IHSG Sudah Bubble, Sebentar Lagi Crash?
Pak Teguh saya perhatikan di medsos ada banyak orang posting profit dari saham ini dan itu, sama ramai konten cara membuat 10 juta menjadi 100 juta dalam waktu singkat dari saham, seolah-olah investasi saham itu sangat mudah. Saya jadi ingat salah satu video bapak yang menyebut bahwa situasi euforia seperti itu merupakan pertanda ‘langit mendung’, yang kemudian akan disusul dengan ‘hujan’/saham dan IHSG akan anjlok. Apa benar demikian pak? IHSG akan turun? Lalu apakah saya harus profit taking/jual semua saham, atau tetap hold saja? Terima kasih
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q4 2025 akan terbit tanggal 9 Februari, dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.
***
Jawab:
Betul pak, salah satu pertanda bahwa IHSG/harga-harga saham akan turun adalah ketika terjadi euforia dimana hampir semua orang profit besar, tak peduli apakah dia trader/investor pemula atau pengalaman, dan tak peduli apakah modalnya kecil atau sudah miliaran. Namun sebelum menyimpulkan apakah sebentar lagi bakal ‘turun hujan’, maka masih ada beberapa hal lagi yang harus diperhatikan, sebagai berkut. Pertama, di sepanjang tahun 2025 kemarin IHSG memang naik sangat kencang, tepatnya 22.1% ke posisi 8,647, dan sudah tentu ada banyak saham yang naiknya lebih tinggi lagi dari itu, sehingga kemudian menyebabkan euforia itu tadi. Nah, tapi kalau kita lihat lagi kenaikan IHSG dalam lima tahun terakhir (dari awal 2021 sampai akhir 2025), maka totalnya 44.6%, atau rata-rata hanya 7.7% per tahun. Ingat bahwa baru saja di tahun 2024 kemarin IHSG bukannya naik tapi justru turun -2.7%, dan demikian pula di tahun-tahun sebelumnya IHSG hanya naik sedikit saja, dan alhasil rata-rata kenaikannya jadi kecil. Perlu dicatat bahwa CAGR (compounding annual growth rate) IHSG yang 7.7% tersebut merupakan salah satu yang terendah dalam sejarah IHSG itu sendiri sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 1982 lalu.
Jadi kalau kita lihatnya dalam jangka panjang, maka IHSG dalam lima, dan sepuluh tahun terakhir sebenarnya baru naik sedikit saja, dan itupun karena ditopang oleh kenaikan saham-saham konglomerat yang jumlahnya tidak banyak. Sedangkan kalau kita lihat lagi ratusan saham-saham lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), maka mereka masih belum kemana-mana, sehingga kita kemudian ke poin kedua: Di luar saham-saham konglo tadi yang valuasinya sudah sangat mahal, maka saham blue chip seperti Astra International (ASII) dan Bank BRI (BBRI), itu masih murah. Demikian pula valuasi dari saham-saham second liner, rata-rata masih sangat terdiskon. Jadi kalau ada yang bilang bahwa IHSG sudah bubble, maka itu kurang tepat karena yang bubble itu hanya saham-saham konglo saja. Sementara ratusan saham lainnya di BEI, maka valuasi mereka sama sekali belum bubble, masih jauh dari itu.
Okay Pak Teguh, tapi kalau saham konglo itu nanti akhirnya turun dan menyeret IHSG untuk ikut turun, maka bukannya ASII dkk juga bakal ikut turun Pak? Well, nggak juga, dan sekarang kita ke poin ketiga: Situasi pasar di tahun 2025 kemarin sangat mirip dengan tahun 2021 lalu dimana IHSG ketika itu juga naik cukup signifikan, dalam hal ini 10.1%, tapi itu karena didorong oleh euforia saham-saham gorengan bank digital seperti Bank Jago (ARTO), Bank Neo Commerce (BBYB), Allo Bank (BBHI), dan masih banyak lagi. Sementara ‘saham fundamental’ seperti ASII tadi justru jalan di tempat, atau turun (di sepanjang tahun 2021, ASII turun dari Rp6,000 ke Rp5,700). Memasuki tahun 2022, giliran ARTO dkk jeblok, dan alhasil IHSG hanya naik 4.1% saja. Tapi justru di tahun 2022 itulah, giliran saham fundamental untuk naik panggung dimana ASII sempat naik hingga tembus Rp7,500.
Nah, jadi kemungkinan situasi di tahun 2026 ini akan mirip seperti di tahun 2022 lalu: IHSG tetap naik tapi sedikit saja, mungkin kurang dari 10%, dalam hal ini ketika euforia di saham konglo akhirnya meredup. Tapi justru pada saat itulah, saham-saham fundamental non konglo yang sejak awal masih sangat undervalued, akan naik banyak.
Tinggal pertanyaannya, kira-kira saham apa saja yang bakal naik tersebut? Tahun 2022 lalu saham batubara naik sampai ratusan persen, apakah 2026 ini batubara juga? Yes, ada kemungkinan saham-saham seperti PTBA, ITMG dll akan naik banyak tahun ini, tapi ya syaratnya kinerja mereka harus bagus dulu. Perlu dicatat bahwa, ketika misalnya ASII tadi relatif hanya naik sedikit, dan BBRI malah justru turun di sepanjang tahun 2025, maka itu bukan karena ‘analisa fundamental sudah tidak relevan, sekarang semua orang ikut saham konglo’. Melainkan karena, coba cek deh, kinerja laba bersih ASII dan BBRI memang sedang turun di tahun 2025 tersebut, atau dengan kata lain fundamentalnya sedang jelek, jadi ya wajar saja kalau sahamnya turun. Beda ceritanya dengan misalnya Hartadinata Abadi (HRTA) yang sahamnya terbang menembus langit karena memang kinerjanya sangat bagus/profit besar seiring kenaikan harga emas.
Sehingga, soal ‘saham non-konglo’ apa yang bakal pentas di tahun 2025 ini, maka itu akan bergantung pada kinerja perusahaan yang bersangkutan. Jika BBRI misalnya sukses untuk kembali mencetak kenaikan laba bersih mulai kuartal I 2026 nanti, maka pada saat itulah sahamnya akan lompat. Nah, jadi balik lagi ke pertanyaan di atas, apakah saya harus profit taking lalu hold cash saja? Jawabannya, tidak. Selama perusahaan yang sahamnya bapak pegang memiliki kinerja fundamental yang bagus, maka hold saja. Seperti halnya di tahun 2022 lalu, IHSG mungkin akan turun sesekali dan itu wajar saja, tapi harusnya tidak akan sampai crash seperti tahun 2020 lalu karena kita tidak sedang dalam situasi pandemi, atau semacamnya. Dan jika kita bisa tetap fokus pada saham-saham dari perusahaan yang memang mencatat laba bersih yang bertumbuh, maka kita tetap akan profit signifikan, tak peduli meski IHSG totalnya hanya naik sedikit saja di sepanjang tahun 2026 ini.
Dan untuk minggu depan kita akan membahas perusahaan atau sektor apa
saja yang berpeluang untuk mencetak kinerja laporan keuangan yang bertumbuh di
tahun 2026 ini, sehingga kita bisa ‘curi start’ untuk serok sahamnya dari
sekarang. Just stay tuned!
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q4 2025 akan terbit tanggal 9 Februari, dan sudah bisa dipesan disini, gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis. Tersedia juga edisi sebelumnya yang bisa dipesan pada harga diskon.

Komentar