Prospek Saham GOTO: Calon Bagger?

Pada hari Jumat, 2 Oktober, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk akhirnya rebound tinggi (ARA-kan ndaarrrr!) dari posisi terendahnya secara intraday di 26 ke posisi 30, sebelum kemudian hari ini lanjut naik satu tangga ke posisi 31. Meski demikian jika dihitung dari posisi awalnya di 50, yakni ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum memberlakukan level Rp1 sebagai batas harga terendah saham, maka GOTO terhitung masih anjlok -38%. Di sisi lain kalau kita lihat laporan keuangan (LK) nya, maka GOTO hingga Q2 2026 sukses cetak laba bersih Rp607 miliar, membaik signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dimana perusahaan rugi Rp580 miliar. Nah, jadi apakah ini peluang? Dan apakah betul GOTO sudah undervalued pada level harganya saat ini?

**

Hingga akhir September 2026, Avere Investama profit +40.9% termasuk dividen. Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.

***

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, seperti yang kita ketahui, merupakan perusahaan gabungan antara dua startup teknologi terbesar di Indonesia di bidang taksi dan ojek online (ojol), dan ecommerce, yakni Gojek serta ekosistem pendukungnya (GoPay, GoSend, GoFood, Bank Jago dst), dan Tokopedia (Tokped). However pada tahun 2023 perusahaan melepas 75% saham Tokopedia ke TikTok dimana Tokped kemudian dikendalikan oleh TikTok (digabung dengan TikTok Shop), dan alhasil sejak saat itu GOTO resmi hanya memegang kendali atas Gojek saja. Meski demikian GOTO masih ada pegang 25% saham Tokped, sehingga perusahaan masih mengakui ‘imbalan jasa ecommerce’, dalam hal ini sebesar 25% dari pendapatan Tokped secara keseluruhan, sebagai bagian dari pendapatan GOTO. Hingga Q2 2026, dari total pendapatan GOTO sebesar Rp11.0 triliun, maka Rp551 miliar diantaranya berasal dari segmen ecommerce tersebut.

Kemudian seperti disebut diatas, hingga Q2 2026 ini GOTO sukses cetak laba bersih Rp607 miliar, yang mana itu tampak monumental karena sejak Tokopedia dan Gojek itu sendiri berdiri dan mulai beroperasi pada tahun 2009 dan 2010, maka kedua perusahaan terus menerus merugi saban tahun, tanpa terkecuali. Sayangnya jika kita telisik lagi laporan laba ruginya, maka bisa penulis sampaikan bahwa laba bersih tersebut tidak sustainable, aka bisa berbalik menjadi rugi kembali. Perhatikan: GOTO mencatat pendapatan Rp11.0 triliun, yang berasal dari jasa pengiriman (Gosend, Gofood), imbalan jasa (Gojek, Gocar), pinjaman (Gopaylater, dan kredit Bank Jago), imbalan jasa ecommerce (Tokopedia), imbalan iklan (perusahaan bisa pasang iklan di aplikasi Gojek dkk), dan lain-lain. Yang perlu dicatat, pendapatan lain-lain ini angkanya cukup besar yakni Rp1.1 triliun, tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut soal pendapatan lain-lain ini apa, kecuali disebut bahwa itu bukan merupakan ‘pendapatan dari kontrak dengan pelanggan’, melainkan ‘pendapatan dari sumber lainnya’. Simpelnya, kemungkinan besar pendapatan lain-lain ini bersifat non operasional/gak ada uangnya. Kemudian GOTO juga mencatat laba selisih kurs sebesar Rp315 miliar, yang juga tidak ada uangnya karena hanya bersifat pembukuan.

Sehingga, kalau kita bersikap konservatif dimana pendapatan lain-lain dan laba selisih kurs sebesar total Rp1.4 triliun itu dianggap tidak ada, maka GOTO sejatinya bukan cetak laba Rp607 miliar, melainkan masih merugi. Nah, tapi okay, katakanlah laba Rp607 miliar itu riil, dan sekilas angkanya tampak cukup besar. Namun berhubung ekuitas perusahaan mencapai Rp32.4 triliun, maka laba Rp607 miliar tersebut setara ROE disetahunkan 4%, alias masih sangat kecil. Sebagai perbandingan, yield Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun saja mencapai 7% per tahun, dan itu no risk. Jadi beda dengan ROE 4% GOTO tersebut yang, meski di satu sisi memang bisa naik lebih tinggi lagi ke depannya, yakni jika perusahaan kembali cetak laba yang lebih besar kedepannya, tapi berisiko tinggi untuk berbalik jadi negatif alias rugi lagi, yakni jika (salah satunya) laba kurs sebesar Rp315 miliar tadi berbalik menjadi rugi kurs.

Kemudian dari sisi valuasi, maka GOTO pada harga 31 sekilas sudah murah karena, well, kapan lagi bisa beli saham ‘karya anak bangsa’ cuma pada harga Rp31 perak? Tapi kembali penulis ingatkan bahwa mahal murahnya saham bukan dilihat dari harga nominalnya, melainkan dari setidaknya tiga indikator yakni PER, PBV, dan dividend yield. Dan dengan harga Rp31 yang mencerminkan PER 30.0x, PBV 1.1x, plus dividend yield-nya tidak bisa dihitung (karena perusahaan tidak pernah bayar dividen), maka valuasi GOTO tergolong masih premium jika mempertimbangkan kinerja perusahaan yang sejatinya belum benar-benar turn around dari sebelumnya selalu merugi, menjadi laba. Anda bisa cek di BEI ada banyak saham lain dengan PBV nol koma sekian, alias dihargai pada valuasi yang lebih terdiskon dibanding GOTO ini, sedangkan perusahaannya beneran cetak laba, dan bisa diharapkan akan kembali cetak laba di tahun-tahun yang akan datang.

Kesimpulannya, kalau pakai pendekatan fundamental maka GOTO untuk saat ini masih belum cukup menarik. Sebenarnya kalau dari sisi prospek maka tetap ada peluang bahwa GOTO pada akhirnya nanti akan cetak laba (yang riil, bukan hasil laba kurs), mengingat kalau dari sisi operasionalnya maka perusahaan terus tumbuh signifikan, dimana pada akhir 2025 lalu GOTO mencatat annual transacting users (ATU, jumlah pengguna aplikasi) yang naik 24% dibanding 2024, dan core gross transaction value (core GTV, total jumlah uang yang dibayar oleh pelanggan) yang juga naik 49% dibanding 2024. Kemudian hingga Q2 2026, maka ATU dan GTV tersebut kembali tumbuh masing-masing 19% dan 88%, dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Dan anda sendiri mungkin bisa lihat di lapangan bahwa, meskipun Tokopedia justru tenggelam setelah diambil alih oleh TikTok (digeser oleh Shopee), tapi pengguna aplikasi Gojek dan Gopay terus meningkat, dan demikian pula jumlah driver-nya terus bertambah. Sehingga, meski mungkin kita dalam hal ini masih harus menunggu barang 2 – 3 tahun lagi, tapi sekali lagi tetap ada peluang bahwa GOTO akan cetak laba, dan barulah pada saat itu sahamnya layak dihargai pada PBV lebih tinggi dari 1.0x.

Nah, tapi berhubung sampai dengan tahun 2026 ini, itu belum terjadi, maka mari kita nonton GOTO ini dari luar saja dulu, sembari nanti tiap kuartal kita cek lagi LK terbarunya bagaimana. In the meantime, kita bisa fokus ke perusahaan besar lainnya yang beneran cetak laba, seperti TINS, ULTJ, BMRI, dan masih banyak lagi. Jangan khawatir, jika nanti sudah tiba waktunya bagi kita investor fundamentalis untuk berinvestasi jangka panjang di GOTO, maka kita akan membahasnya lagi disini.

***

Hingga akhir September 2026, Avere Investama profit +40.9% termasuk dividen. Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2026 - Sudah Terbit!

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 29 Agustus

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

Daftar Saham Batubara Yang Masih Undervalued, Potensi Naik Banyak

Prospek Saham Bank BSI (BRIS): Sudah Murah?

Harga Emas Masih Akan Lanjut Naik? Bagaimana Dengan Bitcoin?