Cara Profit Maksimal Dari Dana Kas di RDN Saham
Pak Teguh saya ada dana di RDN yang belum dibelikan saham, sebaiknya diapakan ya pak? Rasanya sayang kalau didiamkan saja, karena hanya terima bunga 2% per tahun yang tentu saja tidak menutup inflasi. Apa dibelikan SBN? Atau reksadana pasar uang? Mohon pencerahannya Pak.
**
Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
Jawab:
Meskipun posisi Avere saat ini sedang all in di saham, sehingga kami tidak pegang cash lagi, tapi memang di waktu-waktu yang lain kami biasanya menyisakan cash sebanyak 10 atau 20% dari total nilai aset di rekening dana nasabah (RDN). Sisa cash ini berguna untuk jaga-jaga beli lagi (average down) jika salah satu saham yang dipegang turun, entah itu karena penurunan IHSG atau faktor lainnya. Kemudian, dalam situasi dimana kita menganggap bahwa pasar saham sudah naik tinggi sehingga berisiko untuk turun kembali, maka cash ini bisa ditambah dengan cara menjual saham-saham. Contohnya pada pertengahan 2025 lalu, maka selain investasi saham, saya menyarankan kepada investor untuk diversifikasi ke Surat Berharga Negara aka SBN, bisa dibaca disini. Menurut kami SBN ini lebih baik dibanding deposito atau reksadana pasar uang, karena: 1. Sama-sama likuid aka bisa dicairkan kapan saja, jadi sama saja seperti kalau kita menabung di bank, 2. Kuponnya lebih tinggi sekitar 6% per tahun, dan 3. Lebih aman karena dijamin seluruhnya oleh negara, jadi beda dengan tabungan di bank yang hanya dijamin maksimal senilai Rp2 miliar oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), yakni jika bank-nya sewaktu-waktu bangkrut dan tutup.
Lalu sebaliknya, dalam situasi dimana kita menganggap IHSG sudah turun cukup rendah dan saham-saham banyak yang murah, maka kita tidak perlu lagi hold cash, melainkan semua cash yang ada bisa dibelanjakan saham, dimana itulah yang kami lakukan sejak bulan Juni 2026 kemarin. Nah, tapi balik lagi ke pertanyaannya: Jika saya masih ada pegang cash yang belum dibelikan saham, maka bagaimana caranya agar cash itu bisa tetap menghasilkan keuntungan?
Dan disinilah mungkin saya harus koreksi sedikit. Kalau bapak pegang cash, maka suka atau tidak, bapak tidak akan menghasilkan keuntungan apa-apa. Malah dalam jangka panjang, cash yang bapak pegang itu akan berkurang nilai riilnya, yakni karena inflasi. Jadi satu-satunya cara agar uang cash itu bisa kembali menghasilkan profit signifikan maka ya harus dibelanjakan aset produktif, entah itu saham atau lainnya.
Di sisi lain, kita sama-sama tahu bahwa saham mengandung risiko, yakni jika harganya turun, dimana risiko ini tidak terdapat pada aset berupa uang cash. Nah, jadi kalau kita ambil contoh saya sendiri: Kami di penghujung tahun 2025 lalu menjual hampir seluruh saham di BEI, lalu uangnya dipindah ke SBN. Dan saya beli SBN bukan karena profitnya paling besar, karena nyatanya obligasi korporasi bisa kasih bunga lebih tinggi, sekitar 10% per tahun. Melainkan karena seperti disebut diatas: Dibandingkan dengan kuponnya yang, meski tidak terlalu besar tapi sudah cukup untuk menutup inflasi, maka SBN ini adalah yang terbaik karena di sisi lain dia juga sangat aman. Jadi fokus saya disini adalah di tingkat keamanannya, bukan di seberapa besar profit yang dihasilkan.
Dan kenapa kami ketika itu menjual saham lalu pindah ke SBN? Karena kami menganggap risiko investasi di saham terbilang lebih tinggi dibanding biasanya, yakni seiring kenaikan IHSG sampai tembus 8,500 ketika itu. Posisi Avere sendiri ketika itu sudah profit lumayan sehingga, kalau pakai analogi pertandingan sepakbola, kami sudah menang dengan skor 2 – 0. Sehingga, setelah sebelumnya kita bermain menyerang (baca: all in saham), maka sekarang waktunya main bertahan (baca: profit taking, lalu hold cash), yakni untuk menjaga gawang agar tidak kebobolan. Kami tidak lagi terus menyerang dan berusaha cetak satu gol lagi agar skornya menjadi 3 – 0, karena di sisi lain itu justru berisiko membuat pertahanan terbuka, dan bisa jadi ujungnya kami malah kalah 2 – 3.
Nah, jadi balik lagi pak: Ketika bapak pegang cash yang belum dibelikan saham, maka fungsi cash itu sejak awal bukan untuk cetak gol (baca: menghasilkan profit), melainkan untuk bertahan agar tidak kebobolan (baca: rugi karena saham turun), yakni jika bapak menilai bahwa saham tersebut, atau IHSG, akan turun. Jangan khawatir karena pada waktunya nanti, cash itu akan menghasilkan profit besar lagi, yakni ketika kembali dibelanjakan saham. Tapi selama dia masih berbentuk cash, maka tidak apa-apa jika dia tidak menghasilkan apa-apa. Dan dalam hal ini maka saya juga harus kasih warning: Alasan saya tidak beli obligasi korporasi, atau reksadana pendapatan tetap (kalau reksadana pasar uang masih oke lah), adalah karena instrumen investasi tersebut masih mengandung risiko, yakni jika perusahaannya mengalami gagal bayar. Kemudian, beberapa bank atau lembaga keuangan menawarkan bunga deposito tinggi sampai 8% per tahun, tapi hati-hati karena itu melebihi aturan LPS terkait batas maksimum bunga sebesar 3.75% untuk bank konvensional, dan 6.25% untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Yang itu artinya, deposito anda dengan bunga 8% tersebut tidak dijamin oleh LPS. Lalu bagaimana dengan emas? Well, harga emas bisa naik dan turun, jadi sama saja berisiko seperti saham.
Sehingga balik lagi, bapak bisa tetap simpan cash tersebut di SBN karena lumayan dapat 6% per tahun, atau tetap dalam
bentuk tunai di RDN juga tidak apa-apa, karena balik lagi: Bapak tidak sedang ‘bermain
menyerang’ untuk menghasilkan profit disini, melainkan bertahan agar tidak
menderita kerugian. Nah, tapi jika nanti bapak sudah cukup yakin untuk all
in kembali di saham, then do it! Kami sendiri sejak Juni kemarin
memang sudah all in, sehingga pada saat inilah semua cash yang kami
pegang diharapkan akan kembali menghasilkan keuntungan maksimal. Mudah-mudahan.
***
Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Komentar