stocksplit) dan juga nilai ekuitas perusahaan (Rp1,036 milyar), maka PBV-nya adalah 3.6 kali. Dengan mempertimbangkan ROE-nya ketika itu yang sangat bagus yakni 22%, sedangkan merk TOTO juga sangat populer sebagai merk toilet dll, tapi disisi lain sahamnya gak likuid (hanya 7% saham TOTO yang dimiliki investor publik), maka PBV segitu terbilang wajar: Nggak murah, tapi juga gak bisa disebut mahal. Tapi yang jelas karena TOTO sebelumnya sudah naik cukup banyak dimana pada tahun 2010, atau 3 tahun sebelumnya, saham TOTO masih berada di level 100-an, maka normalnya dia gak akan naik lebih lanjut alias ‘istirahat’ dulu, setidaknya sampai beberapa tahun berikutnya.

Namun setelah perusahaan secara mengejutkan membukukan laba Rp296 milyar di tahun 2014, atau naik signifikan dibanding Rp236 milyar di tahun 2013 (mengejutkan, karena di tahun 2014 itu sebenernya sektor properti mulai lesu), dan ROE TOTO juga melonjak ke level 26%, maka jadilah investor berebut sahamnya, dan alhasil TOTO lanjut naik hingga sempat menyentuh 715 di bulan November 2015. Pada titik ini valuasi sahamnya sudah overvalue (PBV 5 – 6 kali), sehingga selanjutnya bisa ditebak: Jika kemudian laba TOTO turun sedikit saja, maka sahamnya bakal gampang banget turunnya. And indeed, di tahun 2015 tersebut laba perusahaan turun menjadi Rp285 milyar, dan berlanjut menjadi hanya Rp169 milyar di tahun 2016. Alhasil sahamnya terus saja turun hingga akhirnya mentok di 264, Agustus 2018 lalu.

Tapi menariknya, setelah mentok di 264 di bulan Agustus tersebut, TOTO kemudian dengan cepat naik lagi, dan sekarang sudah di level 328. Apa penyebabnya? Well, pertama-tama itu mungkin karena investor menyadari bahwa di tahun 2018 ini, kinerja perusahaan mulai naik signifikan lagi, dan yang terpenting valuasi TOTO juga sudah mulai wajar lagi, atau bahkan undervalue. Yup, pada harga terendahnya kemarin yakni 264, maka PBV dan PER TOTO tercatat hanya 1.5 dan 9.4 kali, relatif murah jika mempertimbangkan kekuatan merk ‘Toto’ yang dimiliki perusahaan, sementara kinerja perusahaan sendiri memang mulai tumbuh lagi. Posisi saham TOTO pada hari ini juga tidak jauh berbeda dengan lima tahun lalu, yang artinya ketika diatas penulis mengatakan bahwa ‘TOTO ini normalnya bakal istirahat dulu sampai beberapa tahun kedepan’, maka statement itu benar adanya. Tapi karena dalam 5 tahun terakhir ini TOTO sudah melewati masa-masa ‘istirahat’-nya, maka artinya dalam 5 tahun berikutnya sahamnya berpeluang untuk melaju lagi, tentunya dengan asumsi bahwa kinerja bagusnya di tahun 2018 ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

Kesimpulannya, jika anda sedang mencari saham untuk investasi jangka panjang yang aman/tidak terlalu dipengaruhi oleh naik turunnya IHSG, termasuk menginginkan ‘bonus’ dividen yang lumayan, maka TOTO ini bisa dipertimbangkan (TOTO membagikan sekitar 40 – 50% laba bersih tahunannya sebagai dividen), terutama karena kenaikannya dalam dua bulan terakhir adalah juga mengkonfirmasi bahwa long term downtrend-nya sudah berakhir, dimana dengan asumsi bahwa perusahaan mampu mempertahankan kenaikan labanya, maka no way sahamnya bakal mencetak new low lagi. Disisi lain, PBV TOTO pada harga 328 sudah 1.9 kali, alias gak semurah kemarin ketika dia masih di 264, dan kalau ada saham sudah naik lebih dari 30% dalam waktu kurang dari 3 bulan, maka biasanya akan ada cooling down-nya. Jadi untuk mengurangi risiko maka anda bisa membeli sahamnya secara menyicil dengan membagi dana anda menjadi tiga bagian, dimana bagian pertama bisa langsung dipake untuk beli TOTO di harga sekarang, sedangkan bagian kedua adalah untuk average down jika nanti sahamnya melandai ke kisaran 290 – 300.

Dan bagian ketiga adalah untuk nanti beli lagi pada sekitar awal tahun 2019, yakni jika perusahaan confirm tetap membukukan kenaikan laba yang signifikan, dan selanjutnya ya sudah hold saja terus. Semoga beruntung!

Untuk minggu depan kita akan bahas prospek IPO Duck King.

Buletin Analisis IHSG & stockpick saham bulanan edisi Oktober 2018 sudah terbit! Anda bisa langsung memperolehnya disini, gratis konsultasi tanya jawab saham untuk member.

Follow/lihat foto-foto penulis di Instagram, klik 'View on Instagram' dibawah ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

1 komentar:

maulaya iskak mengatakan... Balas

menarik ulasanya Pak.
mohon diulas juga JRPT Pak, bagaimana prospek kedepan kelihatanya di harga sekarang valuasinya juga menarik