IHSG Sudah Naik Lagi ke 7,500, Tapi Kenapa Saham Saya Masih Belum Naik?

Pak Teguh di ulasan bulan Maret bapak bilang IHSG bakal naik ke 7,500 – 8,000 di bulan April. Dan sore ini IHSG memang sudah di 7,500 pak, tapi kok BBCA masih di bawah 7,000 ya? Dan ada banyak lagi saham lainnya yang juga belum naik. Jadi setelah ini bagaimana?

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 18 April 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Jawab:

Betul pak, jadi pada ulasan tanggal 15 Maret kemarin ketika IHSG di 7,137 (per penutupan hari Jumat, 13 Maret), saya menyebut bahwa pada April atau paling lambat Mei nanti ketegangan di Timur Tengah kemungkinan akan mereda, dan pasar akan pulih/IHSG berbalik naik. Dan meski target kenaikannya hanya sampai 7,500 – 8,000 saja, tapi kali ini dengan kenaikan yang lebih sehat karena ditopang oleh kenaikan saham-saham fundamental, bukan lagi saham konglo. Bapak bisa baca lagi analisa lengkapnya disini.

Nah, jadi berhubung pada 13 April ini, IHSG memang sudah di 7,500an, maka berikut update analisanya. Pertama, pada ulasan di bulan Maret itu saya menyebut bahwa sentimen negatif dari Perang Iran – Amerika Serikat (US) turut menyeret IHSG untuk turun hingga ke posisi 7,000, sehingga jika nanti ada perkembangan yang bersifat positif dari Iran maka IHSG akan rebound, dan memang ‘perkembangan positif’ tersebut akhirnya terjadi pada tanggal 8 April kemarin, yakni ketika Presiden Trump menyatakan akan menunda serangan ke Iran hingga dua minggu ke depan (berarti sampai 22 April) dimana kedua belah pihak akan menggunakan jeda waktu dua minggu tersebut untuk negosiasi perdamaian (peace talk). Dan meskipun ini bukan berarti bahwa perangnya sudah berakhir, termasuk Selat Hormuz juga masih ditutup, tapi kesepakatan gencatan senjata itu sudah cukup untuk mendorong US stock market untuk rebound, dimana S&P 500 Index (SPX) naik 2.5% pada tanggal 8 April tersebut. Sedangkan IHSG? Juga terbang 4.4% di hari yang sama, yakni dari posisi 6,971 ke 7,279, sebelum kemudian lanjut naik sampai sekarang tembus 7,500.

Sehingga, kalau melihat timing-nya dimana IHSG rebound persis sejak tanggal 8 April, maka timbul kesan adalah bahwa pasar saham Indonesia kembali naik karena efek pengumuman gencatan senjata diatas. Nah, tapi sekarang kita lihat lagi saham-saham apa saja yang benar naik pada bulan April ini. Sebelumnya, ketika saya bulan Maret lalu menyebut bahwa IHSG akan naik ke 7,500 – 8,000 dan kali ini dengan kenaikan yang lebih sehat karena ditopang oleh kenaikan saham-saham fundamental dan bukan lagi saham konglo, maka sayangnya bukan itu yang terjadi. Karena kalau kita ambil Bank BCA (BBCA) sebagai perwakilan ‘saham fundamental’, dan Barito Renewables (BREN) sebagai perwakilan ‘saham konglo’, maka dihitung sejak tanggal 13 Maret, BBCA masih lanjut turun dari Rp6,875 ke Rp6,575. Sedangkan BREN? Meskipun sempat turun sampai Rp4,360 pada tanggal 6 April, tapi setelah itu dia naik hingga kembali tembus Rp6,075, atau naik total hampir 40% hanya dalam lima hari.

Jadi seperti yang bapak lihat, ketika sekarang IHSG naik lagi ke 7,500 maka penopangnya masih saham-saham konglo, bukan saham fundamental. Sehingga meskipun prediksi angkanya tepat dimana IHSG benar naik ke 7,500, tapi dengan melihat saham apa saja yang naik dan yang turun, maka situasi pasar saham di Indonesia pada hari ini sejatinya masih belum benar-benar pulih lagi, dihitung dari bulan Maret kemarin.

Kedua, saat ini pemberitaan di media masih didominasi tentang perang Iran – Amerika Serikat, termasuk adanya kekhawatiran bahwa serangan roket dll akan kembali berlanjut, yakni jika negosiasinya menemui jalan buntu. Tapi jangan lupa bahwa IHSG sudah turun sejak sebelum perang itu sendiri dimulai, yakni sejak akhir Januari 2026 lalu ketika muncul warning dari lembaga keuangan global Morgan Stanley Capital International (MSCI), dimana salah satu poin warning-nya adalah terkait kepemilikan saham yang tidak transparan, serta dugaan coordinated trading behaviour pada saham-saham tertentu di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kata lain, terlepas dari apakah Perang Iran akan selesai besok atau justru bakal berkepanjangan, tapi IHSG punya masalahnya sendiri terkait warning MSCI di atas.

Jadi pertanyaannya sekarang, kapan kira-kira ‘MSCI problem’ ini selesai? Well, itu kita belum tahu. Namun kalau melihat aksi jual investor asing di BEI, dimana mereka pada tanggal 13 Maret lalu mencatat net sell Rp8.9 triliun dihitung sejak awal tahun 2026, dan pada tanggal 10 April angkanya naik menjadi Rp37.1 triliun (yang itu artinya asing masih terus jualan dalam sebulan terakhir, bahkan meskipun IHSGnya naik), maka cukup jelas bahwa investor asing ini menganggap bahwa masalah di pasar saham Indonesia terkait warning dari MSCI masih belum selesai, bahkan meskipun pihak BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) banyak merilis aturan dan keterbukaan informasi sesuai tuntutan MSCI, termasuk BEI terakhir merilis daftar emiten-emiten yang terindikasi high shareholding concentration, dimana ada dua saham dengan market cap yang sangat besar yakni Barito Renewables (BREN), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) di dalam daftar tersebut. But still, investor asing seperti disebut diatas sampai hari ini masih keluar secara bertahap dari BEI.

Terakhir ketiga, terlepas dari cerita Perang Iran dan MSCI, kita juga tentunya tidak bisa mengabaikan pelemahan Rupiah yang terjadi secara terus menerus, yang terakhir sudah tembus level psikologis Rp17,000 per US Dollar. Kemudian kalau melihat APBN yang terus defisit saban bulan (terakhir minus Rp240 triliun per Maret 2026), dimana defisit itu tentunya akan ditutup pakai utang termasuk utang luar negeri dalam USD, ditambah tingginya harga minyak (yang akan menaikkan nilai impor) dll, maka sulit untuk berharap bahwa Rupiah akan segera menguat lagi, dan itu berarti juga sulit berharap investor asing akan balik kesini. Karena ngapain juga mereka beli saham di BEI lalu profit ketika harganya naik, tapi ujungnya tetap rugi karena nilai Rupiah itu sendiri turun?

Kesimpulan

Kesimpulannya pak, terlepas dari kenaikan IHSG-nya, namun situasi pasar saham kita masih belum pulih dihitung sejak pertengahan Maret lalu. Lalu untuk kedepannya, maka dengan masih berlanjutnya aksi jual asing, ditambah kurs Rupiah juga masih lanjut melemah, maka memang kurang realistis jika berharap misalnya BBCA akan langsung naik dan balik ke Rp10,000 lagi dalam waktu dekat. Yes, IHSG pada akhirnya akan naik lagi, dan mungkin kali ini kenaikannya benar ditopang oleh saham-saham fundamental BBCA dkk. Tapi untuk saat ini prediksinya adalah bahwa itu tidak akan langsung terjadi, tidak dalam waktu dekat ini.

Okay Pak Teguh, lalu strateginya bagaimana? Apakah kita jual saja semua saham lalu tunggu lagi perkembangannya? Nah, terlepas dari naik turunnya IHSG, tapi dalam banyak kesempatan saya juga sudah share rekomendasi saham fundamental yang diharapkan bisa naik sendiri di tahun 2026 ini, bahkan jika IHSG-nya masih gak kemana-mana (atau IHSG naik, tapi cuma karena dikerek saham konglo), seperti saham batubara, saham komoditas lainnya, dan saham terkait program makan bergizi gratis (MBG). Just remember bahwa pada akhir April ini kita akan sudah masuk musim rilis laporan keuangan untuk periode Q1 2026, dimana jika emiten yang bersangkutan benar mencatat pertumbuhan kinerja pendapatan serta laba bersih, maka saat itulah sahamnya akan mulai naik banyak, tak peduli IHSG naik atau turun (dan tak peduli naiknya beneran naik, atau cuma karena ditopang saham konglo). Sehingga, dengan asumsi bapak memegang saham-saham tersebut maka bisa tetap hold, dan nanti bisa tambah lagi jika LKnya sudah rilis, dan hasilnya benar bagus.

Japfa Comfeed (JPFA) menjadi salah satu emiten yang diprediksi diuntungkan oleh program MBG.

Dan nanti ulasan ini akan diperbaharui paling lambat pada pertengahan bulan Mei, yakni ketika mayoritas emiten di BEI sudah rilis LK Q1 2026, dan mudah-mudahan pada saat itu sudah ada kebijakan lanjutan dari BEI dan OJK terkait isu MSCI, yang kemudian sukses bikin investor asing balik masuk kesini, atau setidaknya berhenti jualan. Kita tunggu.

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 18 April 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q4 2025 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI