Prospek Saham Chandra Asri Pacific (TPIA), Dari Sisi Fundamental

Pada hari Jumat, 21 Agustus 2026 kemarin, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan bahwa perusahaan mengakuisisi Cycle & Carriage, sebuah perusahaan otomotif di Singapura dan Malaysia, yang merupakan unit usaha milik Jardine Cycle & Carriage Ltd, yang notabene induk dari PT Astra International Tbk (ASII). Nah, jadi ini TPIA secara tidak langsung mengakuisisi ASII juga, apa gimana?

***

Live Webinar Investasi Saham Indonesia: Multibagger Edition. Sabtu 29 Agustus 2026, pukul 08.00 - 10.00 WIB. Untuk mendaftar klik disini.

***

Sebelum menjawab itu maka mari kita telisik lagi perusahaan sejak awal.

PT Chandra Asri Pacific adalah perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, dengan aset utamanya berupa pabrik di Cilegon, Banten, yang memproduksi naphtha cracker (bahan baku plastik kemasan), styrene monomer (bahan baku komponen plastik untuk otomotif dan elektronik), butadiene (karet sintetis untuk ban mobil, sol sepatu, perabot dan perkakas rumah tangga), dan lain-lain. Simpelnya jika anda di rumah punya barang-barang buatan dalam negeri yang sebagian atau seluruh komponennya terbuat dari plastik dan/atau karet sintetis, maka hampir pasti bahan baku untuk membuat barang-barang tersebut diproduksi oleh TPIA ini. Diluar segmen petrokimia, perusahaan juga memiliki kilang minyak di Pulau Bukom, Singapura, jaringan pom bensin Esso di Singapura, pembangkit listrik tenaga surya, infrastruktur pelabuhan dan tangki penyimpanan minyak, hingga segmen usaha logistik dengan kepemilikan 14 unit kapal tanker, armada truk, fasilitas pergudangan, dan masih banyak lagi. TPIA berdiri pada tahun 1984 dan merupakan anak usaha dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dimana BRPT pada gilirannya merupakan bagian dari Grup Barito, milik konglomerat Prajogo Pangestu.

Lalu terkait sahamnya, maka TPIA merupakan salah satu saham big caps di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sukses naik lumayan tinggi pasca era covid, yakni dari posisi 1,500an di akhir tahun 2020 ke posisi 2,500an di tahun 2023, tapi sahamnya baru menjadi sorotan publik pada tahun 2024 dan 2025, yakni setelah naik sangat banyak dari posisi 2,000 di bulan September 2023, hingga tiba-tiba saja tembus 7,000 – 11,000 lalu bertahan disitu, antara bulan Agustus 2024 s/d Mei 2025. Tidak ada faktor fundamental yang bisa menjelaskan kenaikan yang mencapai ratusan persen tersebut, karena faktanya perusahaan justru mencatat rugi $69 juta di sepanjang tahun 2024. Dan meskipun di tahun 2025-nya, TPIA berbalik cetak laba $1.1 miliar, tapi itu termasuk ‘keuntungan dari pembelian dengan diskon’ sebesar $1.9 miliar, yang hanya bersifat pembukuan alias tidak ada uangnya (analoginya seperti kalau kita beli mobil seharga Rp150 juta tapi bayarnya Rp100 juta saja, sehingga kita bisa dianggap untung Rp50 juta meskipun tidak terima uang Rp50 juta tersebut). Jadi jika keuntungan itu tidak turut dihitung, maka TPIA secara operasional kembali merugi di tahun 2025.

Terlepas dari itu, kenaikan harga sahamnya yang luar biasa menyebabkan TPIA memiliki market cap yang teramat sangat besar hingga sempat tembus Rp800 triliun, yang seketika menjadikannya sebagai salah satu emiten terbesar di BEI, bahkan lebih besar dibanding nama-nama seperti Bank BCA (BBCA), Bank BRI (BBRI), dan Telkom (TLKM). Alhasil pada bulan Mei 2024, Morgan Stanley Capital International (MSCI) resmi memasukkan TPIA ke dalam MSCI Global Standard Index, sehingga secara tidak langsung merekomendasikan kepada investor global asing yang berminat untuk berinvestasi di saham Indonesia untuk membeli saham TPIA ini. Sebelumnya kembali penulis ingatkan bahwa cara kerja MSCI memang seperti itu: Jika ada emiten yang market capnya sangat besar, dan dengan volume transaksi yang juga likuid mencapai puluhan hingga ratusan miliar Rupiah per hari, maka sahamnya akan otomatis dipertimbangkan untuk masuk indeks. MSCI dalam hal ini tidak terlalu memperhatikan faktor fundamental/perusahaannya beneran profit atau tidak, dan apakah valuasinya mahal atau terdiskon (PBV TPIA mencapai 20x pada tahun 2024, aka muahal sangat). Melainkan balik lagi yang terpenting adalah ukuran market cap, dan likuiditas.

Dan alhasil investor asing ramai-ramai masuk ke TPIA ini, dimana pada akhir 2025, 44.7% saham beredar perusahaan dipegang oleh asing, naik dari 41.0% pada akhir 2023. Catat bahwa persentase kepemilikan asing tersebut termasuk menghitung saham milik SCG Chemicals Public Co Ltd, yang merupakan pemegang saham utama TPIA diluar BRPT (jadi posisinya berbeda dengan investor publik/ritel) sebesar 30.6%. Sehingga jika saham milik SCG tidak dihitung, maka porsi kepemilikan asing di TPIA meningkat dari 10.4% di akhir 2023 menjadi 14.1%, dua tahun kemudian. Kemudian karena jumlah saham beredar TPIA mencapai 86.5 miliar lembar, maka kenaikan 3.7% itu setara 3.2 miliar lembar saham. Dan setelah dikali harga rata-rata Rp7,000 per saham, maka berarti investor asing memborong saham TPIA senilai kurang lebih 3.2 miliar x Rp7,000, sama dengan Rp22 triliun, di sepanjang tahun 2024 dan 2025.

Drama MSCI vs Saham Konglo

Hingga pada bulan Januari 2026, MSCI merilis pengumuman dimana mereka mengancam akan men-downgrade BEI ke frontier market, karena mereka menganggap pasar saham disini tidak transparan terkait data pemegang saham, dan adanya dugaan coordinated trading. Sebelumnya pada bulan Februari 2025, MSCI juga merilis pengumuman yang pada intinya mempertanyakan kelayakan investasi (investability issues) terkait tiga emiten besar di BEI, yakni Barito Renewables (BREN), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Petrosea (PTRO). Tapi pada pengumumannya di bulan Januari 2026 tersebut maka MSCI tidak lagi hanya menyoroti saham-saham tertentu, melainkan mereka kasih warning terhadap pasar saham Indonesia secara keseluruhan.

Merespon peringatan tersebut, sejumlah petinggi BEI dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung mengundurkan diri, diganti dengan pejabat baru. Dan di tangan orang-orang baru ini BEI kemudian meluncurkan sejumlah kebijakan reformasi bursa, seperti menaikkan aturan batas free float (persentase saham beredar yang dipegang investor publik) dari sebelumnya 7.5% menjadi 15%, mewajibkan emiten untuk merilis informasi ultimate beneficiary aka nama individu pemilik akhir perusahaan, merilis nama-nama pemegang saham dengan kepemilikan 1% atau lebih di tiap-tiap emiten (sebelumnya yang dirilis hanya pemegang saham dengan kepemilikan 5% atau lebih), memperbaharui data klasifikasi investor dari sebelumnya 9 menjadi 27 tipe investor (investor perorangan, private equity, bank, asuransi, dst hingga totalnya 27 tipe investor), dan terakhir merilis daftar saham yang terindikasi high shareholding concentration (HSC).

Dan berbekal data-data baru tersebut, maka pada review di bulan Mei 2026, MSCI akhirnya menendang keluar sejumlah saham dari global standard index mereka, tak terkecuali TPIA (karena free float-nya kurang dari 15%), yang seketika membuat sahamnya anjlok tanpa ampun! Dari 6,700 pada awal bulan Mei hingga mentok di 1,300 di awal Juni 2026, sebelum kemudian rebound ke posisi sekarang di 2,000an. Pihak manajemen TPIA sendiri gerak cepat dengan mengumumkan, pada bulan Juni 2026, bahwa SCG sebagai salah satu pemegang saham utama perusahaan melepas sebagian saham TPIA milik mereka ke publik, sehingga membuat kepemilikan SCG di TPIA berkurang menjadi 15.7%, tapi di sisi lain free float TPIA meningkat menjadi 25.7%. However sampai dengan ketika artikel ini diposting, maka MSCI masih belum kembali memasukkan TPIA ke dalam indeks mereka.

Prospek Kinerja TPIA

Nah, tapi sekarang ke pertanyaan besarnya: Terlepas dari drama MSCI ini, sebenarnya bagaimana prospek TPIA ini? Okay, mari kita bahas. Hingga Q2 2026, TPIA cetak pendapatan $5.3 miliar, naik signifikan dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar $2.9 miliar, thanks to adanya sumber pendapatan baru dari hasil operasional kilang minyaknya, sehingga perusahaan sukses cetak laba bersih $283 juta, yang kali ini benar berasal dari operasionalnya. Namun dari bisnis utamanya di petrokimia maka TPIA masih merugi karena kenaikan harga bahan baku minyak mentah, imbas dari situasi Perang Amerika Serikat vs Iran. Jadi memang keputusan perusahaan untuk diversifikasi ke segmen hulu energi (kilang minyak) sejauh ini terbukti tepat, dimana kenaikan harga minyak sebaliknya membuat perusahaan untuk pertama kalinya cetak profit secara operasional di tahun 2026 ini (sebelum merugi di 2024 dan 2025, TPIA juga mencatat rugi di tahun 2022 dan 2023). Kemudian TPIA juga diketahui berinvestasi di konsesi pelabuhan di Cilegon, Banten, ikut serta dalam proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) milik Danantara, berinvestasi di saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), hingga seperti disebut diatas mengakuisisi Cycle & Carriage (CC) dari tangan Jardine Cycle & Carriage, dimana CC merupakan perusahaan dealer kendaraan bermotor merk Mercedes-Benz, Mitsubishi, Peugeot dll, dengan 6 lokasi gerai di Singapura dan 21 lokasi gerai di Malaysia. Jadi TPIA dalam hal ini tidak mengakuisisi Jardine Cycle & Carriage, melainkan hanya mengambil alih sebagian usaha otomotif milik Jardine di wilayah Singapura, dan Malaysia.

Okay, lalu bagaimana prospek TPIA setelah akuisisi-akuisisi diatas? Well, karena banyak dari akuisisi diatas baru dieksekusi dalam waktu beberapa bulan terakhir, maka hasilnya sejauh ini belum kelihatan kecuali dari usaha kilang minyak itu tadi, yang sukses membalikkan kinerja perusahaan dari tadinya rugi menjadi cetak laba bersih $283 juta hingga Q2 2026 ini. However karena TPIA membiayai sebagian besar ekspansinya menggunakan utang bank, termasuk perusahaan pada bulan Juli 2026 kemarin juga menerbitkan obligasi senilai total Rp6 triliun, maka jadilah perusahaan memiliki total liabilitas yang sangat besar, tepatnya $8.8 miliar hingga Q2 2026, aka dua kali lebih besar dibanding ekuitasnya. Yang itu artinya, bahkan kalaupun investasi TPIA di pelabuhan dll sukses menghasilkan tambahan pendapatan yang signifikan, tapi di sisi lain beban bunga utangnya juga naik banyak, sehingga labanya tetap hanya akan naik sedikit saja.

Kemudian kalau dari sisi valuasi, maka dengan PER disetahunkan 17.1x dan PBV 2.4x pada harga 2,000, maka meski valuasi TPIA saat ini sudah tidak lagi semahal ketika sahamnya masih di 7,000, tapi juga belum bisa dikatakan undervalued. Jika kita ambil PER 12x sebagai valuasi wajar sahamnya, sama dengan PER BBCA dan TLKM saat ini sebagai sesama emiten big caps dan likuid, maka itu setara harga saham 1,400. Dan jika kita gunakan margin of safety 35%, maka TPIA baru bisa dikatakan murah pada harga saham sekitar 900 – 1,000.

Kesimpulan

Kesimpulannya, kalau dari sudut pandang analisa fundamental/value investing, maka TPIA ini tidak memiliki historis kinerja yang bagus (rugi terus), tapi memang di tahun 2026 ini situasinya sudah mulai membaik, dan berpeluang untuk lebih baik lagi ke depannya jika ekspansi-ekspansinya diatas sukses cetak tambahan pendapatan bagi perusahaan. Di sisi lain karena leverage-nya (utangnya) tergolong besar, maka terdapat risiko bahwa perusahaan akan kembali cetak kerugian, yakni jika diversifikasi usahanya gagal sedangkan bunga pinjamannya tetap harus dibayar. Kemudian kalau dari sisi valuasi saham, maka valuasi TPIA pada harga sahamnya saat ini sudah mirip-mirip dengan saham-saham blue chips lainnya di BEI, tapi belum bisa dikatakan undervalued. Jadi karena itulah, penulis untuk saat ini belum bisa merekomendasikannya, kecuali jika nanti sahamnya turun ke 900 – 1,000 maka baru kita lihat lagi.

Anyway, kita tahu bahwa ada banyak saham-saham di BEI yang tidak selalu bergerak naik dan turun mengikuti fundamental kinerja perusahaannya, tak terkecuali TPIA ini. Sehingga kalau sahamnya dianalisa menggunakan metode lain yang bukan fundamental, maka bukan tidak mungkin bahwa kesimpulannya adalah bahwa TPIA besok-besok akan naik, alih-alih kembali turun. Nah, tapi jika pertanyaannya adalah bagaimana prospek TPIA ini dari sudut pandang fundamental? Maka anda sudah membaca jawabannya diatas.

Untuk tulisan minggu depan, ada usulan kita bahas saham/emiten apa lagi?

***

Ebook Investment Planning terbaru berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 sudah terbit, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,500, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Dapatkan postingan terbaru dari blog ini via email. Masukkan alamat email anda di kotak dibawah ini, lalu klik subscribe

Komentar

ARTIKEL PILIHAN

Ebook Investment Planning Q2 2026 - Sudah Terbit!

IHSG Senin Crash? Maybe Not.. Tapi Justru Disitulah Masalahnya

Live Webinar Saham Indonesia: Peluang Multibagger! Sabtu 29 Agustus

Saya Sudah All In di Saham, Tapi IHSG Malah Turun Lagi??

Daftar Saham Yang Diuntungkan Program MBG

Kabar Baik Untuk Pemegang Saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI

Harga Emas Masih Akan Lanjut Naik? Bagaimana Dengan Bitcoin?