Prospek Cerah Saham Bank Mandiri (BMRI) Untuk Investasi Jangka Panjang

PT Bank Mandiri, Tbk (BMRI) melaporkan laba bersih Rp30.4 triliun hingga Q2 2026, naik 24.4% dibanding periode yang sama tahun 2025. Sekilas, ini capaian kinerja yang, meski tidak bisa disebut jelek, tapi juga tidak bagus-bagus amat. Dan mungkin karena itu juga saham BMRI kemarin ketika laporan keuangannya rilis justru turun dari 4,380 ke sekarang 4,060. Nah, tapi bagaimana kalau penulis katakan bahwa ini merupakan momentum, tidak hanya bagi saham BMRI tapi juga untuk saham sektor perbankan secara umum, untuk naik lagi setelah selama dua tahun sebelumnya (sejak 2024 lalu) cenderung turun terus menerus?

**

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon bagi yang memesan sebelum 9 Agustus, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

***

Yup, jadi pertama-tama mari kita lihat lagi BMRI ini dari sisi pergerakan sahamnya. Pada bulan Maret 2024, kenaikan BMRI yang bisa dikatakan terus menerus dari posisi 2,000 di bulan Mei 2020, akhirnya mentok di posisi 6,400, sebelum kemudian turun. Setelah itu BMRI naik lagi ke 6,000an di bulan September di tahun yang sama, tapi setelah itu turun lagi hingga mentok di 4,000 pada bulan Oktober 2025, dan belum naik lagi sampai sekarang.

Sehingga kalau anda kritis maka anda akan bertanya, sebenarnya apa yang terjadi di tahun 2024? Sebab kalau anda cek, tiga saham bank besar lainnya yakni Bank BCA (BBCA), Bank BBRI (BBRI), dan Bank BNI (BBNI), semuanya juga mulai turun persisnya sejak tahun 2024 tersebut. Termasuk IHSG juga sempat turun dalam dari 7,800 hingga mentok di 6,200, antara bulan September 2024 – Maret 2025.

Dan tentu saja ada banyak teori untuk menjawab pertanyaan diatas, tapi saya melihatnya sederhana saja: Antara tahun 2020 sampai dengan 2023, BMRI mencatat kinerja yang konsisten tumbuh signifikan, dimana laba perusahaan tercatat Rp17.1 triliun di 2020, lalu naik menjadi Rp28.0 triliun di 2021, naik lagi menjadi Rp41.2 triliun di 2022, dan akhirnya tembus Rp55.1 triliun di 2023. Namun pada 2024, BMRI hanya mencetak laba Rp55.7 triliun, aka masih naik tipis dibanding 2023, tapi kalau dihitung dari sisi mata uang US Dollar maka laba tersebut sejatinya turun, yakni karena kita tahu Rupiah cenderung terus melemah. Inilah yang kemudian membuat asing melepas sahamnya dalam jumlah besar. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa investor asing sangat menyukai saham perbankan di Indonesia, tidak hanya karena market capnya besar dan juga sahamnya likuid, tapi juga karena BMRI dkk mampu mencatat kenaikan laba yang jauh lebih tinggi dibanding tingkat inflasi dan juga tingkat pelemahan kurs Rupiah secara konsisten setiap tahunnya, dengan hanya turun sekali pada saat krisis covid 2020 lalu. Nah, tapi ketika pada tahun 2024 tersebut, laba BMRI tercatat flat (atau turun kalau dalam mata uang USD), maka tentu saja asing tidak lagi punya alasan untuk tetap hold sahamnya, apalagi tambah posisi.

Kemudian tidak hanya BMRI, tapi BBRI dan BBNI juga mengalami situasi yang sama: Laba bersihnya flat di tahun 2024 tersebut, dan alhasil investor asing pelan-pelan balik arah dan keluar, setelah sebelumnya mereka terus masuk. Cerita berbeda dialami oleh BBCA, yang labanya masih naik banyak di 2024 (Rp54.8 triliun, berbanding Rp48.6 triliun di 2023), dan itulah kenapa sahamnya masih mampu cetak all time high di bulan September 2024, ketika tiga saham bank besar lainnya sudah cenderung turun sejak bulan Maret – April 2024. Namun ketika memasuki tahun 2025, kinerja emiten perbankan tercatat lebih buruk lagi dimana BBRI bahkan hanya mencatat laba bersih Rp56.6 triliun, turun signifikan dibanding Rp59.9 triliun di tahun 2024, maka jadilah sahamnya anjlok sangat dalam, dan penurunan BBRI kemudian turut menyeret saham-saham besar lainnya, termasuk BBCA, untuk ikut turun. However, karena di tahun 2025 tersebut ‘saham-saham konglo’ naik sangat tinggi, maka jadilah IHSG tetap naik tinggi hingga sempat tembus 9,000an, tak peduli meski ‘saham-saham fundamental’ bertumbangan. Pada titik inilah banyak investor dan trader saham menyebut bahwa ‘analisa fundamental sudah tidak berlaku di Indonesia’, karena BBRI dkk turun sementara saham-saham konglo naik. Padahal kalau kita teliti, sebelum tahun 2024 maka memang betul bahwa BBRI ini ‘saham fundamental’, karena kinerja perusahaan sampai dengan saat itu masih sangat baik dan bertumbuh. Tapi memasuki 2024 sampai kemarin 2025, BBRI jelas bukan saham fundamental, karena kinerjanya sedang turun. Ingat bahwa syarat utama sebuah saham dikatakan memiliki ‘fundamental bagus’ adalah jika kinerja laporan keuangannya tercatat naik dan bertumbuh.

Karena itulah, penulis harus katakan bahwa kami sendiri sebagai investor fundamentalis sempat bingung harus beli saham apa di tahun 2024 dan 2025, tidak hanya karena emiten-emiten perbankan seperti BMRI mencatat kinerja yang flat, tapi karena sektor-sektor lainnya juga mengalami kinerja yang kurang bagus di dua tahun tersebut. Beruntung, beberapa emiten di sektor tambang emas/logam mulia dan tambang nikel sukses mencatat pertumbuhan kinerja yang signifikan, dan karena itulah sahamnya tetap naik banyak, contohnya Trimegah Bangun Persada (NCKL) dan Hartadinata Abadi (HRTA). Jadi itulah kenapa ada juga investor fundamentalis yang profit besar di 2024 dan 2025 (termasuk Avere juga profit hampir +30% di sepanjang 2025, baca laporannya disini), tak peduli meski mereka tidak menyentuh saham konglo, sama sekali. Tapi secara umum, harus diakui bahwa periode 2024 dan 2025 itu memang merupakan masa-masa sulit bagi value investor yang menghindari saham gorengan bandar.

Kabar baiknya, balik lagi ke kinerja BMRI diatas: Hingga paruh pertama 2026 ini, laba bersihnya naik 24.4%. Jadi setelah kinerjanya flat selama dua tahun berturut-turut, maka mulai 2026 ini kinerja BMRI, dan kemungkinan besar bank-bank lainnya (BBTN juga sudah rilis laporan keuangan, dan labanya sama naik 40.8%), mulai naik lagi. Di sisi lain dengan sahamnya masih berada di 4,100, maka tentu saja valuasinya menjadi sangat atraktif dibanding tahun 2024 lalu: PER 6.3x, PBV 1.3x, dan dividend yield 11.8%. Mungkin perlu juga dicatat bahwa, terakhir kali BMRI dihargai pada valuasi serendah itu adalah pada bulan Maret – April 2020, yakni ketika sahamnya berada di posisi 2,000an, dan Indonesia dan seluruh dunia dilanda krisis ekonomi, imbas dari penerapan lockdown karena pandemi covid. Dan kita tahu bahwa setelah itu BMRI justru naik sangat tinggi hingga mencapai 6,000an di tahun 2024nya, atau naik total hampir tiga kali lipat dalam waktu empat tahun, belum termasuk dividen, meski perlu dicatat bahwa BMRI sukses naik karena kinerja perusahaan memang kembali bertumbuh di 2021 dan seterusnya.

Sehingga mulai 2026 ini, penulis melihat BMRI sebagai berikut: Jika tren kinerja positif perusahaan berlanjut sampai akhir tahun nanti, dan kembali berlanjut di 2027 dan seterusnya, maka no way sahamnya akan tetap dihargai pada valuasi diskon seperti sekarang. Melainkan, BMRI akan pelan-pelan naik ke 5,500 - 6,000 pada pertengahan 2027 nanti, dan kembali cetak all time high pada awal 2028. Sudah tentu, faktor-faktor eksternal seperti pergerakan IHSG, tren BI Rate, hingga review MSCI di bulan November 2026 nanti, juga akan berpengaruh. Tapi selama kinerja perusahaan kembali tumbuh double digit, dan prediksinya memang demikian (How? Nanti kita bahas di tulisan berikutnya), maka bagi anda yang mengincar sahamnya untuk investasi jangka panjang, maka saat ini sudah merupakan waktu terbaik untuk masuk, atau average down.

Kemudian nanti kita lihat lagi bagaimana hasilnya, 6 – 12 bulan dari sekarang.

***

Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon bagi yang memesan sebelum 9 Agustus, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar