Indonesia Tidak Akan Krisis, Investor Akan Kembali Profit

Di ulasan tanggal 13 April 2026 kemarin, penulis menyebut bahwa meskipun IHSG ketika itu sudah mulai naik lagi ke posisi 7,500an (dari posisi 7,137 sebulan sebelumnya), tapi kenaikannya masih hanya karena ditopang oleh saham-saham konglo, bukan karena mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) beneran berbalik naik. Sehingga situasi pasar saham di Indonesia sejatinya masih belum benar-benar kembali pulih. Kemudian untuk kedepannya, maka dengan mempertimbangkan masih belum selesainya isu warning dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), masih berlanjutnya aksi jual investor asing, hingga pelemahan kurs Rupiah, maka kurang realistis jika berharap IHSG akan lanjut naik dan kali ini dengan kenaikan yang sungguhan, bukan karena dikerek saham konglo. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 akan terbit tanggal 10 Mei, dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Nah, tapi pada ulasannya pula, penulis katakan bahwa ini bukan berarti kita harus jual semua saham lalu hold cash. Melainkan, kita bisa fokus ke saham-saham tertentu yang diharapkan akan naik sendiri di sepanjang tahun 2026 ini, yakni jika emiten yang bersangkutan mencatat kinerja pendapatan serta laba bersih yang bertumbuh pada Q1 2026, bahkan jika IHSG-nya masih gak kemana-mana (atau IHSG-nya naik, tapi cuma karena dikerek saham konglo). In fact, memang itulah yang terjadi di sepanjang 2025 kemarin: IHSG tampak naik tinggi hingga total 22.1%, tapi sebagian besar karena kenaikan ‘blue chip konglo’ seperti Barito Renewables (BREN) dkk. Sedangkan ‘real blue chips’ seperti BBCA justru turun cukup signifikan yakni -17.6%, dari Rp9,800 hingga Rp8,075 (dan kembali turun di tahun 2026, sejauh ini).

Jadi karena itulah, meskipun penulis sendiri sukses profit dan beat kinerja IHSG di tahun 2025 tersebut, tapi kami perhatikan ada banyak investor lainnya yang justru merugi, atau profit tapi dengan persentase profit yang kecil saja. Yang harus dicatat, kami sendiri sukses profit bukan karena ikut gerbong saham konglo, melainkan tetap fokus di fundamental, dalam hal ini pada saham yang kinerja pendapatan serta laba yang beneran naik banyak di tahun 2025 tersebut, seperti Hartadinata (HRTA), Trimegah Bangun Persada (NCKL), dll. Dan meskipun tidak semua stockpick sukses naik banyak, misalnya Tunas Baru Lampung (TBLA) dan Erajaya (ERAA), yang relatif masih gak kemana-mana di sepanjang 2025 kemarin, namun dua saham itu juga tidak sampai turun. Dan penulis masih berkeyakinan bahwa kalau perusahaannya kembali mencatat kinerja laporan keuangan yang bertumbuh di 2026 ini, maka pada akhirnya sahamnya bakal menyusul naik.

Kinerja Emiten di Q1 2026: So Far So Good

Kabar baiknya, dari sejumlah emiten yang sudah rilis LK Q1 2026 hingga hari ini, Selasa 21 April 2026, maka hampir semuanya mencatat pertumbuhan kinerja laba bersih yang signifikan dibanding periode yang sama tahun 2025. Yup, mereka adalah Bank BTN (BBTN), Fore Kopi Indonesia (FORE), Jaya Sukses Makmur (RISE), Multisarana Intan Eduka (MSIE), Eastparc Hotel (EAST), Formosa Ingredient Factory (BOBA), dan Astra Otoparts (AUTO). Dan satu-satunya yang masih mencatat kinerja minus hanyalah emiten Pembangunan Jaya Ancol (PJAA). Sudah tentu, kita masih harus menunggu rilis LK lainnya untuk kemudian menyimpulkan bahwa kita masih punya banyak pilihan ‘saham fundamental’ yang bisa diharapkan bakal naik banyak di tahun 2026 ini, tak peduli IHSG naik atau turun. Tapi kalau kita ambil contoh kinerja AUTO misalnya, maka ketika penulis sendiri memperkirakan bahwa pendapatan dan laba AUTO sebagai perusahaan otomotif akan turun di Q1 2026 ini (soalnya penjualan mobil dan motor cenderung lesu sejak tahun lalu), tapi toh ternyata angkanya justru naik, maka ada peluang bahwa kinerja emiten di berbagai sektor lainnya juga akan lebih baik dibanding perkiraan, sehingga sahamnya kemudian bisa kita beli. Mudah-mudahan.

Saham PT Astra Otoparts, Tbk (AUTO) diam-diam sudah naik hampir 40% dalam setahun terakhir.

Nah, jadi sekarang kita sampai pada judul di atas: Indonesia tidak akan krisis, dan investor (saham) akan kembali profit. You see, ketika IHSG naik tinggi di tahun 2025 lalu namun di sisi lain ada banyak saham yang justru turun, maka itu menciptakan situasi dimana meskipun ada cukup banyak investor/trader saham yang sukses profit besar, tapi mereka yang portofolionya minus juga tidak kalah banyak. Dan ketika di tahun 2026 ini IHSG berbalik turun (-13.6% secara year to date), maka investor yang merugi ini jumlahnya lebih banyak lagi. Ditambah nilai tukar Rupiah terus melemah, harga kebutuhan pokok merangkak naik, plus terjadi perang Amerika – Iran yang dikhawatirkan akan menimbulkan krisis energi (dan harga BBM di Indonesia akhirnya menyusul naik), maka tentu sulit untuk bisa bilang bahwa ‘Indonesia akan baik-baik saja’. Penulis sendiri memperhatikan bahwa ada banyak influencer dan konten kreator yang menyebut bahwa Indonesia akan krisis, dengan berbagai alasannya yang harus diakui cukup masuk akal.

However, biar penulis katakan seperti judul di atas: Indonesia tidak akan krisis, karena faktanya kinerja emiten di 2026 masih tumbuh dibanding tahun 2025 lalu. Jadi beda dengan misalnya tahun 2020 lalu dimana kinerja hampir semua emiten mengalami penurunan, yakni karena krisis ekonomi imbas pandemi covid ketika itu (dan memang IHSG di tahun 2020 itu turun -5.1%). Yang perlu dicatat, meskipun sulit bagi IHSG itu sendiri untuk kembali cetak all time high di 2026 ini, karena itu artinya saham konglo seperti BREN juga harus naik ke 10,000 lagi (yang mana itu akan sulit untuk terjadi, mengingat warning dari MSCI), tapi investor tetap akan kembali profit, yakni jika mereka membeli saham dari perusahaan dengan kinerja fundamental terbaik di 2026 ini. Sama seperti tahun 2022 lalu dimana IHSG hanya naik total 4.1%, tapi Avere ketika itu sukses profit besar, jauh diatas kenaikan IHSG, terutama karena investasi kami di saham-saham batubara yang memang mencatat lonjakan kinerja yang sangat tinggi di sepanjang 2022 tersebut.

Nah, untuk 2026 ini kami belum tahu emiten atau sektor apa saja yang bakal mencatat lonjakan kinerja tersebut, tapi kita akan mengetahuinya sebentar lagi, yakni pada akhir April ini ketika mayoritas emiten akan sudah merilis LK terbaru mereka untuk periode Q1 2026. Dan kalau melihat LK yang sudah rilis sejauh ini dimana hasilnya rata-rata cukup bagus, maka kita bisa berharap bahwa kita akan punya banyak pilihan saham untuk dibeli.

So, stay tuned! Karena kita akan belanja banyak, sebentar lagi.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 akan terbit tanggal 10 Mei, dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Terbit 10 Mei

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Peluang Profit di Tengah Anjloknya IHSG

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI