Sharing Pengalaman Kritis karena Covid, dan Pelajaran Sesudahnya

Semuanya berawal ketika ibu mertua saya mengeluh pusing pada 11 Juli 2021, dimana setelah dibawah ke dokter, disarankan untuk tes PCR karena gejala beliau mirip covid-19. Dan ternyata hasilnya positif. Besoknya tanggal 12 Juli, kami sekeluarga ikut tes PCR, dan hasilnya saya dan istri juga positif, tapi yang lainnya termasuk kedua anak kami negatif. Maka jadilah saya, istri, dan ibu mertua isolasi mandiri di rumah saya di Cimahi, sedangkan anak-anak dititip di rumah saudara. Di rumah, istri bertugas merawat ibundanya, sedangkan saya bertugas menjaga mereka berdua. Sebelumnya perlu diketahui bahwa istri saya sudah divaksin dua kali, sedangkan saya dan ibu mertua belum divaksin (saya sendiri sebenarnya waktu itu sudah mau divaksin, tapi saya batalkan karena memilih menunggu ketersediaan vaksin Astra-Zeneca atau Moderna, karena katanya Sinovac belum diakui di Eropa dan Amerika). Namun seperti halnya istri, saya juga tidak merasakan gejala apapun kecuali tenggorokan terasa agak gatal saja.

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal II 2021 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

***

Sehingga fokus perhatian kami adalah ke ibu mertua, terutama karena gejalanya sudah cukup berat sejak sebelum dinyatakan positif, termasuk membutuhkan oksigen secara terus menerus, bahkan satu malam bisa langsung habis 4 tabung, jadi besok paginya harus langsung diisi lagi. Beruntung kami memiliki supir yang selalu siap sedia membeli oksigen tersebut, yang meski kadang harus berputar-putar di Kota Bandung mencari tempat pengisian oksigen, tapi pada akhirnya kami selalu memperolehnya. Pada beberapa hari pertama, saya tetap tidak merasakan gejala apa-apa kecuali tenggorokan gatal, tapi istri mengeluh pusing dan demam. Sehingga untuk jaga-jaga, saya membeli sejumlah obat-obatan, parasetamol, dan multivitamin di apotek, termasuk untuk diri saya sendiri. However, meski kami sengaja mendatangkan dokter ke rumah untuk secara rutin memeriksa kondisi ibu mertua, dan alhasil beliau memperoleh obat-obatan seperti yang seharusnya, dan demikian pula istri penulis diperiksa oleh dokter yang sama, tapi penulis sendiri sama sekali tidak ikut diperiksa, dan juga tidak berencana pergi ke dokter atau rumah sakit.

Jadi berbeda dengan mereka berdua, penulis tidak memperoleh obat-obatan resep kecuali obat yang saya beli sendiri (seperti parasetamol). Namun saya cukup percaya diri bahwa setelah 14 hari, saya akan sembuh/negatif dengan sendirinya, terutama karena saya tidak punya penyakit bawaan, masih muda dan fit (35 tahun, sedangkan ibu mertua 60 tahun), dan beberapa paman dan bibi penulis sendiri di kampung halaman Cirebon sebelumnya sudah pernah kena Covid, tapi mereka juga tidak sampai dirawat dirumah sakit dan semuanya sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2 – 3 minggu.

Hingga pada hari ke-5, penulis mulai merasa pusing, dan mulai lebih banyak rebahan di kamar. Tapi jika saya minum satu tablet parasetamol maka pusingnya reda, sebelum beberapa waktu kemudian pusing itu timbul lagi, dan setelah saya minum parasetamol maka pusingnya reda lagi.

Namun pada hari ke-7 atau 8, parasetamol mulai tidak mempan meredakan pusing yang penulis alami, dan saya mulai mengalami panas demam, diiringi tidur yang tidak nyenyak, termasuk sering terbangun tengah malam karena bermimpi buruk. Kemudian ketika makan rasanya asin sekali, dan ketika saya mengoleskan Vicks Vaporub diatas bibir dibawah hidung, saya tidak mencium bau apapun. Namun pada titik ini saya masih bisa berdiri dari kasur, mandi, sholat seperti biasa, dan turun ke bawah untuk makan (selama isoman saya di lantai dua, sedangkan istri dan ibunya di lantai satu). Tapi jika bekerja menganalisa saham maka langsung kepala nyut-nyutan, dan harus rebahan agak lama sebelum kemudian bisa duduk di depan laptop lagi. Beberapa waktu kemudian, rasa makanan berubah dari asin menjadi pahit, dan saya mulai harus memaksakan diri untuk makan (karena saya baca, banyak makan itu membantu cepat sembuh dari covid).

Dan saya mulai sering demam hingga 39 derajat celcius sehingga harus berbaring di kasur seharian, termasuk sekarang istri harus mengantar makanan keatas karena saya tidak kuat lagi turun ke bawah. Malam harinya saya tidak bisa tidur (karena siangnya sudah tidur), dan mulai sering berhalusinasi. Jadi seperti saya bermimpi, padahal posisinya saya sadar/tidak sedang tidur. Dan halusinasinya mengingatkan saya dengan mimpi-mimpi buruk yang dulu saya alami waktu masih kecil (sekitar kelas 1 SD) dan sakit-sakitan. Misalnya, saya tiba-tiba merasa berada di tempat terbuka entah dimana, lalu dikejar-kejar oleh raksasa yang membawa batu sangat besar, dan batu itu dilempar hingga persis mengenai badan saya hingga hancur! Saat itulah saya akan tiba-tiba terbangun, lalu istighfar karena halusinasi itu terrasa amat sangat nyata. Saya juga mulai batuk-batuk, mual, dan muntah. Tapi sekali lagi, saya masih bisa mandi dll seperti biasa, jadi sampai dengan saat itu saya tetap tidak terpikir harus ke dokter atau ke rumah sakit.

Hingga pada Jumat malam Sabtu, 23 Juli, sekitar pukul 9 malam saya mencoba untuk tidur, namun perut rasanya kembung dan begah, seperti orang masuk angin. Saya kemudian keluar kamar, jalan kaki naik turun tangga hingga saya sendawa, sehingga angin didalam perut keluar. Saya juga berusaha buang angin, tapi tidak keluar sama sekali (hanya bisa sendawa saja). Setelah begahnya hilang, saya kembali berbaring untuk tidur, tapi tidak ada 5 menit kemudian, begah itu terasa lagi, yang memaksa saya untuk berdiri dan jalan kaki naik turun tangga lagi agar bisa sendawa. Dan demikian seterusnya dimana saya seperti dipaksa olahraga semalaman, karena kalau mencoba berbaring sebentar saja, perut langsung terasa amat sangat tidak nyaman. Sekitar jam 12 tengah malam, saya membangunkan istri, dan istri memberikan beberapa sachet Tolak Angin untuk saya minum, tapi tidak mempan. Istri membuat jahe panas, dan memberi saya beberapa obat-obatan, tapi juga tidak mempan. Malam itu kemudian menjadi malam paling menyiksa dalam hidup penulis karena perut terus saja terasa begah, saya tidak bisa tidur sama sekali, dan saya merasa sangat letih karena harus jalan kaki naik turun tangga semalaman hanya agar bisa sendawa.

Hingga paginya sekitar pukul 6, Sabtu 24 Juli, saya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, dan yang dituju adalah RS Kasih Bunda di Cimahi, tak jauh dari rumah saya yang juga di Cimahi. Anehnya begitu saya terkena sinar matahari pagi, begahnya hilang, dan yang saya rasakan hanya capek dan mengantuk saja. Tapi saya tetap pergi ke RS, dan disana saya dites PCR ulang, di rontgen paru-paru, dan diperiksa oleh dokter. Hasilnya, dokter mengatakan saya harus dirawat karena ada gejala pneumonia (radang paru-paru) level sedang. Saya kemudian diberikan banyak obat termasuk obat lambung, dipasang infus, dan dipindah ke kamar isolasi dimana disitu tersedia oksigen. Setelah berada di kamar isolasi tersebut, saya coba pasang oksigennya di hidung, dan rasanya nyaman sekali, termasuk saya bisa sendawa dan buang angin dengan lancar. Pada hari Sabtu tersebut, sekitar pukul 5 sore, saya tidur pulas dan baru bangun sekitar pukul 3 dini hari. Saya kemudian makan malam, dan lanjut meminum obat yang diberikan oleh perawat.

Pagi harinya, Minggu 25 Juli, dokter kembali datang untuk memeriksa, dan dia bilang bahwa kondisi saya sudah langsung membaik setelah dirawat sehari, jadi sudah tidak perlu pakai oksigen lagi, dan nanti hari Selasa harusnya saya sudah bisa pulang. Jadi sekarang tinggal lanjut minum obat-obatan saja. Saya sendiri sudah tidak merasa keluhan apa-apa lagi, termasuk begah dan sakit perut itu juga sudah hilang sama sekali.

Tapi masih di hari yang sama, sekitar pukul 4 sore setelah sholat ashar, badan saya mulai terasa panas, dan semakin panas tanpa mereda sedikitpun, dan saya terpaksa sholat magrib sambil berbaring karena tidak kuat lagi berdiri. Saya kemudian mencoba tidur, tapi tidak bisa karena badan benar-benar terasa sangat panas, jika dicek suhunya mungkin lebih dari 40 derajat. Sekitar pukul 7 petang saya whatsapp dokter, dan ia bilang itu gejala yang normal, tapi saya tetap merasa bahwa demam ini tidak seperti yang saya alami beberapa hari sebelumnya. Saya merasa sangat tersiksa ketika itu. Pukul 9 malam, saya kembali pasang oksigen namun itu tidak membuat saya merasa lebih nyaman, jadi saya menekan tombol darurat untuk memanggil perawat jaga, namun mereka tidak langsung datang. Pukul 10 malam, saya mulai berhalusinasi lagi, kedua tangan mati rasa dan membiru, termasuk kedua kaki saya juga mati rasa, tapi saya tetap sadar/tidak tidur ataupun pingsan, dan demam yang saya rasakan tetap tidak mereda sama sekali. Pada titik ini, jujur saja, penulis mulai menulis surat wasiat di ponsel dengan harapan nanti dibaca oleh keluarga. Tapi karena tidak mau membuat khawatir, maka penulis tidak menelpon/memberitahukan kondisi saya tersebut ke istri ataupun anggota keluarga yang lain. Penulis hanya menginfokan dokter dan perawat RS saja.

Hingga pukul 11 malam, perawat akhirnya tiba, dan saya langsung diberikan obat untuk diminum dan obat lainnya yang dimasukkan lewat infus, dan mulai demamnya mereda. Pada waktu yang sama, saya dibawa ke ruang rontgen untuk dicek paru-paru lagi, dan diambil darah untuk cek D-Dimer dll. Ketika penulis diambil darah, saya bisa melihat bahwa darahnya sangat kental dan warnanya tidak seperti biasanya (hitam pekat). Tapi setelah diberikan obat-obatan, saya merasa lebih nyaman, meski tetap malam itu saya tidak bisa tidur. Besok paginya Senin 26 Juli, dokter kembali datang menjenguk, dan kali ini beliau bilang: Saya terkena badai sitokin, yakni inflamasi atau peradangan di hampir seluruh organ penting seperti paru-paru, jantung, lambung, hingga ginjal. Dokter kemudian meminta saya menghubungi keluarga atau siapapun untuk mencari dua jenis obat: Actemra, dan plasma konvalesen. Actemra berfungsi meredakan badai sitokin tadi, sedangkan plasma akan meningkatkan imunitas tubuh untuk melawan virusnya. Beruntung saya memperoleh obat Actemra dari salah seorang alumni seminar yang kebetulan bekerja di perusahaan distributor obat Actemra tersebut di Jakarta, dan pada harga yang normal (Rp12 juta per dosis, sedangkan banyak orang yang menawarkan di harga yang mencapai Rp175 juta per dosis). Sedangkan untuk plasma, penulis memperolehnya dari saudara sepupu di Cirebon yang bekerja di PMI Cirebon, dan langsung dikirim ke Cimahi. Masih di hari Senin tersebut, malamnya sekitar pukul 9, dua dosis obat Actemra sudah sampai di RS dan langsung satu dosis dimasukkan lewat infus. Dan efeknya langsung terasa dimana penulis merasa lebih nyaman, dan malam itu bisa tidur nyenyak lagi.

Kemudian selain dua obat tersebut, penulis juga memperoleh obat dengan nama secretome, yang setelah konsul dengan dokter, ia bilang bahwa boleh juga secretome itu sebagai pengganti plasma. Jadi pagi harinya, Selasa 27 Juli sekitar pukul 9 pagi, bersamaan dengan jadwal visit dokter, saya disuntik secretome. Disinilah musibah itu terjadi: Tidak ada lima menit setelah secretome masuk, saya batuk-batuk parah sekali, lalu ketika dicek saturasi anjlok hingga tinggal 60-an, tensi darah naik sampai diatas 200, dan detak jantung mencapai 120 per menit. Dokter langsung pasang kondisi darurat dimana badan saya dipasang alat-alat yang mengecek kondisi saya setiap saat, dan saya langsung pasang masker oksigen (sebelumnya hanya pipa kecil ke hidung saja, tapi sekarang diganti masker yang menutup seluruh hidung dan mulut). Siangnya jam 12, saya disuntik (lewat infus) actemra dosis kedua, dan saya kembali merasa enakan, tapi tetap batuk-batuk tidak berhenti, tensi tetap tinggi, tangan membiru, dan saturasi tidak mau naik lebih dari 80-an. Secara keseluruhan saya merasa sangat lemah, dan hanya bisa berbaring saja. Pukul 2 siang, dokter meeting dengan istri dan kakak saya via zoom, dan ia mengatakan bahwa kondisi penulis masih level sedang tapi mulai menuju berat/kritis, dan untuk mencegah kemungkinan terburuk maka saya harus dipindah ke rumah sakit lain yang punya fasilitas ICU. Dan Alhamdulillah kami memperoleh satu ruang ICU di RS Dustira, Cimahi, tidak jauh dari RS Kasih Bunda tempat saya dirawat.

Tapi pada titik inilah istri penulis sendiri merasakan tekanan mental dan ketakutan yang luar biasa, karena salah satu syarat agar saya bisa masuk ICU adalah keluarga harus menandatangani surat perjanjian yang menyatakan setuju poin-poin yang boleh dibilang mengerikan! Seperti saya tidak boleh dijenguk sama sekali, dan kalau misalnya saya sampai meninggal dunia, maka seluruh badan saya harus dibungkus plastik dan dimasukkan ke peti kayu, kemudian dikubur di tempat yang sudah ditentukan, dan hanya bisa dikunjungi setelah liang kuburnya ditimbun tanah. Dan memang istri tidak sanggup ttd, sehingga yang melakukannya adalah kakak penulis. Maka jadilah malam itu juga, tanggal 27 Juli, saya dipindah ke ICU RS Dustira.

Untungnya, ruangan ICU itu tidak semenakutkan seperti yang saya lihat di internet, dan saya tidak merasakan perbedaan signifikan dibanding dengan ketika saya dirawat di ruang biasa, kecuali sekujur badan saya dipasang berbagai macam alat untuk memonitor kondisi, harus pakai pampers (karena sekedar ke toilet saja sudah gak sanggup), dan semua lampu selalu menyala terang sehingga saya merasa silau dan gak bisa tidur. Tapi saya masih diperbolehkan memegang ponsel jadi bisa tetap komunikasi dengan keluarga, dan gak sampai pasang ventilator melainkan masker oksigen saja. Malam itu juga kondisi saya dicek lagi secara keseluruhan dari awal, dan baru ketahuan kalau saya ada alergi obat, yang menjelaskan kenapa secretome tadi bukannya membuat kondisi saya membaik tapi justru semakin parah. Saya kemudian diberikan banyak obat yang saya lihat berbeda dengan obat yang saya terima di RS Kasih Bunda, dan diinfus di kedua tangan kanan dan kiri. Dan setelah itu saya merasa cukup nyaman, tapi tetap tidak bisa tidur karena silau.

Besok paginya, Rabu 28 Juli, saya diberikan plasma lewat infus, dan kembali saya merasa lebih nyaman, meski tetap tidak bisa lepas oksigen sama sekali. Tapi malam itu saya bisa tidur nyenyak meskipun silau (selama ini kalau dirumah, saya harus mematikan semua lampu, baru bisa tidur).

Hari Kamisnya, 29 Juli, saya sudah bisa mengobrol dan bercanda dengan para perawat yang jumlahnya lebih banyak dibanding ketika saya masih dirawat di RS Kasih Bunda, dan masker oksigen diganti dengan selang yang lebih kecil. Tapi ketika saya mencoba untuk berdiri dari tempat tidur untuk ganti pampers maka langsung rasanya pusing dan sesak sekali, padahal masih pakai oksigen. Alhasil untuk ganti pampers pun, saya harus minta bantuan perawat, yang untungnya sangat sigap. Setelah itu saya hanya berbaring saja sampai tidur di malam hari, tapi sudah tidak batuk, pusing, ataupun demam lagi. Besoknya, Jumat 30 Juli, dokter melakukan kunjungan (dokternya beda dengan yang di RS Kasih Bunda), sekaligus melaporkan kondisi terbaru saya yang katanya sudah jauh lebih baik dibanding ketika pertama kali masuk ICU (selama di ICU, saya tiap hari dicek tensi, saturasi, dan diambil darah), dan ia bilang bahwa kalau besok kondisi saya tetap seperti itu, maka saya bisa pindah ke ruangan biasa. Pada Sabtu 30 Juli, saya ditelpon oleh dokter (melalui telepon RS yang ada di samping tempat tidur), dan ia bilang saya hari itu sudah bisa pindah ke ruang biasa. Saya kemudian mencoba lepas oksigen, dan ternyata saya bisa bernafas dengan normal meskipun masih agak sesak. Sore itu saya kemudian duduk di kursi roda yang didorong oleh perawat untuk pindah dari ICU ke kamar isolasi covid, di rumah sakit yang sama (RS Dustira).

Foto saya di ruang ICU ketika sudah melewati masa kritis, tapi belum bisa bangun dari tempat tidur.

Dan di hari pertama saya di ruangan biasa, saya merasa sesak nafas dimana meski disitu juga ada oksigen, tapi rasanya tidak sama seperti oksigen di ruang ICU (mungkin kadar oksigennya beda?), dan kesulitan untuk tidur karena kasurnya juga dibungkus plastik gitu. Besoknya, Minggu 1 Agustus, istri penulis mengirim bed cover dan buah-buahan untuk saya makan, dan barulah malamnya saya bisa tidur sangat nyenyak setelah bisa beradaptasi dengan masker oksigen yang baru. Pada hari Senin, 2 Agustus, saya sudah tidak merasakan gejala apa-apa lagi, dan sudah bisa ke toilet tanpa pakai oksigen, namun sekembalinya dari toilet itu langsung nafas sesak dan jantung berdetak kencang, yang baru mereda setelah saya berbaring di kasur, dan memasang oksigen. Setiap hari perawat rutin cek tensi dan saturasi, termasuk rekam jantung, tapi tidak lagi cek darah. Setiap hari pula saya diberikan obat yang diminum tiga kali sehari setelah makan, obat yang dimasukkan lewat infus (katanya obat lambung dan antibiotik), dan obat yang disuntik ke perut (pengencer darah).

Hingga hari Kamis, 5 Agustus, selain cek tensi dll, saya kembali dicek darah, dan tes PCR. Dan ternyata hasilnya saya masih positif covid dengan CT 27, namun dokter bilang bahwa kondisi saya secara klinis sudah pulih dan sudah bisa pulang untuk lanjut isoman selama 14 hari, dan saya diberikan obat untuk 14 hari tersebut. Maka jadilah tanggal 5 Agustus tersebut, setelah 12 hari dirawat di RS termasuk 4 hari masuk ICU, dan sempat dua kali mengalami kondisi kritis (atau tiga kali, jika kondisi saya yang tidak bisa tidur karena perut begah ketika isoman di rumah ikut dihitung), saya akhirnya pulang ke rumah. Selama isoman di rumah, saya masih sesekali batuk, sesak nafas, pusing, keringat dingin, dan masih sesekali harus pakai tabung oksigen, tapi minimal sudah bisa mandi air hangat (pernahkah anda tidak mandi sama sekali selama 12 hari?? Saya pernah), sudah bisa sholat berdiri, bisa berjemur tiap pagi, dan sudah bisa makan enak lagi (makanan mulai ada rasanya sejak saya pulang dari RS, dan hidung saya kembali bisa mencium bau-bauan). Alhasil berat badan saya yang sebelumnya drop langsung naik lagi. Kemudian dari hari ke hari kondisi saya terus membaik, hingga akhirnya pada tanggal 19 Agustus saya tes PCR sekali lagi, dan kali ini hasilnya negatif. Sedangkan istri dan ibu mertua sudah negatif lebih dulu, dan kondisi mereka juga sudah pulih sama sekali. Alhamdulillah.

Perjuangan Antara Hidup dan Mati

Sebelum pandemi, saya dan keluarga memiliki hidup yang nyaris sempurna. Sebagai investor dan blogger, saya hanya perlu bekerja rata-rata 2 – 3 jam sehari, sehingga saya punya banyak waktu untuk antar jemput anak ke sekolah, mengajak mereka main ke taman bermain, dan di akhir pekan family time dengan berkunjung ke tempat wisata yang jumlahnya sangat banyak di Kota Bandung dan sekitarnya, atau makan es krim di mall, hingga menginap di hotel dan berenang. Selain itu saya juga rutin pergi jalan-jalan sendiri (atau bersama teman) termasuk untuk roadtrip, entah itu di Indonesia atau diluar negeri, dan rutin pulang ke Cirebon untuk mengajak ibu belanja gamis dan kerudung. Dan kalau saya lagi bosan jalan-jalan, maka saya kemudian mengisi kelas investasi di kampus-kampus, atau nge-gym. In the meantime, aset saya di pasar saham terus bertumbuh dengan sendirinya.

Tapi semuanya berubah di tahun 2020: Anak-anak kami tidak lagi sekolah, sehingga tidak hanya saya tidak bisa lagi antar jemput mereka, tapi sekarang harus ikut mengajari mereka di rumah, karena seringkali gurunya cuma kasih PR saja. Kemudian family time juga sudah tidak bisa lagi, karena mall, restoran, tempat wisata semuanya ditutup, atau kalaupun dibuka maka dengan batasan-batasan protokol kesehatan yang bikin repot karena ribet banget. Mau nge-gym? Tempatnya tutup! Dan olahraga di rumah jelas tidak sama rasanya dengan olahraga bareng teman-teman di tempat gym. Jalan-jalan keluar negeri praktis gak bisa, termasuk penulis juga harus batal pergi ke Omaha, Nebraska, Amerika Serikat pada Mei 2020 lalu untuk menghadiri Berkshire Hathaway Annual Meeting, karena ketika itu seluruh dunia sedang lockdown. Kemudian penulis tidak lagi bisa bikin kelas tatap muka, dimana terus terang saja, kelas online lewat zoom itu rasanya nggak enak banget karena kita duduk di depan laptop, bukan di depan audiens langsung sehingga kita tidak bisa full berinteraksi dengan peserta. Dan bahkan untuk sekedar ke Cirebon saja, maka terkadang itu tidak bisa karena dilarang oleh Pemerintah, dan itu tentu saja membuat saya khawatir karena bagaimana kalau sewaktu-waktu orang tua saya sakit, sedangkan saya tidak bisa menjenguk karena sedang PPKM?? Belum lagi harus banyak keluar duit buat tes antigen, PCR dll yang biayanya sangat mahal itu, plus rasanya sakit karena hidung harus dicolok, setiap kali penulis hendak keluar kota naik pesawat.

Dan.. ketika kondisi diatas terus saja berlarut-larut sampai hampir dua tahun, maka tentu saja penulis jadi stress, terutama karena saya khawatir akan masa depan anak-anak. I mean ketika saya kecil dulu maka mau krisis separah apa, tapi saya tetap bisa sekolah dan berinteraksi sosial, tapi anak-anak sekarang seperti dipaksa menjadi introvert, individualistis, dan kecanduan gadget, dan siapa yang tahu akan seperti apa dampaknya ketika mereka dewasa nanti?? Saya tidak pernah lagi merasa menikmati hidup, sering merasa depresi (albeit untungnya masih bisa tetap fokus cari cuan seperti biasa), dan berat badan naik karena satu-satunya hiburan yang tersisa hanyalah makan.

Hingga akhirnya kemarin saya kena juga covid (padahal kami sekeluarga sangat ketat menerapkan prokes, dan saya gak pernah keluar rumah tanpa masker), dan saya ternyata dapat tiket ‘gejala berat’ dimana tidak hanya satu kali, tapi saya sampai dua kali kritis. Tapi penulis tentu saja masih sangat beruntung dibanding pasien-pasien lainnya yang sampai meninggal dunia, padahal mereka juga masih muda, dan punya anak-anak yang masih kecil. Jadi pada titik ini, semua stress dan depresi itu mendadak hilang sama sekali, dan yang tersisa sekarang adalah optimisme! I mean, betul sampai hari ini pandemi masih ada, dan kehidupan juga masih belum kembali normal seperti dulu. Tapi paling tidak saya dan keluarga tidak sampai meninggal dunia melainkan semuanya masih hidup dan sehat, dan toh pada akhirnya nanti pandemi ini akan berakhir juga. Sehingga suatu hari nanti penulis akan bisa kembali family time dengan keluarga, mengantar anak-anak sekolah dll, cuma soal waktu saja! Nah, jadi kenapa kamu tidak bersyukur karena masih diberi kesempatan???

Anyway, dalam kesempatan ini penulis hendak mengucapkan terima kasih kepada RS Kasih Bunda, RS Dustira, Dokter Andreas Jonathan, dokter-dokter lain yang saya tidak tahu namanya, segenap tenaga kesehatan (you’re the best!), Kementerian Kesehatan yang menanggung biaya selama saya dirawat di RS Dustira (meskipun kami sebenarnya mampu biaya mandiri), kakak saya yang meninggalkan tokonya lalu bolak balik Cirebon – Cimahi demi mengurus adiknya yang sakit, istri saya yang tetap tegar dan optimis, dan semua sahabat-sahabat saya pembaca TeguhHidayat.com yang banyak memberikan dukungan moril dan juga banyak mengirim makanan, suplemen dll untuk saya konsumsi. Inshaa Allah kebaikan anda semua akan dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Untuk kedepannya, saya akan memanfaatkan kesempatan ‘hidup kedua’ ini untuk berkarya semaksimal mungkin sesuai bidang saya di pasar saham, lebih banyak berdoa dan bersyukur, dan saya tidak akan lagi mengeluh ‘hidup susah’ karena nyatanya itu masih lebih baik dibanding tidak hidup. Semoga kita semua akan mampu melewati masa-masa pandemi ini dengan baik, dan setelah itu kita akan memiliki kehidupan yang bahkan lebih baik lagi dibanding sebelum pandemi dulu, inshaa Allah!

Untuk minggu depan kita akan membahas tentang isu tapering di Amerika Serikat, dan dampaknya terhadap Indonesia.

***

Ebook Market Planning edisi September 2021 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, dan update strategi investasi bulanan akan terbit tanggal 1 September mendatang. Anda bisa memperolehnya disini. gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

Dapatkan postingan via email

Komentar

Kanca Lawas mengatakan…
Alhamdulillah pak. Senang melihat bapak sudah sehat kembali.
Anonim mengatakan…
Terimakasih Bang Teguh, terutama pada bagian ‘hidup susah’. Luar biasa.
Jamiat Khier Putra mengatakan…
Alhamdulillah terikasih sdh menularkan optimisme nya Mas Teguh
christian mengatakan…
sektor batu bara bos... ITMG ... :D
tya-tieria mengatakan…
bahas saham batubara yang ga kemana mana pak padahal harga batubara naek trus
GOPATTY mengatakan…
Ikut beesyukur atas kesembuhan pak Teguh..semoga sehat selalu

Anonim mengatakan…
Penulisan Pak Teguh tercermin ada semangat untuk menolong sesama. Dlm kasus ini dirinci bagaimana keluhan dari awal sampai dengan obat-obatan yg digunakan dlm proses penyembuhan. Jadi bukan hanya cerita tapi juga sekaligus ada keinginan utk membantu bila ada yg kena covid dan terakhir membantu kita semua untuk selalu belajar bersyukur. Itu the most important thing in this life. Terima kasih Pak Teguh. Salam
Muzakkir Daud Hamzah mengatakan…
ALHAMDULILLAH Pak Teguh sudah sehat walfiat kembali, dan tulisannya sangat bernas serta bermanfaat untuk kita semua, Kalau ada Seminar kelas Khusus Bahas Saham Syariah saya INSYAA ALLAH Ingin ikutan, karena saya hanya bertransaksi di Saham Syariah,
Semoga Pak Teguh beserta Keluarga senantiasa selalu dalam Limpahan Petunjuk, Hidayah, Rahmat, Rizqi, Barokah, Pertolongan, Perlindungan, Kasih sayang, Keselamatan, Kesejahteraan, Kemuliaan Kebahagiaan, Bimbinghan serta Ridho dari ALLAH SUBHANAHU WATAƁLA,
SEHAT WALAFIAT, SELAMAT SEJAHTERA, SUKSES MULIA SERTA BAHAGIA LAHIR BATIN DUNIA DAN AKHIRAT
BARAKALLAHU FIIKUM JAZAKUMULLAHA KHAIRAN KATSIRA
Indra mengatakan…
Alhamdulillah, sehat sehat terus pa teguh
La pulga mengatakan…
Iya ya...seringkali kita kurang bersyukur.Padahal kondisi kita sehat..dan masih bisa makan..padahal lagi masih banyak orang diluar yang tidak seberuntung kita. Seringkali kita mencari 1001 alasan untuk mengeluh...padahal ada ribuan alasan untuk bersyukur...

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Live Webinar Value Investing, Sabtu 25 September 2021

Ebook Investment Planning Kuartal II 2021 - Sudah Terbit!

Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Aneka Tambang (ANTM)

Sekilas Mengenai Suspensi Saham

Telkom