Prospek Saham Perusahaan Batubara Terbesar di US: Peabody Energy (BTU)

Di ulasan sebelumnya tentang prospek dua US stocks di bidang batubara, yakni Warrior Met Coal, Inc (HCC) dan Alpha Metallurgical Resources, In (AMR), maka penulis menekankan bahwa prospek keduanya terbilang menarik tidak hanya karena harga batubara diprediksi akan naik di tahun 2026 ini, tapi juga karena volume produksi kedua perusahaan akan tumbuh dibanding realisasi 2025 kemarin. Nah, di luar itu maka masih ada satu saham lagi yang juga bisa dipertimbangkan: Peabody Energy Corp. (BTU), dan berikut analisanya.

***

Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disiniGratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.

***

Peabody Energy Corp merupakan perusahaan batubara asal Chicago, Illinois, US, dengan 18 lokasi tambang yang tersebar US, dan Australia, yang memproduksi empat jenis batubara: 1. Batubara termal Australia, 2. Batubara metalurgi Australia, 3. Batubara termal US, dan 4. Batubara powder river basin (PRB) US, yang juga masuk kategori termal namun dengan kalori lebih rendah, dan alhasil harga jualnya juga lebih murah. BTU mencatat volume penjualan 122 juta ton di tahun 2025, yang menjadikannya coal miner terbesar di US. Perusahaan mencatat adjusted EBITDA $525 juta untuk tahun penuh 2025, dimana $56 juta atau 10.6% diantaranya berasal dari penjualan batubara metalurgi, dan selebihnya dari batubara termal untuk pembangkit listrik. Sehingga, berbeda dengan HCC dan AMR yang lebih banyak memproduksi batubara metalurgi, maka BTU lebih bisa disebut sebagai perusahaan batubara termal, yang akan secara langsung diuntungkan jika harga batubara naik (https://tradingeconomics.com/commodity/coal) karena imbas kenaikan harga minyak dunia, yang disebabkan oleh situasi perang Iran – Amerika Serikat.

Kemudian, seperti perusahaan batubara lain pada umumnya, kinerja keuangan BTU mencetak rekor laba bersih $1.3 miliar pada tahun 2022 lalu ketika harga batubara sempat meroket sampai $400 ton, imbas dari Perang Rusia – Ukraina ketika itu, tapi setelah itu terus turun hingga mencatat rugi -$53 juta di tahun penuh 2025, karena di sisi lain perusahaan sengaja tidak menaikkan volume produksinya untuk mencegah situasi oversupply batubara dunia. Di atas disebut bahwa BTU menjual 122 juta ton batubara di 2025, naik dibanding 118 juta ton di 2024, tapi masih lebih rendah dibanding 124 juta ton di 2022. Termasuk untuk tahun 2026, maka guidance untuk volume produksi masih terbilang flat di rentang 117.5 – 126.5 juta ton.

Nah, tapi disinilah menariknya: Dalam beberapa tahun terakhir BTU mengembangkan lokasi tambang baru dengan nama Centurion Mine di Queensland, Australia, dimana tambang tersebut akhirnya resmi beroperasi di bulan Februari 2026 kemarin, dan diproyeksi akan menghasilkan 3.5 juta ton batubara metalurgi di sepanjang 2026. Alhasil BTU secara keseluruhan akan memproduksi 10.3 – 11.3 juta ton batubara metalurgi di tahun 2026, naik dari 8.6 juta ton di 2025, dimana harga jual serta margin laba dari batubara metalurgi ini jauh lebih tinggi dibanding batubara termal. Yang itu artinya, meskipun volume produksi BTU secara keseluruhan masih akan stagnan, tapi komposisinya berubah dimana porsi batubara metalurgi akan lebih besar, dan alhasil pendapatan serta laba bersih perusahaan tetap akan tumbuh signifikan. Jika harga batubara termal lanjut naik ke $150, sedangkan batubara metalurgi $300 per ton, maka penulis perkirakan BTU akan mencetak laba $400 – 500 juta di 2026, lebih tinggi dibanding $370 juta di 2024, karena untuk 2026 ini perusahaan menjual batubara metalurgi dalam porsi yang lebih besar.

Dan pada titik ini anda mungkin akan berpikir: Jika BTU dianggap menarik karena akan memproduksi batubara metalurgi lebih banyak, maka kenapa tidak fokus di HCC atau AMR saja, yang hampir seluruh produksinya sejak awal sudah merupakan batubara metalurgi? Dan jawabannya adalah, justru karena BTU lebih banyak jualan batubara termal, dan untuk 2026 nanti juga porsi batubara termalnya masih akan lebih besar dibanding metalurgi (diatas disebut bahwa 10.6% laba adjusted EBITDA BTU berasal dari metalurgi, dan unuk 2026 ini angkanya mungkin akan naik menjadi 20%). Perhatikan: Ketika kemarin pecah perang Iran vs Amerika, maka semua orang sudah bisa memprediksi bahwa harga minyak akan naik, dan memang crude oil saat ini sudah di level $72, dari minggu lalu di $62 per barel (https://tradingeconomics.com/commodity/crude-oil). Tapi tidak hanya minyak: Harga gas alam (natural gas) juga ikut naik terutama di pasar Eropa, yang sangat tergantung dengan pasokan gas dari Qatar, sedangkan Qatar sudah tidak bisa lagi mengirim gas lagi karena jalur kapal Selat Hormuz (Hormuz Strait) di Iran ditutup. Alhasil konsumen beralih ke United Kingdom Natural Gas, dan juga German Gas, dimana harga keduanya langsung melejit. Bisa cek disini UK gas (https://tradingeconomics.com/commodity/uk-natural-gas), dan German Gas (https://tradingeconomics.com/commodity/germany-natural-gas-the).

Kemudian, natural gas biasanya digunakan untuk penghangat ruangan dan pembangkit listrik, dimana per akhir 2025, diperkirakan sekitar 23% pembangkit listrik di seluruh dunia menggunakan bahan bakar gas. Nah, jika harga gas naik sangat tinggi, maka pembangkit listrik akan pindah ke batubara yang lebih murah, dan alhasil harga batubara (termal) akan ikut naik.

Sedangkan untuk batubara metalurgi, maka itu tidak digunakan untuk pembangkit listrik melainkan untuk bahan bakar smelter terutama smelter peleburan baja, dan alhasil harganya sedikit banyak turut dipengaruhi oleh harga baja (cek disini: https://tradingeconomics.com/commodity/steel), yang sampai saat ini masih rendah karena lesunya sektor konstruksi dan properti di China yang merupakan konsumen terbesar baja itu sendiri. Penulis sendiri percaya bahwa jika harga batubara termal naik karena cerita Perang Iran tadi, maka harga batubara metalurgi juga akan menyusul naik sama seperti tahun 2022 lalu, mengingat batubara metalurgi tidak hanya digunakan untuk smelter baja tapi juga smelter logam lainnya, seperti tembaga, timah dan nikel, dimana harga ketiganya naik karena booming pembangunan data center untuk AI. Tapi mungkin akan terjadi delay dimana batubara termal naik duluan, lalu baru batubara metalurgi menyusul beberapa minggu kemudian. Yang itu artinya saham BTU akan naik lebih awal, lalu baru HCC dan AMR menyusul, itupun kalau tidak ada berita 'Pertumbuhan Ekonomi China Melambat', atau semacamnya. Dan memang BTU sejauh ini sudah naik +13% secara year to date (YTD), sedangkan HCC justru turun -7%, dan AMR -17% YTD. Secara momentum ketiganya masih dalam tren naik dalam setahun terakhir, tapi secara sentimen jangka pendek (Perang Irak vs Amerika) maka BTU mungkin akan naik lebih cepat.

Kemudian, dengan PB hanya 1.1x pada harga saham $33.63, maka meskipun sudah naik banyak tapi valuasi BTU jelas masih terdiskon, dengan target sekitar $50 – 60 jika harga batubara termal/metalurgi lanjut naik, dan jika perusahaan juga mampu merealisasikan guidance-nya diatas. Sehingga kesimpulannya, yep, untuk tujuan diversifikasi maka, selain HCC dan AMR, anda bisa juga beli BTU ini untuk menambah koleksi saham batubara di portofolio US Stocks, lalu lihat progress-nya dalam waktu enam hingga dua belas bulan dari sekarang.

***

Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disiniGratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q4 2025 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 28 Februari

Cara Profit Maksimal Dari Investasi Emas

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI