Saya Sudah All In di Saham, Tapi IHSG Malah Turun Lagi??

Pak Teguh saya baca tulisan bapak yang berjudul ‘Buy Indonesian. I Am’ di tanggal 18 Mei, dan saya juga ikut borong saham. Tapi setelah itu IHSG justru terus turun, sedangkan cash sudah habis. Jujur saya bingung pak, apakah harus cut loss? Saya baca di media sosial ada banyak influencer yang akhirnya keluar (cut loss) dari pasar saham Indonesia. Tapi kalau mau tetap hold, ruginya tambah parah. Mohon bantuannya pak.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Yep, betul pak. Jadi di tulisan hari Senin, 18 Mei, saya menyebut bahwa saya mencairkan sebagian Surat Berharga Negara (SBN) untuk belanja saham, dan bahwa jika IHSG lanjut turun kedepannya, maka saya akan belanja lebih banyak lagi. Saat ini, meskipun saya masih ada pegang SBN, tapi cash di rekening dana nasabah (RDN) sekuritas sudah habis seluruhnya. Dan karena saham yang dibeli di sekitar tanggal 18 Mei tersebut kembali turun signifikan, maka jadilah sekarang posisinya ikut floating loss. Sebelumnya kami masih sedikit profit di tahun 2026 ini, bahkan meskipun IHSG turun -24% secara year to date/YTD. Tapi sekarang IHSG sudah di 5,594, sudah jeblok -35% YTD.

Meski demikian saya tidak kepikiran untuk cut loss, sama sekali. Malah seperti disampaikan sebelumnya, saya mungkin akan kembali mencairkan SBN untuk kemudian total all in di saham. Pertanyaannya, kenapa? Ada beberapa poin.

Pertama, tulisan di tanggal 18 Mei itu terinspirasi dari tulisan opini berjudul ‘Buy American. I Am’ yang ditulis oleh Warren Buffett (WB), dan dipublikasikan di koran The New York Times pada tanggal 16 Oktober 2008. Ketika itu, S&P 500 Index (SPX), yang kita bisa anggap sebagai IHSG-nya Amerika, sudah turun sekitar -40% dari puncaknya di 1,576, pada bulan Oktober 2007, ke posisi 900-an. Dan ketika semua orang berteriak sell, WB justru belanja besar-besaran. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ternyata SPX setelah itu masih lanjut turun, hingga akhirnya mentok di 676 di bulan Maret 2009. Barulah setelah itu, US stock market pelan-pelan mulai pulih, dan SPX berbalik naik hingga akhirnya ditutup di posisi 1,115 pada akhir tahun 2009, lebih tinggi dibanding posisi di 900-an di bulan Oktober 2008 (ketika WB mengumumkan bahwa dia belanja saham). Dan setelah itupun SPX lanjut naik tinggi di tahun-tahun berikutnya, sampai hari ini.

Sehingga, meskipun keputusan WB untuk all in di bulan Oktober 2008 itu pada akhirnya terbukti tepat, tapi hingga lima bulan setelahnya (sampai Maret 2009), maka ia juga sama menderita floating loss seperti investor lain pada umumnya, dan sudah tentu ia mendapat banyak kritik karenanya. But still, WB bertahan, dan pada akhirnya ia tetap mempertahankan posisinya sebagai investor saham tersukses sepanjang sejarah. Pada tahun 2009, net worth WB menurut Forbes tercatat ‘hanya’ $37 miliar. Dan hari ini di tahun 2026, masih menurut Forbes, angka tersebut tumbuh menjadi $148 miliar.

Kedua, balik lagi ke pengalaman saya sendiri. Kembali ke tahun 2015, di bulan Maret saya katakan bahwa dengan mempertimbangkan ekonomi nasional yang mulai problematik, IHSG, yang ketika itu sedang gagah-gagahnya karena baru saja cetak all time high di 5,500an, kemungkinan akan turun (baca analisanya disini). Jadi saya sendiri ketika itu jualan sebagian besar saham untuk mengumpulkan cash. Skip forward di bulan Mei-nya, IHSG beneran mulai turun ke 5,000, tapi saya tetap hold cash. Barulah di bulan Agustus, ketika IHSG sudah menyentuh 4,500, saya mulai berbalik bersikap optimis dimana saya menyebut bahwa sekarang ini merupakan kesempatan untuk buy, dan tentu saja saya sendiri juga ikut belanja saham (baca petunjuknya disini). Tapi apa yang terjadi? Ternyata IHSG masih lanjut turun hingga hampir saja tembus dibawah 4,000 di bulan September-nya, sehingga praktis posisi porto kami juga sama jadinya floating loss. Namun pada tulisan di bulan September 2015 tersebut, saya katakan bahwa, be greedy when others are fearful! Jadi alih-alih ikut panik lalu cut loss, kami di Avere tetap hold semua saham (meski gak average down karena cash sudah habis sebelumnya), dan kami menyarankan kepada investor untuk melakukan hal yang sama. Anda bisa baca sarannya disini.

Dan Alhamdulillah, setelah bulan September tersebut IHSG naik lagi dan ditutup di posisi 4,593 di akhir tahun 2015, sebelum kemudian lanjut naik di 2016, 2017, dan seterusnya. Sehingga, meskipun bagi banyak orang, tahun 2015 itu merupakan tahun terburuk, tapi bagi kami itu justru merupakan tahun terbaik. Pengalaman di tahun 2015 itu pula yang menjadikan saya, secara personal, sukses mencapai Rp10 miliar pertama dalam empat tahun berikutnya di tahun 2019 (saya pernah menceritakan ini di buku). Dan setelah itupun angkanya masih terus bertumbuh, sampai hari ini.

Kesimpulan

Nah, jadi sekarang kita kembali ke tahun 2026 ini. Seperti halnya WB, kami di Avere juga keliru soal timing, dimana kami mulai jualan saham Indonesia pada akhir bulan Agustus 2025, yakni ketika IHSG berada di posisi 7,900 (baca analisanya disini), tapi ternyata setelah itu IHSG malah lanjut naik sampai tembus 9,100 di bulan Januari 2026. Fast forward ke bulan Mei 2026, IHSG sudah crash ke 6,500 dan kami mulai masuk lagi, tapi ternyata hari ini IHSG lanjut turun ke 5,500-an, dan alhasil posisi kami jadi sama saja seperti investor lainnya: Nyangkut semua.

Tapi apakah kami panik? Ya nggak lah. Karena, pertama, seperti halnya WB, kami sejak awal tidak berusaha memprediksi arah IHSG ataupun berita-berita ekonomi, politik, dan keuangan yang akan muncul. Melainkan kami fokus ke kinerja fundamental dari tiap-tiap perusahaan yang sahamnya kami pegang, atau kami berencana untuk beli. Jadi terlepas dari apakah sahamnya naik atau turun, tapi kami masih percaya sepenuhnya bahwa saham-saham yang kami pegang adalah dari perusahaan terbaik, yang masih cetak laba bersih besar, bayar dividen, dan seterusnya. Lalu kedua, yang kami lihat adalah jauh ke depan, dalam hal ini 1 – 2 tahun ke depan, bukan hanya 1 - 2 bulan kedepan, apalagi minggu depan. Just remember bahwa setiap kali Indonesia mengalami krisis, dan pasar saham juga jatuh, namun pada akhirnya IHSG akan naik lagi. Jadi yang harus kita lakukan sebelum itu hanyalah bertahan saja, tapi bukan malah panik lalu keluar sama sekali dari pasar saham itu sendiri.

Sudah tentu, kami bisa ngomong seperti itu karena sudah kenyang pengalaman market crash 2015 seperti yang diceritakan diatas, dan juga di periode-periode crash berikutnya di 2018, dan tentunya krisis covid 2020 (ini yang paling parah). Jadi kalau bapak yang baru pertama kali mengalami crash di 2026 ini dan memutuskan untuk berhenti dan keluar, then go ahead. Namun jika bapak memutuskan untuk bertahan, maka izinkan saya bilang, welcome to the stock market! Dan mudah-mudahan kita nanti akan bertemu di sisi lain dari pasar saham itu sendiri (baca: IHSG bullish lagi), mungkin nanti di pertengahan 2027, tapi bisa juga lebih cepat dari itu.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disiniDiskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 18 April

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Prospek Saham Elang Mahkota Teknologi (EMTK): Profit Dari Saham GRAB?