Kenapa Saham IPO Bisa ARA? Gimana Kalau Saya Ikut Beli?

Pak Teguh, saya perhatikan belakangan ini di BEI ada banyak saham IPO, dan hampir semuanya ARA, padahal IHSG sendiri masih turun. Kok bisa ya pak? Apakah ini karena ritel FOMO di saham-saham tersebut?

**

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q1 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Diskon selama IHSG masih di bawah 7,500, dan gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Jawab:

Betul sekali pak. Jadi di bulan Juli 2026 ini ada enam emiten baru sekaligus yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), dan terakhir PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS). Dan betul hampir semuanya langsung naik auto reject atas (ARA) di hari perdagangan perdana mereka masing-masing, tapi itu bukan karena investor ritel ramai-ramai membelinya di pasar. Melainkan, penjelasannya sebagai berikut: Ketika ada perusahaan hendak menggelar initial public offering alias IPO, maka mereka akan menunjuk penjamin emisi untuk mengurus perizinan dll, termasuk menjamin bahwa seluruh saham yang ditawarkan ke publik akan laku habis terjual, dan perusahaan kemudian memperoleh dana tambahan modal sesuai target. Contohnya, RANS butuh tambahan modal sekian ratus miliar Rupiah untuk ekspansi usaha, dan setelah berkonsultasi dengan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai penjamin emisi, akhirnya disepakati bahwa perusahaan melepas 2.5 miliar lembar saham pada harga Rp170 per saham, sehingga akan diperoleh dana Rp429 miliar.

Kemudian disinilah masalahnya: Tidak semudah itu bagi pihak penjamin emisi untuk secara sekaligus menjual sekian miliar lembar saham ke publik, karena biasanya investor publik itu sendiri tidak peduli dengan apakah perusahaannya untung atau rugi, dst. Melainkan, yang investor publik ini lihat hanyalah apakah nanti di market sahamnya akan naik atau turun, dimana kalau sahamnya naik maka baru mereka akan masuk. Sedangkan kalau turun maka ya mereka gak jadi masuk.

Jadi dari sinilah, kalau mau IPOnya sukses/diborong ritel maka sahamnya harus naik tinggi di hari perdagangan perdana, bahkan kalau bisa langsung ARA. Caranya? Ini nih: Penjamin emisi akan tetap memegang hampir seluruh saham yang ditawarkan, dan kepada investor ritel yang ikut IPO-nya justru hanya dikasih sedikit saja (misal si investor beli 1,000 lot, tapi cuma dikasih 1 lot). Begitu sahamnya melantai di bursa, maka penjamin emisi ini atau siapapun itu akan langsung pasang bid di harga ARA. Lalu karena hampir tidak ada pihak lain yang jual (ya siapa yang mau jual? Lha wong hampir semua sahamnya masih dipegang mereka semua), maka otomatis sahamnya akan langsung ARA. Barulah setelah itu peristiwa ARA tersebut akan diberitakan dimana-mana, misalnya dengan headline ‘Emiten ABCD melantai di bursa, sahamnya langsung mentok atas!’. Kemudian investor yang sudah pegang sahamnya juga akan secara naluriah pamer profit mereka di media sosial, bahkan meskipun mereka hanya pegang 1 - 2 lot, dan alhasil itu akan bikin investor ritel lainnya akan penasaran untuk masuk, karena berpikir bahwa bisa jadi besok-besok sahamnya bakal ARA lagi. And therefore, tidak lagi sulit bagi pihak penjamin emisi untuk menjual sekian miliar lembar saham itu tadi, termasuk pihak perusahaan juga akan memperoleh dana yang ditargetkan.

Sharing screenshot portofolio salah satu trader ritel yang beli saham IPO. Perhatikan bahwa meski persentase kenaikannya sangat tinggi, tapi nilai keuntungannya dalam Rupiah sebaliknya sangat kecil, yakni karena si investor hanya pegang sebanyak beberapa lot.

Sehingga itulah kenapa saham IPO hampir pasti akan langsung ARA, tak peduli perusahaannya bergerak di bidang apa, tak peduli prospeknya cerah atau suram, dan bahkan tak peduli IHSG sedang bullish atau bearish. Kemudian kalau ada investor ritel yang ikut beli sahamnya di market, maka dia bisa profit besar jika besok-besok sahamnya kembali di-ARA-kan, tapi bisa juga langsung rugi besar jika dia masuknya telat, yakni jika sahamnya sudah naik cukup tinggi dan pihak yang pegang saham tersebut mulai jualan. Bapak bisa lihat sendiri, dari beberapa saham IPO diatas sudah ada yang sudah langsung turun lagi hingga auto reject bawah (ARB), dalam dua hari terakhir.

Bagaimana dengan MSCI?

Okay Pak Teguh, tapi kalau benar bahwa saham-saham IPO bisa ARA bukan karena beneran diborong investor publik, melainkan karena cara-cara yang bapak tulis diatas, maka bukannya itu yang dipermasalahkan oleh MSCI kemarin itu ya pak? Yes, pak. Karena dalam hal ini saham-saham IPO tersebut terindikasi high shareholding concentration, free float yang secara riil-nya lebih rendah dari aturan batas minimal 15%, serta ada dugaan coordinated trading, dimana hal-hal itulah yang membuat MSCI sampai hari ini masih mengancam akan menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging ke frontier market. Namun saya juga melihat beberapa hal. Pertama, praktik seperti ini sudah berjalan lama. Sejak dulu sebelum era Covid, di BEI selalu terdapat puluhan saham IPO setiap tahunnya, dan selama itu MSCI gak protes apa-apa, and why is that? Karena MSCI hanya akan memasukkan saham-saham dengan market cap jumbo, serta nilai transaksi yang cukup likuid (minimal Rp100 – 200 miliar per hari) ke dalam indeks mereka. Jadi kalau ada saham baru IPO terus harganya dikerek naik sampai market capnya misalnya tembus Rp10 atau 20 triliun, dan dengan nilai transaksi yang juga kecil, maka itu gak jadi masalah karena pihak MSCI akan otomatis mengabaikannya.

Barulah setelah era Covid di tahun 2020, ceritanya mulai berbeda: Ada banyak saham IPO atau saham backdoor listing milik grup konglomerat tertentu (sehingga disebut ‘saham konglo’) yang harganya dikerek naik sedemikian tingginya hingga market cap mereka tiba-tiba saja mencapa ratusan triliun Rupiah sehingga otomatis masuk radar MSCI, dan beberapa dari saham IPO tersebut kemudian beneran masuk indeks MSCI. Alhasil pada bulan Februari 2025, MSCI untuk pertama kalinya menyebut bahwa saham Indonesia memiliki investability issues karena hal ini (baca lagi ceritanya disini), tapi pada saat itu belum ada tindakan apa-apa dari pihak otoritas bursa. Malah seperti yang bisa bapak lihat, di sepanjang tahun 2025 itu justru ada lebih banyak lagi saham-saham konglo yang ikut naik sangat tinggi, dan lebih banyak lagi diantara mereka yang masuk indeks MSCI, hingga turut mengerek IHSG untuk naik ke rekor tertinggi 9000an.

Hingga pada Januari 2026 kemarin, MSCI akhirnya mengancam akan menurunkan Indonesia ke frontier, dan barulah setelah itu BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan serangkaian reformasi, pembaharuan aturan-aturan, serta rilis data informasi sesuai tuntutan MSCI. Tapi imbasnya seperti yang kita ketahui IHSG langsung anjlok, dan belum pulih lagi sampai sekarang karena, berdasarkan review terakhirnya di bulan Juni kemarin, MSCI masih membuka kemungkinan untuk men-downgrade Indonesia ke frontier (baca disini).

Sehingga, balik lagi ke saham-saham IPO di bulan Juli 2026 ini, maka jika sahamnya dikerek naik sangat tinggi hingga market capnya juga tembus ratusan triliun Rupiah, maka disitulah MSCI mungkin akan kembali kasih warning ke pihak otoritas, dan Bursa Efek Indonesia mungkin akan benar-benar turun kasta ke frontier. Tapi jika saham-saham IPO tersebut tidak dikerek naik terlalu tinggi, maka harusnya itu tidak jadi masalah karena sejak awal saham-saham tersebut tidak akan masuk radar MSCI.

Lalu kedua, hingga IPO RANS hari ini, 10 Juli 2026, maka sejauh ini baru ada 7 saham IPO di sepanjang tahun 2026, jauh lebih sedikit tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai 80 emiten pada tahun 2023, dan tidak ada dari 7 saham tersebut yang market cap-nya mencapai Rp100 triliun, bahkan Rp10 triliun pun tidak. Jadi sepertinya pihak otoritas bursa mengambil jalan tengah disini: Kalau banyak IPO dengan market cap jumbo seperti biasanya maka itu berisiko bikin MSCI mengeluarkan warning lanjutan, tapi kalau gak ada IPO sama sekali maka itu gak bagus juga, karena kesannya pasar saham kita ‘tutup’. Karena kita tahu bahwa di bursa saham negara lain manapun, maka selalu ada emiten baru yang IPO setiap tahunnya.

Kesimpulannya pak, bapak bisa abaikan saham-saham IPO tersebut, mau dia ARA atau ARB biarkan saja, dan tidak perlu khawatir juga MSCI akan kembali protes karenanya. Jadi bapak bisa tetap fokus berinvestasi di saham-saham berfundamental bagus seperti biasanya, contohnya Bank BSI (BRIS) yang baru saja kita bahas minggu lalu, dan nanti kita akan bahas lagi kalau ada saham-saham bagus lainnya lagi. Just stay tuned!

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 18 Juli 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q1 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 18 Juli

Saya Sudah All In di Saham, Tapi IHSG Malah Turun Lagi??

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

IHSG Bakal Crash ke 4,700??