Cara Membaca Prospektus (IPO Bukalapak)

Ketika sebuah perusahaan akan melakukan penawaran saham perdana atau IPO (initial public offering), atau penawaran saham non-perdana (right issue), atau penawaran obligasi, maka untuk bahan analisa investor untuk menilai apakah saham/obligasi yang ditawarkan tersebut layak invest atau tidak, perusahaan akan menerbitkan prospektus lengkap yang berisi semua informasi penting yang harus diketahui oleh si investor. Sehingga dengan membaca prospektus itu saja, maka seorang investor akan bisa mengambil keputusan, dan ia tidak perlu lagi membaca atau mendengarkan berita-berita apalagi informasi/rumor simpang siur yang tidak jelas asal usulnya, terkait prospek IPO saham tersebut.

***

Ebook Market Planning edisi Agustus 2021 yang berisi analisis arah IHSG, stockpick saham, dan informasi jual beli saham yang penulis lakukan sudah terbit! Dan Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Masalahnya sebuah buku prospektus seringkali sangat tebal, bisa sampai 500 atau bahkan 1,000 halaman. Dan justru karena saking banyaknya informasi yang disajikan maka seorang investor seringkali jadi bingung terkait cara membacanya, seperti menentukan bagian mana dulu yang lebih penting untuk dibaca, belum lagi ada banyak istilah-istilah keuangan yang mungkin sulit dimengerti terutama jika anda masih pemula. Alhasil seringkali investor balik lagi hanya membaca-baca berita atau analisa pihak ketiga. Tapi kembali masalahnya adalah, kita tidak tahu apakah berita-berita/analisa seperti itu sifatnya independen atau tidak, dan sudah merupakan rahasia umum jika kesemua informasi non-prospektus tersebut seringkali hanya menggiring opini (bahasa premannya, ‘pesanan bandar’).

Sehingga tetap saja, prospektus penting untuk dibaca, sangat penting. Nah jadi pada kesempatan kali ini, penulis akan menyampaikan soal cara membaca prospektus itu sendiri, dimana anda akan bisa memperoleh informasi lengkap dalam waktu singkat. Sudah tentu jika anda belum pernah membaca prospektus sama sekali sebelumnya, maka anda tetap akan butuh waktu agak lama pada awalnya. Tapi nanti ketika anda sudah terbiasa, maka berdasarkan pengalaman, seorang investor hanya butuh waktu sekitar 1 – 2 jam untuk membaca prospektus secara lengkap. Anyway, kita mulai saja dengan menggunakan contoh IPO yang sedang heboh dibicarakan saat ini, yakni PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), dan pertama-tama anda download dulu prospektusnya disini.

Sebelum kita mulai, mungkin ada pertanyaan: Pak Teguh tadi bilang bahwa berita-analisa tentang prospek IPO tertentu seringkali merupakan pesanan bandar/pihak penjual, misalnya bahwa IPO-nya kelebihan peminat alias oversubscribe bla bla bla. Tapi bagaimana dengan prospektusnya itu sendiri? Apakah semua informasi yang disajikan disitu benar dan jujur adanya? Terkait ini penulis bisa sampaikan dua hal. Pertama, di halaman sampul prospektus jelas tertulis bahwa ‘PT Bukalapak.com Tbk dan penjamin pelaksana emisi efek bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran semua informasi, fakta, data, atau laporan dan kejujuran pendapat yang tercantum dalam prospektus ini’. Kedua, berdasarkan pengalaman selama ini, sebuah prospektus memang menyajikan informasi yang lengkap dan apa adanya, baik itu yang bersifat positif ataupun negatif, dimana kalau misalnya perusahaan rugi terus, lagi ada kasus hukum dst, maka semua informasinya jelas dipaparkan disitu.


Okay sekarang kita ke bagian paling pentingnya: Cara membaca prospektus. Pertama, sekaligus yang paling penting, adalah nilai IPO plus valuasi perusahaan. Pada halaman sampul prospektus BUKA, tertulis perusahaan menerbitkan 25.7 milyar lembar saham baru, yang setara 25% jumlah saham beredar, pada harga Rp750 – 850 per saham. Sehingga dengan asumsi bahwa harga IPO-nya adalah Rp850, maka BUKA akan meraup dana Rp21.9 trilyun (ini adalah ‘nilai IPO’). Karena Rp21.9 trilyun tersebut adalah untuk 25% saham perusahaan, maka valuasi BUKA secara keseluruhan adalah 21.9 / 25% = Rp87.6 trilyun (ini adalah valuasi/market cap perusahaan).

Kemudian khusus untuk BUKA, maka selain 25.7 milyar lembar saham yang diterbitkan dan dijual ke investor publik, perusahaan juga akan menerbitkan maksimal 5.1 milyar lembar saham melalui program MESOP (management and employee stock option program). Sehingga pada akhirnya jumlah saham beredar BUKA adalah 108.1 milyar lembar. Jumlah saham beredar ini penting untuk diperhatikan, karena semakin besar jumlahnya maka akan semakin ‘berat’ sahamnya untuk bergerak naik dan turun. Biasanya jumlah saham beredar suatu emiten di BEI hanya di kisaran 2 – 5 milyar lembar, atau sebanyak-banyaknya 20 milyar lembar. Sedangkan kalau kita ambil contoh emiten-emiten lainnya di BEI yang jumlah saham beredarnya mendekati atau lebih dari 100 milyar lembar, seperti Smartfren Telecom (FREN), Hanson International (MYRX), dan Telkom (TLKM), maka sahamnya cenderung gak kemana-mana termasuk dalam jangka panjang (karena ‘berat’ untuk bergerak itu tadi, kecuali jika bandarnya sendiri yang menggerakkan), bahkan meskipun fundamentalnya bagus (secara fundamental, TLKM jelas sangat bagus dibanding FREN atau MYRX).

Sekarang kita ke bagian daftar isi, dan bagian yang penting untuk dibaca adalah: 1. Rencana penggunaan dana hasil IPO, 2. Ikhtisar data keuangan penting, 3. Kegiatan dan prospek usaha, dan 4. Tinjauan industri. Untuk bagian-bagian lainnya hanya perlu anda baca jika keempat bagian itu sudah anda baca, dan kesimpulannya adalah anda yakin bahwa BUKA ini memang bagus (tapi jika kesimpulannya adalah bahwa BUKA ini jelek, maka tidak usah dilanjutkan).

Jadi kita ke rencana penggunaan dana, halaman 10. Unfortunately, tadinya penulis berpikir bahwa informasinya akan cukup rinci karena uang hasil IPO BUKA ini tidak main-main, mencapai Rp21.9 trilyun! Dan memang itu akan menjadi nilai IPO terbesar dalam sejarah BEI. Tapi disitu hanya disebutkan bahwa 66% atau Rp14.4 trilyun digunakan untuk modal kerja. Tapi ‘modal kerja’ itu rinciannya apa saja, sama sekali tidak ada info lebih lanjut. Sisanya 34% alias Rp7.4 trilyun akan digunakan menambah modal di enam entitas anak, dimana oleh entitas anak tersebut dananya terutama akan digunakan untuk membayar utang usaha ke para vendor dan partner.

Nah, jadi sekarang bayangkan anda adalah investor besar, lalu ada perusahaan datang minta modal Rp21.9 trilyun, maka yang akan kita tanyakan pertama kali adalah, tentu saja, duitnya mau dipakai buat apa? Dan jika si perusahaan ini menjawab bahwa sepertiganya untuk ini dan itu, sedangkan dua pertiganya lagi tidak jelas untuk apa, maka apakah kita akan memberikan uangnya?

Kemudian kita ke data keuangan, halaman 17, dimana BUKA menyajikan laporan keuangannya untuk periode tahun penuh 2018, 2019, 2020, dan Kuartal I 2021. Yang kita lihat pertama kali adalah, tentu saja, laporan laba rugi, dan perusahaan sampai Kuartal I 2021 masih rugi Rp324 milyar, dengan akumulasi defisit (total kerugian yang diderita selama perusahaan beroperasi) mencapai Rp8.0 trilyun. Namun karena para founder perusahaan sudah menyetor modal (dalam bentuk modal disetor dan tambahan modal disetor) total Rp9.5 trilyun (setara 77.3 milyar lembar saham, jadi nilai setorannya Rp123 per saham), maka jadilah ekuitas BUKA masih positif, tepatnya Rp1.7 trilyun pada 31 Maret 2021.

Anyway, meski laporan keuangannya sangat buruk, dan di faktor risiko (lihat lagi halaman sampul prospektus) juga jelas disebutkan bahwa perseroan mungkin tidak mencapai profitabilitas di masa depan, tapi sisi positifnya adalah pendapatan BUKA naik terus, dari hanya Rp291 milyar di tahun 2018, menjadi Rp1.7 trilyun di tahun 2021 (disetahunkan). Jika perusahaan di masa mendatang bisa terus meningkatkan pendapatannya, sedangkan beban operasionalnya tetap atau bahkan turun, maka bisa saja dalam 2 – 3 tahun nanti, BUKA pada akhirnya akan membukukan laba bersih. Pertanyaannya, seberapa besar peluang terjadinya laba bersih tersebut? Untuk itu kita ke bagian selanjutnya, kegiatan dan prospek usaha, di halaman 178.

Nah, terkait IPO BUKA ini, penulis sering mendengar bahwa prospeknya tidak bisa hanya dengan melihat kinerja laporan keuangannya, karena semua perusahaan tekno itu pasti ‘bakar duit’ pada awalnya (meski ini sebenarnya rancu juga, karena jika benar demikian, maka jika anda ikut setor modal di IPO BUKA ini, maka sekarang duit anda juga bakal ikut ‘dibakar’. Bedanya, anda membayar pada harga yang jauh lebih mahal dibanding harga yang dibayar oleh para founder perusahaan. Seperti disebut diatas, para founder BUKA menyetor senilai Rp123 per saham, tapi investor publik akan membayar Rp750 – 850 per saham). Jadi kita harus menilainya dari aspek yang lain, misalnya bagaimana pertumbuhan jumlah pelanggan/mitra perusahaan? Dan informasi tersebut bisa diperoleh di bagian kegiatan dan prospek usaha: Pada informasi jaringan mitra perseroan di halaman 179, disebutkan bahwa pada tahun 2016, BUKA menjadi perusahaan pertama yang masuk ke pasar ritel mikro offline, dimana perusahaan menggandeng mitra warung dan toko kelontong di seluruh Indonesia untuk menjual produk-produk fisik dan juga virtual (misalnya mobile game). Dan ekspansi ini sukses, setidaknya dari sisi peningkatan jumlah warung yang menjadi mitra, yakni dari 2,870 mitra pada tanggal 1 Januari 2017, menjadi 6.9 juta mitra, dimana 3.6 juta diantaranya merupakan mitra aktif pada saat prospektusnya terbit. Terkait e-warung ini maka BUKA merupakan salah satu pemain terbesar dengan pangsa pasar 39% per 31 Desember 2020. Kemudian untuk aplikasi marketplace Bukalapak, perusahaan memiliki lebih dari 6 juta penjual (‘pelapak’) per 31 Desember 2020, dimana 1 juta diantaranya telah bertransaksi dalam 12 bulan terakhir. Sedangkan untuk aplikasi BukaMall, maka per 31 Desember 2020, perusahaan sudah bekerja sama dengan lebih dari 3,000 brand nasional dan juga internasional, yang mengoperasikan official store-nya sendiri. However, tidak ada informasi tentang bagaimana perbandingan jumlah mitra BukaMall ini dibanding kompetitornya yang juga menyediakan platform official store bagi banyak brand-brand terkemuka, sehingga bisa diasumsikan bahwa posisi Bukalapak di segmen online mall ini tidak cukup kuat.

Diluar itu BUKA juga banyak masuk ke berbagai jenis usaha all-commerce, seperti jasa pembayaran, digital banking (dengan mitra dompet virtual DANA), jasa keuangan/investasi reksadana, logistik dan pusat distribusi, hingga jasa pengadaan (Bukapengadaan). Namun tidak ada informasi bagaimana perkembangan kinerja perusahaan untuk segmen-segmen usaha tersebut, sehingga kita bisa asumsikan sekali lagi bahwa posisi BUKA untuk segmen usahanya tersebut juga masih belum cukup kuat/masih merintis, terutama karena ada banyak pemain ecommerce lainnya yang juga bermain di segmen yang sama. Dan actually untuk aplikasi market place Bukalapak-nya, dimana jelas disampaikan bahwa meski perusahaan memiliki 6 juta pelapak, tapi hanya 1 juta diantaranya yang aktif (dan 1 juta pelapak ini pastinya gak cuma jualan di Bukalapak doang), maka BUKA jelas masih harus bersaing dengan banyak pemain market place lainnya seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, Blibli, dst. Secara keseluruhan segmen, berdasarkan data dari Frost & Sullivan, maka BUKA menguasai 14.8% pangsa pasar ecommerce di Indonesia pada akhir tahun 2020, dan itu tentu saja bukan angka yang cukup besar.

Sehingga menurut penulis sendiri, karena posisi BUKA baru cukup kuat di segmen e-warung, maka kemungkinan hanya segmen ini saja yang di masa mendatang akan bisa segera menyumbang laba bersih bagi perusahaan. Dan memang pada informasi segmen di laporan keuangan terakhirnya untuk periode Kuartal I 2021, maka dari rugi komprehensif Rp320 milyar, segmen mitra e-warung hanya berkontribusi sebesar Rp62 milyar, dan mayoritas selebihnya disumbang oleh kerugian dari segmen pengadaan dan market place. Albeit saya tidak tahu apakah ini bisa dianggap sebagai kabar baik atau bukan? Karena disini kita bicara segmen mana yang ruginya paling kecil, bukan segmen mana yang labanya paling besar.

Anyway, kita lanjut ke segmen tinjauan industri, dimana di bagian ini kita tidak lagi mempelajari prospek BUKA secara spesifik, melainkan prospek industrinya (ecommerce) secara menyeluruh, dan di bagian ini bisa penulis katakan bahwa angkanya bagus-bagus semua. Pertama, dari nilai transaksi ecommerce itu sendiri di Indonesia, yang meningkat pesat dari $7.6 milyar di tahun 2017 menjadi $30.6 milyar di tahun 2020, dan diperkirakan akan mencapai $75.8 milyar di tahun 2025. Peluang segmen usaha di sektor ini juga ada banyak, dimana selain yang sudah disebutkan diatas, juga ada (yang tidak/belum digarap oleh BUKA, melainkan digarap oleh pemain ecommerce lain) desa digital, petani digital, GudangAda, dst. Booming fintech seperti dompet elektronik juga menawarkan peluang besar, karena saat ini sudah ada sekitar 83 juta penduduk Indonesia, yang sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk dilayani perbankan umum, tapi sekarang mereka bisa ikut melakukan transaksi pembayaran dll, dan ini turut menumbuhkan ekonomi. Kemudian berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun 2018 terdapat 64.2 juta unit UMKM di Indonesia, sehingga bagi BUKA yang sejauh ini baru memiliki 6 juta mitra warung, maka dengan asumsi perusahaan bisa mempertahankan pangsa pasarnya/tidak disikut oleh perusahaan ecommerce lain (karena meski BUKA merupakan perintis di segmen ini, tapi sekarang pesaingnya ada banyak seperti Mitra Tokopedia, Grabkiosk, PayFazz, Warung Pintar, dan LinkAja), peluang pertumbuhannya masih terbuka lebar. Jika kita balik lagi ke Bukalapak-nya, maka di segmen e-warung inilah perusahaan berpeluang untuk pada akhirnya nanti membukukan laba. Karena untuk segmen ecommerce lainnya, posisi perusahaan belum cukup kuat dibanding banyak perusahaan lain yang sejenis.

Kesimpulan

Nah, sebenarnya selain bagian-bagian prospektus yang sudah dipaparkan diatas, maka investor juga harus membaca dua bagian yang juga penting, yakni: 1. Faktor risiko, halaman 48, dan 2. Perkara yang sedang dihadapi perseroan, halaman 177, dimana berbeda dengan bagian prospek usaha dll yang pada intinya ‘mengajak’ anda untuk membeli saham Bukalapak, maka dua poin diatas akan menjelaskan sisi negatif dan kemungkinan terburuk yang juga harus dipertimbangkan, sebelum anda memutuskan untuk ikut IPO-nya. Namun, saya tidak tahu bagaimana dengan penilaian anda sendiri, tapi dari kesemua poin utama yang sudah dipaparkan diatas juga tidak membuat IPO BUKA ini menjadi cukup menarik, dimana:

  1. Perusahaan sampai hari ini masih bakar duit, dan kemungkinan masih akan lanjut bakar duit dalam beberapa tahun mendatang,
  2. Posisi perusahaan secara umum tidak cukup kuat dibanding para pesaingnya,
  3. Jumlah saham yang diterbitkan terlalu banyak,
  4. Duit hasil IPO-nya gak jelas buat apa.

Kemudian yang menjadi perhatian penulis adalah perbandingan antara harga saham BUKA yang harus dibayar investor publik, dengan harga yang dibayar investor awal/founder perusahaan. Seperti disebut diatas, para investor awal BUKA hanya menyetor modal senilai Rp123, namun investor publik harus membayar Rp850 per saham. Jadi kalau penulis sendiri adalah salah satu dari investor awal tersebut, maka tak lama setelah sahamnya listing, saya akan langsung jual saham BUKA pada harga 850 tersebut, atau sedikit dibawah itu juga gak apa-apa, dan akan langsung cuan sekian ratus persen, tak peduli meski perusahaannya masih rugi. However para investor awal ini tentu menyadari bahwa jika mereka langsung ramai-ramai jualan tak lama setelah IPO-nya, maka harga sahamnya bakal langsung jeblok. Untuk mencegah hal itu, maka pada prospektus halaman 8, disampaikan bahwa sejumlah investor awal BUKA telah sepakat untuk tidak menjual sahamnya (istilahnya lock-up) secara sukarela dalam waktu 8 bulan setelah saham BUKA diperdagangkan di BEI. Nah, sebelumnya memang ada peraturan dari BEI bahwa investor awal yang memperoleh saham BUKA pada harga dibawah harga IPO dilarang menjual sahamnya di pasar dalam waktu 8 bulan sejak hari pertama sahamnya listing, tapi peraturan tersebut tidak berlaku bagi investor awal dengan kriteria tertentu. Namun untuk memastikan bahwa sahamnya tidak langsung jeblok, maka sejumlah investor awal yang tidak terikat peraturan dari BEI diatas, atau dengan kata lain mereka sebenarnya boleh-boleh saja langsung menjual saham BUKA di pasar tanpa harus menunggu 8 bulan, maka mereka sepakat untuk juga tidak langsung menjual sahamnya, melainkan ikut menunggu selama 8 bulan (makanya disebut 'sukarela'). Harapannya tentu, setelah 8 bulan tersebut maka harga saham BUKA akan sudah lebih stabil dan bid and offer-nya sudah terbentuk, sehingga kalau setelah itu para investor awal ini mulai jualan pelan-pelan maka sahamnya tetap tidak akan turun signifikan. Jika beruntung maka bisa saja setelah 8 bulan tersebut, saham BUKA ini naik misalnya ke 1,000 atau 1,200, sehingga profitnya lebih besar. Tapi jika saham BUKA malah turun hingga dibawah harga IPO-nya, let say 500, maka ingat sekali lagi modalnya tadi cuma Rp123 per saham, jadi para investor awal ini tetap cuan besar.

Anyway jika kita kembali ke prospek perusahaan, maka satu-satunya poin yang cukup atraktif adalah fakta bahwa BUKA ini merupakan salah satu pemain terbesar di segmen e-warung (salah satu yang terbesar, tapi bukan yang terbesar), dan segmen ini punya prospek untuk tumbuh lebih besar lagi di masa depan, tapi pertanyaannya adalah apakah BUKA nantinya bisa bertahan dari gempuran para kompetitornya?

Dan sebenarnya kalau kita analisa lanjut ke perkara hukum yang sedang dihadapi perusahaan, maka pada tanggal 19 Maret 2021, perusahaan menerima gugatan dari PT Harmas Jalesveva senilai Rp90 milyar, setelah Bukalapak membatalkan secara sepihak perjanjian sewa ruang/lantai di Gedung Office Tower One Belpark, namun pihak Bukalapak mengklaim bahwa belum ada perjanjian apa-apa dengan pihak PT Harmas kecuali sebatas penandatanganan letter of intent. Hingga ketika prospektusnya terbit pada tanggal 9 Juli 2021, kasusnya masih berjalan, namun karena nilai gugatannya relatif kecil maka penulis sendiri memperkirakan bahwa kasusnya tidak akan berdampak signifikan terhadap kelangsungan usaha Bukalapak itu sendiri. Tapi intinya hal ini menunjukkan bagaimana kualitas GCG (good corporate governance) dari perusahaan, dimana perusahaan yang baik adalah yang tentunya tidak terlibat dalam perkara-perkara hukum seperti ini.

Anyway, penulis dalam sudah membantu membacakan prospektus PT Bukalapak.com, Tbk (BUKA) untuk anda sebagai calon investor, jadi sekarang keputusannya ada di tangan anda sendiri.

***

Ebook Market Planning edisi Agustus 2021 yang berisi analisis arah IHSG, stockpick saham, dan informasi jual beli saham yang penulis lakukan sudah terbit! Dan Anda bisa memperolehnya disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan via email

Komentar

Budi mengatakan…
Thanks untuk sharingnya pak teguh.
Stay independent..
Mobiles photo shots mengatakan…
Terima kasih ulasannya pa Teguh. Sangat bermanfaat sekali.
untuk IPO Buka lapak, kan bisa dibilang IPO perusahaan teknologi yang pertama di Indonesia. Jadi belum ada pembandingnya.
Nah, untuk statement value saham terlalu tinggi dibanding yang dibayar foundernya. Itu dasarnya apa ya, kalo ga ada pembandingnya? Kan tidak bisa dibandingkan saham saham non teknologi. Jadi ga apel to apel.
Kalo bisa mas Teguh, ambil contoh IPO perusahaan teknologi di amerika misalnya. Kan mereka udah sering tuh IPO IPO an teknologi. nah coba dibandingkan dengan IPO buka lapak ini. Misalnya, valuasi saham terlalu tinggi itu. Itu dibandingkan dengan yang di US sana, lebih tinggi berapa persen ?. Yang masalah merugi terus, yang IPO diluar, mungkin bisa diliat juga mas. Apakah memang mengalami hal yang sama.
Mungkin mas Teguh bisa melengkapi ulasannya. Ini juga bagus untuk memperkayak perbendaharaan ilmu terkait saham-saham perteknologian. Karena kedepannya, teknologi ini akan mengambil porsi yang semakin besar.

Wise Buddy mengatakan…
kata komisarisnya, ini bukan exit .....
ada-ada saza
Indra Tan mengatakan…
Mohon petunjuknya pak Teguh, untuk memperoleh prospektus perusahaan2 yang akan menggelar IPO bisa diperoleh dimana selain website idx.co.id? saya cek di website idx (https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/prospektus/) sampai skrg blm ada prospektus IPO Bukalapak dan GoTo

Tks jika bersedia dijawab
jhon legend mengatakan…
sudah ada yang bahas.. dengan perbandingan alibaba... menggunkaan valuasi gmv tetap itungannya lebih mahal BUKA,, alibaba saat ipo gmv nya 0.60x BUKA gmv nya 1.1x.. dan waktu itu saat listing alibaba sudah untung..
Anonim mengatakan…

Ketika si A punya uang seratus rupiah maka tanpa memperhitungkan jasmani dan rohani yang dianugerahkan Pencipta, orang mengatakan bahwa harta si A berjumlah: seratus itu saja.

Lalu si A dengan berbagai cara dan usaha melobangi uang koin itu, menghaluskannya.dan pendek cerita menggunakannya sebagai hiasan di jari tangannya.

si B yang suatu ketika melihat jari si A ini, berminat terhadap koin berlubang itu dan menawari A uang seribu rupiah sebagai ganti jeri payah si A katanya. Si A setuju dan beralih lah koin berlubang itu ke jari Si B.

si C yang kebetulan berpapasan dengan si B di suatu tempat lain, penasaran dengan antusiasme B yang tidak henti-hentinya mematut-matut jari jemarinya.
Setelah berbincang sejenak, si C menyatakan bahwa ia sanggup membuat hal yang sama bahkan dengan janji yang lebih baik dan lebih banyak, bila si B mau, dengan upah lima ratus rupiah sebuahnya sudah termasuk koin bahannya.

si D yang tidak sengaja mendengar perbincangan si B dan C, memohon maaf untuk ikutan nimbrung dan menyatakan kesanggupannya untuk mengelola kerjasama si B dan C serta menyanggupi bahwa ia dapat mewujudkan penjualan dalam jumlah yang besar tentu dengan seperangkat balas jasa setimpal untuk jerih payahnya itu.

Dan di ujung cerita ini adalah si E yang menerima tawaran untuk memiliki sedikit bagian dari usaha si B dan C serta D, tentu dengan menebusnya dengan sejumlah uang.

Si E yang sedikit ragu hanya bergumam: is it worth? dan karena ada sedikit ketertarikan mencoba berdiskusi dengan saudaranya yang tak lain adalah si A tadi...loh...!?


Saya kira, Inventor, Owner, Management, Creditur, dan Negara serta Investor, tak terkecuali minority share holder punya penilaian masing-masing sesuai kepentingan mereka dalam Corporate Claims itu.


Maafkan kalau trader tidak masuk klasifikasi, karena dianggap capital gain / loss nya itu ditransfer atau berasal dari sesama trader..lebih ke money games...
Fery mengatakan…
Amazon aja perlu waktu 5-10 tahun dari sejak 1997 sampai menghasilkan laba dengan dukungan masyarakat USA yang lebih makmur dari Indonesia.

Di Indo beli di e-commerce cari murah dan promo nya, jadi bila nanti tidak lagi bakar duit, apakah volume transaksi nya akan tetap besar?

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Live Webinar Value Investing, Sabtu 23 Oktober 2021

Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Aneka Tambang (ANTM)

Ebook Investment Planning Kuartal III 2021 - Terbit 8 November

Sekilas Mengenai Suspensi Saham

Bank Banten (BEKS) Prank!