Pendapat Saya Tentang Bitcoin - 2026
Saya ingin bertanya soal fundamental, bagaimana Pak Teguh melihat Crypto dan Bitcoin, apakah ia memiliki nilai intrinsik/ underlying layaknya sebuah perusahaan sehingga layak dijadikan investasi? Saya mengamati beberapa figur value investing spt Warren Buffet, Charlie Munger, Lo Kheng Hong, mereka tidak masuk ke dalam BTC karena tidak mengerti apa underlying-nya sehingga tidak bisa disebut investasi, melainkan hanya berharap ada orang yang mau membayar lebih. Seperti skema ponzi.
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 24 Januari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.
***
Jawab:
Apa yang disampaikan Warren Buffett dkk tentang bitcoin itu benar adanya, dan sampai hari ini pendapat mereka masih relevan: Bitcoin bukanlah instrumen investasi karena tidak memiliki underlying assets, tidak menghasilkan pendapatan, laba, ataupun dividen seperti layaknya perusahaan, dan tidak memiliki kegunaan apapun. Jadi beda dengan misalnya emas dan perak, yang meski sama-sama tidak menghasilkan nilai tambah (jika anda hari ini pegang 10 gram emas maka 10 tahun lagi jumlahnya akan tetap 10 gram, dan tidak akan ‘beranak pinak’ menjadi misalnya 20 gram), tapi kita masih bisa menggunakan dua jenis logam itu untuk perhiasan, membuat komponen komputer dan elektronik, dll. Sedangkan bitcoin? Itu cuma angka-angka di depan layar, tidak lebih.
Dan ketika saya pertama kali mendengar tentang bitcoin di tahun 2017, dan sekali lagi di tahun 2021 (ketika harganya meroket dari $10,000 ke $69,000), maka pendapat saya juga sama: Bitcoin ini mainan spekulasi, sama saja seperti robot trading, atau binomo yang juga pernah ramai itu.
Sampai di tahun 2022, saya mendapat pengalaman menarik. Jadi keluarga kami beli mobil baru, dan mungkin karena mobilnya jenis premium (Toyota Alphard) maka pihak dealer menawarkan plat nomor polisi custom dengan nomor cantik, semakin cantik/unik nomornya maka semakin mahal harganya. Misalnya kalau kami ingin plat nomor dobel digit, maka biayanya Rp15 hingga 30 juta. Sedangkan kalau single digit maka bisa mendekati ratusan juta Rupiah. Tapi karena penulis ketika itu mikir, plat nomor cantik buat apaan? Maka kami menolak tawaran tersebut, dan alhasil mobilnya tetap pakai plat nomor biasa saja. Tapi kemudian disinilah gongnya: Setiap kali melihat mobil yang sama di jalan dengan plat nomor cantik, maka sedikit banyak saya agak menyesal, kenapa dulu gak pakai nomor cantik saja? Dan ketika saya coba tanya lagi soal plat cantik tersebut, harganya sudah keburu naik.
Nah, tapi kalau kita bicara soal nilai tambah, maka tentu saja plat nomor cantik itu tidak menghasilkan nilai tambah apapun, dimana kalau pakai plat nomor tersebut maka gak akan bikin mobilnya jadi lebih nyaman, tarikannya lebih kenceng, dst. Kemudian soal kegunaan? Ya sama, plat nomor cantik itu gak ada gunanya, cuma untuk memuaskan ego si pemiliknya saja.
Namun demikian, terdapat satu hal yang membuat plat nomor cantik itu lebih berharga dibanding plat nomor biasa: Keterbatasan, dimana setiap plat nomor hanya akan diterbitkan oleh Samsat sebanyak satu kali itu saja, dan alhasil tidak akan ada kendaraan/mobil lain yang bisa menggunakan plat nomor yang persis sama. Karena itulah, ketika Samsat punya stok plat nomor cantik tertentu yang belum diterbitkan, maka semakin cantik angkanya semakin banyak pula peminatnya, dan alhasil harganya semakin mahal. Kemudian karena jumlah pemilik mobil yang mungkin menginginkan plat nomor cantik tersebut akan terus bertambah, sedangkan jumlah plat-nya tetap hanya satu itu saja, maka harganya yang sejak awal sudah mahal itu seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih mahal lagi. Got the point?
Kemudian selain plat nomor polisi, maka ada banyak lagi barang-barang lainnya yang tidak menghasilkan nilai tambah dan juga tidak benar-benar memiliki kegunaan, tapi tetap dihargai tinggi karena satu alasan: Scarcity, alias kelangkaan. Semakin langka sebuah barang maka semakin tinggi harganya. Contohnya nomor telepon cantik, jam tangan mewah limited edition, karya seni lukisan (terutama yang pelukisnya sudah meninggal dunia, sehingga tidak akan ada lagi lukisan yang sama), dan seterusnya. Termasuk alasan emas dihargai jauh lebih mahal dibanding perak adalah karena jumlahnya jauh lebih sedikit/lebih langka dibanding perak, bahkan meskipun sebenarnya perak lebih banyak digunakan untuk industri manufaktur dll.
Nah, jadi sekarang kembali ke bitcoin. Seperti halnya plat nomor tadi, yang membuat bitcoin berharga adalah faktor scarcity dimana suplainya terbatas (finite), totalnya hanya maksimal 21 juta BTC yang bisa ‘ditambang’ sampai sekitar tahun 2140 nanti. Dan meski faktor scarcity ini tidak membuat bitcoin menjadi lebih berharga dibanding saham dari perusahaan dengan kinerja fundamental yang bagus, tapi itu membuatnya lebih berharga dibanding mata uang fiat (fiat currency), seperti US Dollar, Pound Sterling, Rupiah dll. Sebab, kita tahu bahwa mata uang fiat ini memiliki setidaknya dua fungsi: 1. Sebagai alat tukar ketika kita membeli atau menjual barang dan jasa, dan 2. Sebagai alat untuk menyimpan tabungan dan harta kekayaan, alias store of value.
![]() |
| Perkembangan harga bitcoin dalam lima tahun terakhir |
Dan untuk fungsi nomor dua inilah, maka semua mata uang fiat di seluruh dunia memiliki satu kelemahan fatal: Karena bank sentral di negara yang bersangkutan bisa cetak uang baru sebanyak-banyaknya (infinity supply), maka nilai riil dari tabungan kita di bank dalam mata uang Dollar, Rupiah dll, akan terus menyusut seiring waktu karena hantu bernama inflasi. Karena itulah, investor manapun tidak akan menyimpan mayoritas asetnya dalam bentuk kas/uang fiat, melainkan mereka akan menempatkannya di instrumen keuangan yang lain. Dan sejak tahun 2009 lalu, bitcoin muncul dan berkembang sebagai instrumen baru yang menawarkan solusi atas masalah infinite supply ini, dimana jumlahnya terbatas yakni maksimal 21 juta itu tadi, tidak akan lebih 1 bitcoin pun. In fact, mengingat jumlah saham beredar sebuah perusahaan bisa bertambah jika perusahaan menerbitkan saham baru, dan jumlah emas dan perak juga memang akan terus bertambah seiring operasional perusahaan tambang emas di seluruh dunia, maka disinilah bitcoin dianggap lebih baik dibanding saham dan emas, karena dia merupakan satu-satunya ‘alat penyimpan kekayaan’ di seluruh dunia dengan finite supply. Dan faktor finite supply ini sebenarnya baru satu dari banyak lagi kelebihan-kelebihan bitcoin dibanding asset class lainnya. Tapi agar tulisannya tidak terlalu panjang, maka kita fokus di satu faktor finite supply itu saja.
Kemudian, karena nilai harta kekayaan semua orang di seluruh dunia terus naik seiring pertumbuhan ekonomi, maka kebutuhan terhadap instrumen store of value juga terus meningkat, dan itulah yang kemudian bikin harga saham (dari perusahaan bagus), harga emas dll terus naik dalam jangka panjang, tak terkecuali bitcoin. Lalu karena bitcoin adalah satu-satunya instrumen dengan finite supply, maka total kenaikannya dalam 15 tahun terakhir terbilang jauh lebih tinggi dibanding instrumen alat penyimpan kekayaan lainnya. Mungkin perlu dicatat pula bahwa hanya bitcoin yang memiliki sifat finite supply ini, sehingga untuk semua jenis cryptocurrency lainnya (altcoin) maka pendapat penulis masih sama: Itu cuma alat spekulasi saja, atau bahkan scam dimana influencer tertentu bisa dengan bebas pompom harganya sampai naik sangat tinggi, teriak to the moon! Tapi ketika orang lain beli di harga pucuk maka harganya justru rug pull! So, be careful.
Nah, tapi balik lagi ke bitcoin, maka pernyataan Opa Warren bahwa itu berbeda dengan saham yang memiliki underlying asset, dan bahwa bitcoin tidak menghasilkan apa-apa, maka itu masih 100% valid. Penulis sendiri kalau ketemu saham dari perusahaan bagus dengan aset bersih misalnya Rp1 triliun, yang saya cukup yakin bahwa aset tersebut akan tumbuh menjadi Rp5 triliun dalam beberapa tahun ke depan, maka jelas saya akan beli saham tersebut daripada beli bitcoin. Namun demikian jika disuruh memilih antara menabung Rupiah/US Dollar/Pound Sterling dst atau menabung bitcoin, maka saya akan pilih bitcoin. Dan saya tetap akan punya tabungan Rupiah tersebut di rekening bank, tapi hanya sedikit saja sebagai alat tukar kalau mau beli sesuatu, tapi bukan untuk store of value.
Okay, sampai sini sudah jelas kan ya? Dan terakhir, ingat bahwa faktor finite supply ini tidak menjadikan bitcoin sebagai instrumen investasi yang 100% aman, karena harganya dalam jangka pendek akan tetap naik dan turun tergantung banyak faktor, dan seringkali dengan fluktuasi yang ekstrim. Karena itulah, meski pendapat penulis tentang bitcoin itu sendiri sekarang berubah, namun kalau ada investor ingin beli bitcoin maka saya akan sarankan untuk beli sedikit saja, yakni sebagai inflation hedge atas aset uang kas yang juga anda pegang. Sedangkan untuk sebagian besar aset maka bisa tetap ditempatkan di saham berfundamental bagus, yakni untuk turut menikmati pertumbuhan perusahaan yang bersangkutan, just like usual.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q3 2025 sudah terbit! Bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Komentar