Prospek Saham Bank BSI (BRIS): Sudah Murah?
PT Bank Syariah Indonesia, Tbk atau Bank BSI (BRIS) mencatat laba bersih Rp2.2 triliun di Q1 2026, naik dibanding Rp1.9 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Dan jika tren kenaikan tersebut berlanjut sampai akhir tahun nanti, maka genap sejak berdirinya pada tahun 2021 lalu, laba bersih perusahaan selalu konsisten naik dari tahun ke tahun, demikian pula pendapatan, ekuitas, dan nilai asetnya selalu bertumbuh. Namun dalam satu setengah tahun terakhir sahamnya justru turun dari sempat diatas Rp3,000, hingga sekarang tinggal Rp1,700. Karena BRIS sudah mulai turun tepatnya sejak Oktober 2024, maka cukup jelas bahwa penurunannya tidak disebabkan oleh koreksi IHSG, yang baru terjadi sejak bulan Januari 2026. So what happened?
**
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
BRIS adalah perusahaan perbankan syariah terbesar di Indonesia. Sejarah perusahaan dimulai pada tahun 2021 lalu, ketika Kementerian BUMN me-merger tiga unit usaha syariah dari tiga bank BUMN terbesar di Indonesia, yakni BRI Syariah (anak usaha Bank BRI), Mandiri Syariah (anak usaha Bank Mandiri), dan BNI Syariah (anak usaha Bank BNI), menjadi satu bank syariah yang besar, yakni Bank BSI. Dasar pemikirannya adalah, kita tahu Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, namun pada tahun 2019 (dua tahun sebelum pembentukan Bank BSI), tingkat penetrasi perbankan syariah di dalam negeri hanya 8% (jadi dari katakanlah 100 nasabah bank di Indonesia, hanya 8 diantaranya yang menjadi nasabah bank syariah). Dan penyebabnya adalah karena di Indonesia belum ada bank syariah yang cukup besar, yang bisa bersaing dengan nama-nama besar seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI. Nah, tapi dengan BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah digabung dan di-rebranding menjadi satu perusahaan saja yakni Bank BSI (BRIS), maka otomatis BRIS akan menjadi besar dengan sendirinya. Lalu dengan kantor cabang dan mesin ATM yang juga mudah ditemukan di banyak tempat, maka BRIS akan lebih mudah dalam mengembangkan usahanya. Actually hal yang sama juga terjadi pada Bank Mandiri, yang merupakan hasil penggabungan dari empat bank swasta kecil yang bangkrut pada krisis moneter 1998 lalu, sehingga keempat bank ini kemudian diambil alih pemerintah, lalu di-merger. Dan memang setelah digabung inilah, BMRI pada hari ini sukses bertumbuh menjadi salah satu bank terbesar di Indonesia.
Nah, tapi itu adalah analisa pada tahun 2021 lalu. Kemudian bagaimana realisasinya pada hari ini? Well, mari kita lihat. Pada akhir tahun 2021, BRIS tercatat memiliki aset Rp265.3 triliun, ekuitas Rp25.0 triliun, pendapatan Rp13.4 triliun, dan laba bersih Rp3.2 triliun. Dan per Q1 2026, aset tersebut tumbuh menjadi Rp460.1 triliun, ekuitas Rp50.8 triliun, pendapatan disetahunkan Rp19.9 triliun, dan laba bersih disetahunkan Rp8.8 triliun. Berdasarkan pengalaman, perusahaan yang bagus dan sahamnya layak investasi untuk investasi jangka panjang adalah jika angka aset dll-nya naik sekitar 2 kali lipat setiap 5 tahun sekali, dan BRIS dalam hal ini memenuhi kriteria tersebut, terutama dari sisi laba bersihnya yang naik 175%. Sebagai perbandingan, Bank BCA, BRI, Mandiri, dan BNI masing-masing mencatat laba bersih Rp31.4, 31.1, 28.0, dan 10.9 triliun di sepanjang tahun 2021. Dan pada Q1 2026, angkanya naik menjadi masing-masing (disetahunkan) Rp58.7, 62.0, 61.5, dan 22.6 triliun, tumbuh masing-masing 87%, 99%, 120%, dan 107%.
Sehingga, kalau dari sisi kenaikan laba bersih, maka rate pertumbuhan BRIS dihitung sejak berdirinya tergolong lebih tinggi dibanding keempat bank konvensional diatas, dimana itu membenarkan teori sebelumnya bahwa dengan ketiga bank BUMN syariah dimerger menjadi satu bank syariah yang besar, yakni Bank BSI, maka perusahaannya akan berkembang lebih cepat. Dan selama enam tahun perusahan beroperasi, manajemen BRIS juga terus mengembangkan layanan-layanan perbankan syariah itu sendiri, seperti mendirikan Bank Emas Indonesia (Indonesia’s Bullion Bank), membuka layanan tabungan haji, meluncurkan aplikasi BYOND, gadai syariah, bancassurance, dst. Menariknya, BRIS adalah salah satu perusahaan yang terdampak signifikan ketika Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda bencana banjir dan longsor pada akhir tahun 2025 lalu, dimana perusahaan berstatus sebagai bank terbesar kedua di Aceh (setelah Bank BPD Aceh Syariah). Namun kinerja perusahaan secara keseluruhan tetap bertumbuh di tahun 2025 tersebut, dimana laba bersihnya tercatat Rp7.6 triliun, berbanding Rp7.0 triliun pada tahun 2024. Dan kalau kita bandingkan dengan kinerja perbankan konvensional di tahun yang sama, dimana Bank BRI dan Bank BNI justru mencatat penurunan laba di tahun 2025 seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi ketika itu, maka praktis kinerja BRIS jadi tampak lebih bagus lagi.
Okay, jadi sekarang balik lagi ke pertanyaannya: Jika fundamental perusahaannya masih bagus dan bertumbuh sampai sekarang, lalu kenapa sahamnya justru turun? Kalau dari sudut pandang value investing, maka jawabannya sederhana: Ketika 2024 lalu BRIS berada di harga 3,000-an, maka dengan PER 19.9x dan PBV 3.0x berdasarkan laporan keuangannya ketika itu, maka valuasinya BRIS tergolong lebih mahal dibanding BBRI, BMRI, BBNI, dan banyak lagi saham dari bank-bank besar-menengah lainnya, dan hanya lebih murah dibanding valuasi BBCA ketika itu dengan PBV sekitar 4x. Tapi ingat bahwa, meskipun BRIS merupakan bank terbesar di segmen syariah, tapi dia jauh lebih kecil dan lebih tidak populer dibanding BBCA, dan juga tidak masuk daftar emiten terbesar di BEI (sedangkan BBCA sebaliknya selalu konsisten sebagai saham dengan market cap nomor satu terbesar di BEI). Kemudian dari sisi dividen yield maka BRIS juga tampak mahal dimana perusahaan hanya membayar dividen Rp22.8 per saham untuk tahun buku 2024, yang mencerminkan yield kurang dari 1%, berdasarkan harga saham Rp3,000.
Di sisi lain, BRIS memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh saham-saham bank lainnya: Statusnya sebagai satu-satunya saham bank syariah terbesar dan terbaik di BEI. Maksud penulis adalah, jika anda membuka rekening syariah di sekuritas, maka anda tidak akan bisa beli saham BBCA dkk, karena sahamnya tidak sesuai kriteria syariah itu sendiri, jadi satu-satunya pilihan yang tersisa adalah BRIS ini. Dan di BEI sebenarnya ada juga beberapa saham bank syariah lainnya, seperti BTPN Syariah (BTPS), Bank Aladin Syariah (BANK), dan Bank Panin Dubai Syariah (PNBS). Tapi secara ukuran perusahaan, likuiditas, popularitas, serta kinerja keuangan, maka BRIS adalah yang terbaik diantara semua kompetitornya tersebut. Alhasil semua investor syariah belinya ya BRIS ini, dan karena itulah valuasi sahamnya sejak awal selalu lebih tinggi dibanding katakanlah BBRI dkk.
Nah, tapi balik lagi: Ketika saham BRIS di tahun 2022 – 2024 lalu naik tinggi (dari 1,000-an ke 3,000an) hingga PER dan PBV-nya sama mahalnya dengan BBCA, maka pada saat itulah, setiap kali ada yang bertanya tentang apakah BRIS ini bagus dan layak untuk jangka panjang? Maka saya akan jawab, yes, dia layak, tapi kalau ingin profitnya maksimal maka sebaiknya tunggu dia turun dulu hingga valuasinya menjadi lebih wajar. Sedangkan kalau dia tidak pernah turun maka ya sudah, bapak/ibu bisa beli saham yang lain dulu.
Baiklah Pak Teguh, tapi kan sekarang BRIS memang sudah turun ke Rp1,700? Jadi bagaimana analisanya? Okay, mari kita cek. Pada harga saham Rp1,700, PER BRIS tercatat 9.4x, dan PBV 1.6x, aka sudah lebih rendah dibanding PER BBCA di 12.8x (pada harga saham Rp6,150), dan PBV 2.9x. Maka, jika anda masih berminat untuk berinvestasi jangka panjang di BRIS ini, maka sekarang anda sudah boleh masuk (atau kalau sudah pegang sebelumnya, sekarang sudah boleh average down), lalu hold saja. Kalau anda perhatikan, setelah BRIS turun ke 1,800-an pada bulan April kemarin, maka dia tidak turun lebih dalam lagi, bahkan meskipun IHSG dihitung sejak April tersebut kembali turun dari 7,500 hingga kemarin sempat menyentuh 5,300, dimana itu menunjukkan bahwa penurunan BRIS sejak awal bukan karena IHSG turun, tapi lebih untuk kembali ke level harga wajarnya. Dan berdasarkan kualitas fundamental serta prospek jangka panjangnya yang masih sangat baik, maka PER 10 – 12x sudah tergolong wajar bagi BRIS (dan karena PER-nya sekarang dibawah itu, maka sahamnya terbilang undervalued).
Tinggal satu hal: Kita tahu bahwa untuk memenuhi tuntutan dari MSCI, BEI
memberlakukan aturan minimal free float 15%, dan sayangnya free float
BRIS ini hanya 9.9%. Yang itu artinya perusahaan harus menerbitkan saham baru
untuk dijual ke investor publik, dan/atau ketiga pemegang saham pengendalinya
yakni Bank BRI, Bank Mandiri, dan Bank BNI melepas porsi saham mereka ke
publik, dimana dua hal itu bisa membuat sahamnya turun lebih rendah lagi. Nah,
tapi karena prospek jangka panjang perusahaan tidak berubah, tetap bagus, maka
jika BRIS besok-besok turun karena masalah free float tersebut maka itu justru akan
menjadi kesempatan yang sangat baik untuk anda beli lagi. So no worries!
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 18 Juli 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Komentar