IHSG Masih Gak Jelas, Kenapa Pak Teguh Berani All In di Saham?
Pak Teguh, apa pertimbangan Bapak saat ini 100% all-in di saham, sementara asing terus keluar dari pasar saham Indonesia? Berdasarkan pemberitaan Kontan, hingga Oktober 2026 dana asing disebut telah keluar sekitar Rp110 triliun, jumlah yang sangat besar. Di sisi lain MSCI baru akan mengumumkan penilaian kembali terhadap pasar saham Indonesia pada 11 November 2026. Artinya, masih ada periode ketidakpastian sebelum pengumuman tersebut. Pasar berpotensi kembali terkoreksi apabila investor mengantisipasi hasil penilaian yang kurang menguntungkan, atau apabila muncul kekhawatiran baru terkait aksesibilitas dan investabilitas pasar Indonesia.
**
Hingga akhir September 2026, Avere Investama profit +40.9% termasuk dividen. Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.
***
Saya juga berhati-hati terhadap narasi bahwa Indonesia tidak mungkin turun status dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Pernyataan optimistis semacam itu tidak seharusnya membuat investor mengabaikan fakta arus modal keluar dan berbagai risiko struktural yang sedang dihadapi pasar.
Arus keluar dana asing memang tidak otomatis berarti mereka sengaja menjatuhkan harga saham dan akumulasi diharga murah. Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, likuiditas dari investor lokal justru menjadi penopang bagi investor asing untuk keluar secara bertahap dari pasar Indonesia. Terlebih apabila mereka mulai menilai bahwa prospek ekonomi, arah kebijakan, atau program-program pemerintah saat ini belum cukup menarik dibandingkan peluang investasi di negara lain, arus keluar tersebut bisa terus berlanjut.
Jadi kembali ke Pertanyaan saya: Apa dasar keyakinan Bapak untuk tetap 100% all-in dalam kondisi seperti ini, padahal kalau berdasarkan faktor-faktor diatas maka IHSG masih berpotensi terkoreksi? Apakah keputusan tersebut didasarkan pada valuasi fundamental saham yang sudah sangat menarik (sudah bottom?), keyakinan bahwa arus keluar asing akan segera berbalik, atau pertimbangan lain?
Mohon maaf ya, Pak, kalau latar belakang pertanyaan saya cukup panjang. Saya justru ingin belajar dari sudut pandang Bapak, mengingat pengalaman dan analisis Bapak dalam menghadapi berbagai siklus pasar selama ini. Saya yakin ada pertimbangan dan perspektif yang mungkin belum saya pahami sebagai investor ritel.
Jawab:
Sebenarnya saya sudah sering menjelaskan soal alasan dan analisa di balik keputusan untuk all in ini di tulisan-tulisan terpisah di website www.teguhhidayat.com ini, dan bahwa penurunan IHSG serta situasi pasar yang serba mengkhawatirkan ini justru merupakan kesempatan.
Tapi, oke pak, sekarang kita coba asumsikan saja bahwa kedepannya akan terjadi skenario terburuk, yakni MSCI akan men-downgrade Indonesia ke frontier market, asing akan terus jualan, dan IHSG kembali crash. Dan jika itu yang terjadi maka mau tidak mau kinerja porto kami juga akan terpengaruh signifikan, dimana nilai total aset kami saat ini kemungkinan akan turun sekitar 10 – 20%, atau lebih dalam lagi, jika IHSG misalnya anjlok ke 5,000 atau lebih rendah. Dan pada saat itu maka tidak ada yang bisa dilakukan/mau average down juga gak bakal bisa, karena posisi cash kami sejak awal sudah habis seluruhnya.
However, kami memutuskan untuk ambil risiko terburuk tersebut karena dua pertimbangkan. Pertama, di sepanjang 2025 kemarin kami profit 29.0%, dan dilanjut di tahun 2026 ini, sampai dengan akhir bulan September 2026, kami kembali profit 40.9% dihitung dari tanggal 15 Juni 2026. Sebelumnya kami sudah menyampaikan bahwa pada akhir tahun 2025 dan awal 2026 lalu, kami jual habis seluruh saham untuk kemudian pindah ke surat berharga negara (SBN), untuk memperoleh kupon 6% per tahun. Dan karena kami hold SBN tersebut selama kurang lebih 6 bulan (dari akhir 2025 sampai bulan Juni 2026), maka kami dalam hal ini profit sekitar 3% antara Januari – Juni 2026, sebelum kemudian antara Juni tersebut sampai September 2026 kami kembali profit sebesar 40.9%, yakni setelah kami mencairkan SBN tersebut seluruhnya, untuk kembali all in di saham.
Nah, tapi untuk memudahkan perhitungan maka untuk tahun 2026 ini kita asumsikan saja kami hanya profit 40.9%. Ditambah profit 29.0% di sepanjang tahun 2025, maka jika dihitung sejak awal tahun 2025 sampai dengan 30 September 2026, secara compounding kami profit total 81.7% dalam dua puluh satu bulan terakhir, termasuk dividen. Jadi jika nilai aset kami pada akhir tahun 2024/awal tahun 2025 lalu tercatat Rp100 juta, maka pada 30 September 2026 kemarin, nilainya sudah tumbuh menjadi Rp181.7 juta.
Sekarang kita balik lagi ke skenario terburuk diatas: IHSG anjlok ke 5,000, atau 4,000, atau lebih rendah. Maka nilai aset yang Rp181.7 juta tadi hampir pasti akan ikut jeblok. Katakanlah kami rugi -30%, maka nilai aset tersebut akan turun menjadi Rp127 juta. Lalu bagaimana kalau ruginya -40%? Maka turunnya menjadi Rp109 juta, demikian seterusnya. Nah, jika itu yang terjadi maka apakah Avere akan bangkrut dan habis sama sekali? Tentu saja tidak, karena dalam hal ini nilai aset kami hanya sekedar balik lagi ke posisinya pada awal tahun 2025 lalu. Catat bahwa kita dalam hal ini sudah mengambil asumsi terburuk dimana kami rugi 30 – 40%. Sedangkan pada praktiknya, maka kecuali pada covid market crash Maret 2020 lalu, selama 16 tahun di market kami tidak pernah rugi sebesar itu, thanks to keputusan kami yang selalu cash out ketika pasar euforia, termasuk pada akhir 2025/awal 2026 kemarin.
Di sisi lain jika yang terjadi adalah sebaliknya, yakni MSCI mempertahankan Indonesia di emerging market, asing kembali belanja di mari, dan IHSG perlahan tapi pasti naik lagi, maka tentu saja kami akan profit maksimal, yakni karena posisinya all in.
Jadi intinya pak, posisi porto kami saat ini yang profit signifikan dalam dua tahun terakhir memungkinkan kami untuk ambil risiko terburuk. Tapi kami mengerti jika bapak, atau kebanyakan investor lainnya, tidak berani untuk all in. Karena kalau melihat posisi IHSG saat ini yang justru lebih rendah dibanding posisinya pada akhir tahun 2024 lalu di 7,080, maka kemungkinan posisi porto anda sedang floating loss. Dan tidak ada yang salah dengan itu karena kami sendiri di Avere tidak selalu profit, melainkan pernah juga rugi -4.8% di sepanjang tahun 2023 lalu. Dan bukan tidak mungkin kedepannya kami akan rugi lagi.
Nah, tapi balik lagi, posisi kami di saham Indonesia dalam dua tahun terakhir terhitung profit besar, sehingga kami dalam hal ini berani ambil risiko terburuk dengan cara all in di market.
Itu pertama. Yang kedua, dalam banyak kesempatan saya juga sudah menyebut bahwa pasca warning MSCI di bulan Januari 2026 lalu, maka saham-saham konglo akan terus turun, dan itu akan bikin IHSG terseret turun, tapi saham-saham fundamental tetap bisa naik sendiri. Dan untungnya kami selama ini fokus di saham fundamental, dan itulah yang membuat kami tetap profit sejauh ini. Contoh riil, dalam sebulan terakhir ini IHSG turun lagi dari 6,600an ke sekarang 6,000an. Tapi seperti yang bisa anda lihat di chart dibawah, kinerja porto kami dalam periode waktu yang sama cenderung flat, aka tidak ikut turun. Demikian pula dalam tiga bulan terakhir, kami profit jauh lebih tinggi dibanding kinerja IHSG.
![]() |
| Kinerja Avere dibandingkan dengan IHSG, dalam sebulan terakhir (sampai sesi pertama 12 Oktober 2026). |
Sehingga, balik lagi ke asumsi terburuk diatas dimana IHSG crash ke 5,000 karena anjloknya saham-saham seperti TPIA, DSSA, GOTO, dst, maka sebenarnya belum tentu juga porto kami akan ikut anjlok, karena kami sama sekali tidak memegang saham-saham tersebut. Betul kami all in, tapi hanya di saham-saham fundamental, dimana pasca kejadian MSCI tersebut maka saham-saham fundamental ini bisa diharapkan untuk tetap naik sendiri, atau minimal bertahan di posisinya saat ini, bahkan kalaupun IHSG lanjut turun.
Kesimpulannya pak, it’s okay jika bapak
tidak ikut all in, dan malah saya tidak sarankan bapak untuk all in,
karena betul bahwa bisa saja IHSG lanjut turun. Tapi kalau dari kami sendiri
maka akan tetap hold semua saham dan tidak akan jual dalam waktu dekat
ini, kecuali jika nanti ada peristiwa penting tertentu yang menyebabkan
perubahan prospek dari saham-saham yang kami pegang. Dan jika kami melakukan
itu maka tentu bapak akan kami kabari.
***
Hingga akhir September 2026, Avere Investama profit +40.9% termasuk dividen. Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.


Komentar