Prospek US Stocks di Bidang Batubara - Update
Setahun lalu, persisnya pada 15 Januari 2025, kita sudah membahas prospek US stocks di bidang batubara, yakni Warrior Met Coal, Inc. (HCC), dimana penulis katakan bahwa HCC ini menarik karena: 1. Harga batubara terutama jenis batubara metalurgi (coking coal) berpeluang untuk naik, dan HCC ini memang spesialis memproduksi coking coal, 2. Volume produksi HCC naik terus dari tahun ke tahun, dan akan naik lebih banyak lagi di tahun 2026 ketika lokasi tambang ketiganya di Blue Creek, Alabama, sudah resmi beroperasi, 3. Valuasi sahamnya tergolong murah di $54 dengan trailing PE 7.4x, dan PB 1.3x. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
***
Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disini. Gratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.
***
Nah, jadi setelah setahun lebih, bagaimana perkembangannya hari ini? And here we go. Pertama, harga coking coal benar naik dari setahun lalu $190 menjadi saat ini $218 per ton (cek disini: https://tradingeconomics.com/commodity/coking-coal), dan demikian pula harga batubara termal naik dari setahun lalu $110 menjadi saat ini $128 per ton (cek disini: https://tradingeconomics.com/commodity/coal). Kedua, Tambang Blue Creek sudah beroperasi sejak Oktober 2025, lebih cepat delapan bulan dari jadwal, dan alhasil HCC memproduksi 10.2 juta ton batubara metalurgi, sukses naik 24% dibanding 2024, dan, berdasarkan guidance perusahaan, akan naik lagi menjadi 12.5 – 13.5 juta ton di 2026. Ketiga, dengan mempertimbangkan potensi kenaikan harga jual, potensi kenaikan volume produksi, dan penurunan capital expenditure untuk Tambang Blue Creek (karena konstruksi tambangnya sudah selesai), konsensus analis menyebut bahwa HCC akan mencetak pendapatan $2.1 miliar di 2026, naik 61% dibanding realisasi pendapatan di 2025 sebesar $1.3 miliar.
Sehingga, meskipun saham HCC juga memang sudah naik dari $54 ke posisinya saat ini di $81, tapi dengan forward PE 13.4x dan PB 2.0x, maka valuasinya belum bisa dikatakan mahal. Kemudian kalau melihat situasi perang Iran vs Amerika Serikat dimana itu menyebabkan kenaikan harga minyak dan gas, maka biasanya harga batubara juga akan menyusul naik. Sebelumnya, penulis katakan disini bahwa harga batubara termal akan naik ke sekitar $150 per ton karena booming artificial intelligence (AI) yang membutuhkan energi listrik terus menerus untuk mengoperasikan data center untuk menghasilkan AI tersebut, yang kemudian memaksa Pemerintah di banyak negara maju untuk menunda mempensiunkan PLTU batubara, dan alhasil permintaan akan batubara kembali meningkat. Nah, tapi dengan perkembangan situasi perang ini maka harga batubara kemungkinan akan naik lebih tinggi dari itu, dan ini karena sekitar 23% pembangkit listrik di seluruh dunia masih menggunakan bahan bakar gas, dimana mereka akan beralih ke batubara jika harga gas terus naik, dan itu akan membuat harga batubara juga ikut naik.
Jadi jika di sisi lain HCC di tahun 2026 ini sukses mencapai guidance volume produksinya diatas, maka realisasi pendapatan akan lebih tinggi dari sekedar $2.1 miliar, dan sahamnya on the way ke targetnya di $150.
Pilihan Kedua: Alpha Metallurgical Resources, Inc. (AMR)
Selain HCC, penulis juga menemukan satu saham batubara yang juga bisa dipertimbangkan untuk dibeli sebagai diversifikasi, yakni Alpha Metallurgical Resources, Inc. (AMR). AMR adalah perusahaan coking coal terbesar di Amerika Serikat dari sisi volume penjualan, dalam hal ini sebesar 14.1 juta ton di tahun 2025, atau 15.3 juta ton jika ikut menghitung volume penjualan batubara termal yang juga diproduksi oleh perusahaan. Per akhir 2025, perusahaan memiliki setidaknya 19 lokasi tambang, 8 fasilitas pengolahan dan pengiriman batubara, 1 pelabuhan, dan 1 terminal ekspor yang tersebar di dua US states, yakni Virginia, dan West Virginia. However berbeda dengan HCC, volume produksi AMR cenderung turun dari 16.2 juta ton di 2021, menjadi 15.0 juta ton di 2025. Dan ini adalah karena manajemen dalam beberapa tahun terakhir lebih fokus ke restrukturisasi keuangan perusahaan, mengingat AMR, yang dulu bernama Alpha Natural Resources, pada tahun 2017 lalu sempat bangkrut dan meninggalkan banyak utang, sebelum kemudian pada 2018 kembali bangkit dengan cara merger dengan perusahaan dengan nama Contura Energy, dan perusahaan baru hasil merger diberi nama Alpha Metallurgical Resources, Inc. (AMR). Hingga pada tahun 2021, AMR memiliki total aset $1.9 miliar dengan total liabilitas masih mencapai $1.3 miliar, dan ekuitas hanya 546 juta. Dan karena utang yang besar itu pula, maka setiap kali harga batubara turun, kinerja AMR turun lebih dalam dibanding perusahaan batubara lainnya, karena tak peduli berapapun pendapatannya, namun perusahaan tetap harus membayar beban bunga utang-utangnya.
Nah, tapi sekarang mari kita lihat lagi posisi keuangan terbaru perusahaan: Per akhir 2025, AMR mencatat total aset $2.3 miliar, liabilitas $735 juta, dan ekuitas $1.5 miliar. Kemudian meski perusahaan menderita rugi -$62 juta di sepanjang 2025, turun dibanding laba $188 juta di 2024, imbas dari penurunan volume penjualan (dari 17.1 menjadi 1.53 juta ton) sekaligus penurunan rata-rata harga jual (dari $143 menjadi $117 per ton, dimana harga batubara di 2025 kemarin memang sedang rendah-rendahnya), namun outlook-nya untuk 2026 ini sangat baik, sebagai berikut. Pertama, guidance volume produksi 15.1 – 16.5 juta ton, ambil tengahnya 15.8 juta ton, naik dibanding realisasi 1.51 juta ton di tahun 2025. Dan kedua, terlepas dari apakah harga batubara akan lanjut naik atau turun, tapi untuk 2026 ini perusahaan sudah mengamankan kontrak penjualan 6.3 juta ton batubara, atau sekitar 40% dari total volume produksi, pada harga rata-rata $127 per ton, naik dibanding rata-rata $117 per ton di tahun 2025. Ketiga, berdasarkan proyeksi kenaikan volume penjualan serta kenaikan harga jual batubara, konsensus analis memprediksi earnings per share (EPS) AMR sebesar $19.49 untuk 2026, membaik signifikan dibanding -$4.42 di tahun 2025.
Meski demikian, kalau dibandingkan dengan HCC di atas maka AMR ini jelas masih kurang menarik, tapi masih ada dua poin penting lagi. Pertama, perusahaan sudah sejak tahun 2022 lalu melakukan buyback 6.9 juta lembar sahamnya sendiri di market senilai total $1.1 miliar, pada harga rata-rata $165.89 per saham, alias tidak jauh berbeda dengan harga saham AMR saat ini yakni $168. Dan kedua, aksi buyback tersebut menyebabkan jumlah saham beredar perusahaan berkurang menjadi 12.7 juta lembar, tapi di sisi lain ekuitas AMR tetap tumbuh dari $500 juta di 2021 menjadi $1.5 miliar di 2025, dan alhasil valuasi sahamnya menjadi terdiskon dengan 1.3x, lebih murah dibanding HCC dengan PB 2.0x.
Simpelnya, meski HCC tampak lebih baik dari sisi prospek peningkatan kinerja pendapatan serta laba, tapi AMR lebih baik dari sisi valuasi serta ‘jaminan bahwa sahamnya tidak akan turun terlalu dalam’, karena jika itu terjadi maka perusahaan akan buyback dan alhasil sahamnya akan naik lagi.
Sehingga kesimpulannya, jika anda juga setuju bahwa prospek batubara
terbilang cerah di tahun 2025 ini, maka kita punya dua pilihan sahamnya disini yang
saling melengkapi yakni HCC untuk growth play, dan AMR untuk value
play. Jika HCC seperti disebut diatas bisa naik sampai $150, maka untuk AMR
dia bisa ke $300, tinggal tunggu harga batubara lanjut naik saja. Kita lihat
perkembangannya, satu tahun dari sekarang.
***
Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disini. Gratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.

Komentar