Matahari Dept. Store (LPPF)

Bagi investor, selain harus bisa bertahan dan tetap calm di masa resesi, maka challenge berikutnya adalah menemukan saham turn-around, yakni saham dari perusahaan yang kinerjanya buruk/rugi karena efek resesi itu tadi, tapi harga sahamnya juga sudah kelewatan turunnya dan alhasil valuasinya menjadi amat-sangat-murah. Sehingga jika nanti resesinya berakhir/ekonomi membaik, dan kinerja perusahaan juga kembali membaik, maka sahamnya juga bisa naik banyak karena valuasinya yang terlalu murah itu tadi. Ilustrasi sederhana, katakanlah saham A, pada masa normal dan kinerjanya bagus, PBV-nya 2.0 kali. Tapi karena di tahun 2020 ini dia merugi, maka sahamnya juga terus saja turun hingga PBV-nya tinggal 0.4 kali.

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal III 2020 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, tersedia gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Video Seminar Value Investingbasic and advanced, bisa diperoleh disini. Alumni bisa bergabung dengan layanan webinar (jadwal berikutnya, Sabtu, 21 November) secara gratis.

***

Nah, jika selanjutnya perusahaan bisa bertahan, dan kembali membukukan laba besar ketika resesinya berakhir, maka sahamnya juga akan naik, dan balik lagi ke PBV 2.0 kali itu tadi. Dari PBV 0.4 ke 2.0 kali, artinya kenaikannya mencapai? Yup, 5 kali lipat!

Jadi disinilah kita bisa memiliki peluang multibagger, atau penulis menyebutnya mutiara terpendam. Nah, jadi ketika saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) terus saja turun hingga terakhir berada di posisi 875, maka penulis banyak menerima pertanyaan, apakah LPPF ini calon saham turn-around? Mengingat jika dibandingkan dengan posisi tertingginya pada tahun 2016 lalu di 21,000, maka posisi sekarang tentu saja sangat rendah. Dan gak usah LPPF ini balik ke 21,000: Dia balik ke 4,000 saja, yang merupakan posisinya pada awal tahun 2020 ini, maka profitnya sudah lima kali lipat bukan??

Untuk menjawab itu, mari kita pelajari lagi LPPF ini sejak awal.

Sejarah Matahari Dept. Store dimulai ketika pada tahun 1958, Bpk. Hari Darmawan membuka toko pakaian anak-anak di Pasar Baru, Jakarta, dan pada tahun 1968, Bpk. Hari memperluas usahanya dengan membeli ‘Toko De Zon’, yang merupakan toko serba ada terbesar di Kawasan Pasar Baru ketika itu, dan mengubah namanya menjadi 'Toserba Matahari'. Tahun 1972, Bpk. Hari membuka gerai department store pertama di Indonesia di Jakarta, juga dengan nama Matahari, yang segera disusul dengan pembukaan gerai lainnya tidak hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota besar lainnya di seluruh tanah air. Tahun 1986, PT Matahari Putra Prima resmi berdiri, dan menyusul listing di Bursa Efek pada tahun 1992, dengan ticker MPPA. Pada titik ini MPPA sudah sangat dikenal sebagai perusahaan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, dan Bpk. Hari itu sendiri kemudian terpilih sebagai wakil ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Hingga pada tahun 1997, krisis moneter menyebabkan MPPA jatuh bangkrut, dan perusahaan kemudian diambil alih oleh Grup Lippo melalui PT Multipolar, Tbk (MLPL). Di tangan Grup Lippo, MPPA kembali berekspansi membuka pusat-pusat perbelanjaan baru dan tidak lagi hanya menjual pakaian, melainkan juga menjual aksesoris, sepatu, dan tas, membuka supermarket yang menjual kebutuhan sehari-hari, apotek, hingga menyewakan outlet untuk café dll. Meski demikian, usaha Dept. Store/toko pakaian tetap menjadi kontributor terbesar dari pendapatan MPPA secara keseluruhan.

Kemudian pada tahun 2009, masuk CVC Capital Partners untuk berinvestasi di MPPA, tapi mereka hanya mau berinvestasi di segmen usaha dept. store-nya saja. Maka, anak usaha lainnya dari MLPL, yakni PT Pacific Utama, Tbk (LPPF), mengambil alih unit usaha dept. store dari tangan MPPA, lalu namanya diubah menjadi PT Matahari Dept. Store, Tbk (LPPF). CVC kemudian mengakuisisi LPPF dengan cara menyuntik modal, sehingga MLPL tetap memegang saham LPPF, namun porsi kepemilikan sahamnya menjadi lebih kecil dibanding porsi saham milik CVC. Kesemua proses ini selesai pada tahun 2013, dan pada titik ini LPPF tidak lagi dikuasai oleh Lippo, melainkan oleh CVC.

Kemudian di tangan CVC, LPPF berkembang lebih pesat lagi, dimana hingga pada akhir tahun 2019 kemarin, LPPF memiliki 169 gerai Matahari di 76 kota di seluruh Indonesia (naik signifikan dari 131 gerai di tahun 2014), gerai online Matahari.com, dan mempekerjakan lebih dari 4,000 karyawan. Laba bersih LPPF juga terus bertumbuh dari Rp771 milyar di tahun 2012, hingga sempat tembus Rp2.0 trilyun pada tahun 2016, sebelum kemudian turun lagi menjadi Rp1.3 trilyun di tahun 2019. However, dengan ekuitas hanya Rp1.7 trilyun pada akhir tahun 2019, maka laba LPPF tetap tergolong sangat besar (ROE-nya mencapai 78.3%), dan inilah yang menyebabkan sahamnya naik sangat tinggi hingga valuasinya menjadi premium, dimana PBV LPPF bahkan lebih tinggi dari PBV saham-saham bluechip seperti Bank BCA (BBCA) atau Telkom (TLKM). But still, karena labanya turun sejak tahun 2016 itulah, maka sejak tahun 2016 tersebut, saham LPPF balik arah dan cenderung turun pelan-pelan.

Hingga tahun 2019 kemarin, setelah penurunan sahamnya mentok di 3,000, yang mencerminkan dividend yield jumbo yakni 10.7% (untuk tahun buku 2018, LPPF membayar dividen Rp320 per saham), maka penulis sendiri mulai tertarik dengan LPPF ini, dan memang beberapa waktu kemudian LPPF naik lagi sampai tembus 4,000 pada awal tahun 2020 (meski sayangnya saya gak sempet beli). Memasuki bulan April 2020, seiring dengan market crash, maka saham LPPF juga ikut drop dengan cepat hingga mentok di 1,000-an, tapi kali ini penulis tidak lagi seantusias dibanding beberapa bulan sebelumnya ketika LPPF ini masih di 3,000, karena pandemi Covid-19 dan penerapan PSBB di Jakarta dan banyak lagi kota-kota besar lainnya di Indonesia jelas berpengaruh besar terhadap kinerja perusahaan. Dan memang ketika LPPF merilis laporan keuangan Q1 2020, labanya langsung minus alias rugi Rp94 milyar. Kemudian hingga Q3 barusan, kondisinya belum membaik dimana ruginya membengkak menjadi Rp617 milyar.

LPPF turn-around? Maybe not

Kinerja yang tergolong sangat buruk diatas (karena ingat bahwa sejak awal ekuitas LPPF hanya Rp1 trilyun sekian, sehingga dengan menderita rugi sebesar itu, maka ekuitasnya sekarang tinggal Rp793 milyar saja) menyebabkan saham LPPF tidak mengikuti rebound IHSG dalam beberapa bulan terakhir, dimana posisinya saat ini, yakni 875, bahkan jauh lebih rendah dibanding titik terendah market crash pada tanggal 24 Maret lalu (tanggal dimana IHSG drop sampai 3,924), yakni 1,345. Penurunan ekuitasnya yang sangat signifikan juga menyebabkan valuasinya belum semurah yang diperkirakan, dimana PBV-nya saat ini masih 2.9 kali. Meski memang disisi lain, dengan mempertimbangkan market cap-nya yang hanya tinggal Rp2.3 trilyun, maka jika nanti LPPF bisa kembali membukukan laba bersih Rp1 trilyun saja (ingat bahwa tahun 2019 kemarin laba LPPF masih Rp1.3 trilyun), maka valuasinya dari sisi PER akan sangat-sangat rendah, sehingga hampir pasti sahamnya bakal terbang.

Jadi pertanyaannya kemudian, seberapa besar peluang LPPF untuk kembali membukukan laba? Nah, kita tahu bahwa per bulan November ini, meskipun kasus baru Covid-19 masih terus bertambah di Indonesia (dan actually gak cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia juga sama), tapi gerai-gerai dept. store sudah kembali buka seperti biasa dengan protokol new normal, dan harusnya gak akan sampai ditutup lagi sama sekali (jika nanti ada PSBB lagi, paling hanya kapasitas pengunjung dibatasi). Tapi masalahnya sekarang berhubungan dengan daya beli masyarakat yang drop karena resesi, dimana selama kondisinya belum membaik, maka kinerja LPPF juga masih akan drop. Lalu yang jadi perhatian adalah juga utang/liabilitas perusahaan, dimana LPPF sekarang pegang utang bank jangka pendek sebesar Rp1.4 trilyun, yang kalaupun perusahaan bisa melunasinya/memperpanjang waktu jatuh tempo, tapi beban bunganya akan menggerus laba operasional perusahaan. Kemudian jika misalnya di tahun 2021 nanti LPPF kembali rugi sekian ratus milyar Rupiah, maka ekuitasnya yang sudah berkurang drastis tadi akan kembali turun hingga menjadi minus/defisiensi modal. Dan jika itu terjadi, maka secara teknis, LPPF bisa dikatakan bangkrut. Lalu terakhir, pihak CVC ternyata sudah sejak beberapa tahun terakhir secara bertahap melepas saham LPPF ke publik pada harga tinggi (kurang lebih Rp10,000 per saham), dan sekarang ini mereka sudah tidak memegang LPPF sama sekali. Sehingga, meskipun data terakhir menunjukkan bahwa Grup Lippo melalui MLPL hanya memegang kurang dari 20% saham perusahaan, tapi LPPF dalam hal ini kembali dikuasai oleh Lippo, bukan lagi CVC. Dan mungkin hal ini juga yang menjelaskan, kenapa laba LPPF sudah mulai turun lagi sejak 2016, padahal kondisi ekonomi ketika itu masih baik-baik saja.

Namun jika masalahnya seperti diatas saja, maka penulis sendiri tetap akan memasukkan LPPF ini ke watchlist, menunggu sampai kinerja perusahaan membaik. Tapi setelah pada awal November ini, LPPF tiba-tiba saja mengumumkan perubahan kegiatan usaha utama dengan mengakuisisi Bank National Nobu (NOBU), yang juga dimiliki oleh Grup Lippo, maka ya sudah wassalam. I mean, gimana ceritanya perusahaan dept. store yang sedang kesulitan tiba-tiba saja harus keluar dana besar untuk membeli bank? Ini sih kelewatan gak nyambungnya! Sedangkan fundamental NOBU itu sendiri tidak istimewa, jika tidak mau dikatakan buruk, dengan rata-rata ROE minimalis di 2 – 3% per tahun sejak tahun 2015, atau lebih lama lagi.

Jadi kesimpulannya, sorry guys, LPPF ini tidak recommended, termasuk sangat kecil kemungkinannya untuk turn-around, kecuali jika rencana akuisisinya diatas dibatalkan (tapi ya gak mungkin sih). Tapi untungnya, bisa penulis katakan bahwa di BEI masih ada banyak perusahaan lain yang memiliki peluang lebih besar untuk turn-around, dan tentunya menawarkan profit berlipat-lipat hanya dalam waktu 1 tahun atau kurang, karena saham dari perusahaan yang bersangkutan juga belum naik banyak meskipun IHSG-nya naik, karena memang kinerja mereka sejauh ini masih rugi/labanya turun. Anyway, nanti kita akan bahas salah satunya di kesempatan berikutnya. Dan sambil menunggu, jika anda punya pendapat tersendiri tentang saham apa yang kira-kira bakal turn-around, maka anda bisa menyampaikan analisanya melalui kolom komentar dibawah.

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal III 2020 sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, tersedia gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Video Seminar Value Investingbasic and advanced, bisa diperoleh disini. Alumni bisa bergabung dengan layanan webinar (jadwal berikutnya, Sabtu, 21 November) secara gratis.

Komentar

Anonim mengatakan…
Penjelasannya cukup bagus, Pakbro.
Tapi menurut saya masih ada perspektif yang kurang.

Pertama, LPPF ini sebenarnya adalah capital efficient company, dalam artian pada kondisi normal ROE-nya sangat tinggi. Perusahaan yang memiliki karakter seperti ini tidak bisa dinilai dengan menggunakan parameter PBV.

Kedua, memang manajemen beberapa kali melakukan belanja capex yang sedikit buruk, misalnya saat berinvestasi saham di website Matahari Mall yang berujung write off 769 M di tahun 2018 dan kemaren membeli saham Bank Nobu yang memakan biaya 549 M, tetapi perlu diingat bahwa selama periode 2013-2019 saja (dalam tempo 7 tahun) laba yang dihasilkan LPPF itu hampir 11,5 Trilyun dan dividen yang sudah dibagikan selama periode tersebut adalah sebesar 6,2 Trilyun. Jadi bahasa gampangnya, manajemen LPPF memang pernah punya salah, tapi kesalahannya juga tidak terlalu besar dibandingkan dengan prestasinya selama ini.

Ketiga, pada tahun 2012 LPPF pernah ekuitasnya negatif 1,9 T dan mempunyai hutang ke bank sebesar 2,4 T. Dibandingkan kondisi balance sheet sekarang, berarti kondisi pada waktu itu jauh lebih buruk. Tapi kenyataannya LPPF terus bisa menghasilkan laba sampai tahun 2019. Jadi menurut saya kekuatan LPPF bukan di balance sheet tapi di kekuatan Merk dan kekuatan menghasilkan cash flow. Sehingga kondisi ekuitas negatif belum tentu menjadi masalah besar buat LPPF.

Keempat, nah ini cuma berandai-andai.. Kemaren LPPF kan membeli saham Bank Nobu dari perusahaan milik grup ownernya sendiri yaitu PT IAP. Kemana uang sebesar 549 M ini akan digunakan oleh PT IAP? Kita sih berharap akan digunakan untuk membeli saham LPPF lagi. Karena sebenarnya siapa yang tidak ngiler melihat sebuah perusahaan dengan angka cash flow dari pelanggan sekitar 19 T per tahun dan kisaran laba di kondisi normal 1,3 s/d 2 T per tahun, tapi sekarang dihargai market cap nya di bawah 2,5 T? Uang sebesar 549 M itu jika bisa dibelikan saham LPPF di harga sekarang akan dapat saham banyak sekali, sekitar 20% kepemilikan, lebih tinggi dari kepemilikan MLPL.

Jadi menurut saya di LPPF pun peluang bagger masih ada. Ya kalo memang takut dengan resiko ini-itu ya jangan all in. Mungkin barang 10-20 persen porto dibelikan LPPF kalau saya pribadi sih masih berani.

Demikian terima kasih atas kesempatan diskusi yang diberikan.
Salam sukses selalu.
Unknown mengatakan…
Gak dibahas behind the scene mengapa LPPF malah invest di NOBU dan skenario apa yang akan dijalankan oleh Lippo terkait aksi nyeleneh ini Pak? tks
Anonim mengatakan…
Tolong bahas KBLI pak, apa mungkin turnaround juga ? thx
David mengatakan…
mungkin kah, mau mengikuti jejak jackma dengan akulaku dan bank yudha bakti? 🤣🤣

tapi tetap sih, memang manuver grup ini unik

pilih yang lain saja deh

thx Pak Teguh, selalu mencerahkan
Anonim mengatakan…
Mau seberapa menguntungkan pun,kalau pemiliknya cenderung licik yg ada dikadalin trus kedepannya. Apalagi ownernya skrg bener2 pegang kendali penuh,no investor asing lagi jadi ga ada check n balance.
Anonim mengatakan…
request powr pak..kmrn sempat trading di saham ini sekitar tanggal2 cum datenya..tertarik karran div yield nya besar untuk harga sekarang
JK mengatakan…
KEEN pak.
Kencana Energi Lestari
IPO tanggal 2 Sep 2019 di harga 396.
Dana Hasil IPO sd Juli'20 masih tersisa 14% atau Rp 40M.
Bisnis: BOOT (Build, Own, Operate, Transfer) Pembangkit Listrik.
Potensi Laba Bersih 2020 meningkat 160% YoY.
Rekomendasi BUY dgn TP 600.
brian fendy mengatakan…
Dalam 3 tahun terakhir Management terlihat hanya berusaha keras untuk mensupport Lippo group nya.

Tahun Q32020 LPPF menghapus saham tresury nya dengan menghapus saham modal. Ini sungguh buruk menurut saya, akan saya kupas.
Total semua pembelian saham treasury dari tahun 2017 adalah Rp 1.14 Triliun dengan jumlah saham 178 juta saham. Harga beli saham rata rata tresury Rp 6420 / saham.
Yang biasanya saham Treasury itu dibeli dan akan dijual kembali ketika harga saham naik.
Disini Management tampak nya TIDAK YAKIN bahwa saham nya akan naik lagi.
Dan effect dari penghapusan saham modal, publik lah yang rugi.
Kepemilikan publik yang awalnya 78% SEKARANG hanya tinggal 75.2% di Q3 2020
Dan kepemilikan MLPL malah naik dari 18.18% sekarang yang tercatat sudah 24.7%.
Artinya saham treasury Rp 1.14 Trilliun itu ditanggung 78% oleh Publik kerugiannya. Sebagai pemegang saham publik kita hanya bisa telan telan ludah


Lagi lagi di tahun 2020Q3 LPPF yang sudah mau tenggelam malah membeli saham NOBU. ini belinya bukan beli saham dari pasar. Tapi LPPF membeli saham NOBU dari kepemilikan Lippo group.
Artinya publik lah yang setor duid ke Lippo group karena publik mempunyai 75% kepemilikan di LLPF. Dan bukannya dikasi diskon tapi beli nya harga PREMIUM.
SEPERTI MEMBERIKAN LAST BREATHNYA UNTUK LIPPO GRUOP. How bad the managementnya?
Alasan beli biar lebih bagus omnichanel nya dan bla bla bla bla. Kenapa ga beli BBCA aja. Kenapa harus beli harga premium nya NOBU.
Kesel kan?
Dan kenapa juga mau beli dengan harga PREMIUM,kalau memang betul untuk sinergi dan lippo memang mau majukan LPPF nya yah sebaiknya dikasi diskon dong. *HARGA SODARA. ini dikasi *HARGA MUSUH

Btw Kalau tadi MLPL memiliki diatas 50% an LPPF saya rasa masih oke. Tapi karena Publik hampir 80% memiliki saham LPPF. Ini sama aja Publik la yang setor duid ke Lippo group.

Dan ditahun 2018 sendiri menghapuskan asset investasi nya di matahari mall sebesar 769 miliar. What the??
Investasi gitu gede kenapa bisa ya langsung dianggap rugi semua? ga ada yang bisa diperjuangkan ? ga ada yang bisa jual? ini saya nampaknya seperti akal akalan aja.
Atau jangan jangan 769 milliar kemarin digunakan asal asal aja, seperti membayar mahal CEO & komisaris nya, membeli peralatan dari Lippo gruop yang tidak bisa dipakai atau yang lainnya.
Atau membeli mobil mewah dan rumah mewah para direksinya. Who know?
Yah management anggap enteng karenah PUBLIK lah yang menanggung kerugiannya.

LPPF itu sepertinya dibuat cashcow nya Lippo, daripada bagi deviden yang ujungnya menguntungkan Publik, bagusnya mempesta porakan untuk kepentingan pribadi GROUP mereka.

Liat manuver manuver dari Group ini pusing.
Anonim mengatakan…
Lippo wah pusing deh. Fundamental, laporan keuangan hmm gitu deh. becareful. saya sendiri pernah beli beruntung dapat di 60 lalu tebus right issue di rp300. Sampai akhirnya jual di rp15.300, walaupun 1-2thn kemudian sempat 20rb kalau gak salah. Dan sampai hari ini saya belum berniat invest lagi. Matahari department store itu dulunya laba tipis lalu right issue kerjannya. Yang megang saham itu pasti gak sabaran. Lalu saat perusahaan itu mau dibeli lppf, hari itulah kesempatan emas. karena matahari trs ekspansi sementara labatipis, kadang rugi, dan right issue trs dulunya. Coba lihat prospek perusahaan pakai helicopter view.

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Peluang Mutiara Terpendam di Saham Batubara

Seminar: Berburu Saham ‘Mutiara Terpendam’

Webinar Value Investing, Sabtu 19 Desember 2020

Peluang Multibagger di Saham yang Terdampak Covid-19

Alasan Utama Kenapa W. Buffett Terus Menjual Saham, dan Menambah Cash