Strategi Investasi Saham Pasca Vonis Standalone Market oleh MSCI!
Pak Teguh, saat ini saya bingung dengan ketidakpastian keputusan MSCI.. Saya mohon insight dan pencerahan dari Bapak.. Karena kmaren saya sudah menjual semua saham saya, apakah saya menunggu saja hingga bulan Juni 2027 hingga keputusan final MSCI untuk kembali ke pasar modal?? Atau saya saat ini bisa kembali masuk ke pasar modal dengan memilih saham second linier saja yg tidak terkait indeks MSCI atau bagaimana baiknya ya Pak?
**
Ebook Investment Planning berisi kumpulan 22 analisa saham pilihan edisi Q3 2026 akan terbit tanggal 9 November, dan sudah bisa dipesan disini. Tersedia diskon selama IHSG masih dibawah 7,000, serta gratis tanya jawab saham/konsultasi portofolio langsung dengan penulis.
***
Jawab:
Oke Pak, pertama-tama kita runut kronologinya ya. Pada Jumat 16 Oktober kemarin, MSCI seperti yang kita ketahui memulai proses konsultasi untuk menurunkan pasar saham Indonesia dari emerging ke standalone market, lebih rendah dari ancaman sebelumnya ke frontier market. Kemudian, berbeda dengan kebanyakan orang yang fokus ke pertanyaan soal kenapa MSCI tiba-tiba saja men-downgrade Indonesia sampai sedemikian rendahnya, maka kami lebih fokus ke respon dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta pihak-pihak lain yang terkait. Dan sayangnya, meskipun saya mengapresiasi OJK yang di hari yang sama langsung menjatuhkan sanksi denda terhadap tiga emiten yang terindikasi melakukan tindak pidana manipulasi pasar, yakni DSSA, BREN, dan CUAN, tapi setelah itu belum ada sanksi apa-apa lagi. Malah justru yang muncul adalah komentar-komentar yang terkesan defensif, dimana pada Rabu, 21 Oktober, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia tidak gentar terhadap ancaman MSCI. Kemudian yang terbaru, Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, juga menyebut bahwa ‘Bursa akan membuat dan menentukan rating kita sendiri’, yang mengindikasikan bahwa Pemerintah tidak lagi terlalu peduli jika MSCI pada akhirnya benar-benar mendowngrade Indonesia ke standalone market.
Sehingga, suka atau tidak, pada titik ini kita harus ambil asumsi terburuknya, yakni bahwa Indonesia sudah fix turun ke standalone, dimana proses konsultasi sampai Juni 2027 nanti hanyalah jeda waktu yang sengaja diberikan oleh MSCI kepada fund manager asing untuk keluar pelan-pelan dari sini. Dan memang sejak 16 Oktober tersebut sampai Jumat, 23 Oktober kemarin, maka terlepas dari apakah IHSGnya naik atau turun, tapi asing terus mencatat net sell di BEI. Therefore saya perkirakan bahwa mereka akan kembali mencatat net sell tersebut kedepannya, sampai akhirnya status standalone tersebut ditetapkan.
Jadi sekarang kita ke pertanyaan pentingnya, investor harus apa? Dan berikut jawabannya. Pertama, pada ulasan tanggal 12 Oktober lalu di blog ini yang berjudul ‘IHSG Masih Gak Jelas, Kenapa Pak Teguh Berani All In di Saham?’, maka saya pada intinya bilang bahwa, dalam skenario terburuk dimana Indonesia divonis turun kasta oleh MSCI, maka kerugian yang akan kami derita tidak akan terlalu signifikan, bahkan meskipun posisinya all in, yakni karena sejak awal kami hanya memegang saham-saham fundamental, bukan saham konglo yang dipermasalahkan oleh MSCI itu sendiri.
Dan berikut adalah perkembangan kinerja Avere hingga Jumat, 23 Oktober, dimana seperti yang bisa bapak lihat, perolehan profit kami anjlok signifikan sejak 16 Oktober, dan belum pulih lagi sampai sekarang (sebelum crash tanggal 16 Oktober tersebut, kami sempat profit ±45%). Tapi bahkan setelah anjlok tersebut maka kinerja kami secara keseluruhan masih profit, dan tidak sampai berbalik menjadi loss. Inilah yang saya maksud dengan, bahkan dalam worst scenario maka kami masih akan baik-baik saja. Dan loss yang terjadi seminggu terakhir ini juga bisa kok balik lagi, yakni jika kita bisa menyusun strategi kedepannya gimana. Sama saja seperti FC Barcelona yang meski semalam kalah lawan Real Madrid, tapi jika mereka bisa kembali konsisten menang di pertandingan-pertandingan selanjutnya, maka tetap merekalah yang akan juara La Liga.
![]() |
| Kinerja Avere vs IHSG, dihitung sejak 12 Juni s/d 23 Oktober 2026. Untuk catatan kinerja kami di tahun-tahun sebelumnya bisa dibaca disini. |
Lanjut kedua, perlu dicatat bahwa manajer investasi (MI) asing yang harus keluar total dari BEI, yakni jika status standalone itu nanti berlaku efektif, adalah MI tipe passive fund, yakni yang tujuannya sekedar untuk copy paste kinerja IHSG dengan cara membeli saham-saham dengan market cap terbesar di BEI, tak peduli apakah itu saham fundamental seperti BBCA, ataupun saham konglo seperti BREN. Yang penting market capnya besar sehingga berpengaruh besar pula terhadap naik turunnya IHSG, that’s it. Kemudian sebagian dari active fund, yakni MI yang secara aktif memilih saham-saham bagus di BEI versi mereka, juga harus jual habis seluruh saham-saham yang mereka pegang, yakni jika mereka dalam prospektusnya ke investor menulis sbb: Hanya bisa berinvestasi di negara yang masuk kategori emerging, atau developed market versi MSCI.
Di luar itu, maka masih ada investor asing yang tidak hanya akan bertahan, tapi juga bisa beli lagi saham dimari jika mereka mau, yakni:
- Active fund yang tidak tracking kinerja IHSG, tapi fokus sepenuhnya ke fundamental, valuasi, serta dividend yield. Dan kita tahu bahwa seiring anjloknya saham-saham seperti BBCA dan BMRI, maka dividend yieldnya juga menjadi sangat besar.
- MI spesialis frontier & standalone market. Yup, meski nama-nama besar seperti Blackrock, atau Vanguard membatasi diri hanya berinvestasi di emerging market, tapi ada juga MI jenis private equity atau specialized hedge fund, yang spesialis berinvestasi di negara yang tipe high risk high gain, dimana pasca vonis standalone nanti maka Indonesia akan termasuk di dalamnya.
- Investor asing yang menjadi pemegang saham pengendali (PSP) di perusahaan yang bersangkutan. Contohnya PT Astra International, Tbk (ASII), dimana 50.1% sahamnya dipegang oleh Jardine Cycle & Carriage Ltd asal Singapura. Jardine ini tidak akan menjual saham ASII hanya karena Indonesia turun ke standalone. Malah justru mereka melalui ASII itu sendiri akan beli lebih banyak lagi saham ASII di pasar (buy back), dimana RUPS ASII pada Juli 2026 lalu sudah memutuskan untuk buy back saham ASII di pasar senilai maksimal Rp8 triliun, hingga paling lambat Juli 2027 nanti.
Kesimpulannya, yes, asing masih akan terus jualan pelan-pelan, tapi bukan berarti mereka semua akan keluar, melainkan ada juga MI asing yang justru akan masuk lebih banyak lagi disini. Bapak juga mungkin memperhatikan bahwa, meskipun asing secara keseluruhan mencatat net sell hampir tiap hari di BEI, tapi tidak semua saham mencatat net sell tersebut, melainkan ada juga saham-saham tertentu yang mencatat net buy. Dan jika di sisi lain saham tersebut memenuhi kriteria standar value investing, yakni berkinerja fundamental bagus, valuasi murah, serta prospek yang cerah, maka kita bisa ikut membelinya tanpa perlu khawatir asing lanjut keluar dari sini. Ditambah, dengan sekarang BEI merilis daftar saham HSC (high shareholding concentration), alias saham-saham yang terindikasi gorengan, maka asing ini akan bisa menghindari saham-saham HSC tersebut, sehingga mereka full masuk ke saham-saham fundamental.
Ketiga, jauh sebelum vonis standalone kemarin maka MSCI itu sendiri sudah menurunkan bobot Indonesia di MSCI Emerging Market, dari sekitar 2.6% pada 2016 lalu menjadi sekarang tinggal 0.4%. Dan memang sudah sejak tahun 2017 aka sembilan tahun lalu, saya sendiri notice kalau asing terus keluar dari BEI, dimana mereka yang biasanya mencatat net buy saban tahun, pada 2017 tersebut mereka berbalik mencatat net sell, tepatnya Rp39.6 triliun (baca lagi ulasannya disini). Catat bahwa pada saat itu belum ramai drama saham konglo seperti sekarang, termasuk MSCI juga diam-diam saja, tapi asing tetap keluar dari Indonesia seiring penurunan bobot diatas. Dan demikian pula di tahun-tahun berikutnya, asing lebih banyak catat net sell ketimbang net buy, termasuk net sell Rp42.3 triliun di pasar reguler di sepanjang tahun 2025 lalu.
Sehingga, kalaupun setelah ini bobot tersebut akan turun lagi dari 0.4% menjadi 0.0%, tapi itu sekaligus berarti bahwa MI asing tidak akan lagi jualan terlalu banyak, karena mereka sejak awal memang sudah jualan, jauh sejak sebelum downgrade ke standalone tadi diumumkan.
Keempat, terkait aksi jual asing sejak setidaknya tahun 2016 – 2017 sampai sekarang, maka itu kemudian berdampak pada pergerakan saham Indonesia yang, kalau berdasarkan indeks LQ45 (lihat disini), mulai berbalik turun persisnya sejak akhir tahun 2017 di posisi 1,000an, sampai sekarang di posisi 500an, aka turun -50% lebih. Demikian pula pergerakan IHSG, dimana meski dia sempat terbang tinggi dan cetak all time high di 9,000an pada tahun 2025 kemarin karena didorong oleh kenaikan saham-saham konglo, tapi ujungnya sekarang turun lagi ke posisi 5,300an, lebih rendah dari posisinya pada akhir tahun 2017 lalu di 6,300an. Sehingga, meski tadi saya katakan bahwa asing tinggal pegang barang sedikit lagi disini (dari bobot 2.6% menjadi 0.4%), tapi jika mereka dalam beberapa bulan ke depan (sampai deadline bulan Juni 2027) terus jualan hingga bobotnya menjadi persis 0%, maka IHSG tetap akan tertekan.
Nah tapi kabar baiknya, hanya karena IHSG turun maka bukan berarti semua saham akan turun, terutama saham-saham fundamental yang belakangan ini justru mulai naik lagi seiring meredupnya pamor saham konglo. Contohnya yang sudah dibahas disini: ULTJ yang naik 46% secara year to date (YTD), dan TINS yang naik 22% secara YTD. Dan meskipun tidak semua saham-saham fundamental naik, contohnya BMRI yang sejauh ini tetap turun -24% secara YTD, tapi coba kita lihat sisi positifnya: BMRI, dan juga banyak lagi saham blue chip lainnya turun hanya karena asing tipe passive fund masih pegang dalam jumlah cukup banyak, dimana pasca vonis standalone ini maka mereka mau tidak mau harus jualan. Tapi ingat bahwa MI asing tidak akan jualan selamanya, melainkan pada akhirnya nanti mereka akan berhenti ketika sudah tidak lagi pegang barang (ketika bobot MSCI turun dari sekarang 0.4% menjadi akhirnya 0.0%). Di sisi lain, karena kinerja serta prospek BMRI ini masih bagus, no problem (BMRI barusan sudah rilis LK Q3, dan labanya masih naik), maka ketika nanti aksi jual MI asing tipe passive fund ini akhirnya berhenti, maka disitulah BMRI akan dengan cepat naik lagi, yakni karena MI asing tipe active fund akan secara agresif serok sahamnya.
Hanya memang, dalam jangka menengahnya hingga paling lambat Juni 2027 nanti, maka kita sebaiknya fokus ke saham fundamental yang asing tidak pegang dalam jumlah besar, karena saham-saham itulah yang bisa tetap naik sendiri, bahkan meskipun IHSGnya lanjut turun. Sedangkan untuk saham seperti BMRI dkk, maka kita bisa tunggu sampai nanti bobot MSCI disini sudah benar-benar turun ke 0.0%, ditandai dengan ketok palu bahwa Indonesia confirm turun ke standalone, paling lambat Juni 2027 tersebut, lalu baru kita masuk lagi/average down. Tapi intinya, bapak tidak perlu jual seluruh saham lalu wait and see sampai tahun depan, melainkan tetap bisa secara selektif masuk ke saham-saham berfundamental bagus, plus tidak dipegang banyak oleh asing, atau asing tetap mencatat net buy di saham tersebut, dimana kesemua informasi tersebut bisa dibaca secara terbuka di aplikasi broker/sekuritas yang bapak gunakan.
Terakhir kelima, bapak mungkin masih ragu dengan pernyataan bahwa kita sebagai investor fundamentalis bisa tetap profit, bahkan kalaupun IHSG-nya lanjut turun. Tapi seperti yang bapak bisa lihat sendiri diatas, kami, dan juga banyak lagi investor fundamentalis lainnya, di tahun 2026 ini secara keseluruhan masih profit bahkan meski IHSG anjlok tanpa ampun. Dan demikian pula antara tahun 2020 s/d 2025, maka boleh dicek disini, kami hampir selalu profit signifikan saban tahunnya, tak peduli meski IHSG naik atau turun di tahun yang sama. Poinnya adalah, betul bahwa untuk tetap bisa profit ketika IHSG turun, itu tidaklah mudah, dimana kami juga pernah loss -4.8% di tahun 2023. Tapi ‘tidak mudah’ disini bukan berarti mustahil, dimana kami sudah membuktikannya sendiri dengan hampir selalu profit sejak 2020 sampai 2026 sejauh ini (kecuali di 2023 itu tadi. Dan sebelum 2020 itu juga kita sama profit, hanya tidak ada bukti open portfolio-nya). Dan betul, hanya karena kami konsisten profit di masa lalu maka itu tidak menjadi jaminan bahwa kita akan kembali profit di masa depan. Tapi jika dikatakan bahwa pasar saham Indonesia sudah totally hopeless! Sebaiknya kita all cash saja sejak dari sekarang! Maka itu juga tidak tepat, karena jika demikian maka bisa jadi bapak akan ketinggalan kereta di saham-saham fundamental itu tadi, yang tetap berpeluang untuk naik sendiri, bahkan jika benar IHSG lanjut turun.
Kesimpulan
Kesimpulannya pak, tidak, bapak tidak perlu keluar sepenuhnya dari saham. Kami sendiri pasca crash tanggal 16 Oktober kemarin memang sudah tidak lagi all in, dimana kami melepas sejumlah saham untuk tujuan mengumpulkan cash, sembari wait and see respon dari BEI dkk terkait vonis standalone ini. Tapi kami masih berencana untuk masuk all in lagi tanpa harus menunggu sampai Juni 2027 nanti, meski dengan catatan itu tadi: Saham yang akan dibeli nanti tidak hanya harus bagus secara fundamental, tapi juga tidak dipegang oleh asing dalam jumlah besar dan/atau asing masih catat net buy, dan kalau bisa sahamnya tidak pernah masuk indeks MSCI, sehingga praktis vonis standalone ini tidak terlalu berpengaruh (karena toh sejak awal sahamnya tidak masuk indeks). Jadi meski betul bahwa pilihan sahamnya sekarang lebih terbatas dibanding sebelumnya, tapi bukan berarti tidak ada saham yang bisa dibeli sama sekali.
Kemudian, meski tadi diatas kita sudah ambil
asumsi bahwa fix Indonesia akan turun kasta ke standalone, tapi saya masih percaya
bahwa pihak otoritas bursa dan juga Pemerintah tetap akan berusaha untuk memenuhi
semua tuntutan MSCI, dan alhasil peluang bagi Indonesia untuk bertahan di
emerging market, sekecil apapun itu, masih terbuka. Dan jika dalam perjalanannya
nanti ada perkembangan yang bersifat positif, maka disitulah kita akan punya
lebih banyak pilihan saham untuk dibeli, dan demikian pula kita akan kembali profit
maksimal, yakni karena kita sejak awal tidak keluar dan tetap bertahan pegang
saham-saham di BEI. Benar atau tidak, kita lihat nanti.
***
Hingga akhir September 2026, Avere Investama profit +40.9% termasuk dividen. Join Channel Telegram ACT untuk melihat saham-saham apa saja yang kami pegang, klik disini untuk bergabung. Gratis konsultasi saham untuk subscriber.

Komentar