Cara Profit Maksimal dari Dividen Saham
Pak Teguh belakangan saya lihat di medsos ada banyak postingan investor saham yang menerima transferan dividen, beberapa dengan nominal yang cukup besar. Mungkin bisa dibahas soal ini pak, karena saya masih bingung strateginya gimana? Karena saya sendiri pernah beli saham karena mengejar dividennya, tapi sahamnya kemudian justru turun banyak setelah pembayaran dividen itu sendiri.
**
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
Jawab:
Oke Pak, kita bahas ya. Jadi pertama-tama, saya sendiri sebagai investor fundamental selama ini tidak terlalu mengejar dividen, karena biasanya nilainya lebih kecil dibanding profit dalam bentuk capital gain aka kenaikan harga saham itu sendiri. Bapak mungkin pernah dengar orang bilang, saham A bagus, dividend yield-nya 10%, lebih besar dibanding bunga deposito ataupun kupon surat berharga negara (SBN). Tapi dalam kondisi pasar yang normal, saham yang bagus bisa naik jauh lebih tinggi dari sekedar 10% per tahun, bahkan 100 – 200% pun bisa.
Hanya saja, kita tahu pasar saham Indonesia saat ini sedang tidak normal. IHSG sudah turun sangat tajam sejak akhir Januari 2026 lalu, dan sampai bulan Juli ini masih belum naik lagi. Jadi jangankan capital gain, asal saham yang dipegang tidak turun terlalu dalam saja, itu sudah bagus. Di sisi lain, terlepas dari sahamnya naik atau turun, tapi emiten-emiten yang memang mencatat kinerja laba bersih yang besar tetap bayar dividen seperti biasanya, beberapa dengan yield sangat tinggi diatas 10%. Jadi dari sinilah, investor sekarang lebih mengejar dividen ketimbang capital gain. Namun demikian dividend yield tinggi saja tidak secara otomatis membuat sahamnya layak investasi, karena bisa juga investor justru akan terjebak situasi seperti yang bapak sebutkan: Sahamnya anjlok setelah tanggal cum dividennya, terkadang dengan penurunan yang lebih besar dibanding nilai dividennya itu sendiri. Ini disebut dividend trap, dan bisa membuat investor rugi dalam bentuk capital loss, meskipun betul dia menerima dividen.
Sehingga, berikut poin-poin analisa yang harus bapak perhatikan, jika juga tertarik mengejar dividen dari saham. Pertama, dividend yield betul harus cukup besar, tapi gak harus sampai diatas 10%, melainkan 4 – 6% sudah bagus. Sebab, ada kemungkinan emiten yang yield-nya terlalu besar itu adalah karena perusahaan menggunakan seluruh laba bersihnya untuk bayar dividen, tapi itu artinya tidak ada sisa laba ditahan untuk ekspansi usaha, sehingga perusahaannya tidak bertumbuh. Atau, jika perusahaannya bergerak di bidang komoditas, maka perusahaan tersebut sedang dalam masa puncak cycle-nya (booming) dimana laba bersihnya besar, dan otomatis dividennya juga besar. Tapi jika di tahun berikutnya laba tersebut turun (karena booming-nya mereda), maka sahamnya juga akan turun signifikan, biasanya dengan penurunan yang lebih besar dibanding dividennya itu sendiri.
Sedangkan jika ada saham dengan dividend yield misalnya cuma 1%, maka kemungkinannya ada dua: Perusahaannya memang pelit/gak pernah bayar dividen kecuali kecil saja, atau lebih buruk lagi cuma goreng-goreng saham (biasanya saham konglo), atau valuasi sahamnya sejak awal premium alias mahal, sehingga dividennya jadi tampak kecil dibanding harga sahamnya itu sendiri. And therefore, angka yield yang ideal adalah sekitar 4 – 6% per tahun, atau boleh lebih besar dari itu tapi dengan catatan seperti yang sudah dijelaskan diatas: Perusahaannya masih growing, dan tidak sedang dalam puncak booming siklusnya.
Lanjut kedua, sebaiknya perusahaannya membayar dividen lebih dari satu kali setahun, alias bayar dividen interim (biasanya antara bulan Oktober dan Desember), dan dividen final (biasanya antara bulan Maret hingga Juli tahun berikutnya). Pembayaran dividen dua kali atau lebih dalam satu tahun menunjukkan bahwa perusahaan memiliki cash flow yang sehat, sehingga tidak harus menunggu sampai akhir tahun untuk setor dividen. Dan karena dividennya dibayar dua kali, maka nilainya juga akan tampak kecil (karena dibagi dua), yield-nya sekilas juga tampak kecil (sekali lagi, karena dividennya dibagi dua), sehingga mengurangi risiko sahamnya anjlok dalam setelah tanggal cum-nya.
Lalu ketiga, perhatikan dividend payout ratio (DPR), alias persentase dividen yang dibayarkan dibanding dengan laba bersih perusahaan, dimana DPR ini idealnya di 40 – 60%. Misal, emiten A cetak laba bersih per saham aka earnings per share (EPS) Rp100, dan mereka bayar dividen total Rp40 per saham dalam setahun. Maka DPR-nya 40%. DPR ini penting karena, seperti dijelaskan diatas, jika angkanya terlalu besar maka itu berarti perusahaannya sudah mature dan tidak lagi bertumbuh, dan alhasil nilai dividennya juga akan segitu-gitu aja aka tidak akan naik dari tahun ke tahun, demikian pula harga sahamnya akan disitu-situ saja dalam jangka panjang, tak peduli IHSG naik turun. Contohnya PT Cikarang Listrindo, Tbk (POWR), dimana DPR-nya selalu lebih dari 90%. Tapi boleh anda cek: Sejak tahun 2020 lalu sahamnya disitu-situ saja di rentang 600 – 700, tak peduli meski IHSG naik atau turun.
Nah, tapi balik lagi: Berhubung kita tidak tahu kapan IHSG bakal naik lagi, dan bukan tidak mungkin IHSG justru turun lebih rendah lagi, maka POWR ini justru bisa menjadi menjadi pilihan saham dividen terbaik, mengingat perusahaan rutin bayar dua kali bayar dividen senilai total Rp50 – 70 per saham setiap tahunnya, sehingga yield-nya konsisten di 9 – 10%, dan sahamnya juga stabil di rentang 600 – 700, dimana kalaupun harganya turun setelah tanggal cum (karena dividend trap itu tadi), tapi pada akhirnya dia akan naik lagi. However, jika bapak melihat bahwa IHSG pada akhirnya nanti akan naik lagi, maka usahakan untuk membeli saham lain saja dengan DPR 40 – 60%, tidak lebih dari itu. Okay, tapi bagaimana kalau DPR-nya lebih kecil, misalnya cuma 20%? Maka itu juga masih bagus, karena ada banyak emiten yang tidak bayar dividen sama sekali (sehingga DPR-nya nol). Dengan catatan, perusahaannya memang sedang dalam fase high growth. Contoh, PT Hartadinata Abadi, Tbk (HRTA) bayar dividen Rp40 per saham untuk tahun buku 2025, aka hanya 18% dari EPS-nya di tahun yang sama sebesar Rp212. Tapi kita tahu bahwa perusahaan perhiasan dan logam mulia (LM) emas ini terus berekspansi membangun toko-toko emas baru, menambah kapasitas pabrik agar bisa memproduksi LM lebih banyak, dst. Jadi perusahaannya memang menggunakan uang milik investor (laba bersih itu tadi) untuk membesarkan perusahaan, dan itu tentu bagus.
Terakhir keempat, bapak mungkin memperhatikan bahwa saham-saham komoditas, misalnya batubara, biasanya memiliki dividend yield yang besar diatas 10%. Contohnya PT Indo Tambangraya Megah, Tbk (ITMG), yang saya sendiri rutin rekomendasikan sebagai dividend stock. Hanya saja, kalau bapak masuk ke ITMG ini di puncak booming batubara di tahun 2022 lalu pada harga 45,000, maka tentu saja hari ini posisinya masih akan floating loss, karena ITMG sudah sejak tahun 2023-nya turun ke 22,000 – 25,000, dan belum naik lagi sampai sekarang, meskipun perusahaan tetap rutin bayar dividen jumbo setidaknya Rp2,000 – 3,000 saban tahun. Untuk tahun buku 2022 lalu malah ITMG bayar dividen total Rp10,544 per saham, sehingga yield-nya tetap tampak tinggi bahkan pada harga saham 45,000. Tapi setelah itu ITMG kemudian langsung turun ke 22,000an dan belum naik lagi sampai sekarang, karena apa? Karena booming batubara yang sudah terjadi sejak tahun 2020-nya mereda, yang mana itu normal mengikuti siklusnya.
Sehingga, seperti yang juga sudah disampaikan diatas, jika bapak beli saham batubara atau komoditas lainnya untuk mengejar dividennya, maka harus perhatikan masalah siklus (cycle) ini. Kabar baiknya, saya termasuk yang sejak awal 2026 lalu melihat bahwa penurunan harga batubara yang terjadi sejak 2022 lalu sudah mentok, dan kedepannya akan naik lagi pelan-pelan (baca lagi disini). Jadi ada peluang bahwa kinerja laba bersih ITMG dkk, yang sebelumnya terus turun, akan kembali naik, demikian pula dividen serta harga sahamnya juga ikut naik. And therefore, untuk tahun 2026 ini maka saham batubara bisa kembali dipertimbangkan.
Okay Pak Teguh, lalu adakah saham-saham dividen yang bisa langsung bapak rekomendasikan untuk saat ini? Ada pak, saya kasih tiga ya, yakni ITMG itu tadi, PT Astra International (ASII), PT Bank Negara Indonesia, Tbk (BBNI). ASII bayar dividen dua kali setahun, yield 8% berdasarkan harga saham 4,770, DPR 48%, dan kinerjanya di tahun 2025 kemarin turut dipengaruhi oleh penurunan harga batubara, tapi seperti disebut diatas, ada peluang sektor ini akan kembali pulih mulai 2026 ini. Jangan lupa pula bahwa Tambang Emas Martabe, yang dimiliki ASII melalui anak usahanya UNTR, sudah kembali beroperasi normal sejak bulan Maret 2026 lalu setelah sebelumnya izin usahanya sempat dicabut. Lalu untuk BBNI, yield 10% berdasarkan harga saham 3,420, DPR 65%, dimana itu sedikit lebih besar dibanding batas 40 – 60%, tapi masih lebih kecil dibanding DPR bank-bank besar Himbara lainnya. Dan berhubung BBNI adalah yang terkecil diantara empat bank terbesar di Indonesia, maka DPR yang relatif kecil tersebut selaras dengan ruang pertumbuhannya dalam jangka panjang yang masih lebar, yang itu artinya kinerja laba bersih BBNI juga akan kembali naik dalam jangka panjang, demikian pula dengan dividennya. Tidak usah khawatir soal dividend trap, karena asalkan kinerja perusahaan tetap bertumbuh/labanya naik, maka kalaupun sahamnya turun pada tanggal ex dividend-nya, tapi pada akhirnya dia akan naik lagi.
Diluar itu, bapak bisa search sendiri. Oh ya, saya sendiri
termasuk yang percaya bahwa IHSG pada akhirnya nanti akan naik lagi. Sehingga
jika kita beli saham-saham dengan dividend yield tinggi itu tadi, maka dalam
waktu 1 – 2 tahun ke depan kita juga harusnya akan profit dalam bentuk capital
gain, yang bisa jadi lebih besar dibanding penerimaan dividen itu sendiri. We’ll
see!
***
Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 18 Juli 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

Komentar