Pendapat Saya Tentang Penutupan Kode Broker, dan Bandarmology

Sebagai value investor, apa pendapat Pak Teguh tentang bandar saham? Benarkah di saham itu ada bandarnya, yang katanya mereka itulah yang mengatur naik turunnya harga saham tertentu?

Bandar saham itu memang ada, dari dulu sudah ada, baik itu asing maupun lokal. Pada tahun 1997, salah seorang bandar saham paling legendaris di bursa, Benny Tjokrosaputro, pernah menggoreng/memanipulasi harga saham Bank Pikko, yang sekarang sudah bangkrut dan tidak terdaftar lagi di BEI, dan menimbulkan kerugian investor ritel yang tidak sedikit. Atas kasus tersebut, Bapepam-LK (yang sekarang bernama OJK), menjatuhkan hukuman denda Rp1 milyar ke Om Benny. Itu yang ketahuan, sedangkan yang tidak ketahuan lebih banyak lagi. Faktanya sekarang ini kalau kamu punya duit barang Rp30 – 40 milyar saja, maka kamu sudah bisa menggoreng saham-saham kecil tertentu sampai to the moon, lalu menggunakan medsos untuk nge-pompom para trader galau untuk membeli saham tersebut pada harga pucuk, dan setelah itu cuan.

Jadi kami para investor fundamentalis/value investor bukannya tidak mengakui keberadaan bandar ini, malah justru kami selalu berhati-hati agar jangan sampai terjebak permainan mereka, dimana kami selalu menghindari saham yang terindikasi digoreng oleh bandar. Pada artikel ini, saya mengatakan bahwa salah satu kriteria saham layak investasi adalah jika itu bukan saham gorengan, alias saham yang pergerakannya dikuasai oleh bandar.

***

Ebook Market Planning edisi Desember 2021 yang berisi analisis IHSG, rekomendasi saham, info jual beli saham, dan update strategi investasi bulanan sudah terbit! Anda bisa memperolehnya disini, gratis info jual beli saham, dan tanya jawab saham/konsultasi portofolio untuk member.

***

Jadi maksud bapak, sebuah saham bisa naik sendiri tanpa harus dinaikkan oleh bandar? Sebab ada juga yang bilang, saham sebagus dan semurah apapun gak akan naik kalau gak digoreng.

Yes, betul sekali. Jadi memang ada dua macam pergerakan saham: 1. Karena digerakkan bandar, 2. Karena murni mekanisme pasar. Jika memang ada saham yang memenuhi semua kriteria investasi, maka cepat atau lambat harganya akan naik. Masalahnya trader seringkali gak mau sahamnya cepat atau lambat naik, maunya cepat saja, kalau bisa besok langsung naik. Sehingga kalau ada saham bagus lama gak naik-naik, maka dikatakan bahwa itu karena nggak digoreng bandar. Kemudian seringkali pula seorang (yang mengaku) value investor belum bisa menilai apakah sebuah saham benar layak investasi atau tidak, dan itu biasanya karena ia belum cukup menguasai analisa fundamental dan value investing itu sendiri.

Contoh, banyak yang bingung kenapa ‘saham fundamental’ seperti Unilever Indonesia (UNVR) turun terus, lalu dikatakan bahwa sahamnya ditinggal bandar. Padahal dalam banyak kesempatan saya sudah katakan bahwa laba bersih UNVR ini terakhir masih turun, dan itu tidak sesuai ekspektasi dimana sebagai perusahaan consumer goods, investor berpikir bahwa kinerja UNVR akan tetap naik meski sedang resesi. Kemudian karena disisi lain valuasinya sejak awal premium alias lebih tinggi dibanding BBCA dkk sekalipun, maka jadilah sahamnya turun. Contoh berikutnya Panin Financial (PNLF), dengan PER 3.4 kali dan PBV 0.2 kali tapi gak mau naik-naik, jadi value investing itu nggak ngaruh. Padahal kalau kita beneran baca laporan keuangannya PNLF (jadi gak cuma lihat data RTI), akan langsung kelihatan bahwa karena perusahaan memegang 46% saham PNBN, dan mengakui laba PNBN sebagai bagian laba entitas asosiasi, maka jadilah ekuitas dan laba bersihnya tampak sangat besar, dan alhasil PER dan PBV-nya tampak kecil. Jika kita sesuaikan perhitungannya dengan mengeluarkan 46% saham PNBN tadi, maka PER PNLF menjadi sekitar 12 kali, dan PBV-nya 1.1 kali, alias tidak terlalu murah lagi.

Contoh berikutnya lagi, Jaya Bersama Indo (DUCK), yang merupakan pemilik jaringan restoran Duck King yang terkenal, dimana ada banyak analis/Youtuber dengan metode value investing menyebut bahwa DUCK ini sangat murah karena market capnya lebih kecil daripada uang kas yang dipegang perusahaan. Ini juga keliru, dimana pada ulasan lengkapnya disini, penulis sudah mengatakan bahwa DUCK ini nggak murah, malah justru berbahaya, jadi sebaiknya dihindari. And guess what? Sahamnya sekarang disuspen. Tapi jika ada investor pemula yang ikut rekomendasi analis tadi dan membeli DUCK ini, maka ia mungkin akan menganggap bahwa value investing itu cuma bikin rugi, jadi mending ikut bandar saja. Padahal dalam hal ini yang salah adalah si Youtuber itu tadi, yang belum cukup menguasai value investing itu sendiri.

Balik lagi ke soal bandar. Intinya sih, meski di satu sisi kami mengakui keberadaan bandar yang mengendalikan naik turunnya saham tertentu, tapi kami tidak setuju jika dikatakan bahwa semua saham ada bandarnya, atau bahwa sebuah saham gak akan naik jika nggak digoreng bandar. Boleh baca ulang rekomendasi-rekomendasi saham yang disajikan di blog ini, kebanyakan hasilnya cuan kok, meskipun saham tersebut ‘gak ada bandarnya’. Malah untuk saham yang kami tahu ada bandarnya seperti SRIL, maka pada ulasannya disini, kami sudah mengingatkan investor tentang risikonya kalau kita masuk ke SRIL tersebut.

Banyak investor pemula salah kaprah menganggap bahwa investasi fundamental itu berarti hanya membeli saham-saham seperti UNVR, BBCA, TLKM dst, diluar itu berarti saham gorengan. Padahal di Avere sendiri, selama ini porto kami lebih banyak berisi saham-saham kecil yang sudah kami pilih secara hati-hati, ketimbang saham-saham bluechip tersebut.

Bagaimana pendapat Pak Teguh tentang bandarmology?

Saya selalu mengatakan bahwa di pasar saham ini gak ada metode terbaik, yang ada adalah metode yang paling cocok dengan karakter si investor/trader itu sendiri. Jadi apapun metode yang kita gunakan dalam mencari cuan di saham, maka selama metode tersebut memang menghasilkan cuan, maka silahkan teruskan. Jika kamu selama ini ikut bandar dan hasilnya cuan, maka gak usah lagi pakai analisis fundamental.

Hanya saja, yang sering saya dengar adalah cerita trader ritel yang boncos gara-gara mencoba ikut bandar, tapi malah terjebak permainan si bandar itu sendiri. Dan jangankan trader ritel, bahkan fund manager dengan dana kelolaan puluhan trilyun seperti Jiwasraya dan Asabri juga juga kena. Padahal berbeda dengan trader kecil, manajer investasi di institusi sebesar Jiwasraya tentu kenal baik dengan orang-orang seperti Bentjok dan Heru Hidayat, tapi toh mereka dibikin boncos juga. Berdasarkan fakta tersebut maka kami value investor tidak mau berurusan dengan bandar dalam bentuk apapun, termasuk kami juga tidak akan berusaha mengikuti mereka. Risikonya terlalu tinggi.

Pak Teguh bilang ‘banyak yang boncos gara-gara terjebak permainan bandar’. Sebenarnya permainan bandar itu seperti apa sih?

Biasanya bandar itu selain memanipulasi harga saham, maka seperti disebut diatas, mereka juga memanipulasi psikologis investor dengan memanfaatkan sifat serakah/greedy si investor itu sendiri. Contohnya Bukalapak (BUKA), yang memang saham bandar. Pertama yang dilakukan bandar adalah pom-pom melalui media dan medsos, bahwa sekarang jamannya saham teknologi, lihat itu saham teknologi lain sudah pada terbang bla bla bla. Kedua, menyebar propaganda bahwa analisa fundamental itu sudah ketinggalan jaman, dan para value investor yang masih baca laporan keuangan itu gak lebih dari dinosaurus yang harusnya sudah punah (dan jujur saya sebagai value investor itu sendiri sempat tersinggung dibilang begini, tapi saya kemudian bisa mengerti bahwa trader yang ikut-ikutan ngomong gitu sebenarnya cuma korban. Yang salah ya si bandar itu sendiri, yang sudah mencuci otak para trader yang masih polos ini). Ketiga, sekaligus yang paling penting, pada hari pertama dan kedua sahamnya diperdagangkan di BEI, harganya langsung dikerek setinggi mungkin hingga ARA (autoreject atas) dan dengan volume transaksi yang juga sangat besar! Sehingga otomatis beritanya jadi headline dimana-mana sehingga membuat investor jadi lebih penasaran lagi, dan akibatnya para investor ini langsung FOMO.

I mean, seandainya saham BUKA tidak dibuat ARA selama dua hari berturut-turut begitu, maka gak bakal ada yang FOMO juga. Setelah semua ikan kecil ini masuk perangkap, barulah si bandar lepas tangan dan saham BUKA dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar. Dan apa yang terjadi ketika ada saham dengan fundamental zonk pada harga yang teramat sangat tinggi tidak lagi dibandarin? Ya nyungsep lah!

Oke Pak, jadi bagaimana cara kita mengidentifikasi saham bandar ini? Dengan kata lain, apa sih ciri-ciri saham gorengan?

Kalau diringkas, cirinya ada lima. Pertama, fundamentalnya biasanya sangat buruk, perusahaannya rugi melulu, banyak utang, gak pernah bayar dividen, dan itu bisa dengan mudah dibaca di laporan keuangan dan laporan tahunannya (atau prospektus, jika perusahaannya baru mau IPO). Kedua, valuasinya sangat tinggi, entah itu PBV 10 kali, atau PER 50 kali. Atau kalau valuasinya tampak murah, maka ada poin-poin tertentu di laporan keuangannya yang kalau kita gali lebih dalam lagi, maka kita akan menemukan bahwa valuasinya sebenarnya tidak semurah itu (contoh baca lagi PNLF diatas, atau dulu juga pernah rame saham MYRX). Ketiga jumlah saham beredarnya sangat banyak sampai puluhan milyar lembar sehingga market capnya sangat besar dan sahamnya juga likuid dan ramai, padahal perusahaannya kecil. Keempat, perusahaannya seringkali menggelar right issue, private placement, obligasi wajib konversi dst untuk meraup dana investor, sehingga jumlah saham beredarnya jadi banyak itu tadi.

Dan kelima, pergerakannya gak wajar, misalnya tiba-tiba terbang sampai ARA selama dua atau tiga hari berturut-turut, padahal gak ada berita ataupun penyebab apa-apa (atau ada tapi cuma rumor), dan setelah itu ARB tiap hari. Tapi biasanya justru ciri yang terakhir inilah yang bikin saham gorengan sangat disukai para trader spekulan, karena siapa yang kagak demen beli saham hari ini terus besoknya cuan 25%?? Makanya setiap kali ada saham kecil gak jelas tiba-tiba terbang tinggi, apalagi sampai ARA, maka langsung saham itu ramai dibicarakan di grup-grup, dan tidak sedikit trader ikut masuk dengan harapan bahwa sahamnya akan naik lebih tinggi lagi. Dan para trader kemudian menjadi mangsa empuk para bandar predator ini. Ibu Sri Mulyani lho yang bilang kalau mereka itu ‘predator’, bukan saya.

Jika bandar itu memang predator, lalu kenapa Bursa dan OJK diam saja pak?

Kalau saya melihatnya karena peraturan perundang-undangan terkait perlindungan investor ini sudah sangat out of date, dimana UU terakhir terkait larangan goreng menggoreng saham dibuat tahun 1995 alias 26 tahun lalu, itupun boleh dibilang gak ada implementasinya dimana Benny Tjokro yang jelas-jelas di tahun 1997 melakukan goreng saham, nyatanya sampai bertahun-tahun kemudian tetap bebas merdeka. Barulah setelah dia dengan serakahnya garong duit nasabah Jiwasraya, akhirnya kena juga. Dalam hal ini sepertinya Bentjok tidak belajar dari bandar-bandar besar lainnya, yang gak pernah sampai makan duit BUMN melainkan mereka makan duit investor ritel saja, dan alhasil mereka aman-aman saja tuh sampai sekarang.

Dengan kata lain, gimana para bandar itu bisa disebut kriminal jika tidak ada pasal-pasal yang bisa menjerat mereka secara hukum? OJK juga hanya akan bertindak setelah adanya laporan kerugian, jadi belum bisa kalau harus mencegah, itupun tidak menjamin bahwa kerugiannya akan kembali. Misalnya balik lagi ke Kasus Jiwasraya, dimana meski para terdakwanya sudah divonis, tapi duit nasabah tetap belum balik. Jadi pada akhirnya kita sebagai investor ritel lah yang harus waspada, dan harus mampu melindungi investasi milik kita sendiri.

Soal penutupan kode broker pak, ada yang bilang bahwa itu akan bikin bandar semakin leluasa karena pergerakan mereka tidak bisa lagi dilacak oleh ritel, dan itu akan bikin pasar saham jadi kacau. Komentarnya pak?

Saya selama ini gak pernah lihat kode broker ketika hendak membeli atau menjual saham, dan bisa saya katakan bahwa selama ini saya tetap cuan konsisten meskipun memang sekarang ini bandar semakin merajalela (sekarang para influencer di Instagram dan YouTube itu juga bisa goreng saham bermodalkan channel Telegram). Jadi soal penutupan broker itu sama sekali gak jadi masalah, kalau buat kami ya.

Pak Teguh kan untuk ukuran investor ritel dananya lumayan besar, dan sebagai influencer punya banyak follower juga. Kenapa gak jadi bandar saja pak? Atau ikut bantu endorse/pompom saham apa gitu?

Jujur sebenarnya godaan itu banyak sekali. Bahkan sejak dulu sebelum ramai istilah influencer, saya beberapa kali diajak pemilik perusahaan Tbk tertentu untuk bantu pompom saham mereka, dengan tawaran bagi hasil hingga belasan milyar Rupiah. Tapi entahlah, saya gak tertarik karena bikin nggak tenang. Pada akhirnya dengan menerapkan value investing saja, profitnya selama ini sudah cukup lah buat makan dan bayar anak sekolah. Kemudian Warren Buffett juga sebenarnya pernah menyindir para bandar ini, dengan mengatakan ‘Kami tidak punya kuasa untuk menggerakkan harga saham Berkshire Hathaway (BRK) atau saham apapun di pasar’. Padahal kenyataannya jika WB mau, dia bisa saja goreng dan pompom saham BRK atau saham apapun yang dia pegang hingga harganya terbang tinggi. Bagi WB tentu mudah saja untuk membayar media atau influencer untuk melakukan pompom tersebut.

Tapi WB memilih untuk tidak melakukannya. Dan sebagai murid beliau (meski WB tentu saja tidak kenal siapa itu Teguh Hidayat), saya juga memilih untuk tidak melakukan itu. And btw untuk menjaga independensi, saya juga selalu menolak tawaran kerjasama/endorse. Semua tulisan di blog ini adalah murni pemikiran saya sendiri, sama sekali gak ada tulisan pesanan. Dan ketika saya bilang bahwa saham tertentu bagus, maka saya selalu menyajikan dasar-dasar analisanya secara logis, seperti kinerja perusahaan terbukti bagus, track recordnya jelas, manajemennya bisa dipercaya, dst, jadi bukan jualan angin surga seperti ini bakal jadi the next Amazon bla bla bla. Dan tentunya saya sendiri juga ikut membeli saham tersebut sehingga jika analisanya salah/sahamnya malah turun, maka saya ikut rugi, sedangkan jika analisanya benar/sahamnya naik, maka saya ikut cuan.

Ada pernyataan penutup pak? Soal bandar saham ini.

Seperti halnya di dunia ini ada setan, maka di pasar saham juga ada bandarnya, dan tujuan mereka sama yakni menjebak manusia dengan hawa nafsu serakahnya. Jadi sekarang kamu punya pilihan: Mau ikut setan bandar ini, atau menghindarinya dan memilih ‘jalan yang lurus’? Kami tidak akan men-judge apapun pilihanmu, yang akan men-judge adalah hasil investasi/trading kamu sendiri.

***

Ebook Investment Planning yang berisi kumpulan 30 analisa saham pilihan edisi Kuartal III 2021 sudah terbit, bisa dipesan disini. Gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio, langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan via email

Komentar

Unknown mengatakan…
Tetaplah seperti ini Pak, saya yakin anda akan jadi legend
Hendra Martono Liem mengatakan…
Dear Pak Teguh, apakah bapak maksud seminar ARA Hunter adalah seminar yang dibawakan oleh Hendra Martono Liem, CEO dan Founder ARA Hunter?
Hendra Martono Liem mengatakan…
Apakah yang dimaksud pak Teguh Hidayat, seminar ARA Hunter itu adalah webinar Ara Hunter, yang dibawakan oleh Hendra Martono Liem, CEO dan founder ARA Hunter?

Apakah pak Teguh pernah mengikuti webinar tsb sampai akhir hingga menyimpulkan bahwa webinar tersebut hanya mengajarkan sebagai spekulan yang akan jadi korban predator ?
MFTKIA mengatakan…
Sangat bermanfaat sekali pak Teguh isi blog-nya ini. Isinya daging semua. Teruslah berbagi insight² yang bermanfaat Pak. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Teguh dengan telah menyajikan tulisan yang bermanfaat.
MFTKIA mengatakan…
Terima kasih Pak Teguh atas tulisan blog-nya ini, sungguh sangat berisi, isinya daging semua. Teruslah berbagi insight² yang bermanfaat seperti ini Pak. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Teguh, karena telah menyajikan tulisan yang bermanfaat ini.
Teguh Hidayat mengatakan…
Nggak tau nama pembicaranya siapa, karena ada banyak seminarnya dengan judul yang berbeda2 tapi intinya sama/ada kata-kata ARA-nya. Seminar bandarmology juga saya lihat ada banyak, sama seperti seminar value investing sekarang ini gak cuma saya yang membawakan.
Hendra Martono Liem mengatakan…
Dear Pak Teguh,
Anda langsung memakai nama Ara Hunter yang merupakan trade mark kami dan mengatakan bahwa hanya mengajarkan spekulasi.
Padahal ARA Hunter mengajarkan pentingnya investasi, mengajarkan juga prinsip kehati-hatian saat harus Trading.

Kalau Anda tidak setuju orang Trading, ya terserah Anda. Tapi langsung menggunakan nama Ara Hunter padahal Anda tdk pernah ikut seminarnya dan sudah di share lbh dari 400x apakah ini prinsip analisa sudah tepat?

Saya mohon klarifikasinya karena Anda tanpa check and recheck langsung memakai nama Ara Hunter.

Salam
Hendra Julius Setiawan Martono
CEO dan Founder ARA Hunter
Anonim mengatakan…
Koreksi Pak Teguh. Tidak ada saham yg harganya bergerak 'gak ada bandarnya'. Tanpa bandar/market maker tidak mungkin harga saham bisa bergerak. Namun bandar punya level dan kepentingan masing2. Sehebat apapun value investing, suka atau tidak, tetap bandar yg menentukan harga sebuah saham.
cr1st1ano_r0h1md0 mengatakan…
kebanyakan yg bilang dikit2 bandar,dikit2 bandar,biasanya trader/investor yg hobi nyangkut daripada cuan😂,dan g punya metode..kl profit g pernah berterima kasih ma bandar,kl loss,nyalahin bandar.
Inos mengatakan…
Semoga avere di masa depan IPO ya pak teguh, bakal saya beli saham IPO nya nanti. Hehe
Anonim mengatakan…
kalo menurut saya, penutupan kode broker ini adalah SOLUSI UNTUK MASALAH YANG TIDAK ADA!. bursa harus transparan tidak melulu di data emitennya tetapi juga partisipannya dalam hal ini broker. Mengapa mereka dibuat gelap? buat kita data apapun itu berguna untuk mencermati dinamika bursa. semakin transparan semakin seksi. kita yang ritel saat ini seperti diarahkan hanya sekedar untuk nabung saham dan tidak disarankan trading. sejak kebijakan ini saya sendiri stop trading saham sampai ada kebijakan baru kode broker dibuka kembali. Saat ini saya langsung trading crypto.

ARTIKEL PILIHAN

Price Earning Ratio dan Price to Book Value

Live Webinar Value Investing, Sabtu 12 Februari 2022

Pendapat Saya Tentang Rencana IPO GoTo

Ebook Investment Planning Kuartal III 2021 - Sudah Terbit!

Apa Itu Repo Saham?

Cara Mudah Menentukan Support & Resistance

Mengupas Penyebab Masalah Utang Sritex (SRIL)