IHSG Akhirnya Naik di Bulan Juli, Tapi Apa Nanti Turun Lagi?
Pak Teguh saya ikut bapak all in di saham sejak bulan Juni kemarin, dan sejauh ini hasilnya cukup baik seiring rebound IHSG ke 6,200an. Tapi Pak jujur saya masih khawatir apa IHSG benar sudah balik arah, atau ini hanya kenaikan sementara sebelum besok-besok turun lagi? Saya setuju dengan bapak, MSCI tidak akan menurunkan Indonesia ke frontier. Tapi saya baca katanya pasar saham Amerika akan jatuh, dan itu bisa bikin IHSG crash lagi? Kemudian bagaimana dengan Pemerintah kita yang masih tidak jelas, Rupiah melemah dll?
**
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon bagi yang memesan sebelum 9 Agustus, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
Jawab:
Oke Pak, jadi karena soal MSCI kita sudah sepakat, maka sekarang kita ke poin penting berikutnya ya, yakni terkait analisa bahwa pasar saham Amerika (US) mungkin akan turun, dan bahwa itu akan menyeret IHSG untuk kembali turun. Nah, saya sendiri setuju bahwa S&P 500 Index (SPX) di US, yang saat ini masih berada di all time high-nya di 7,500an, cepat atau lambat akan terkoreksi. Karena memang tanda-tandanya sudah kelihatan, seperti valuasi saham-saham yang sangat mahal terutama di AI sector, situasi perang Iran yang sampai hari ini masih terus berlangsung, hingga ada kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan Fed Rate. SPX sendiri sudah naik total tiga kali lipat dibanding posisinya di bulan Maret 2020 lalu di 2,500an. Sebagai perbandingan, sebelum SPX naik tiga kali lipat dalam kurun waktu enam tahun antara 2020 – 2026, maka SPX butuh waktu yang lebih lama, tepatnya dua belas tahun, untuk juga naik sebanyak tiga kali lipat, yakni dari posisi 800an di tahun 2008, hingga tembus 2,500an di tahun 2020.
Dan pengalaman menunjukkan bahwa, ketika sesuatu naik lebih cepat dibanding biasanya, maka akan ada masa dimana dia akan turun untuk kembali ke ‘normal chart’-nya. Contoh paling gampang mungkin harga emas: Di sepanjang tahun 2024 dan 2025 lalu, harga emas naik 2.5 kali lipat dari $2,000 hingga tembus $5,000 per oz, hanya dalam waktu dua tahun. Dan kenaikan itu jauh lebih cepat dibanding sebelumnya, dimana harga emas butuh waktu lima belas tahun untuk naik 2 kali lipat dari $1,000 pada tahun 2009, hingga tembus $2,000 pada tahun 2024. Alhasil seperti yang bisa kita lihat, sekarang ini harga emas pelan-pelan turun lagi ke level $4,000 per oz.
Nah, tapi kalimat ‘cepat atau lambat’ di atas harus digarisbawahi. Yes, SPX akan turun, tapi soal kapan dia akan turun maka tidak ada seorangpun yang bisa menebaknya. Kalau kita lihat posisi Warren Buffett (WB), maka Berkshire Hathaway sudah sejak tahun 2023 lalu lebih banyak menjual US stocks ketimbang membeli, yang itu artinya WB secara tidak langsung menganggap bahwa pasar saham Amerika sudah bubble, dan akan turun. Tapi sekarang sudah lewat tiga tahun, dan ternyata SPX masih terus lanjut naik dari 4,000an di tahun 2023 tersebut, hingga sekarang 7,500an.
Kemudian inilah pentingnya: Seperti disebut diatas, SPX sudah naik signifikan dalam tiga tahun terakhir, tapi dalam periode waktu yang sama IHSG justru turun dari 6,800an ke sekarang 6,200an. Di sisi lain ketika SPX anjlok -19.4% di sepanjang tahun 2022, maka IHSG di tahun yang sama justru naik +4.1%. Dua fakta ini mestinya sudah cukup menunjukkan bahwa pergerakan pasar saham global, meski betul berpengaruh, tapi tidak menjadi jaminan bahwa IHSG akan otomatis ikut naik atau turun. Pergerakan IHSG, baik itu dalam jangka panjang maupun pendek, pada akhirnya akan lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor internal, seperti kondisi ekonomi makro di dalam negeri, kinerja emiten, hingga tata kelola Bursa Efek Indonesia (BEI) itu sendiri terkait masalah saham gorengan dll, sebelum baru kemudian dipengaruhi oleh market crash di Amerika, dll. Dan, kecuali masalah tata kelola itu tadi yang memang sedang disorot oleh MSCI, maka data ekonomi makro kita so far so good dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten diatas 5%, inflasi stabil di 2 – 3%, termasuk kinerja emiten hingga Q2 2026 juga masih sangat bagus.
Sehingga sekarang kita ke kekhawatiran berikutnya: Pemerintah yang ‘tidak jelas’. Dan memang kalau kita melihat hasil survey baru-baru ini oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), maka disebutkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo anjlok ke 51%, dari sebelumnya 81%. Yang itu berarti hampir setengah jumlah penduduk Indonesia menyatakan tidak puas dengan kualitas pemerintahan saat ini. Dan kalau boleh jujur, penulis sendiri termasuk yang tidak puas tersebut, dimana saya secara pribadi tidak setuju dengan penggunaan APBN untuk makan bergizi gratis (MBG), kopdes, dll. Kemudian saya juga tidak setuju dengan banyaknya kebijakan Pemerintah yang berubah-ubah dan tidak jelas, seperti kemarin sempat ada wacana ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, tapi kemudian dikatakan bahwa itu ditunda. Lalu pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi secara terus menerus juga tampak mengkhawatirkan, tentu saja.
However, balik lagi kalau kita melihat perkembangan data ekonomi makro serta kinerja emiten, maka semuanya masih ok, malah Bank Mandiri (BMRI) di 2026 ini kembali cetak kenaikan laba bersih dobel digit setelah sebelumnya labanya flat di tahun 2024 dan 2025 lalu. Kemudian pada 2015 lalu, penulis masih ingat, ada banyak pelaku usaha riil baik itu skala besar maupun UMKM, yang mengeluh jualannya sepi, seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi ketika itu dimana GDP hanya tumbuh 4.88%, lebih rendah dibanding biasanya diatas 5%. Anda bisa baca lagi ceritanya disini. Nah, tapi hari ini, maka meski tentunya akan selalu ada saja pelaku usaha yang omzetnya turun, tapi dari beberapa kali penulis ngobrol sama teman-teman pengusaha, maka bisnis mereka masih fine-fine saja. Tidak booming, tapi juga gak sampai drop.
Tapi, okay, katakanlah bahwa situasi ekonomi yang sejauh ini masih baik-baik saja pada akhirnya akan berubah jadi krisis, yakni jika Pemerintah terus saja jor-joran anggaran untuk program-program yang, dalam pandangan banyak orang, tidak produktif. Maka, pertama, kemungkinan terjadinya krisis itu barulah sebatas kemungkinan, yang bisa terjadi tapi bisa juga tidak. Sedangkan untuk saat ini maka yang pasti Indonesia masih jauh dari krisis. Rupiah betul melemah, tapi masih dengan rate pelemahan yang tidak terlalu besar, jauh lah kalau dibanding tahun 1998 lalu dimana Rupiah anjlok dari Rp2,500 hingga tembus Rp15,000 (melemah enam kali lipat) hanya dalam hitungan bulan. Lalu kedua, IHSG saat ini sudah anjlok ke 6,000an, bukan lagi 9,000an, dimana valuasi saham-saham di BEI sudah sama atau bahkan lebih murah dibanding krisis covid tahun 2020 lalu, dimana ketika itu pertumbuhan ekonomi beneran minus, dan perusahaan-perusahaan mengalami penurunan kinerja atau bahkan rugi (jadi krisisnya beneran terjadi, bukan sekedar kekhawatiran). But still, IHSG pada akhirnya naik lagi, dan bahkan kembali cetak all time high di tahun 2021-nya. Jadi bahkan dalam skenario terburuk dimana ekonomi melambat di bawah 5%, Rupiah anjlok ke katakanlah Rp22,000 per Dollar, maka posisi IHSG saat ini harusnya sudah price in, dan tidak akan turun lebih dalam lagi. Karena balik lagi: Kita sekarang tidak sedang dalam situasi seperti krisis moneter 1998, bahkan seperti krisis pandemi 2020 pun tidak.
![]() |
| Posisi porto Avere per penutupan pasar tanggal 3 Agustus. Mohon maaf kode sahamnya disensor. |
Sudah tentu, kembali seperti yang sudah
sering penulis sampaikan sebelumnya, pada akhirnya kita tidak bisa
memprediksi naik turunnya harga saham, dan juga tidak bisa memprediksi arah
IHSG. Jadi yang bisa penulis katakan adalah, setelah kembali borong saham pada
bulan Mei kemarin, dilanjut serok
all in pada bulan Juni ketika IHSG turun sampai 5,300an, maka sampai
saat ini saya masih belum kepikiran untuk profit taking. Melainkan kita
masih akan hold saja, yakni karena kami percaya bahwa situasi terburuk pasar
saham Indonesia terkait drama MSCI vs saham konglo sudah berlalu, dan IHSG pada akhirnya akan
naik lagi dalam jangka panjang. Benar atau tidak, kita lihat
nanti.
***
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 25 analisa saham pilihan edisi Q2 2026 akan terbit tanggal 9 Agustus, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon bagi yang memesan sebelum 9 Agustus, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.

Komentar
19.500 GGRM
6.300 BBCA
4.170 BMRI
3.750 TINS
3.520 BBNI
3.020 BBRI
1.740 UNVR
935 NCKL
660 DKFT
426 ERAA
5 saham saya sama dengan 5 saham pak Teguh, namun bedanya avg beli saya overall masih minus ^_^ seperti BBCA, dkk