Ebook Kumpulan 30 Saham Pilihan edisi Kuartal IV 2019 sudah terbit! Dan anda bisa memperolehnya disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio saham untuk subscriber.

Strategi ‘Crisis Protocol’, Ketika Bursa Saham Anjlok

Menurut Cambridge English Dictionary, crisis, atau krisis, adalah periode dimana terjadi kesulitan, masalah, dan/atau bahaya besar. Krisis adalah juga periode dimana seseorang atau suatu organisasi harus segera membuat keputusan yang bisa jadi sangat penting/krusial. Sebab, periode krisis adalah periode yang bisa jadi merupakan titik balik (turning point) dari suatu kondisi dan situasi yang sudah terjadi selama beberapa waktu sebelumnya.

***

Jadwal Seminar: Untuk sekarang belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekamannya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 6,000. Info Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti)

Penulis membuat Buku Terjemahan Annual Letter Warren Buffett edisi 1965 - 69 (tahun-tahun terakhir dimana WB menjalankan Buffett Partnership, sebelum pindah ke Berkshire Hathaway), dan selama periode bear market ini, anda bisa memperolehnya secara gratis. Anda bisa langsung men-download-nya disini.

***

Sehingga dari definisi diatas, terdapat tiga kata kunci terkait istilah krisis: 1. Kesulitan, 2. Keputusan, dan 3. Titik balik. Ketika anda mengalami kesulitan, maka saat itulah anda dituntut untuk mengerjakan sesuatu, untuk membuat keputusan yang bisa mengatasi kesulitan tersebut. Dan jika keputusannya tepat, maka tidak hanya kondisi krisis itu akan berbalik menjadi normal, tapi anda kemungkinan juga akan meraih keuntungan besar yang normalnya tidak akan diperoleh, jika krisis itu tidak pernah terjadi. Tapi jika keputusannya keliru, atau anda tidak melakukan apa-apa, maka tidak akan terjadi turning point, dan anda akan mengalami kondisi sulit yang lebih buruk lagi.

Dengan demikian, dari tiga kata kunci diatas, maka kata kunci terpentingnya adalah keputusan, alias decision. Nah, secara umum, krisis ini ada banyak macamnya. Seperti krisis politik, krisis ekonomi, krisis keuangan (krisis keuangan adalah bagian, atau penyebab, dari krisis ekonomi), krisis lingkungan hidup, krisis karena bencana alam, dan seterusnya. Namun bagi investor di pasar modal, maka kondisi krisis adalah ketika bursa saham jatuh dan harga-harga saham turun lebih dalam dibanding biasanya, dikarenakan adanya penyebab/masalah tertentu, yang kemudian menyebabkan kerugian besar-besaran bagi semua orang. Kabar baiknya, krisis seperti ini tidak terjadi setiap saat, bahkan terbilang sangat jarang karena belum tentu terjadi 10 tahun sekali. Namun ketika itu terjadi, maka disinilah anda sebagai investor dituntut untuk membuat keputusan yang tepat, yang akan menentukan apakah anda akan mencapai titik balik, atau justru akan keluar dari permainan, sama sekali.


Okay, lalu apa yang dimaksud dengan crisis protocol? Well, sejak penulis memulai petualangan di pasar modal tahun 2009 lalu, salah satu wejangan yang diterima mentor penulis ketika itu adalah, suatu hari nanti kamu pasti akan mengalami periode krisis, meski waktunya tidak ada yang tahu kapan. Dan jika kamu bisa melewatinya dengan baik, then that’s it, ketika itulah kamu akan menjadi investor yang sesungguhnya. Sebab, semua orang bisa membuka rekening dan membeli saham, tapi tidak semua orang bisa bertahan dan melewati periode krisis pasar modal dengan baik, apalagi memanfaatkannya untuk meraup keuntungan besar. Sehingga periode krisis lebih merupakan periode ‘seleksi alam’, dimana keputusan krusial yang kita buat akan menentukan apakah kita memang layak menyandang titel ‘investor’, atau tidak.

Sehingga tujuan utama dari protokol krisis adalah agar kita bisa membuat keputusan terbaik, agar kita bisa menjadikan periode krisis sebagai titik balik untuk melompat lebih tinggi, atau minimal bertahan ketika orang lain tersingkir. Protokol krisis merupakan urutan prosedur yang harus kita siapkan dan terapkan sejak sebelum krisis itu terjadi. Analoginya seperti jika anda pergi keluar kota pake mobil, maka anda tentu harus mempersiapkan banyak hal seperti ban serep, segitiga pengaman, cek oli dan minyak rem, dan seterusnya. Sehingga, let say anda mengalami ‘krisis’ ban bocor di jalan, maka anda bisa langsung menggantinya dengan ban serep itu tadi. Tapi jika anda tidak melakukan ‘protokol krisis’ dengan membawa ban serep, dan anda mengalami ban bocor, maka anda pada akhirnya mungkin tetap akan sampai tujuan, tapi waktunya jadi jauh lebih lama, dan juga harus keluar biaya ekstra untuk jasa derek dll.

Kembali ke investasi saham. Dalam periode krisis, maka ada tiga urutan protokol yang harus dilakukan investor, baik itu individu maupun institusi: Sebelum, ketika, dan sesudah krisis itu terjadi. Namun berbeda dengan ilustrasi ban bocor tadi, dimana anda bisa saja bolak balik Jakarta – Surabaya pake mobil yang sama berkali-kali, dan selama itu mobil anda aman-aman saja, maka di pasar saham, meski jarang terjadi dan juga tidak ada yang tahu kapan itu akan terjadi, tapi krisis itu pasti akan terjadi. Sehingga jika anda tidak pernah menyiapkan protokol sebelum krisis, maka anda tidak akan siap ketika ‘waktunya tiba’. Inilah sebabnya, meski penulis sendiri baru menyebut istilah ‘protokol’ sekarang, tapi di blog ini kita sudah sering sekali membahas soal apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyambut krisis, salah satunya di artikel ini, yang sudah ditulis pada September 2019 lalu (boleh baca lagi, sangat relevan dengan kondisi pasar sekarang ini).

Crisis Protocol, Before The Storm

Sehingga, bagi anda yang masih baru, maka soal ‘apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyambut krisis’, anda boleh baca-baca lagi tulisan-tulisan lama di blog ini sejak tahun 2010, terutama karena kami sendiri sudah beberapa kali mengalami (dan meng-evaluasi) moment penurunan IHSG pada tahun 2013, 2015, dan 2018. Tapi di tulisan kali ini, maka penulis akan menyampaikannya lagi daftar prosedurnya secara poin per poin, sebagai berikut:
  1. Bangun fundamental yang kuat bagi diri anda sendiri dengan memiliki setidaknya satu unit rumah, tabungan darurat, dan aset produktif.
  2. Lunasi semua utang, kecuali utang produktif (jika anda adalah pengusaha).
  3. Cash is king. Pastikan lebih dari separuh investasi anda ditempatkan pada saham/aset yang likuid, yang bisa dicairkan seluruhnya dalam waktu kurang dari satu minggu.
  4. Be frugal. Biasakan bergaya hidup sederhana dan hemat, bahkan ketika tidak terjadi krisis, dan
  5. Tentukan prioritas: Aset terbesar anda adalah anda sendiri dan keluarga, bukan portofolio saham.
Sebagai catatan, kelima poin diatas adalah persiapan yang harus dilakukan jika untuk menghadapi kondisi krisis yang besar, katakanlah seperti tahun 1998 lalu (2008 sih gak ada apa-apanya lah). Sehingga kalau krisisnya nggak sebesar itu, maka beberapa persiapan diatas mungkin tidak diperlukan. Namun dengan asumsi bahwa krisis yang akan kita hadapi adalah krisis terburuk, maka disini kita akan bahas semuanya.

Okay, kita mulai dari poin pertama: Bangun fundamental yang kuat bagi diri anda sendiri. Caranya? Build a shelter, alias rumah! Rumah, atau papan, adalah kebutuhan paling dasar dari manusia, diluar sandang dan pangan. Dan meski sandang dan pangan juga sama pentingnya, namun harganya relatif terjangkau oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang tidak berpenghasilan (bisa minta ke keluarganya, atau tetangga). Tapi kalau rumah, harganya tidak murah, dan dalam banyak kasus anda hanya bisa membelinya secara menyicil. Sehingga bagi temen-temen yang baru lulus kuliah dan bekerja, rumah ini harus menjadi prioritas utama, baru kita kemudian bisa bicara soal investasi. Penulis sendiri, ketika pada tahun 2011 lalu untuk pertama kalinya cuan cukup besar dari saham, maka yang saya lakukan pertama kali adalah membeli rumah tipe 36 di Jakarta Selatan, dan barulah setelah itu saya bisa fokus lagi ke saham. Sebab yang penulis pikirkan ketika itu adalah, kalaupun pasar jatuh dan duit nyangkut semua dan habis, maka paling tidak saya masih punya atap untuk berteduh tanpa harus bayar kontrakan, untuk menunggu sampai nanti kondisinya kembali normal.

Berikutnya, tabungan darurat plus aset produktif. Yang dimaksud tabungan darurat disini adalah sejumlah dana yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari anda dan keluarga untuk menjalani hidup yang normal (belanja kebutuhan sehari-hari, sekolah, dst) selama minimal 1 tahun kedepan. Atau kalau mau lebih amannya lagi, 2 – 3 tahun. Angkanya bervariasi tergantung lifestyle anda masing-masing, tapi untuk keluarga kecil dengan dua anak di Jakarta atau Bandung, penulis perkirakan Rp200 – 300 juta sudah cukup, lebih besar tentunya lebih baik. Dana ini bisa ditempatkan di bank, atau ditaruh dibawah bantal dirumah in case bank-nya kehabisan duit (itu pernah terjadi di tahun 1998), dan hanya digunakan dalam keadaan darurat. Jadi jangan pernah sekali-kali berpikir untuk menggunakan dana itu untuk beli saham.

However, tak peduli sebesar apapun tabungan darurat yang anda miliki, tetap terdapat risiko bahwa nilai uang itu akan tergerus inflasi, atau nilainya turun signifikan karena harga-harga kebutuhan pokok naik semua ketika krisis itu terjadi, dan pada kasus tertentu bahkan bisa saja uang anda menjadi tidak bernilai sama sekali (ini pernah terjadi di tahun 1966, boleh tanya orang tua/kakek nenek anda dirumah). Sehingga, jika memungkinkan, anda juga memiliki aset produktif yang bukan menghasilkan uang tunai, melainkan bahan makanan. Contohnya? Sawah! Daaan, anda boleh sebut penulis oldschool, tapi selain memiliki dana darurat di bank dan juga lemari di rumah, maka penulis juga ada sawah dan kebun di kampung halaman. Kesemua aset darurat tersebut nilainya relatif kecil dibanding nilai porto kami di saham, dan penulis sangat berharap bahwa kita tidak akan sampai pada satu kondisi dimana kita harus memetik sayur dari kebun sendiri untuk makan sehari-hari. Namun disisi lain, keberadaan aset-aset ini menjaga kami untuk tetap confident dan rasional dalam menghadapi pasar. Karena dalam kondisi terburuk sekalipun dimana para karyawan di-PHK, para pengusaha bangkrut, dan investor saham yang hidup dari dividen juga kehilangan dividen tersebut karena emitennya keburu bangkrut, maka anak-anak kami dirumah akan tetap bisa makan dan sekolah (dan kalau sekolahnya tutup, maka minta gurunya aja datang kerumah). And that’s more than enough.

Untuk lanjutannya bisa dibaca disini.

Jadwal Seminar: Untuk sekarang belum ada jadwal, namun anda bisa memperoleh rekamannya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG masih dibawah 6,000. Info Whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti)

Penulis membuat Buku Terjemahan Annual Letter Warren Buffett edisi 1965 - 69 (tahun-tahun terakhir dimana WB menjalankan Buffett Partnership, sebelum pindah ke Berkshire Hathaway), dan selama periode bear market ini, anda bisa memperolehnya secara gratis. Anda bisa langsung men-download-nya disini.

Punya akun Instagram? Follow akun resmi penulis di media sosial, klik 'View on Instagram' berikut ini: Instagram
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

Tidak ada komentar: