Kenapa Sejak Trading Saham, Saya Jadi Depresi?
Beberapa waktu lalu penulis membaca suatu cerita yang mungkin sangat relate terutama bagi investor saham pemula. Jadi ada seorang ayah dua anak yang selama empat tahun terakhir kerja keras dan sukses menabung dari 100 juta, 200 juta, 300 juta, sampai sedikit lagi tembus 1 miliar. Tapi setelah setahun lalu kenal trading (tidak disebut trading saham, crypto, atau apa), sekarang uang ratusan juta itu habis, semuanya! Bahkan rumah dan mobil juga sampai harus dijual buat bertahan hidup.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q4 2025 sudah terbit dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.
***
Dan tentu saja si ayah ini merasa sangat depresi, sampai sempat ada kepikiran untuk bunuh diri, karena hasil kerja keras, peras keringat, dan berhemat selama bertahun-tahun mendadak jadi sia-sia semua. Beruntung dia masih punya keluarga sehingga tetap bertahan, but still, the anxiety is unbearable.
Nah, berhubung penulis sendiri sebagai investor saham sudah sering mengalami situasi yang mirip, dimana selama 15 tahun terakhir bukan sekali dua kali kami menderita loss hingga 40% atau lebih (meski gak pernah sampai habis sama sekali), tapi dari pengalaman itulah saya mikir lagi: Kenapa saya merasa depresi setiap kali rugi dan kehilangan uang, padahal sisa uang yang dimiliki sebenarnya masih lebih besar dibanding beberapa tahun sebelumnya? Maksud penulis adalah, misalkan kita pada tahun 2020 lalu punya tabungan Rp100 juta, dan setelah mati-matian kerja keras maka pada tahun 2025 angkanya tumbuh menjadi Rp500 juta. Tapi setelah kenal saham maka hari ini di tahun 2026, uang itu berkurang setengahnya (rugi -50%) menjadi tinggal Rp250 juta saja. Maka gimana rasanya? Sakit banget bukan?? Padahal uang Rp250 juta itu sejatinya masih jauh lebih besar dibanding Rp100 juta yang kita pegang di tahun 2020 lalu. Malah faktanya, jika tabungan itu tidak pernah tumbuh sampai menjadi Rp500 juta, melainkan hanya naik dari Rp100 juta menjadi Rp250 juta, maka kita tidak akan depresi, karena kita dalam hal ini tidak berada dalam posisi pernah kehilangan uang.
Dari sinilah, penulis kemudian belajar sebagai berikut.
Pertama, sebagai investor aliran fundamental maka terus terang kinerja portofolio penulis dalam tiga tahun terakhir di pasar saham Indonesia, meskipun masih diatas kenaikan IHSG, tapi terhitung kurang memuaskan, dimana terakhir kali kami profit jumbo itu di tahun 2022 lalu. Dan alhasil meski nilai aset pada hari ini tetap secara signifikan lebih besar dibanding tahun 2022 tersebut, tapi angkanya tidak sebesar bayangan saya sebelumnya. Kemudian perubahan situasi dimana pasar saham Indonesia sekarang lebih didominasi ‘saham konglo’ ketimbang ‘saham fundamental’ membuat saya melihat bahwa, meskipun kita akan tetap bisa profit seperti biasanya, tapi mungkin angkanya tidak akan sebesar tahun-tahun lalu dimana kita bisa profit total 50 – 100% dalam satu tahun tertentu.
Nah, tapi ketika kami kemarin sekeluarga berlibur ke Bali, maka saya menghabiskan waktu untuk refleksi, dan diperoleh mindset sebagai berikut: Jika Avere dalam tiga tahun terakhir ini sukses profit besar sehingga nilai aset tumbuh berlipat-lipat, maka belum tentu itu merupakan hal yang baik. Karena ketika nanti gilirannya kami rugi dan nilai porto anjlok lagi, maka hampir pasti saya akan depresi, bahkan meski nilai porto yang setelah turun itu masih lebih besar dibanding nilai porto di tahun 2022 lalu, got it?? Di sisi lain ketika kita sudah punya aset tertentu yang sangat besar, entah itu miliaran atau bahkan triliunan Rupiah, maka akan sangat sulit untuk menumbuhkan aset tersebut untuk menjadi lebih besar lagi. I mean, kalau kita beli saham Rp100 juta dan harganya turun -10%, maka loss-nya ya cuma Rp10 juta. Tapi jika belinya Rp1 miliar? Maka rugi -10% itu setara dengan Rp100 juta, sehingga tentu saja anxiety-nya juga akan terasa 10 kali lebih berat!
Sehingga, dengan penulis pada hari ini hanya pegang portofolio saham senilai sekian, maka itu mungkin merupakan blessing in disguise karena, pertama, saya tidak perlu khawatir bakal depresi karena kalaupun besok-besok saham turun dan nilai porto ikut turun, maka nilai penurunannya dalam Rupiah tidak akan terlalu besar karena sejak awal modalnya juga tidak sebesar itu. Dan kedua, dengan nilai porto yang relatif masih kecil maka artinya lebih mudah untuk mengelolanya, untuk kemudian dihasilkan profit sekian persen setiap tahunnya. Sehingga jika semuanya lancar maka tidak hanya penulis tidak akan depresi, tapi saya juga akan senantiasa enjoy dalam aktivitas investasi itu sendiri, dimana faktor mental health ini seringkali jauh lebih penting dibanding nominal keuntungan yang diperoleh. Yep, karena profit 100% aka dua kali lipat dari modal Rp10 juta tetap terasa jauh lebih fun, dibanding profit 20% dari modal Rp50 juta, meskipun nilai profit tersebut dalam Rupiah sama, yakni Rp10 juta.
![]() |
| Penulis (Teguh Hidayat) di Bali, tahun 2026 |
Kemudian kedua, dan ini sangat penting untuk investor pemula: Jangan langsung all in di saham! Tahun 2025 lalu IHSG naik tinggi 22.1% dan alhasil ada banyak investor sukses profit besar, dan biasanya dalam situasi profit inilah maka investor pemula akan berpikir bahwa ‘trading saham ternyata gampang’?? Alhasil dia akan setor dana lebih besar lagi, dan beli lagi saham yang sama di harga pucuk. Tapi begitu IHSG akhir Januari kemarin crash karena cerita MSCI, maka hasilnya bisa ditebak: Tidak hanya profit yang sudah susah payah diperoleh selama setahun sebelumnya habis tak tersisa, tapi bahkan nilai modal awalnya pun menjadi minus! Dan pada titik inilah, semuanya akan menjadi tampak gelap. Mental burn out. Depresi.
Anyway, kalau anda termasuk yang relate dengan tulisan di atas, maka ingat bahwa semua, sekali lagi semua investor saham yang sukses bertahan sampai hari ini pernah mengalami masa-masa sulit tersebut, dan kami bisa bertahan karena satu hal: Senantiasa belajar dari pengalaman. Dan penulis bisa katakan bahwa, terlepas dari apakah kami profit besar, profit kecil, atau justru rugi di tahun-tahun tertentu, tapi nilai porto kami hari ini tetap lebih baik dibanding lima tahun lalu, dan nilai porto lima tahun lalu tersebut juga lebih baik lagi dibanding lima tahun sebelumnya, demikian seterusnya.
So just survive! And the new, brighter days will come.
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 28 Februari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk bergabung klik disini.

Komentar