Ebook Kumpulan Analisis 30 Saham Pilihan ('Ebook Kuartalan') Edisi Kuartal II 2018 akan terbit hari Rabu, 8 Agustus 2018. Layanan preorder-nya sudah dibuka, keterangan selengkapnya baca disini.

Ebook Analisis Kuartal II 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal II 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Tiga Pilar Sejahtera Food: Default?

Kalau anda baca lagi pembahasan Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) bulan Desember 2017 lalu, yakni ketika sahamnya masih berada di level 450 – 500, maka di bagian artikel penulis menyebut tiga skenario untuk AISA ini. Pertama, manajemen AISA sukses mendivestasi usaha berasnya, kasus hukumnya (terkait anak usahanya, PT Indo Beras Unggul) selesai dengan baik, dan laba perusahaan kembali naik di tahun 2018. Dan jika ini yang terjadi, maka AISA berpeluang untuk naik dengan cepat, karena valuasinya sejak awal sudah sangat terdiskon. Kedua, masih mirip dengan skenario pertama, namun bedanya kinerja perusahaan di tahun 2018 masih biasa saja/belum kembali pulih, tapi semua berita simpang siur terkait kelangsungan usaha perusahaan tetap mereda/dilupakan orang seiring dengan berjalannya waktu. Jika skenario kedua inilah yang terjadi, maka saham AISA tetap berpeluang untuk rebound, meskipun naiknya mungkin gak akan banyak.

Ristia Bintang Mahkotasejati

Ristia Bintang Mahkotasejati (RBMS) adalah satu dari sekian banyak developer properti spesialis perumahan yang listing di BEI, yang sahamnya dalam beberapa tahun terakhir terbilang mati suri setelah perusahaan membukukan kinerja yang mengecewakan, seiring dengan lesunya industri properti itu sendiri. Namun pada tahun 2017 kemarin RBMS mengakuisisi dua anak usaha yang masing-masing bergerak di industri perhotelan dan pembangunan perumahan sederhana, dan pada tahun 2018 ini hasilnya mulai kelihatan dimana RBMS per Kuartal I membukukan pendapatan Rp24.5 milyar, melonjak dibanding periode yang sama tahun 2017 yang hanya Rp551 juta, dan demikian pula sahamnya pun mulai bergerak naik, tapi disisi lain valuasinya sekilas masih sangat murah dengan PBV hanya 0.3 kali. Prospek kedepan?

Pelemahan Rupiah, Kenaikan BI Rate, dan IHSG

Salah satu hotnews di pasar akhir-akhir ini adalah terkait pelemahan Rupiah terhadap US Dollar, dimana hingga ketika artikel ini ditulis, Rupiah sudah berada di level Rp14,326, melemah cukup signifikan dibanding setahunan lalu yang masih di level Rp13,400-an, dan wajar jika orang kemudian jadi khawatir: Bagaimana jika Rupiah terus saja melemah sampai katakanlah tembus Rp15,000? Apakah kita akan mengalami krisis? Lalu bagaimana nasib pasar saham?

Cara ‘Membuka Payung’ Ketika Sudah ‘Turun Hujan’

Kalau anda pernah mengikuti kelas Value Investing – Advanced Class yang penulis adakan, maka materi pertama sekaligus yang terpenting yang disampaikan adalah soal cara membaca arah pasar atau IHSG, termasuk apa yang harus dilakukan jika kita melihat tanda-tanda bahwa pasar akan turun. Simpelnya, jika kita melihat bahwa IHSG mungkin akan turun, atau sudah ada tanda-tanda ‘mendung’, maka ketika itulah kita harus menyiapkan ‘payung’.

Analisa Cash Flow Dalam Value Investing

Kalau anda terbiasa baca laporan keuangan (LK) perusahaan, maka anda akan hafal bahwa format standar LK di Indonesia adalah urutannya sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan (aset, kewajiban, dan ekuitas), 2. Laporan laba rugi (pendapatan, hingga laba bersih), 3. Laporan perubahan posisi ekuitas, dan terakhir 4. Laporan arus kas. Normalnya, kalau penulis sendiri melakukan analisa cepat LK, maka yang kita pelajari hanyalah perkembangan aset hingga laba bersih perusahaan saja, dan jarang melihat sampai laporan arus kas, tapi mungkin dari sinilah kemudian timbul pertanyaan: Apa bedanya laporan arus kas dengan laporan laba rugi? Bagaimana kalau perusahaan di laporan laba ruginya membukukan profit sekian Rupiah, tapi jumlah kas yang diterima (yang tercantum di laporan arus kas) lebih kecil? Lalu bagaimana jika perusahaan membukukan arus kas negatif? Dan seterusnya.

Indo-Rama Synthetics

Jika ada pertanyaan, siapakah perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, maka temen-temen investor mungkin akan menjawab, Sri Rejeki Isman atau Sritex (SRIL). Karena dari sejumlah saham-saham tekstil yang ada di BEI memang hanya SRIL yang ramai diperdagangkan, dan SRIL sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara, yang sudah mengekspor produknya ke seluruh dunia. Namun sebenarnya di BEI ada satu lagi perusahaan tekstil yang, kalau berdasarkan nilai aset serta cakupan bisnisnya yang sudah worldwide, maka perusahaan tersebut lebih besar lagi dari SRIL. Yup, dia adalah Indo-Rama Synthetics (INDR), and seriously, INDR ini memang merupakan perusahaan yang benar-benar besar. Okay, kita langsung saja.

Selamat Datang Era Ekonomi Efisien!

Kalau anda googling istilah efficient economy, atau ekonomi efisien, maka anda akan menemukan banyak definisi serta penjelasan mengenai istilah tersebut, tapi biar disini penulis jelaskan dengan Bahasa sederhana: Ekonomi efisien adalah suatu keadaan dimana setiap sumber daya teralokasikan secara optimal untuk menghasilkan barang dan jasa, sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang sia-sia/tidak menghasilkan manfaat apapun. Yang dimaksud dengan sumber daya disini adalah sumber daya manusia, sumber daya alam, modal/capital, waktu, dan seterusnya.

Value Investing Advanced Class: Jakarta, Medan, & Surabaya

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Buy, Hold, Sell, or.. Ignore?

Kalau anda baca-baca ulasan emiten yang dibuat analis sekuritas, maka di akhir ulasan tersebut biasanya terdapat kesimpulan terkait apakah rekomendasinya (untuk saham yang bersangkutan) adalah buy, hold, atau sell. Namun pada ulasan Lippo Cikarang (LPCK), di bagian akhir tulisan penulis mengajak pembaca untuk juga menyampaikan analisanya masing-masing, entah itu rekomendasinya buy, hold, sell, atau ignore. Nah lho, jadi apa yang dimaksud dengan ignore disini?

We're Hiring! Value Investing Trainer, & Junior Partner

Dear investor, seiring dengan semakin banyaknya jumlah investor saham berkat kampanye Yuk Nabung Saham! oleh BEI, dan juga semakin populernya metode value investing itu sendiri, maka penulis belakangan ini menerima banyak sekali permintaan untuk mengisi kelas kampus, pelatihan, dan workshop, baik itu secara private maupun kelas seminar.

Seminar Value Investing: Jakarta, Medan, Surabaya

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Beat the Market in Five Minutes!’, di Jakarta, Medan, dan Surabaya. Di seminar ini pada intinya kita akan belajar tentang pengertian investasi saham (dan apa bedanya dengan trading), konsep & pengertian value investing, cara menganalisis fundamental perusahaan, cara menghitung harga wajar saham, dan cara menyusun portofolio. Berikut kisi-kisi materi selengkapnya:

Tips Menghadapi Koreksi Pasar

Salah satu tugas rutin seorang investor adalah untuk menjaga pikiran untuk tetap tenang, untuk tetap fokus. Untuk tidak dilanda rasa khawatir ketinggalan kereta, takut rugi, takut dengan rumor-rumor yang beredar, dan seterusnya. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa melakukan pekerjaan analisa dengan baik dan logis, mengambil keputusan buy and sell berdasarkan analisa tersebut dengan sama baiknya, dan pada akhirnya menghasilkan return investasi sesuai dengan yang diharapkan.

Lippo Cikarang: Unbelievably Undervalue, But..

Kalau anda sudah sering baca-baca artikel di blog teguhhidayat.com ini, anda mungkin beberapa kali menemukan istilah unbelievably undervalue. Yup, itu adalah istilah yang penulis ciptakan sendiri untuk mendeskripsikan situasi dimana valuasi sebuah saham sudah sedemikian murahnya, sampai-sampai kita sebagai investor sulit untuk mempercayai bahwa ada saham semurah itu, dan malah jadi takut karenanya. Analoginya seperti kalau anda ditawari untuk membeli rumah mewah seluas 1,000 meter persegi di Pondok Indah pada harga Rp100 juta saja, dimana anda pasti berpikir, apakah sertifikatnya bermasalah? Atau jangan-jangan itu rumah angker?? Dan seterusnya.

Value Investing Private Class, Jakarta, 26 Mei

Dear investor, selain menggelar kelas seminar value investing, baik itu materi basic maupun advanced, penulis juga menggelar kelas private dengan materi yang kurang lebih sama, terutama di bagian metode analisis fundamental emiten serta menghitung harga wajar saham, namun dengan penyampaian materi secara lebih personal. Yup, karena berbeda dengan kelas seminar dimana jumlah pesertanya adalah 30 – 40 orang, di private class ini jumlah pesertanya maksimal 5 orang saja per sesi.

Ebook Analisis Kuartal I 2018

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham-saham pilihan, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal I 2018. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

Bank Bukopin: Revisi Laporan Keuangan??

Bank Bukopin (BBKP) membukukan laba bersih Rp127 milyar di Q1 2018, naik 10.1% dibanding periode yang sama tahun 2017. Namun yang menarik adalah harga sahamnya, yang sebelumnya cukup stabil di 600-an, tiba-tiba saja sekarang sudah dibawah 400, dan PBV-nya pun hanya 0.5 kali, clearly low enough untuk ukuran saham emiten perbankan yang lumayan punya nama di masyarakat. Namun disisi lain beredar pula pemberitaan bahwa BBKP mengubah/menyajikan kembali laporan keuangan untuk tahun 2016, hingga dikabarkan mengundang teguran dari OJK. Bagaimana detail kasusnya?

It’s Not About Which Stock You Buy, It’s About Patience

Pada tahun 1984, Warren Buffett (WB) memberikan seminar di kampus Columbia University, Amerika Serikat, dimana disitu ia memaparkan kinerja dari tujuh fund manager penganut metode value investing, termasuk dirinya sendiri. Menariknya, salah satu fund manager tersebut yakni Rick Guerin, mencatatkan rata-rata return 32.9% per tahun antara tahun 1965 – 1983, atau jauh diatas kinerja fund manager lainnya, termasuk mengalahkan kinerja WB yang hanya 29.5% per tahun (antara tahun 1957 – 1969). Guerin bahkan pernah membukukan profit 180.1% di tahun 1967, ketika indeks S&P hanya naik 23.9% di tahun tersebut.

Prospek IPO Bank BRI Syariah

IPO Bank Rakyat Indonesia Syariah, atau Bank BRI Syariah (BRIS) yang merupakan anak usaha dari Bank BRI (BBRI), terbilang menarik perhatian banyak investor karena dua hal: 1. Karena BBRI-nya, dan 2. Karena syariah-nya. Secara fundamental, BBRI sejak dulu sudah bisa dinobatkan sebagai bank terbaik di Indonesia, sehingga sahamnya menjadi menu wajib bagi banyak fund manager dan juga investor ritel. Namun bagi anda yang memegang rekening saham syariah, maka anda tidak bisa turut membeli saham bank konvensional seperti BBRI ini. Jadi bagaimana kalau kita ambilnya BRIS saja? Tapi hey, apakah kinerja BRIS ini sama bagusnya dengan induknya?

Ekuitas Tidak Riil??

Jika anda membeli beberapa saham senilai total Rp10 juta, dan beberapa waktu kemudian saham-saham anda tersebut naik rata-rata 10%, maka sekarang di software online trading (OLT) anda tertulis aset Rp11 juta, naik dari sebelumnya Rp10 juta. Pertanyaannya, apakah nilai portofolio anda benar-benar menjadi Rp11 juta seperti yang tampak di OLT? Jawabannya, tidak. Karena jika besok-besok ada saham anda yang naik atau turun, maka nilai porto anda akan berubah lagi. Porto anda baru akan fix bernilai sekian juta Rupiah, jika anda sudah menjual dan merealisasikan profit dan/atau rugi dari semua saham yang anda pegang.

Ciri-Ciri Investor Saham

Sebagai investor saham berpengalaman, apa saja ciri-ciri khas yang anda miliki, baik itu terkait aktivitas anda di stock market maupun di kehidupan sehari-hari, yang membedakan anda dengan trader saham/orang lain pada umumnya, dan terutama jika dibandingkan dengan anda sendiri ketika dulu masih newbie?

Wijaya Karya Gedung

Wika Gedung (WEGE) menjadi salah satu saham anyar di BEI yang menarik untuk diperhatikan setelah perusahaan melaporkan laba bersih Rp295 milyar untuk tahun penuh 2017, dimana kalau kita bandingkan dengan ekuitasnya setelah dikurangi dana hasil IPO-nya (karena perusahaan baru menggelar IPO pada November 2017, sehingga dana hasil IPO-nya masih belum digunakan), yakni 1,698 – 833 = Rp865 milyar, maka laba tersebut mencerminkan return on equity (ROE) 34.1%, alias sangat besar baik itu jika dibandingkan dengan emiten-emiten konstruksi yang lain, ataupun dibandingkan dengan semua emiten di BEI secara umum. Disisi lain dengan PBV 1.5 kali pada harga saham 264, maka valuasi WEGE juga tidak bisa dikatakan mahal. Prospek kedepan?

Value Investing Advanced Class: Surabaya, Medan, Bali

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Surabaya, Medan, dan Bali. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Mengenal Strategi 'Concentrated Diversification'

Salah satu quote terkenal dalam investasi saham adalah, ‘do not put all your eggs in one basket’, yang artinya bahwa seorang investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya hanya pada satu atau dua saham saja, melainkan sebaiknya disebar ke beberapa saham berbeda. Atau dengan kata lain, seorang investor dianjurkan untuk melakukan diversifikasi, biasanya bertujuan untuk mengurangi risiko terjadinya kerugian. Dan di blog ini kita sudah banyak membahas tips-tips dan trik dalam menerapkan diversifikasi portofolio, misalnya pada artikel ini, dan artikel ini.

Harga DMO Batubara, dan Pengaruhnya ke Emiten Tambang

Pada hari Jumat, 9 Maret 2018, Pemerintah melalui Kementerian ESDM menerbitkan peraturan domestic market obligation (DMO) terkait harga jual batubara, dimana perusahaan-perusahaan batubara diwajibkan untuk menjual sebagian produksi batubara mereka ke konsumen dalam negeri, dalam hal ini PT PLN, pada harga yang sudah ditetapkan, alias tidak lagi mengikuti harga pasar. Dan berapa persisnya ‘harga yang sudah ditetapkan’ tersebut? Well, maksimal hanya US$ 70 per ton. Karena harga DMO ini jauh lebih rendah dibanding harga batubara acuan (HBA) yakni US$ 102 per ton per Maret 2018, maka jadilah peraturan DMO ini menjadi sentimen negatif bagi saham-saham batubara dan alhasil, dalam seminggu terakhir saham-saham batubara berjatuhan antara 10 hingga 20%, atau lebih dalam lagi.

Mengenal ‘Value Trap’, dan Cara Menghindarinya

Menurut Investopedia, value trap adalah satu kondisi dimana sebuah saham tampak murah karena angka-angka indikator valuasinya (PER, PBV, dst) terbilang rendah, namun valuasi yang rendah tersebut sebenarnya nggak bisa dikatakan murah, melainkan memang sudah merupakan valuasi wajarnya, misalnya karena perusahaannya tidak memiliki kinerja fundamental yang bagus, dan juga tidak menawarkan prospek apapun. Bahasa gampangnya, value trap adalah ketika anda menemukan saham yang tampak murah, padahal aslinya murahan.

Modernland Realty

Modernland Realty (MDLN) adalah salah satu stockpick penulis di masa lalu, tepatnya di tahun 2012 – 2013 ketika sektor properti tengah booming, dan anda bisa baca lagi ulasannya disini. Namun sayangnya ketika itu hasilnya gak bagus karena kita salah timing masuk di bulan Juni 2013, dimana dalam enam bulan berikutnya IHSG justru drop (dari 5,250 hingga mentok di 3,900), dan MDLN juga ikut turun dari 1,000 (sebelum stocksplit, setara 500) hingga mentok di 650 (setara 325). Dan meski di tahun 2014, seiring dengan pulihnya kondisi market, MDLN kembali naik, tapi kenaikannya berhenti di level 580-an di awal tahun 2015 karena setelah itu industri properti mulai lesu, dimana MDLN bersama juga mayoritas emiten properti lainnya membukukan penurunan kinerja, dan sahamnya ramai-ramai turun lagi.

Value Investing Basic Class: Jakarta, 24 Maret 2018

Dear investor, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Basic Class’, di Jakarta. Materi yang disampaikan adalah sama seperti kelas seminar yang biasanya, namun sesuai request, kali ini materinya dimodifikasi/ditambah beberapa materi tambahan yang disesuaikan khusus untuk para calon investor, investor pemula/beginner, atau investor yang sudah lama namun masih awam analisis fundamental, dan khususnya metode value investing. Berikut materi selengkapnya:

Ekonomi Bagus, Kenapa Saham Turun?

Ada yang menarik ketika Dow Jones turun nyaris 1,200 poin pada hari Senin, 5 Februari lalu, dan itu bukanlah fakta bahwa penurunan tersebut merupakan penurunan terbesar Dow dalam-satu-hari sepanjang sejarah (dari sisi poin, bukan persentase), melainkan respon Presiden Trump melalui akun Twitter-nya: ‘Di masa lalu, ketika berita baik keluar maka pasar saham akan naik. Tapi hari ini, ketika berita baik keluar pasar saham justru turun. Ini kesalahan besar! Dan kita punya banyak berita baik terkait perekonomian Amerika!’

Penurunan Dow Jones & Pengaruhnya ke IHSG

Setelah sebelumnya cenderung naik terus, Dow Jones Industrial Average (DJIA), seperti yang anda ketahui, sejak awal Februari kemarin mulai bergerak turun hingga sempat ditutup di posisi 23,860, atau drop 10.3% dari posisi tertingginya yakni 26,616. Secara teori, jika indeks saham turun hingga 10% dari level tertingginya, maka artinya pasar saham di negara yang bersangkutan ‘resmi’ memasuki periode koreksi/bearish. Dan berhubung yang turun adalah Dow dkk (S&P500 dan Nasdaq juga turun), yang notabene merupakan benchmark dari pergerakan bursa saham global, maka pertanyaannya sekarang, bagaimana pengaruh penurunan DJIA ini terhadap IHSG?

Value Investing Advanced Class: Jakarta, 3, 10, & 17 Maret 2018

Dear investor, sesuai request, penulis (Teguh Hidayat) menyelenggarakan kelas investasi saham dengan tema: ‘Value Investing – Advanced Class’, di Jakarta. Tidak seperti kelas seminar yang biasanya, pada sesi kelas kali ini kita tidak lagi membahas cara membaca laporan keuangan, atau cara menghitung valuasi saham, melainkan lebih dalam lagi. Berikut materi selengkapnya yang akan disampaikan di kelasnya nanti:

Berapa Lama Sebaiknya Kita Hold Saham?

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, saya dengar Warren Buffett (WB) itu kalau sudah beli saham maka tidak pernah dijual lagi/di hold selamanya. Demikian pula Pak Lo Kheng Hong, yang dikatakan bisa hold saham sampai 7 tahun. Tapi Pak Teguh sendiri, saya perhatikan anda hold saham paling lama cuma sampai 1 – 2 tahun saja, selebihnya cuma hold beberapa bulan, dan ada juga saham-saham yang dibeli karena perusahaannya bayar dividen, untuk kemudian dijual setelah nanti dapet dividennya. Bisa tolong dijelaskan soal ini Pak?’

Prospek Saham Properti

Di artikel minggu lalu, penulis menyebutkan bahwa ketika IHSG naik 20.0% sepanjang tahun 2017, namun terdapat dua sektor yang justru tumbuh negatif, yakni agriculture atau perkebunan, dan properti & konstruksi. Nah, karena biasanya value opportunity terletak di sektor-sektor yang ‘ketinggalan kereta’ ini, maka dua sektor tersebut menarik untuk dibahas. Untuk sektor perkebunan sudah kita bahas, jadi sekarang giliran sektor berikutnya: Properti & konstruksi. Kebetulan, seiring dengan situasi market bullish sepanjang awal tahun 2018 ini, saham-saham konstruksi kelihatannya sudah pada naik semua. Tapi bagaimana dengan properti?

Ebook Analisis Kuartal IV 2017

Dear investor, seperti biasa setiap kuartal alias tiga bulan sekali, penulis membuat buku elektronik (ebook, dengan format PDF) yang berisi kumpulan analisis fundamental saham, yang kali ini didasarkan pada laporan keuangan para emiten untuk periode Kuartal IV 2017. Ebook ini diharapkan akan menjadi panduan bagi anda (dan juga bagi penulis sendiri) untuk memilih saham yang bagus untuk trading jangka pendek, investasi jangka menengah, dan panjang.

'Best Investment I've Ever Made'

Tas ransel hitam ini saya beli tahun 2007, dan sejak saat itu dia selalu setia menemani saya kuliah, ketemu dosen, ngeprint skripsi, pergi wisuda, melamar pekerjaan, berangkat ke kantor, buka rekening di sekuritas, ketemu bos untuk pamit resign, terbang untuk liburan, berkendara naik turun bukit, menaklukkan puncak gunung tertinggi, menjelajah laut lepas, hingga nyasar di negeri orang. Tak terasa 10 tahun sudah berlalu, tapi dia masih sangat awet tak kurang suatu apapun, dan mungkin masih bisa menemani saya berpetualang hingga 10 tahun berikutnya.

Prospek Saham Perkebunan Kelapa Sawit

Salah satu pekerjaan rutin kami di Avere setiap awal tahun adalah mengecek statistik BEI pada akhir tahun sebelumnya, untuk mengetahui berapa persen kenaikan IHSG, dan sektor-sektor apa saja yang kenaikannya tidak setinggi IHSG sepanjang tahun tersebut. Sebab berdasarkan pengalaman, value opportunity biasanya terletak pada saham-saham yang ‘ketinggalan kereta’ ini. Contoh paling dramatis, pada 2015 lalu IHSG drop 12.1%, dan sektor yang paling kena hantam adalah sektor tambang, dimana sepanjang tahun 2015 indeks mining drop sampai 40.7%, terburuk dibanding semua sektor lainnya. Namun ketika pasar mulai pulih di tahun 2016 dimana IHSG naik 15.3%, maka sektor mining-lah yang menjadi juaranya dengan kenaikan 70.7% (dan memang sepanjang tahun 2016 lalu, di blog ini sendiri kami sudah banyak membahas soal sektor mining tersebut, terutama batubara).

Saham Nyangkut: Kenapa Susah ‘Move On’?

Di artikel minggu lalu tentang Warren Buffett, penulis menyampaikan setidaknya tiga alasan kenapa saya, secara personal, menjadikan beliau sebagai panutan. Alasan tersebut adalah: 1. Penulis gak punya cukup waktu untuk baca-baca lagi tentang investor besar lainnya, 2. Tidak hanya mengajarkan tentang investasi saham, Buffett juga mengajarkan untuk menjadi ‘a good person’, yang tidak berusaha mengambil keuntungan dari kerugian orang lain, 3. Buffett merupakan satu dari sedikit investor yang selalu happy dan santai/rileks dalam menjalankan pekerjaannya di Berkshire, dan itu membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan.

Tips u/ Investor Pemula: Milikilah Mentor!

Beberapa waktu lalu penulis menerima pertanyaan sebagai berikut, ‘Pak Teguh, kalau saya baca dari tulisan-tulisannya, kelihatannya Pak Teguh ini berkiblat banget sama Warren Buffett. Kenapa pak? Apakah karena beliau paling kaya dibanding investor-investor lain? Padahal kan ada cukup banyak investor lain yang, meski belum sekaya WB, tapi annual return investasinya lebih bagus, seperti Joel Greenblatt, Carl Icahn, Peter Lynch, dst.’