Cara Investasi Jangka Panjang Seumur Hidup di US Stocks
Bulan Oktober 2025 lalu kita sudah membahas bahwa kalau anda ingin investasi saham untuk di-hold selama lima atau sepuluh tahun, atau lebih lama lagi, maka bisa pertimbangkan untuk membeli saham perusahaan luar negeri, dalam hal ini di Amerika Serikat (US), mengingat kalau di Indonesia maka pilihannya sangat terbatas terutama pasca Covid tahun 2020 lalu, dimana saham-saham yang dulunya dikenal sebagai legacy stock seperti HM Sampoerna (HMSP), Unilever Indonesia (UNVR), dan bahkan sampai sekelas Bank BCA (BBCA), semuanya justru underperform dalam lima tahun terakhir. Anda bisa baca lagi ulasannya disini.
***
Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disini. Gratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.
***
Dan situasi di Indonesia ini berbeda dengan di US, dimana saham-saham mega caps berkinerja bagus seperti Apple (AAPL), Meta Platforms (META), dan Nvidia Corp (NVDA), maka boleh anda cek, semuanya naik signifikan dalam lima, sepuluh tahun terakhir. Menariknya lagi, kalau kita ambil contoh saham yang ‘mirip-mirip’ dengan tiga bluechip lokal diatas (HMSP, UNVR, BBCA), maka mereka juga sama naik cukup signifikan. Misalnya Philip Morris (PM), perusahaan induk dari HMSP, sahamnya naik 80%. Atau JP Morgan Chase (JPM), yang bisa dianggap sebagai ‘BBCA-nya Amerika’, yang sukses naik 82% dalam lima tahun terakhir. Yang ceritanya agak berbeda adalah Unilever Plc (UL), perusahaan induk dari UNVR, dimana sahamnya turun tipis -6% sejak tahun 2021 lalu, but still, itu masih lebih baik dibanding saham UNVR itu sendiri di Indonesia, yang anjlok -72% dalam periode waktu yang sama, dari Rp6,600 hingga sekarang (ketika artikel ini ditulis) tinggal Rp1,860.
Namun demikian, seperti yang sudah penulis sampaikan di ulasannya, saya sendiri hampir tidak pernah beli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk tujuan di-hold hingga 5 – 10 tahun ke depan, melainkan paling lama 1 – 2 tahun saja. Sebab, pengalaman menunjukkan bahwa profit terbesar/multibagger itu bisa diperoleh dari saham-saham yang dibeli pada valuasi serendah-rendahnya, biasanya ketika kinerjanya sedang kurang bagus, dan nanti sahamnya akan naik sangat tinggi ketika kinerja perusahaan yang bersangkutan berubah menjadi bagus (turnaround). Contohnya? Well, tahun lalu kita sudah rekomen saham tambang/perhiasan emas dan nikel, dan terbukti profit. Kemudian yang terbaru di awal 2026 ini maka kita juga sudah membahas beberapa sektor saham di BEI yang berpotensi naik banyak bahkan meskipun IHSG anjlok, misalnya saham sektor minyak (karena berhubungan langsung dengan situasi Perang Iran - US), dan batubara.
Dan memang sejauh ini saham-saham minyak dan batubara di BEI sudah naik lumayan, sehingga kalau anda kemarin juga ikut beli maka posisinya sekarang sudah profit. Nah, tapi apakah kita akan hold sahamnya sampai misalnya tahun 2031 nanti? Jelas tidak, melainkan kemungkinan dalam waktu 1 – 2 tahun saja kita akan sudah profit taking, mengingat sektor komoditas itu cyclical, dimana misalnya harga batubara itu sendiri tidak akan selamanya naik, melainkan pada waktunya nanti akan turun lagi. Jadi sebelum turun itulah, kita akan sudah profit taking untuk kemudian pindah lagi ke sektor lain.
Sehingga, kalau horizon investasinya adalah 1 – 2 tahun ke depan maka jangan khawatir karena di BEI pilihannya ada banyak, tinggal kita sebagai investor harus pintar-pintar baca situasi geopolitik dll saja. Nah tapi balik lagi: Saya maunya beli saham lalu hold saja, kalau bisa seumur hidup untuk nanti diwariskan ke anak cucu (legacy stocks), dan kalau bisa pula nanti sahamnya dibeli lagi secara mencicil tiap bulan (pakai metode Dollar Cost Averagin/DCA). Kalau demikian maka, seperti disebut diatas, anda bisa pertimbangkan untuk berinvestasi di US stocks. Tinggal problemnya, tentunya tidak semua US stocks bisa dibeli untuk tujuan hold forever, dimana contohnya baru saja ditulis diatas: Saham Unilever Plc (UL) justru turun dalam lima tahun terakhir. Kemudian tentunya juga tidak ada jaminan bahwa US legacy stocks seperti AAPL, META, dan NVDA akan lanjut naik tinggi dalam lima tahun ke depan.
Nah, jadi solusinya bagaimana? Well, kalau gitu kita bisa ikuti saran dari Warren Buffett untuk berinvestasi di exchange traded fund, disingkat ETF, lebih spesifiknya index fund yang tracking pergerakan S&P 500 Index (SPX), yang bisa kita anggap sebagai IHSG-nya Amerika. Jadi dengan kita beli ETF ini, maka itu sama seperti kita membeli semua saham yang menjadi komponen SPX itu sendiri. Contohnya State Street SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) atau Vanguard S&P 500 ETF (VOO), dimana kedua ETF tersebut naik total 60% dalam lima tahun terakhir, sama seperti SPX yang juga naik sekitar 60%. Dan dasar pemikirannya adalah, meskipun SPX juga tentunya tidak selalu naik setiap tahun, dimana dalam sepuluh tahun terakhir S&P 500 Index pernah turun di tahun 2015, 2018, dan 2022 (termasuk di 2026 ini sampai dengan 27 Maret, maka SPX juga turun -7.0% secara year to date), tapi pada akhirnya dia akan naik lagi, dengan rata-rata kenaikan sekitar 12% per tahun sejak tahun 2010, sudah termasuk menghitung tahun-tahun dimana dia turun.
Sehingga jika anda beli SPY atau VOO secara menyicil tiap bulan, tak peduli dia naik atau turun, maka setelah 5 – 10 tahun, hasil akhirnya hampir pasti tetap akan profit. Dan ini berbeda dengan kalau kita beli saham-saham tertentu secara individual, dimana kalau anda beli AAPL atau JPM, maka memang setelah lima tahun hasilnya juga profit, malah dengan persentase profit yang lebih besar. Tapi bagaimana kalau anda belinya Unilever Plc (UL)? Maka seperti disebut diatas, anda justru akan rugi -6% setelah lima tahun. Nah, tapi jika anda berinvestasi di S&P 500 Index itu sendiri, maka meski profitnya jika dirata-ratakan tidak terlalu besar, hanya sekitar 10 – 12% per tahun (dalam US Dollar, bukan Rupiah), tapi peluang bagi anda untuk memperoleh profit segitu terhitung besar, dan dengan risiko terjadinya kerugian yang juga kecil.
ETF yang lebih baik dibanding SPY dan VOO
Kemudian, bagaimana kalau penulis bilang bahwa ada ETF yang juga tracking S&P 500 Index, tapi dengan rata-rata kenaikan dalam jangka panjang yang lebih tinggi dari sekedar 10 – 12% per tahun, dan di sisi lain risikonya tetap kecil? Yup, ETF itu adalah Invesco S&P 500 Momentum ETF (SPMO), dimana SPMO ini, seperti halnya SPY dan juga VOO, juga berinvestasi di saham-saham yang menjadi komponen S&P 500 Index. Hanya bedanya, jika fund manager yang mengelola SPY dan VOO ini berinvestasi pada semua saham komponen SPX (jumlahnya 503 saham), maka SPMO hanya berinvestasi pada 100 saham komponen SPX yang sudah dipilih berdasarkan sejumlah kritera, seperti kinerja pendapatan dan laba bersih yang bertumbuh, prospek cerah, dan sahamnya uptrend. Dan hasilnya, seperti yang bisa anda lihat disini, SPMO naik total 111% dalam lima tahun terakhir, jauh diatas kenaikan SPY, VOO, dan SPX itu sendiri. Berikut kinerja profit/loss SPMO, SPY, dan VOO sejak 2016 s/d 2025, sudah termasuk dividen (catatan: Jika anda beli ETF di US stocks, maka anda juga akan terima dividen), angka dalam persen. Data diambil dan diolah dari sini.
Okay, perhatikan bahwa setiap tahunnya, SPMO lebih sering outperform SPY dan VOO ketimbang sebaliknya, dan alhasil rata-rata kenaikan per tahunnya atau compounding annual growth rate (CAGR) juga lebih besar, dalam hal ini 16.9% berbanding 13.8%. Dan menurut penulis sendiri, kalau ada jenis investasi dimana kita ‘tinggal beli aja tiap ada duit, abis itu diemin aja gak usah diapa-apain lagi’, dan dari situ kita bisa dapat 16.9% per tahun, maka itu jelas sangat-sangat menarik! Di sisi lain dalam situasi bear market seperti di tahun 2018 dan 2022 lalu, maka perhatikan bahwa penurunan yang dialami SPMO juga tidak sedalam penurunan SPY dan VOO. Sehingga, tidak hanya SPMO ini menawarkan profit lebih besar dalam jangka panjaaaaang antara lima hingga sepuluh tahun, tapi risikonya juga lebih terbatas.
Nah, kebetulan di tahun 2026 ini, atau
setidaknya hingga bulan Maret ini, US stock market sedang bearish lagi, sehingga
ini bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk beli index fund di atas pada
harga diskon, lalu simpan saja sebagai legacy investment sampai tahun 2035 nanti, atau lebih lama lagi. Semoga lancar!
***
Untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang di US Stock Market (Pasar saham Amerika Serikat), bisa ikut channel telegram USC disini. Gratis konsultasi dan tanya jawab saham US untuk member.

Komentar