Prospek Saham TUGU: Bisakah Naik Lagi ke 3,000?

Hingga Selasa, 28 Maret 2023, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia, Tbk (TUGU) masih belum merilis laporan keuangan (LK) untuk periode tahun penuh 2022. Namun berdasarkan LK Q3 2022, dan berdasarkan harga sahamnya saat ini yakni Rp1,920 per saham, maka TUGU sekilas tampak menarik dari sisi valuasi karena PBV-nya hanya 0.5 kali. Tapi bagaimana dengan fundamental kinerja serta prospeknya? Dan kenapa saham TUGU ini turun sangat signifikan dibanding harga IPO-nya di 3,850, bulan Mei 2018 lalu?

***

Ebook Market Planning edisi April 2023 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan akan terbit 1 April mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Sejarah TUGU dimulai pada tahun 1981 ketika BUMN Pertamina mendirikan TUGU sebagai anak usaha di bidang asuransi untuk menyediakan layanan asuransi bagi Pertamina itu sendiri, anak-anak usahanya, serta para kontraktor pihak ketiga. Karena Pertamina merupakan perusahaan minyak dan gas, maka pada tahun-tahun awal operasinya, TUGU fokus sepenuhnya di penyediaan pertanggungan asuransi dan manajemen risiko untuk aset-aset minyak dan gas milik Pertamina, yang jumlahnya memang sangat banyak dan senantiasa bertambah dari waktu ke waktu. Pada tahun 1994, TUGU mulai berekspansi dengan melakukan investasi penyertaan modal pada perusahaan asuransi lain, baik secara mayoritas maupun minoritas, melalui anak usahanya PT Tugu Pratama Interindo (TPInt). Melalui investasinya inilah, TUGU kemudian tidak lagi hanya fokus di asuransi minyak dan gas, melainkan mulai menyediakan layanan asuransi secara umum. Namun dalam perkembangannya ekspansi tersebut tidak menghasilkan keuntungan yang maksimal, dimana sampai dengan tahun 2022 kemarin, TUGU melalui TPInt hanya memiliki investasi di empat entitas asosiasi yang hanya berkontribusi laba bersih sebesar Rp12 miliar saja, sama sekali tidak signifikan dibanding total laba bersihnya sebesar Rp262 miliar. Alhasil sampai dengan hari ini, sumber pendapatan terbesar TUGU tetap berasal dari pertanggungan risiko yang berhubungan dengan sektor minyak dan gas, seperti kebakaran, pengangkutan, engineering, dan rangka kapal. Dan klien perusahaan juga masih didominasi Pertamina serta anak-anak usahanya.


Barulah pada tahun 2018, setelah meraup Rp659 miliar dari IPO-nya, TUGU kembali berekspansi dengan memperluas pemasaran produknya di lingkungan BUMN (jadi gak lagi hanya fokus di Pertamina), mengembangkan produk asuransi untuk pelanggan ritel/perorangan termasuk membangun aplikasi digital, dan memperkuat bisnis reasuransi. Sayangnya sampai dengan hari ini, maka seperti disebut di atas, pendapatan TUGU mayoritas masih berasal dari asuransi untuk sektor minyak dan gas. Memang, sejak diluncurkan pada tahun 2018, maka usaha asuransi ritel TUGU, dalam hal ini asuransi kendaraan bermotor, mengalami pertumbuhan yang cukup pesat dimana nilai gross written premium (GWP) meningkat dari Rp170 miliar di tahun 2018, menjadi Rp370 miliar di tahun 2023. Tapi angka segitu baru mencerminkan 9.7% dari total GWP perusahaan, dan sepertinya masih butuh waktu lama agar unit asuransi ritel ini bisa berkontribusi maksimal terhadap pendapatan TUGU secara keseluruhan. Perkembangan yang lebih baik ditunjukkan oleh usaha reasuransi yang hingga Q3 2022 menghasilkan laba bersih Rp59 miliar, tumbuh 256% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan sudah mencerminkan 23% dari total laba perusahaan. But still, karena kesemua progress tersebut butuh waktu sekitar 5 tahun sejak IPO-nya, maka manajemen sepertinya masih perlu waktu panjang untuk membangun dua usaha barunya (asuransi ritel, dan reasuransi) hingga sampai ke satu titik dimana kinerja TUGU secara keseluruhan tidak lagi terlalu bergantung pada Pertamina.

Disisi lain, kita tahu bahwa pendapatan perusahaan asuransi tidak melulu dari jualan premi tapi juga dari investasi, dimana uang premi yang dibayarkan nasabah yang belum kembali dibayarkan ke mereka (dalam bentuk klaim), oleh perusahaan akan diputar di sejumlah instrumen seperti reksadana, deposito, obligasi, dan juga saham, sehingga dihasilkan keuntungan. Sayangnya, meski untuk instrumen yang lain TUGU memperoleh sejumlah keuntungan (yang tidak terlalu besar, tapi lumayan lah), namun dari investasinya di saham maka perusahaan menderita kerugian, dimana per 30 September 2022, dari total biaya pembelian saham sebesar Rp490 miliar mulai dari saham Astra International hingga saham Tambang Batubara Bukit Asam, maka nilai saham-saham tersebut menyusut menjadi Rp434 miliar (rugi Rp56 miliar). Karena per hari ini yakni 28 Maret 2023, IHSG sudah turun signifikan dibanding 30 September 2022 lalu, maka hampir bisa dipastikan TUGU akan menderita kerugian yang lebih besar lagi.

Kesimpulannya, well, penulis tidak melihat bahwa TUGU ini cukup menarik baik dari sisi kinerja keuangan terbarunya maupun prospeknya dalam jangka panjang, dimana manajemen belum memiliki track record yang bagus dalam hal pengembangan usaha, ataupun pengelolaan investasi milik perusahaan. Dan ROE TUGU selama ini juga hanya berkisar di level 2 – 3%, jadi kalau penulis sendiri akan lebih memilih berinvestasi di deposito ketimbang sahamnya. Satu-satunya yang menarik adalah valuasinya yang memang sangat murah dengan PBV hanya 0.5 kali, dan sebagian besar aset perusahaan merupakan aset yang likuid seperti deposito dan saham itu tadi, sehingga mudah untuk dicairkan. Tapi balik lagi: Jika kinerja perusahaan kedepannya masih gitu-gitu aja, dan penulis melihatnya demikian, maka sahamnya juga gak bakal kemana-mana.

Sehingga jika anda termasuk yang pegang sahamnya, maka boleh pertimbangkan lagi apakah mau tetap hold, atau jual. Kebetulan dalam waktu dekat ini, tepatnya tanggal 24 Mei 2023, TUGU akan melaksanakan stocksplit 1 : 2, dan ada kemungkinan sahamnya akan naik. Pada saat itulah anda bisa memanfaatkan momentumnya untuk keluar.

And by the way kinerja fundamental serta prospek TUGU yang tidak cukup bagus ini selaras dengan kinerja emiten-emiten yang IPO dalam lima tahun belakangan ini, baik itu yang swasta maupun BUMN, yang memang juga tidak bagus atau bahkan merugi. Sehingga tidak heran jika harga sahamnya, meski mungkin sempat naik pada awalnya, tapi cenderung turun pada akhirnya, malah ada beberapa yang sampai mati di gocap, atau bahkan delisting. Jadi bisa dibilang bahwa kualitas saham-saham IPO belakangan ini turun tajam dibanding masa lalu, dan itu juga salah satu alasan kenapa IHSG sulit sekali untuk naik sejak tahun 2018, terutama karena jumlah IPO ini sangat banyak (lebih dari 50 IPO per tahun). Dan alhasil dalam lima tahun terakhir ini para investor saham baik itu ritel maupun institusi lebih banyak yang menderita kerugian (seperti TUGU itu sendiri yang juga merugi dari investasi sahamnya), ketimbang menghasilkan keuntungan.

Namun kabar baiknya, untuk perusahaan-perusahaan yang sudah ada di BEI sejak lama, maka ada banyak dari mereka yang memiliki kinerja bagus, prospek yang cerah, serta valuasinya masih murah, sehingga kita bisa beli sahamnya. Sehingga, meski penulis sendiri tidak memegang TUGU ini dan juga saham-saham yang baru IPO lainnya, tapi kita ada pegang beberapa saham lain yang jauh lebih bagus, salah satunya yang sudah dibahas disini. Dan kedepannya jika ada saham bagus lainnya maka akan kita bahas lagi, just stay tune!

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi terbaru Kuartal IV 2022 sudah terbit! Dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Live Webinar Value Investing, Sabtu 27 April 2024

Ebook Investment Planning Kuartal I 2024 - Sudah Terbit!

Indo Tambangraya Megah: Masih Royal Dividen?

Laporan Kinerja Avere Investama 2022

Prospek Saham Samudera Indonesia (SMDR): Bisakah Naik Lagi ke 600 - 700?

Perkiraan Dividen PTBA: Rp1,000 per Saham

Pegang Saham Unilever (UNVR) Sejak Lama di Harga Atas, Hold Atau Cut Loss Saja?