Izin Tambang Anak Usaha Dicabut, Begini Prediksi Saham ASII dan UNTR

Hari Selasa, 20 Januari, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Pemerintah mencabut izin dari 28 perusahaan di bidang kehutanan, tambang, dan perkebunan, yang terbukti merusak lingkungan dan memicu banjir di Sumatera. Dan salah satunya adalah PT Agincourt Resources, perusahaan pemilik dan pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dimana PT Agincourt ini merupakan anak usaha dari PT United Tractors, Tbk (UNTR). Alhasil besoknya saham UNTR langsung anjlok -15% ke posisi Rp27,200, dan demikian pula saham PT Astra International, Tbk (ASII), yang merupakan perusahaan induk dari UNTR, ikut turun -9% ke posisi Rp6,600. Nah, apakah ini peluang? Atau justru dua UNTR dan ASII harus dihindari dulu??

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 24 Januari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk bergabung klik disini.

***

Untuk menjawabnya maka mari kita telisik lagi ASII dan UNTR ini sejak awal.

ASII, seperti yang kita ketahui, merupakan perusahaan konglomerasi dengan banyak bidang usaha dengan tiga segmen terbesarnya yakni otomotif, tambang (melalui UNTR), dan agribisnis/perkebunan (melalui PT Astra Agro Lestari, Tbk). Dan khususnya di tahun 2025 kemarin, maka sampai dengan 30 September, kontribusi pendapatan dari UNTR sudah lebih besar dibanding segmen otomotif dengan nilai Rp100.5 triliun, atau 41% dari total pendapatan ASII sebesar Rp243.6 triliun. Kinerja pendapatan ASII secara keseluruhan di tahun 2025 tidak turun terlalu signifikan meskipun bisnis utama perusahaan di bidang otomotif mengalami penurunan (karena mulai banyak kompetitor seperti BYD, Wuling, Vinfast dll), karena penurunan tersebut diimbangi oleh kenaikan pendapatan dari UNTR dan AALI.

Kemudian untuk UNTR, maka bisnisnya terbagi lagi menjadi lima segmen: 1. Penjualan alat-alat berat, 2. Kontraktor tambang yang menggali batubara dll milik perusahaan lain, 3. Tambang batubara itu sendiri termasuk batubara metalurgi, 4. Tambang emas (melalui PT Agincourt) dan nikel, dan 5. Konstruksi (melalui PT Acset Indonusa, Tbk) dan pembangkit listrik. Nah, kita tahu bahwa harga batubara cenderung turun dalam satu dua tahun terakhir, dan karena itulah kinerja operasional UNTR dari segmen No.2 dan 3 juga ikut turun. Tapi untuk segmen No.1, yakni alat-alat berat merk Komatsu, maka volume penjualannya masih naik, thanks to meningkatnya aktivitas tambang nikel dan emas di seluruh Indonesia, dan juga meningkatnya aktivitas di sektor kehutanan (untuk pembukaan lahan perkebunan). Demikian pula untuk segmen No.4, tambang emas dan nikel, maka sampai dengan bulan Juli 2025, PT Agincourt sukses memproduksi 143 ribu ounce emas, naik 12% dibanding periode yang sama tahun 2024, sedangkan volume produksi bijih nikel melalui anak usaha PT Stargate Pacific Resources juga naik 18%.

Sehingga bisa dikatakan bahwa tambang nikel dan tambang emas menjadi ‘penyelamat’ kinerja UNTR, dan pada gilirannya juga turut membantu ASII untuk mencatat laba bersih Rp24.4 triliun hingga Q3 2025, dimana meski itu masih turun -5.3% dibanding periode yang sama tahun 2024, tapi itu masih lebih baik dibanding emiten blue chip lainnya seperti Telkom (TLKM) atau Bank BRI (BBRI), yang labanya turun lebih dalam.

Nah, jadi dari sini kelihatan kenapa berita pencabutan izin PT Agincourt kemarin membuat investor panic selling UNTR, dan juga ASII, yakni karena memang keberadaan PT Agincourt inilah yang membuat kinerja fundamental UNTR dan ASII sejak awal turut diuntungkan oleh booming kenaikan harga emas akhir-akhir ini. Tapi dengan sekarang izinnya dicabut, maka timbul kesan bahwa UNTR balik lagi menjadi perusahaan batubara biasa. Terkait hal ini maka penulis melihat poin-poin sebagai berikut. Pertama, hingga Q3 2025, segmen tambang emas dan nikel menyumbang Rp2.6 triliun, atau 17% dari total laba sebelum pajak UNTR sebesar Rp15.5 triliun (dan 7% dari total laba sebelum pajak ASII sebesar Rp36.8 triliun) tapi perlu dicatat bahwa itu termasuk nikel. Jadi jika kita ambil segmen tambang emasnya saja, maka kontribusinya lebih kecil dari 17% (dan 7%) tersebut. Dalam hal ini penulis juga harus meluruskan statement dari sejumlah analis yang menyebut bahwa bisnis tambang emas menyumbang sekitar 25 – 39% dari total laba bersih UNTR. Yes, kontribusi PT Agincourt memang cukup besar, tapi tidak sebesar itu.

Sehingga, dalam skenario terburuk dimana operasional PT Agincourt harus berhenti sama sekali, maka kinerja laba UNTR di tahun berikutnya (2026) akan turun, tapi dengan penurunan kurang dari 17%. Nah, tapi kita kemudian ke poin kedua: Ketika Pemerintah mencabut izin operasional lokasi tambang tertentu, maka biasanya izin itu akan kembali diberikan setelah perusahaan yang bersangkutan membayar denda (istilahnya jamrek, singkatan dari jaminan reklamasi), atau jika perusahaan bersedia mengikuti peraturan baru yang lebih ketat. Contohnya, pada November 2024 lalu, Kementerian ESDM mengumumkan bahwa dari 2,078 IUP (Izin Usaha Pertambangan) yang sebelumnya dicabut, 499 diantaranya kembali diberikan. Dan tentunya sebagai salah satu lokasi tambang emas terbesar di Indonesia yang mempekerjakan ribuan karyawan, membayar pajak dll, maka kecil kemungkinan Tambang Emas Martabe akan ditutup secara permanen.

Hanya saja, selama IUP-nya belum kembali diberikan maka memang hampir dapat dipastikan bahwa kinerja UNTR akan turun, setidaknya di kuartal pertama 2026 ini. Jadi sekarang kita ke poin nomor tiga: Selain batubara termal (yang harganya sedang turun), dan emas, UNTR juga punya usaha tambang nikel, dan tambang batubara metalurgi, dimana untuk dua jenis mineral itu harganya sedang kembali naik seiring AI booming, yang mendorong pembangunan kompleks data center di banyak negara maju seperti Amerika dan China, yang mana itu membutuhkan berbagai jenis logam seperti tembaga, timah, hingga nikel, dan itulah kenapa harga tiga mineral itu belakangan ini naik. Kemudian untuk batubara metalurgi, maka berbeda dengan batubara termal untuk pembangkit listrik, batubara metalurgi diperlukan untuk bahan bakar smelter yang mengolah bijih besi, bauksit dll menjadi baja anti karat dan alumunium, yang juga dibutuhkan untuk pembangunan data center, dan alhasil harganya ikut naik.

Sehingga, jika kita anggap bahwa tim legal Grup Astra akan perlu waktu hingga beberapa bulan untuk kembali mendapatkan IUP diatas, dan selama itu PT Agincourt akan terpaksa berhenti beroperasi, maka belum tentu juga kinerja UNTR akan langsung anjlok, karena masih ada kenaikan pendapatan dari segmen tambang nikel dan batubara metalurgi, yang bisa menutup penurunan dari segmen tambang emas. Sama seperti kinerja ASII yang sudah dari dulu diprediksi bakal anjlok karena mobil Toyota/Daihatsu mulai kalah taji oleh BYD dkk, tapi nyatanya kinerja perusahaan hanya turun sedikit saja, karena perusahaan terbilang sukses dalam upaya diversifikasinya ke usaha lain diluar otomotif.

Jadi sekarang tinggal soal sahamnya: Pada harga Rp27,200 dan berdasarkan laporan keuangan Q3 2025, PER UNTR tercatat 6.6x, PBV 1.0x, dan itu masih murah. Kemudian jangan lupa dividend yield-nya yang cukup besar di 10.3%, berdasarkan total dividen yang dibayarkan untuk tahun buku 2024 sebesar Rp2,818 per saham. Jadi kalau kita percaya bahwa PT Agincourt pada akhirnya nanti akan kembali beroperasi, maka ini merupakan kesempatan bagus untuk masuk, karena valuasi UNTR saat ini menjadi yang paling terdiskon dibanding gold-related-stock lainnya, seperti Aneka Tambang (ANTM), Bumi Resources Minerals (BRMS), Archi Indonesia (ARCI), dan Hartadinata Abadi (HRTA).

Hanya saja, seperti disebut diatas maka ada juga kemungkinan PT Agincourt akan berhenti beroperasi cukup lama, dan selama itu maka tentu saja UNTR kembali menjadi ‘saham batubara’, yang naik turunnya mengikuti harga batubara internasional, bukan harga emas. Kabar baiknya, meski harga batubara termal belum menyusul naik seperti harga tembaga dll, tapi dalam setahun terakhir dia juga berhenti turun, dan lebih banyak stabil di $100 – 110 per ton. Jadi jika manajemen UNTR bisa memaksimalkan volume produksi batubaranya, maka tetap pendapatannya dari segmen batubara termal akan naik, yang setelah ditambah kenaikan dari segmen nikel dan batubara metalurgi, totalnya akan bisa mengimbangi penurunan dari segmen tambang emas.

Nah, tapi soal apakah benar laba UNTR hanya akan turun sedikit saja di tahun 2026 ini, atau tetap anjlok signifikan karena efek penutupan Tambang Emas Martabe, maka itu kita baru akan mengetahuinya di bulan April 2026 nanti, yakni ketika perusahan merilis laporan keuangan Q1 2026. Sedangkan sebelum itu maka, karena saham UNTR sejak awal naik signifikan dari Rp21,000 di bulan Juni 2025 hingga kemarin menyentuh Rp32,000 karena didorong sentimen kenaikan harga emas, maka karena sekarang statusnya kembali menjadi ‘saham batubara’, ada kemungkinan UNTR akan lanjut turun tapi tidak banyak, maksimalnya sampai Rp24,000 saja (PER 5.9x). Pada saat itulah penulis perkirakan UNTR akan naik lagi, bahkan kalaupun ketika itu PT Agincourt masih berhenti beroperasi, karena pada harga tersebut valuasi UNTR akan menjadi sangat murah, bahkan jika dibanding saham-saham batubara lain pada umumnya (jadi tidak lagi dibandingkan dengan ANTM dkk). Untuk ASII juga sama: Lanjut turun tapi mentoknya di sekitar Rp6,000 (PER 7.4x).

Kesimpulannya, jika anda pegang maka boleh hold. Dan jika mau beli atau tambah posisi, maka tunggu di Rp24,000 tersebut, lalu tinggal tunggu saja sampai nanti muncul berita bahwa PT Agincourt kembali diizinkan beroperasi, paling lambat setahun dari sekarang. Oh ya, manajemen UNTR sendiri hari ini mengumumkan bahwa mereka akan buy back saham senilai maksimal Rp2 triliun, pada harga beli yang dianggap wajar oleh perusahaan, hingga paling lambat 15 April 2026. Jadi kalaupun UNTR besok-besok lanjut turun sampai Rp24,000 tadi, maka harusnya setelah itu sahamnya akan langsung naik lagi karena faktor buy back ini. Kita tunggu.

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Sabtu 24 Januari 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk bergabung klik disini.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q3 2025 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar How to Invest in US Stocks, Sabtu 13 Desember 2025

Live Webinar Investasi Saham Indonesia, Sabtu 24 Januari

Cara Profit Maksimal Dari Investasi Emas

Prediksi Kinerja Laporan Keuangan BBCA, BBRI, BMRI, BBNI

Laba Bank BRI Anjlok Lebih Dari 50%, Begini Penjelasan Mudahnya