Buku Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan (Ebook Investment Planning) edisi Kuartal II 2019 sudah terbit! Dan Anda sudah bisa memesannya pada link berikut.

Investasi vs Melunasi Utang: Mana Yang Harus Didahulukan?

Kemarin penulis menerima satu pertanyaan menarik, ‘Pak Teguh, saya seorang karyawan yang tiap bulan menyisihkan gaji untuk diinvestasikan di saham. Disamping itu saya juga menerima bonus tahunan diluar gaji sebesar kurang lebih Rp60 juta. Uang bonus ini sebaiknya saya setor juga ke sekuritas, atau dipakai untuk melunasi utang terlebih dahulu? Soalnya rumah saya masih KPR, dan juga masih ada cicilan mobil.’ Nah, berhubung sekarang ini investasi saham tidak lagi monopoli para pengusaha yang biasanya gak punya masalah dengan cashflow sehari-hari dan juga gak punya utang pribadi (kecuali terkait usahanya), melainkan juga para karyawan atau bahkan juga mahasiswa yang masih belajar mengatur keuangan, maka pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab. Okay, kita langsung saja.

***

Buku Analisa IHSG, Strategi Investasi, dan Stockpick Saham (Ebook Market Planning) edisi Agustus 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio dll untuk subscriber selama masa berlangganan.

***

Terkait pertanyaan diatas, maka kalau anda sudah lama mengikut blog Indonesia Value Investing ini, anda mungkin bisa langsung menebak jawaban penulis: Sebaiknya lunasi dulu semua utang, lalu baru invest. However, beberapa perencana keuangan mungkin menyarankan hal yang berbeda. Contohnya kalau anda punya cicilan KPR rumah dengan bunga 9 – 12% per tahun, kemudian anda sewaktu-waktu dapet bonus dari kantor, maka gak apa-apa kalau uang bonus tadi tidak dipakai untuk melunasi KPR, melainkan langsung dibelikan saham saja. Sebab dengan strategi investasi yang konservatif saja, misalnya dengan hanya membeli saham-saham bluechip (BBCA dkk), maka kita bisa dapet 20 – 25% per tahun, alias lebih besar dibanding bunga KPR tadi. Sehingga kalau kita pakai uang bonus tadi untuk melunasi KPR, maka kita boleh dibilang ‘rugi cuan’ sekitar 11 – 13% per tahun. Atau bahkan, penulis pernah mendengar seorang ‘pakar’ mengatakan bahwa kalau anda punya rumah (yang sudah lunas, jadi gak ada cicilan KPR lagi), maka sertifikat rumah itu bisa digadaikan saja. Karena nantinya anda cuma perlu bayar bunga 8 – 9% per tahun ke bank, sedangkan uang hasil gadainya bisa diputar di saham dan menghasilkan cuan setidaknya 20% per tahun, belum termasuk dividen.

Nah, sejumlah saran diatas mungkin terdengar masuk akal. Dan kalau misalnya anda memperoleh gaji bulanan yang nilainya jauh lebih besar dibanding cicilan KPR (plus cicilan-cicilan lainnya, kalau ada), sedangkan anda tahu bahwa anda akan terus menerima gaji tersebut, maka kenapa juga harus buru-buru melunasi utang-utang tadi? Tapi penulis sendiri tetap menjawab seperti diatas: Lunasi dulu semua utang, lalu baru invest. Dan terdapat setidaknya dua argumen untuk itu. Pertama, memang benar bahwa kalau kita invest di saham, secara konservatif kita bisa memperoleh rata-rata profit kurang lebih 20% per tahun. Kalau kita ambil contoh beberapa saham populer seperti BBCA, BBRI, hingga TLKM, maka dalam 10 tahun terakhir atau lebih lama lagi, CAGR (compounding annual growth rate) saham-saham tersebut berkisar antara 15 – 20% per tahunnya, belum termasuk dividen.

Masalahnya adalah, bahkan untuk ‘saham-saham super’ diatas sekalipun, kenaikan mereka tidak konsisten dari tahun ke tahun. Contohnya BBRI, yang meski CAGR-nya dalam 10 tahun terakhir mendekati 20%, tapi jangan bayangkan bahwa BBRI secara konsisten terus naik sebesar 20% setiap tahun sejak tahun 2009 lalu sampai sekarang, melainkan pernah pada tahun 2016 lalu BBRI hanya naik 4%. Demikian pula kalau anda ambil saham lain, dimana dengan asumsi saham tersebut bergerak naik dan turun sesuai dengan pergerakan IHSG, maka ingat bahwa dalam 10 tahun terakhir, IHSG pernah ditutup turun pada akhir tahun sebanyak tiga kali, yakni tahun 2013, 2015, dan 2018 lalu.

Nah, jadi katakanlah anda menggadaikan rumah dimana anda kemudian harus bayar bunga sekian persen per tahun, tapi di tahun tertentu investasi saham anda minus karena IHSG-nya juga lagi jeblok. Maka apakah orang bank untuk tahun itu tidak akan menagih cicilan, karena tahu bahwa anda sedang rugi? Nggak kan?? Namanya bank ya gak mau tau: Mau investasi anda untung atau rugi, itu cicilan harus tetap dibayar! Kalau nggak, ya siap-siap aja balik lagi ke rumah mertua, karena rumah anda akan disita.

Itu pertama. Kedua, pernahkah anda berpikir bahwa bahkan kalaupun anda tidak punya cicilan, maka anda tetap harus keluar uang secara rutin setiap bulannya, yakni untuk kebutuhan sehari-hari? Nah, pernahkah anda melihat bahwa biaya yang keluar untuk makan, transport, pulsa internet, bayar listrik, dll, itu juga sebenarnya merupakan utang? Seperti halnya cicilan KPR tadi, ‘utang’ dalam bentuk kebutuhan sehari-hari ini juga mau tidak mau harus kita bayar secara rutin, tanpa ada jeda libur sama sekali (kecuali kalau anda sekeluarga berhenti makan selama katakanlah 1 minggu, tapi kan itu gak mungkin), dan biasanya pula dengan nilai yang meningkat dari waktu ke waktu. Contohnya kalau anak anda sebelumnya masih SD, maka biaya sekolahnya adalah sekian, tapi ketika dia naik jenjang ke SMP, maka otomatis biayanya akan naik. Dan seterusnya.

Jadi maksud penulis adalah, bahkan kalaupun anda tidak punya cicilan apa-apa, maka anda sejatinya tetap memiliki 'cicilan utang' dalam bentuk tanggungan bagi diri anda sendiri dan keluarga, termasuk untuk tunjangan pensiun nanti. Sudah tentu, asalkan anda memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak, maka biaya sehari-hari ini harusnya tidak akan jadi masalah. Tapi kecuali jika anda adalah pengusaha yang seperti penulis sebut diatas, gak punya masalah dengan cashflow sehari-hari (seorang pengusaha biasanya tanggungannya tidak lagi hanya sebatas dirinya dan keluarganya sendiri, tapi juga para karyawannya), maka soal 'utang kebutuhan sehari-hari' ini tetap harus diperhatikan, agar tidak sampai terjadi kondisi besar pasak daripada tiang. Karena gaji dan bonus sebesar apapun sebenarnya percuma saja kalau pengeluarannya lebih besar lagi, terutama jika anda tinggal di kota besar yang apa-apa serba mahal, dan terdapat tuntutan gaya hidup.

Nah, soal agar tidak terjadi kondisi besar pasak tadi, maka ada banyak yang bisa dilakukan, biasanya dengan menekan pengeluaran. Contohnya kalau anda selama ini makan di kantin kantor yang mahal, maka bisa mulai bawa bekal dari rumah, dan anda beralih dari nyetir mobil sendiri ke naik MRT (kita akan bahas ini lebih lanjut di lain kesempatan).

Tapi beda ceritanya kalau anda punya utang: Angka cicilannya ya tetap segitu, gak bisa kurang, dan juga gak bisa ditunda pembayarannya. Dalam banyak kasus, ini bisa menyebabkan seseorang menjadi merasa tertekan, misalnya jika sewaktu-waktu timbul kebutuhan mendadak sehingga sisa gaji yang ada tidak cukup untuk membayar cicilan tersebut. Nah, jadi menurut anda sendiri, apakah seorang investor akan bisa fokus pada kegiatan investasinya, jika di waktu yang bersamaan ia juga harus mikir soal bagaimana menutup tagihan utang-utangnya? Perlu diketahui bahwa di perusahaan besar sekalipun, maka asalkan perusahaan itu tidak memiliki utang yang tidak bisa dibayar, maka mereka tidak akan sampai bangkrut, tak peduli meski mereka membukukan rugi besar pada tahun-tahun tertentu.

Okay Pak Teguh, I got it. Jadi intinya kalau ada rejeki lebih, sedangkan kita masih punya utang tertentu, maka kita lunasi dulu utang tersebut, dan kalau ada sisanya baru disetor ke sekuritas.

Cuma masalahnya pak, gaji saya tiap bulan ya segitu-gitu aja, tanpa ada bonus sama sekali. Sehingga mau melunasi utang KPR itu juga nggak bisa karena memang gak ada duitnya. Kalau gitu gimana dong? Nah, dalam hal ini maka anda tidak perlu buru-buru melunasi utang KPR, karena meski memang jadinya kita tetap terbebani oleh cicilan beserta bunga, tapi sebagai gantinya kita memperoleh aset fisik berupa rumah. Menurut penulis sendiri, adalah sangat penting bagi investor untuk memiliki aset fisik, dalam hal ini rumah. Karena aset berupa rumah ini nilainya akan naik dari tahun ke tahun, atau minimal tidak akan turun, sehingga itu menjadi semacam bumper bagi portofolio kita di saham, yang nilainya bisa naik dan turun setiap saat. Dengan kata lain, kita boleh saja rugi besar di saham, entah itu karena IHSG anjlok, salah masuk di AISA, atau memang kita masih harus banyak belajar saja. Tapi selama kita masih punya tanah untuk berpijak, maka itu sudah lebih dari cukup. Sekedar catatan, setiap kali Majalah Forbes menghitung nilai kekayaan seorang tokoh investor/pengusaha, maka aset-aset berupa tanah, pabrik, kepemilikan saham perusahaan dll semuanya dihitung, kecuali nilai dari tempat tinggal utama (primary residence) yang ditempati oleh si pengusaha itu tadi (jadi nilai primary residence ini dianggap nol). Karena sebangkrut-bangkrutnya si pengusaha, gak mungkin juga dia sampai menjual rumahnya kemudian pindah ke kontrakan bukan?

Karena itu pula, ketika penulis cuan besar untuk pertama kalinya di tahun 2011, maka yang pertama-tama saya lakukan adalah membeli rumah kecil di Jakarta Selatan secara tunai, dan setelah itu baru fokus lagi di saham. Tapi andaikan penulis tidak punya rejeki lebih untuk membeli rumah secara tunai, maka saya akan tetap mengangsur secara KPR, karena itu tadi: Meski porto kita di saham bisa naik dan turun setiap saat, namun kita akan tetap tenang dan rasional dalam mengelola portofolio, karena sadar bahwa dalam kondisi terburuk sekalipun, maka paling tidak kita masih punya atap untuk berteduh. Actually, ini juga kenapa penulis masih bertahan di pasar sampai hari ini, dan sama sekali tidak tertarik dengan metode investasi ataupun instrumen investasi lain diluar saham, tak peduli meski entah sudah berapa kali kita menghadapi goncangan pasar.

Home sweet home. Selain di Jakarta, sejak tahun 2017 lalu penulis juga punya satu lagi rumah di Bandung, Jawa Barat. Diluar dua aset fisik ini, barulah semua cash kita taruh di saham.

Okay, jadi kesimpulannya kalau anda punya rejeki lebih, maka sebelum telpon broker untuk setor lagi, terlebih dahulu lunasi semua atau sebagian utang yang anda tanggung, dan milikilah aset fisik dalam bentuk primary residence. Sedangkan kalau penghasilan anda masih terbatas, maka coba cek lagi: 1. Apakah anda sudah memilik aset fisik, minimal dalam bentuk rumah yang masih dalam kredit KPR? Dan 2. Apakah anda punya utang yang tidak terlalu perlu, misalnya cicilan mobil, sedangkan anda sejatinya bisa beli mobil second yang lebih murah secara tunai? Jika jawabannya adalah 1. Belum gan, dan 2. Iya punya, then you know what to do.

Jadwal Kelas Value Investing: Investasi Saham untuk Tabungan Jangka Panjang, Jakarta & Surabaya, 24 & 31 Agustus 2019. Info selengkapnya baca disini, tersedia diskon earlybird bagi peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Agustus.

Dapatkan informasi, motivasi, dan tips-tips investasi saham melalui akun Instagram Teguh Hidayat, klik 'View on Instagram' berikut ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

3 komentar:

Annas mengatakan... Balas

Terima kasih Pak Teguh atas ilmunya. Membuka wawasan dan pikiran saya dalam mengelola keuangan. Saat ini saya memiliki aset rumah (primary residence) kecil-kecilan meskipun masih KPR. Untuk KPR tinggal 9 tahun lagi lunas. Namun di sisi lain, saya juga berusaha keras untuk belajar dan praktek trading/investasi saham sejak 3 tahun yang lalu. Selama 3 tahun belajar dan praktek ini kalau dilihat dari hasilnya secara akumulasi alhamdulillah masih untung meskipun tidak banyak. Saat ini saya juga masih tetap belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik itu dalam mengejar karir maupun dalam trading/investasi saham.

Salam.

donny mengatakan... Balas

Artikel nya sangat bagus pak dan memotivasi. 👍👍

Ferry T mengatakan... Balas

Saya setuju dengan pendapat pak Teguh dengan sedikit tambahan:
1. Secara psikologis, hutang juga mendorong orang untuk merasa kaya (padahal gak kaya) apalagi kalo pas cek saldo tabungan/portfolio investasi masih ada sekian ratus juta/sekian milyar. Bikin lupa masih punya hutang (KPR+KKB) yang jauh lebih besar daripada saldo tabungannya/portfolio investasinya.

2. Banyak orang yang membenarkan hutang KPR untuk rumah utamanya (tentu saja dengan jumlah cicilan super maksimal dibanding gajinya) dengan asumsi adanya kenaikan harga rumah. Hello, rumah utama itu bukan asset! Gak seperti saham/instrument investasi lainnya. Anda bisa jual saham hari ini, laku hari ini dan dapat capital gain hari ini. Kalo rumah? Anda pasang iklan dulu 3 bulan, nego harga, bayar calo, urus surat-surat, terus setelah laku Anda harus pindah ke kontrakan atau menjadi gelandangan karena sudah gak punya rumah utama lagi.


Tambahan solusi: Karyawan sulit untuk melunasi KPR, tapi mereka biasanya punya bonus tahunan/THR, mereka dapat gunakan itu untuk turun pokok KPR sebagian sehingga menurunkan beban bunga, sekaligus menurunkan dorongan konsumtif untuk menghambur2kan bonus/THR nya.