Ebook Investment Planning edisi Kuartal I 2020 (edisi terbaru) sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis konsultasi saham langsung dengan Teguh Hidayat.

‘Second Wave Corona’ Tidak Akan Terjadi, Ini Alasannya

Salah satu isu yang diwaspadai investor terkait arah pergerakan pasar kedepan, adalah kemungkinan terjadinya coronavirus second wave, atau gelombang kedua penyebaran virus corona, yang bisa jadi lebih mematikan/memakan lebih banyak korban dibanding gelombang pertama yang terjadi sejak awal Maret lalu. Sebab kalau berkaca pada pandemi spanish flu yang terkenal di tahun 1918 – 1919, yang diperkirakan menelan korban jiwa sekitar 17 – 50 juta penduduk di seluruh dunia, maka pandeminya ketika itu juga terjadi dalam tiga gelombang berbeda, dimana yang paling mematikan adalah gelombang kedua. However, penulis termasuk yang beranggapan bahwa untuk pandemi corona tahun ini, maka second wave itu tidak akan terjadi. Why?

***

Jadwal Seminar Value Investing, Basic & Advanced, Jakarta, Sabtu – Minggu, 18 – 19 Juli 2020. Info lengkap klik disini, atau whatsapp 0813-1482-2827 (Yanti). Tersedia diskon earlybird bagi peserta yang mendaftar sebelum tanggal 10 Juli.

***

Kita mulai analisanya dengan mempelajari kronologis spanish flu terlebih dahulu. Pada tanggal 4 Maret 1918, Albert Gitchell, seorang koki di camp militer Funston di Kansas, Amerika Serikat (AS), dilaporkan sakit flu, dan dalam hitungan hari sekitar 500-an tentara di camp yang sama dilaporkan tertular. Ketika itu tidak ada tindakan karantina atau apapun yang diterapkan kepada para penderita flu ini, dan para tentara serta petugas tetap diizinkan keluar masuk di camp militer diatas. Karena ketika itu AS sudah terlibat dengan Perang Dunia Ke-1 di Eropa, maka AS mengirim puluhan ribu tentara, termasuk dari camp Funston, ke Eropa. Sehingga pada April 1918, wabahnya dengan cepat menyebar di negara-negara seperti Jerman, Perancis, Inggris, Italia, Spanyol, bahkan hingga Polandia. Pada bulan April ini, Jerman membebaskan dan mengembalikan tahanan perang asal Uni Soviet (Rusia) ke negara mereka, dan virusnya mulai menyebar ke Uni Soviet hingga Asia. Pada bulan Juni, muncul kasus spanish flu di China, dan pada bulan Juli, giliran Australia melaporkan kasus yang sama.

Namun karena setelah Australia diatas, tidak ada lagi negara lainnya yang melaporkan kasus spanish flu, sedangkan pasien-pasien yang sudah ada sebelumnya juga mulai sembuh satu per satu, maka pandeminya dianggap mereda. Pada gelombang pertama spanish flu ini tidak ada data yang menyebutkan, berapa total jumlah korban jiwa spanish flu di seluruh dunia, namun AS melaporkan setidaknya 75,000 kematian.

Kemudian memasuki bulan Agustus, muncul kasus spanish flu di Boston, AS, dan Freetown, Sierra Leone, yang belakangan diketahui disebarkan oleh tentara yang diangkut menggunakan sejumlah kapal dari Brest, Perancis. Dan dalam dua bulan berikutnya, kapal-kapal ini singgah di pelabuhan-pelabuhan di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, termasuk Kepulauan Karibia dan Brazil, sehingga virusnya menyebar ke seantero Benua Amerika. Kemudian dari Freetown, virusnya juga menyebar ke seluruh Benua Afrika. Di Asia, seiring dengan terjadinya Russian Civil War, dan pembangunan Trans Siberian Railway (jalur kereta api yang menghubungkan Moskow dengan wilayah timur Uni Soviet), maka virusnya menyebar hingga ke seluruh wilayah Uni Soviet, lalu lanjut ke Iran, China, hingga Jepang.

Dan karena second wave spanish flu ini genap menyebar ke seluruh dunia, maka jumlah korbannya juga jauh lebih besar dibanding first wave, dimana AS saja melaporkan 1 juta kematian. Pada gelombang kedua pandemi inilah, pemerintah di beberapa negara mulai menerapkan karantina dan tindakan-tindakan lainnya untuk mencegah menyebarnya virus, sedangkan para tentara juga mulai kembali ke rumahnya masing-masing seiring dengan selesainya Perang Dunia ke-1 pada bulan November, dan jumlah orang-orang yang bepergian dari satu negara ke negara lainnya berkurang secara sangat signifikan seiring dengan pemberlakuan karantina. Dan hasilnya, memasuki Desember 1918, pandeminya mulai mereda.

Kemudian terakhir, gelombang ketiga, terjadi pada Januari 1919 di Australia, dimana 12,000 orang meninggal dunia setelah pemerintah mencabut karantina maritim (catatan: Pada masa karantina maritim, Australia menolak hampir semua kapal yang hendak berlabuh di negaranya, tapi memasuki Januari 1919, karantina itu dicabut), dan setelah itu virusnya kembali menyebar hingga ke AS dan Eropa, dan menelan ratusan ribu korban jiwa. Gelombang ketiga ini tidak separah gelombang kedua, namun masih jauh lebih parah dibanding gelombang pertama. Gelombang ketiga ini terjadi hingga sekitar bulan Juni 1919, dan setelah itu mereda seiring dengan berkembangnya ilmu kesehatan dalam melakukan penanganan dan pencegahan virusnya, serta terjadinya herd immunity, dimana seiring dengan meningkatnya imunitas/daya tahan tubuh, maka orang-orang dengan sendirinya menjadi kebal terhadap virus tersebut.

Meski demikian, kasus spanish flu ini masih terus muncul sampai hari ini dengan berbagai perubahan/mutasi virus, dan kasus dalam skala besar terakhir terjadi pada tahun 2009 lalu, yang dikenal sebagai swine flu pandemic, yang ketika itu diperkirakan menelan hingga 500,000-an korban jiwa di seluruh dunia. Namun setelah ditemukan vaksinnya pada bulan November 2009, maka pandeminya kemudian mereda.

Dan yang mungkin perlu dicatat adalah, berbeda dengan spanish flu di tahun 1918, untuk swine flu ini tidak terjadi gelombang kedua, karena sejak awal pemerintah langsung memberlakukan karantina dan sebagainya untuk mencegah virusnya menyebar lebih jauh. Pada April 2009, atau hanya tiga bulan sejak kasus swine flu pertama muncul, Pemerintah China sudah memberlakukan peraturan bahwa warganya yang baru kembali dari negara yang terdampak swine flu harus menjalani karantina selama dua minggu. Demikian pula Amerika Serikat dan negara-negara lainnya mengharuskan pengelola bandara dan maskapai penerbangan untuk melakukan screening penumpang yang menunjukkan gejala sakit flu, mengenakan masker untuk petugas dan penumpang, dan menyemprot disinfektan. Pemerintah juga menerbitkan panduan pencegahan penyebaran virus bagi sekolah-sekolah dan kantor-kantor. Kesemua upaya tersebut tidak membuat pandeminya langsung berakhir (pandeminya baru mereda setelah vaksinnya ditemukan), namun secara signifikan mampu memperlambat penyebaran virusnya, sehingga jumlah korban jiwa pada pandemi swine flu ini jauh lebih sedikit dibanding spanish flu di tahun 1918.

Coronavirus 2020 = Swine Flu 2009

Nah, jadi kalau melihat bagaimana pemerintah Indonesia, dan juga di seluruh dunia, terbilang sangat intens dalam memberlakukan berbagai tindakan untuk mencegah penyebaran virus, maka penulis bisa katakan bahwa Covid-19 di tahun 2020 ini lebih mirip dengan swine flu di tahun 2009, ketimbang spanish flu di tahun 1918. Ingat sekali lagi bahwa ketika terjadi pandemi spanish flu, dunia saat itu boleh dibilang sedang kacau karena berkecamuknya Perang Dunia I, sehingga pemerintahan di seluruh dunia hampir tidak punya waktu dan sumberdaya untuk mencegah virusnya menyebar. Sedangkan untuk pandemi tahun 2009 dan 2020 ini, Pemerintah jauh lebih sigap. Dan actually, andai saja Pemerintahan di seluruh dunia sejak awal mengambil tindakan pencegahan yang sama seperti ketika terjadi pandemi tahun 2009 lalu, dimana orang-orang bisa tetap bekerja seperti biasa namun dengan menerapkan sejumlah protokol kesehatan (pake masker, cuci tangan, semprot disinfektan, dst), maka pandemi covid-19 di tahun 2020 ini mestinya tidak harus sampai menyebabkan krisis ekonomi. Kalau anda ingat-ingat lagi, meski kasus swine flu memang sempat ramai di tahun 2009 – 2010 lalu, tapi ketika itu orang-orang bisa tetap bekerja seperti biasa bukan? Dan demikian pula anak-anak tetap sekolah, tapi itu tidak menyebabkan pandeminya jadi lebih mematikan.

Anyway, karena dalam beberapa bulan terakhir roda perekonomian seperti dipaksa berhenti berputar, sama sekali, maka imbasnya adalah krisis. Beruntung, Pemerintah Indonesia dan juga di seluruh dunia kemudian memberlakukan metode baru yang disebut dengan new normal, dimana intinya kegiatan ekonomi bisa kembali berjalan tapi dengan memberlakukan protokol kesehatan, sehingga harapannya adalah krisisnya tidak berkepanjangan, sedangkan disisi lain pandeminya juga tidak menyebar lebih luas. Meski demikian perlu juga dicatat bahwa bahwa dalam ‘new normal’ ini, tidak semua kegiatan ekonomi bisa kembali bergerak secara penuh. Misalnya restoran boleh kembali buka, tapi kapasitas tempat duduknya maksimal 50% saja. Demikian pula, anda bisa kembali bepergian di dalam negeri, tapi anda belum bisa bepergian keluar negeri (atau bisa, tapi prosedurnya ribet bin njlimet). Ini artinya dalam era new normal ini, pertumbuhan ekonomi tetap akan turun. Dan untuk sektor-sektor tertentu yang paling terdampak, maka boleh dibilang krisisnya masih akan terus terjadi, selama new normal ini masih berlaku.

Jadi pertanyaan berikutnya, kapan kira-kira new normal ini bisa kembali ke ‘old normal’? Nah, anda sendiri mungkin sudah tahu jawabannya: Ketika nanti vaksin covid-19 sudah ditemukan. Yup, jadi sama seperti pandemi swine flu di tahun 2009, yang baru resmi berakhir setelah vaksinnya ditemukan dan didistribusikan ke 16 negara pada bulan November 2009, dan barulah setelah itu jumlah kasus baru swine flu turun dengan cepat, hingga akhirnya World Health Organization (WHO) mengumumkan bahwa pandeminya sudah berakhir pada Agustus 2010. Tapi sejak November 2009 itulah, berbagai protokol kesehatan seperti penyemprotan disinfektan tidak lagi dilakukan secara intensif seperti sebelumnya. Dengan kata lain, pada pandemi swine flu 2009, kondisinya langsung kembali ke ‘old normal’ segera setelah vaksinnya ditemukan.

Second Market Crash?

Okay terakhir, ke pertanyaan pentingnya: Jika hipotesanya adalah tidak akan terjadi gelombang kedua coronavirus, maka apakah sekarang saya sudah boleh belanja saham? Terkait hal ini ada beberapa hal yang perlu disampaikan. Pertama, ingat bahwa ekonomi/kinerja fundamental emiten tetap akan drop di tahun 2020 ini, dan belum tentu akan langsung pulih lagi di tahun berikutnya (2021), terutama karena era new normal ini tidak akan bisa kembali ke old normal selama vaksinnya belum ditemukan. Di satu sisi, penurunan harga-harga saham sejak bulan Maret kemarin mungkin sudah selaras/sudah price in dengan proyeksi penurunan kinerja emiten diatas. Namun disisi lain, kita tahu bahwa pandemi covid-19 ini menyebabkan dampak yang berbeda-beda untuk tiap-tiap sektor, dan tiap-tiap perusahaan, mulai dari dampaknya sangat buruk, cukup buruk, biasa saja, hingga justru berdampak positif. Jadi maksud penulis adalah, kalapun IHSG tidak turun lagi seperti bulan Maret lalu, tapi anda mungkin tetap akan menderita kerugian jika anda membeli saham yang ternyata terdampak sangat buruk oleh pandemi (atau perusahaannya bangkrut). Problemnya, meski sudah ada analisa bahwa perusahaan A diuntungkan oleh pandemi, sedangkan perusahaan B dirugikan, tapi kita baru akan mengetahui secara pastinya setelah perusahaan yang bersangkutan merilis laporan keuangan (LK) untuk Kuartal I dan II 2020. Sebagai contoh, pada tulisan minggu lalu, penulis katakan bahwa sebagai perusahaan teknologi informasi, PT Telkom (TLKM) akan diuntungkan oleh pandemi. Namun tentunya, tidak ada jaminan bahwa laba TLKM akan naik di tahun 2020 ini, karena pada tahun 2018 lalu pernah juga laba TLKM turun sendiri, padahal gak ada pandemi atau apapun.

Sehingga untuk lebih amannya, kita harus menunggu LK Q2 tersebut. Tapi kita gak perlu tunggu LK Q3, karena ketika itu harusnya dampak coronavirus sudah jauh berkurang, dan ekonomi sudah bergerak ke arah pemulihan, meski belum benar-benar pulih.

Kemudian kedua, pada spanish flu tahun 1918, penyebab terjadinya gelombang kedua adalah karena berlayarnya kapal-kapal pengangkut tentara hingga hampir ke seluruh dunia, yang otomatis menyebabnya virusnya go global. Untuk pandemi covid 2020 ini, sejauh yang penulis ketahui, penerbangan dan pelayaran internasional masih ditutup kecuali yang sifatnya benar-benar penting (misalnya untuk mengangkut logistik). Namun sejak awal Juni kemarin sampai hari ini, di Amerika Serikat terjadi unjuk rasa besar terkait isu black lives matter dimana ratusan ribu orang turun ke jalan, tidak hanya di satu kota tapi di seluruh AS, dan unjuk rasa itu juga kemudian menyebar hingga ke Eropa, dan Australia. Padahal seperti yang kita ketahui, salah satu protokol pencegahan penyebaran covid adalah social distancing, tapi yang namanya unjuk rasa tentu saja orang-orang akan berdesak-desakan, plus berteriak/berorasi satu sama lain sehingga percikan air liur yang berisi virus akan menyebar dengan sangat mudah. Dan kalau unjuk rasanya cuma terjadi di satu atau dua kota, mungkin itu tidak jadi masalah, tapi ini terjadi di hampir seluruh dunia!

Sehingga, kalau sebelumnya penulis bisa tegas katakan tidak akan terjadi corovirus second wave, tapi untuk kali ini kita mungkin harus tunggu barang 3 – 4 minggu lagi. Kalau memang dalam kurun waktu tersebut, tidak terjadi ledakan kasus baru covid, then that’s it! Dan selanjutnya kita tinggal fokus ke pemulihan ekonomi pasca pandemi. Tapi jika kasusnya terus bertambah (dan memang pada tanggal 19 Juni kemarin tercatat rekor 181 ribu kasus baru dari seluruh dunia, dalam sehari), maka disinilah kita harus hati-hati. Jika Pemerintah AS atau negara lainnya kembali memberlakukan lockdown atau semacamnya, maka itu bisa menjadi katalis untuk terjadinya market crash berikutnya.

Jumlah kasus baru Covid-19 di seluruh dunia hingga tanggal 21 Juni 2020. Perhatikan bahwa jumlah kasus baru ini sempat stagnan pada bulan April - Mei, tapi menanjak lagi pada bulan Juni, seiring dengan banyaknya unjuk rasa di seluruh dunia. Sumber: Wikipeda.

Kesimpulannya, penulis tetap berkeyakinan bahwa kita akan sudah bisa belanja saham sebelum vaksin covid-19 ditemukan, mungkin sebelum akhir tahun 2020 ini. Karena biasanya sih, ketika nanti vaksinnya sudah ditemukan, maka IHSG juga sudah naik duluan. Meski demikian, karena masih ada beberapa hal krusial yang masih memerlukan ‘konfirmasi’ seperti laporan keuangan emiten, dan kemungkinan terjadinya second wave karena peristiwa unjuk rasa diatas, maka mungkin kita masih harus menunggu, sebentar lagi.

Okay, kalau anda punya analisa tersendiri soal topik ini, silahkan menyampaikannya melalui kolom komentar dibawah. Jangan lupa share artikel ini melalui Facebook dan Twitter, dengan cara klik tombol ‘berbagi’ warna biru, dibawah ini:

***

Ebook Market Planning edisi Juli 2020 akan terbit tanggal 1 Juli mendatang. Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon khusus selama IHSG dibawah 6,000, dan juga gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk subscriber.

Buku Kumpulan Rekomendasi 30 Saham Pilihan edisi Kuartal I 2020 sudah terbit. Anda bisa memperolehnya disini, tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 5,500.
Share artikel ini melalui (klik salah satu): Facebook Twitter Linkedin

6 komentar:

Anonim mengatakan... Balas

second wave?!
ID first wave aja masih blm move on pak..
dan apakah bisa diselesaikan? mengigat total testing sampai saat ini masih dibawah 1jt specimen. menurut banyak pakar, vaksin jg belum akan ada dalam jangka pendek.

edy mengatakan... Balas

iya pak teguh nunggu LK qw 2 2020,

Anonim mengatakan... Balas

Kalo menurut saya, di Indonesia second wave g mungkin terjadi pak..lha yg first wave aja belum kelar ��

Unknown mengatakan... Balas

Terimakasihpak teguh atas artikelnya, sebagai trader yg berwawasan jauh kedepan saya lebih milih untuk mulai akumulasi saham-saham undervalue, tentunya memiliki peluang untuk rebound lebih cepat

Anonim mengatakan... Balas

Bikin artikel sesuai kapabilitasnya saja pak..

jangan sampai misleading dan merugikan masyarakat.. bapak bukan ahlinya..

Anonim mengatakan... Balas

Mantap Pak Teguh. Dari seorang ahli/ praktisi saham menjadi seorang ahli virus/ pandemik.