Prospek Saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Terkait Data Center
Hingga Rabu, 2 September 2026, IHSG sudah kembali ke posisi 6,596, aka naik cukup signifikan dari titik terendahnya di 5,318 pada market crash tanggal 9 Juni lalu, dan alhasil mayoritas saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga naik banyak dihitung sejak 9 Juni tersebut. Salah satunya DSSA, yang terbang dari 590 ke sekarang 1,140, lompat hampir dua kali lipat hanya dalam waktu tidak sampai tiga bulan. Malahan kalau dihitung dari posisi terendahnya di 410 pada tanggal 29 Mei, maka DSSA sukses melesat 179%. Di sisi lain prospek perusahaan tampak menarik setelah manajemen ekspansi ke bisnis yang sedang hot, yakni AI data center. Prospek kedepan?
**
Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) adalah perusahaan tambang batubara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), dengan delapan lokasi tambang di Sumatera dan Kalimantan, dimana lima diantaranya dimiliki melalui anak usahanya, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS). Perusahaan memproduksi 57 juta ton batubara di sepanjang tahun 2025, sehingga menjadikannya coal miner terbesar ketiga di BEI, setelah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Di luar batubara dan PLTU, maka DSSA juga memiliki segmen usaha pembangkit listrik energi terbarukan (tenaga surya, dan tenaga panas bumi), teknologi informasi aka IT (fiber to the home, internet provider, AI data center, dst), pupuk dan bahan-bahan kimia lainnya, serta kepemilikan minoritas di perusahaan satelit telekomunikasi (PT Satelit Nusantara Tiga). DSSA berdiri pada tahun 1996 dan merupakan bagian dari Grup Sinarmas, sebuah konglomerasi yang, seperti yang kita ketahui, merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dengan setidaknya empat pilar bisnis utama, yakni jasa keuangan (melalui Sinarmas Multi Artha), kertas (melalui Asia Pulp & Paper), properti (melalui Sinarmas Land), dan energi melalui DSSA ini.
Okay, lanjut. Dari sisi kinerja keuangan, maka seperti perusahaan batubara lain pada umumnya, DSSA mencatat rekor kinerja laba bersih $590 juta di tahun 2022 lalu seiring tingginya harga batubara ketika itu, tapi setelah itu kinerjanya berbalik turun, dan terus turun hingga perusahaan hanya cetak laba $230 juta di tahun 2025. Kemudian, sadar bahwa kinerja perusahaan tidak bisa secara terus menerus bergantung pada harga batubara, maka manajemen DSSA pada tahun 2023 mulai diversifikasi ke bisnis energi baru dan terbarukan (EBT), dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kendal, Jawa Tengah, dilanjut pada tahun 2024 mendirikan pabrik yang memproduksi panel surya. Lalu pada 2025, DSSA membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), dan masuk ke sektor infrastruktur teknologi dengan mulai membangun kompleks data center di Jakarta. Dan untuk 2026 ini, maka DSSA akan lebih banyak lagi berinvestasi di segmen IT, EBT, dan kimia, termasuk menyelesaikan pembangunan data center itu tadi. Terakhir pada bulan Juli 2026, DSSA juga resmi menyelesaikan akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi, sebuah perusahaan holding di bidang IT, senilai Rp4 triliun.
Dan alhasil hingga Q1 2026, maka dari total pendapatan perusahaan sebesar $693 juta, $69 juta diantaranya berasal dari segmen IT, dan kurang dari $1 juta berasal dari segmen EBT dan kimia. Sehingga sampai dengan Q1 2026 tersebut maka 90% pendapatan DSSA masih berasal dari batubara, namun porsinya terus berkurang. Dan manajemen menargetkan bahwa pada akhir tahun nanti, segmen non batubara, termasuk dari segmen IT, akan berkontribusi sebesar total 22% terhadap seluruh pendapatan perusahaan, dan akan kembali naik di 2027 dan seterusnya.
Sehingga kalau kita melihatnya jauh kedepan, maka DSSA ini akan memiliki setidaknya tiga segmen usaha yang sama-sama berkontribusi signifikan, yakni batubara, IT, dan EBT. Namun balik lagi kalau dalam jangka pendeknya, maka sampai dengan akhir 2026 nanti kinerja perusahaan masih akan dipengaruhi oleh harga batubara, serta kebijakan Pemerintah terkait pemangkasan kuota RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya). Dan kalau melihat pendapatan perusahaan di Q1 2026 sebesar $601 juta dari segmen batubaranya, turun dibanding $665 juta di periode yang sama tahun sebelumnya (meskipun harga batubara itu sendiri naik), maka itu menunjukkan bahwa DSSA juga termasuk emiten tambang yang harus mengurangi volume produksi batubaranya karena kebijakan RKAB itu tadi. Di sisi lain dengan PER disetahunkan 39.6x dan PBV 6.9x pada harga saham 1,140, maka valuasi DSSA jelas mahal. Sebagai perbandingan, BUMI pada harga 206 mencatat valuasi yang relatif lebih murah yakni PER 37.7x dan PBV 2.6x, sedangkan AADI pada harga 10,725 mencatat valuasi yang lebih murah lagi, yakni PER 5.1x dan PBV 1.3x.
High Shareholding Concentration?
Nah, jadi kenapa DSSA ini begitu populer dan banyak dipegang oleh investor ritel? Dimana per akhir Juli 2026, DSSA dipegang oleh lebih dari 100 ribu investor individu dan institusi? Untuk menjawab itu maka kita harus balik lagi ke tahun 2024. Pada awal tahun 2024/akhir tahun 2023, DSSA berada di posisi 80,000 (sebelum stock split), naik signifikan dari posisi 39,800, setahun sebelumnya, namun dengan volume transaksi yang sangat kecil, dimana bahkan pada hari-hati tertentu tidak ada transaksi sama sekali. Situasi ini menyebabkan DSSA bisa naik dengan mudah, kadang sampai ARA (autoreject atas) jika ada investor yang hajar kanan, dan sebaliknya ARB jika ada pemegang sahamnya yang hajar kiri. Hingga pada Mei 2024, DSSA yang pada saat itu sudah naik lebih tinggi lagi ke posisi 125,000 mendadak naik lebih tinggi lagi ke posisi 212,000 pada akhir bulan, dimana barulah kali ini volume transaksinya cukup besar, mencapai lebih dari 100 ribu lembar per hari. Namun tidak ada peristiwa atau faktor fundamental tertentu yang menjelaskan kenaikan tersebut, karena faktanya pada LK terbarunya untuk periode Q1 2024, laba DSSA kembali turun seiring masih lesunya sektor batubara ketika itu. Tapi yang jelas tak lama setelah itu, tepatnya di bulan Juli 2024, perusahaan melaksanakan stock split dengan rasio 1:10, sehingga jumlah saham beredarnya meningkat dari sebelumnya 770 juta lembar menjadi 7.7 miliar lembar, sedangkan harganya berubah dari 285,000, menjadi 28,500. Setelah itu DSSA kembali naik, hingga akhirnya ditutup di posisi 37,000, pada akhir tahun 2024.
Kemudian inilah menariknya: Pada akhir 2023, tahukah anda berapa jumlah pemegang saham DSSA, baik itu ritel maupun institusi? Hanya 800 SID (single identification investor), sudah termasuk pemegang saham pengendali. Yang itu artinya, naik turunnya DSSA ditentukan oleh 800 orang/institusi ini saja. Setahun kemudian pada akhir 2024, jumlah pemegang saham DSSA meningkat menjadi 2,566 SID, tapi kemungkinan para pemegang saham yang baru ini hanya pegang saham DSSA dalam jumlah sedikit, sehingga pergerakan DSSA tetap ditentukan oleh 800 investor awal itu tadi. Memasuki tahun 2025, DSSA naik lebih tinggi lagi hingga tembus 100,000 pada bulan September 2025, dan pada titik ini mulai ada banyak investor ritel terutama asing yang ikut beli sahamnya, terutama setelah di bulan Agustus-nya MSCI memasukkan saham DSSA ke dalam MSCI Global Standard Index (karena market cap DSSA sempat tembus Rp700 triliun ketika itu), sehingga secara tidak langsung merekomendasikan sahamnya ke investor asing. But still, jumlah pemegang saham DSSA pada akhir tahun 2025 hanya naik sedikit menjadi 4,762 SID. Investor ritel sendiri pada akhir 2025 tersebut kemungkinan belum tertarik dengan saham DSSA, karena nominal harganya yang tampak tinggi di Rp100,000 per saham.
Barulah setelah pada bulan April 2026, DSSA kembali melakukan stocksplit dengan rasio 1:25 sehingga harga sahamnya berubah dari 75,000 (DSSA pada April tersebut sudah kembali turun seiring penurunan IHSG, setelah rilis warning dari MSCI di bulan Januari 2026) menjadi 3,000, maka investor ramai-ramai masuk, dan alhasil jumlah pemegang saham DSSA melonjak menjadi 23 ribu SID, pada akhir April 2026. Dan meskipun setelah itu DSSA justru kembali anjlok gak karu-karuan sampai mentok di 400an di bulan Mei-nya, terutama setelah MSCI menendang keluar sahamnya dari indeks, tapi jumlah pemegang saham DSSA justru kembali meningkat menjadi 86 ribu SID pada akhir Juni, dan naik lagi menjadi 102 ribu SID pada akhir Juli 2026. Jadi jika kita asumsikan bahwa mayoritas pemegang saham anyar ini baru masuk ke DSSA pada bulan Mei – Juni 2026, yakni ketika sahamnya berada di posisi 400 – 700, maka itu artinya mereka pada awal September ini sedang dalam posisi floating profit yang cukup besar, karena DSSA sudah naik lagi ke posisi 1,100an.
Sehingga, berbeda dengan saham-saham konglo lainnya, maka DSSA ini populer tidak hanya karena dipegang oleh banyak investor ritel, tapi juga karena sebagian besar investor ini sedang dalam posisi profit, sehingga naturally mereka akan memamerkan profit tersebut melalui medsos dll, dan itu akan membuat investor lain penasaran untuk ikut masuk ke sahamnya (dan alhasil jumlah pemegang saham di DSSA akan bertambah lebih banyak lagi). Berbagai cerita ekspansi perusahaan ke energi terbarukan, data center dll, juga menjadi sentimen positif yang menjelaskan kenaikan sahamnya hingga ke posisinya saat ini. However, balik lagi kalau dari aspek fundamental, maka DSSA tidak direkomendasikan karena valuasinya tidak lagi murah, dan karena kinerja perusahaan masih turun karena efek pemangkasan RKAB batubara, sedangkan ekspansinya di bisnis data center dll masih butuh waktu untuk bisa menghasilkan kontribusi pendapatan yang signifikan. Catat pula bahwa alasan MSCI mengeluarkan DSSA dari indeks mereka adalah karena DSSA ini termasuk emiten dengan high shareholding concentration atau HSC, dimana meski betul bahwa pada hari ini jumlah pemegang saham DSSA tembus 100 ribu SID, tapi mayoritas pemegang saham baru itu hanya memegang saham DSSA dalam jumlah lot yang sangat kecil, dalam hal ini totalnya kurang dari 5% saham beredar, sedangkan 95% selebihnya tetap dipegang oleh sekelompok kecil pemegang saham, termasuk pemegang saham pengendali.
Yang itu artinya, meskipun DSSA pada saat ini berstatus sebagai salah satu saham paling likuid di BEI, tapi kenaikan atau penurunan harga sahamnya masih hampir sepenuhnya ditentukan oleh sekelompok kecil pemegang saham tersebut. Nah, sekarang bayangkan jika pemegang saham yang menguasai 95% saham DSSA ini pelan-pelan distribusi ke investor ritel, dimana kalau penulis sendiri yang jadi pemegang saham tersebut maka hampir pasti saya akan melakukannya, mumpung harganya lagi tinggi (Catat bahwa jika dihitung sejak tahun 2021 lalu, maka DSSA pada harganya saat ini sudah naik sekitar 15 kali lipat). Maka apakah DSSA ini bakal kembali naik, atau pelan-pelan turun?
Anyway, balik lagi kalau dari sisi fundamental, maka di BEI ada banyak saham terkait batubara/data center lainnya dengan valuasi yang jauh lebih reasonable, kinerja laba bersih yang lebih bagus, dan dengan dividen yang juga lebih besar (dalam lima tahun terakhir atau lebih lama lagi, DSSA tidak pernah bayar dividen). Sehingga, meskipun terkait masalah MSCI atau HSC diatas maka itu tidak berarti sahamnya pasti akan turun (kalau market maker-nya mau maka bisa saja DSSA dikerek lebih tinggi lagi, we never know), namun penulis akan lebih merekomendasikan saham-saham lain yang ‘naik turunnya mengikuti mekanisme supply and demand yang wajar, bukan hanya ditentukan oleh sekelompok orang saja’.
Dan nanti di tulisan berikutnya, kita akan
bahas satu saham yang memenuhi semua kriteria fundamental diatas. Just stay
tune!
***
Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Komentar